تسجيل الدخولErinka masih diliputi dengan cemas atas kejadian di jalan raya akhirnya sampai juga ke hotel bintang lima tempat reuni ditemani Marlon.
“Ayo, kita turun...” ucap Erinka saat Marlon sudah mematikan mesin mobil di parkiran basement hotel.
“Tunggu dulu, Beb...” ucap Marlon sambil menahan lengan kanan istrinya.
“Ada apa, sih...” tanya Erinka heran sambil menatap wajah Marlon.
“Maafin aku ya tadi sudah bikin kamu cemas dan ketakutan,” ucap Marlon sambil menatap wajah Erinka dengan wajah memelas.
“Seharusnya hal itu tidak perlu kamu lakukan, karena... aku takut akan berbuntut panjang. Tony dan Hendrik bukan orang sembarangan, pasti mereka tidak akan berdiam diri atas kejadian tadi itu,” ucap Erinka ekspresi wajahnya kian resah.
“Aku tidak punya maksud lain, hanya ingin memberi pelajaran pada mereka,” ungkap Marlon yang masih memegang erat lengan Erinka. “Aku juga sudah siap dengan segala konsekuensinya,” tambah Marlon.
“Mereka berdua orang kelas atas, punya banyak backing yang sangat sulit untuk dikalahkan, karena harta dan kekuasaan ada di tangan mereka. Pokoknya kalau nanti kamu bertemu mereka, tidak perlu melakukan apa-apa atau berkata apa pun selain minta maaf... ini semua demi keselamatanmu,” ucap Erinka mengingatkan Marlon.
“Iya, Beb... jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Tapi, aku minta setelah turun dari mobil ini, kamu harus lupakan kejadian tadi, aku tidak ingin orang-orang melihat kecemasan di wajahmu. Sebaliknya, tersenyumlah dan nikmatilah acaramu hari ini ya...” tegas Marlon, Erinka cuma mengangguk.
“Kok cuma mengangguk, senyumnya mana... hehehe...” canda Marlon, membuat Erinka pun langsung tersenyum lebar.
“Nah, gitu dong... ini baru istriku tersayang... muahhh...” ucap Marlon sambil mengecup punggung jari lengan kanan Erinka.
Saat keluar dari parkiran dan menaiki lift, kebetulan di dalam lift itu hanya Erinka dan suaminya. Marlon memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang. Erinka merasakan tonjolan bagian bawah suaminya menempel pada tubuhnya.
“Kok tegang terus sih, kan semalam sudah dapat jatah dua ronde...” ucap Erinka pada Marlon.
“Masih pengin lagi, Sayang...” bisik Marlon pelan di telinga Erinka. “Gimana kalau selesai acara kita booking kamar di hotel ini, aku pengin sekali melakukannya di bathtub, kayak di film-film luar itu lho...” tambah Marlon sambil tersenyum.
“Ini hotel bintang lima, pastilah sangat mahal... mana kita punya uang untuk membayar sewanya. Sudah ah, kamu jangan punya keinginan macam-macam dulu, kecuali bisnisku sudah maju boleh lah kita sisihkan budget untuk menginap di hotel,” jelas Erinka tak menyanggupi keinginan suaminya, Marlon pun mengiyakan saja ucapan istrinya sambil tersenyum, lalu dia mencium lembut rambut istrinya yang selalu wangi shampo lavender.
Saat lift yang Erinka dan Marlon tumpangi berhenti di lantai 17, tampak di luar pintu lift itu seorang wanita berpakaian merah yang ketat dan seksi sejak tadi sedang menunggu ingin menaiki lift menuju lobi. Ketika Marlon dan istrinya keluar dari dalam lift, wanita itu langsung terpesona saat melihat kemachon Marlon yang berjalan ke arahnya sambil menggandeng seorang wanita bertubuh mungil.
Awalnya mata wanita berbibir menor itu tertuju pada wajah tampan Marlon, lalu pandangannya malah beralih ke bagian bawah lelaki berbadan gempal yang menonjol dan begitu memancing hasrat itu. Tapi, wanita itu hanya bisa terpaku sambil menggigit kecil bibir bagian bawahnya, karena pemandangan indah di depan matanya hanya berlalu begitu saja. “Andai suatu hari aku bisa tidur dan bersandar di dadanya yang bidang itu, pasti akan menyenangkan sekali,” batin wanita yang berpenampilan seperti wanita nakal itu.
Di lorong menuju resto hotel tempat diadakannya reuni, orang yang pertama melihat kehadiran Erinka dan suaminya adalah Wenny.
