LOGINMenjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransfer ke rekeningnya, beberapa mobil mewah, dan sebuah Villa megah bak istana. Bukan itu saja, dirinya juga dihadiahi jabatan penting sebagai Presdir di sebuah perusahaan terbesar dan ternama di pusat kota.
“Terima kasih, Tante...” balas Marlon pada pesan singkat yang dikirimnya. Dia langsung membayangkan beberapa hari ke depan hidupannya akan berubah total dengan semua hadiah yang telah diterimanya, walaupun semua itu pernah dia nikmati suatu ketika dulu. Tapi, tentu saja keadaannya kini berbeda karena dia akan memulai petualangan hidup barunya tidak seorang diri, ada istri tercinta yang akan mendampingi dan mewarnai hari-harinya.
Membayangkan banyak hal yang akan dilaluinya bersama Erinka, Marlon jadi tersenyum-senyum sendiri, ada kebahagiaan yang menelusup ke dalam hatinya.
Malam hari setelah makan malam, seperti biasa keluarga Sugalih berkumpul di ruang tengah untuk menonton televisi. Pada program berita terkini sebuah berita menyebutkan bahwa setengah dari saham perusahaan terbesar Skylight Group telah dimiliki oleh seorang anggota keluarga Pramudya dan berita lainnya juga menginformasikan bahwa markas pusat militer menambah satu posisi jabatan penting untuk seorang pemuda.
“Itu Pramudya, apa keluargamu yang beli sahamnya ya, Sayang? Jadi orang kaya raya dong kita sekarang... hehehe...” gurau Erinka yang duduk bersebelahan dengan mamanya di atas sofa. Marlon hanya tersenyum, tidak mungkin dia mengakuinya.
“Sama-sama Pramudya, tapi beda nasib, yang satu kaya raya yang satu tidak berguna...” celetuk Kemala seenak perutnya pada Marlon.
Rasa sakit di hati Marlon kian bertambah mendengar ucapan-ucapan ibu mertuanya, hingga Keputusannya makin bulat untuk mengakhiri semua penderitaannya ditindas oleh sang ibu mertua. Dia akan kembali pada dunia yang membesarkan namanya dulu. Dunia di mana ia menguasai segalanya dan ditakuti semua orang. Dikenal sebagai seorang Bloody Killer yang kejam.
Keesokan hari, Erinka minta ditemani Marlon menghadiri acara reuni di sebuah hotel bintang lima di pusat kota. Karena acara formal dan di tempat berkelas, suaminya harus mengenakan jas satu-satunya yang dia punya. Itu adalah jas berwarna cokelat susu yang dipakainya saat akad nikah tiga tahun lalu.
“Enggak pantas kamu pakai jas Marlon, kayak orang kaya saja tingkahmu...” sindir Kemala saat Marlon dan Erinka melintas menuju keluar rumah.
“Doakan saja Marlon biar bisa jadi orang kaya, Mah,” balas Marlon sambil menyunggingkan senyum.
“Mustahil... seluruh kota akan hujan badai kalau kamu sampai jadi orang kaya! Mimpi aja orang malas dan tak berpendidikan seperti kamu bisa punya banyak uang,” tegas Kemala