“Akhirnya, kau bawa keluar juga simpananmu, Rin... hehehe...” celetuk Wenny dengan tidak sopan mengatai Marlon.
“Bisa aja, kamu, Wenn...” jawab Erinka yang sudah paham watak sahabatnya itu dan tidak ingin menimpali.
Tapi berbeda dengan Marlon, dia merasa tidak suka pada orang yang sesuka hati mengeluarkan kata-katanya tanpa peduli dengan perasaan orang yang mendengar.
“Menarik sekali penampilanmu hari ini, Wenny...” ucap Marlon saat lewat di hadapan Wenny yang hari itu memakai blus yang panjangnya di atas lutut, mempertontonkan kakinya yang putih dan jenjang.
“Iya, dong... siapa dulu, Wenny gitu lho,” ujar wanita bertubuh tinggi itu dengan bangganya.
“Maksudku... penampilanmu seperti wanita simpanan Om-om,” tegas Marlon membalas ejekan Wenny padanya.
“Sialan lo, Marlon... dasar kere...!” maki Wenny lalu melengoskan wajahnya merasa sangat kesal.
“Jablay lo...!” balas Marlon dengan tegas, Erinka pun mendengarnya.
“Husssh..., jangan diladeni, dia memang seperti itu orangnya...” ucap Erinka mengingatkan Marlon.
“Aku enggak suka dengan wanita yang punya sifat angkuh dan sombong seperti dia,” tegas Marlon.
“Udah yuk... kita gabung dengan orang lain saja...” ajak Erinka sambil menarik lengan Marlon agar mau meninggalkan Wenny yang telah membuatnya kesal itu.
Saat melintas di depan pintu masuk resto hotel di tengah kerumunan orang-orang, Marlon bertatap muka dengan seorang wanita bermata bulat, hidung mancung dan berdagu lancip. Bibirnya yang tebal tampak memakai gincu merah merona. Tubuhnya yang terlihat padat terbalut baju terusan panjang tanpa lengan berwarna hitam, dengan belahan di bagian depan tubuhnya yang berbentuk V, memperlihatkan sebagian dadanya yang besar dan menggoda.
“Sepertinya wajah wanita itu sudah tidak asing lagi buatku, siapa dia ya?” batin Marlon sambil mengingat-ingat identitas wanita berambut bondol itu.
Suara deru mesin mobil-mobil mewah yang biasanya mengantar jemput para tamu sosialita kini telah lenyap, digantikan oleh kesunyian mencekam setelah tim logistik perusahaan menarik seluruh fasilitas kendaraan kemarin sore. Di dalam ruang tengah yang luas itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden besar seolah enggan menyentuh sosok Kemala yang duduk sendirian di sudut sofa, meratapi nasibnya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kabut kemarahan yang mendalam.Namun, di tengah keterpurukan sosialnya yang begitu nyata di hadapan publik dan keluarga besar, Kemala sama sekali menolak berkaca pada kesalahannya sendiri yang telah menghancurkan reputasinya. Alih-alih menyadari bahwa konspirasi busuknya bersama Zakie adalah penyebab utama dari segala penderitaan ini, hati wanita paruh baya itu justru semakin mengeras dan tertutup rapat oleh dinding keangkuhan yang semu. Pikiran Kemala telah menyimpang jauh dari kenyataan obyektif yang sedang terjadi di sekelilingnya, men
"Buka matamu lebar-lebar, Kemala! Lihat apa yang sudah kamu perbuat pada kehormatan nama baik kita!" bentak Sugalih dengan suara yang menggelegar, membanting pintu ruang tengah rumah utama mereka hingga bergetar hebat. Wajah pria tua itu tampak merah padam, menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun setelah menghadiri pertemuan darurat dewan keluarga besar Hardiyata.Kemala yang sedang duduk meringkuk di atas sofa dengan mata sembab hanya bisa tersentak kaget. Tubuhnya gemetar melihat kemarahan suaminya yang belum pernah terjadi sekeras ini selama puluhan tahun mereka membina rumah tangga. "Pah, kumohon dengarkan penjelasanku dulu. Aku melakukan semua ini juga demi masa depan...""Masa depan apa?! Masa depan di dalam penjara?!" potong Sugalih dengan nada suara yang sangat sinis dan penuh penekanan yang menembus dada. "Pertemuan keluarga besar tadi benar-benar seperti panggung pembantaian bagiku! Semua kerabat, dari yang dekat sampai yang jauh, menunjuk wajahku dan mencaci-maki kelak
"Kumohon, angkat teleponnya, Zakie! Jangan membuatku gila seperti ini!" jerit Kemala dengan suara yang serak dan tubuh yang gemetar hebat di dalam kamar apartemennya yang berantakan. Ia terus menekan tombol panggil pada gawainya, namun hanya suara operator yang menjawab secara berulang-ulang.Di atas meja riasnya yang mewah, tumpukan surat tagihan utang dari bank dan beberapa rentenir pasar gelap sudah menggunung dengan cap merah bertuliskan peringatan terakhir. Kemala berjalan mondar-mandir laksana singa kelaparan yang terkurung di dalam kandang sempit, dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh gaun sutranya."Ini tidak mungkin terjadi! Semuanya sudah aku atur dengan sangat rapi! Zakie seharusnya sudah berhasil membawa Erinka pergi dan memeras Sugalih untuk menyerahkan takhta perusahaan hari ini!" ratap Kemala, air matanya mulai merusak riasan wajahnya yang tebal hingga tampak sangat mengerikan.Tepat pada saat itu, layar televisi besar di sudut kamarnya y
"Apakah kamu melihat angka-angka ini, Nak Marlon? Ini benar-benar tidak masuk akal! Semua grafik pergerakan saham kita melonjak tegak lurus ke atas!" seru Sugalih dengan suara yang bergetar hebat karena rasa tidak percaya yang bercampur dengan kegembiraan yang luar biasa. Ia menunjuk ke arah layar monitor raksasa yang memenuhi dinding ruang rapat utama.Marlon yang duduk di ujung meja panjang hanya tersenyum tenang, menatap papan elektronik bursa saham internasional yang menampilkan warna hijau pekat untuk kode emiten Megah Hardiyata Group. "Ini baru permulaan, Pah. Ketika sebuah produk medis menjadi satu-satunya jawaban atas krisis global, maka pasar finansial dunia tidak punya pilihan lain selain tunduk pada nilai produk.""Tapi Nak Marlon, kenaikan ini sudah mencapai batas atas penolakan otomatis di beberapa bursa saham saking cepatnya perdagangan berjalan!" tambah Sugalih lagi, tangannya sedikit gemetar saat menyeka keringat dingin di keningnya. Sebagai seorang pebisnis senior,
Pagi itu, langit di atas kota Jakarta diselimuti oleh kabut abu-abu yang pekat, seolah mencerminkan suasana mencekam yang sedang melanda seluruh dunia. Berita-berita di televisi dan media sosial tidak lagi menyiarkan tentang politik atau hiburan, melainkan deretan angka kematian yang terus melonjak naik setiap jamnya. Sebuah pandemi global yang mengerikan mendadak melanda berbagai belahan dunia, memicu kepanikan massal di kalangan masyarakat dari semua lapisan sosial. Rumah sakit di kota-kota besar mulai penuh sesak, dan obat-obatan konvensional sama sekali tidak mampu membendung laju infeksi paru-paru yang menyerang dengan sangat cepat.Di tengah situasi yang sangat kritis ini, suasana di dalam pusat kendali operasi Megah Hardiyata Group justru tampak bergerak dengan kecepatan penuh dan disiplin yang sangat ketat. Ratusan layar monitor besar menampilkan data permintaan logistik, peta penyebaran penyakit, serta jalur pengiriman barang yang dijaga ketat oleh tim keamanan. Peluncura
"Apakah kamu benar-benar yakin dengan persentase royalti ini, Nak Marlon? Bagi perusahaan, ini adalah kesepakatan yang teramat sangat menguntungkan," ujar Sugalih dengan mata yang sedikit membelalak tak percaya. Ia menatap lembaran draf kontrak kerja sama baru di atas meja kerjanya.Marlon yang sedang duduk santai di hadapan bapak mertuanya hanya mengangguk tenang dengan senyuman tipis. "Aku sangat yakin, Pah. Tujuan utamaku mendaftarkan paten ini atas nama pribadi bukanlah untuk memperkaya diri sendiri secara tamak.""Aku hanya ingin mengunci hak kepemilikan agar tidak bisa dimanipulasi oleh musuh-musuh kita di masa depan," lanjut Marlon, suaranya mengalir dengan sangat halus namun tegas. "Bagi saya, kemajuan finansial dan kejayaan Megah Hardiyata Group adalah hal yang paling utama demi kedamaian hidup Erinka."Sugalih menarik napas dalam-dalam, merasakan keharuan yang mendalam di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Menantunya yang semula dianggap sebelah mata oleh keluarga besar
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia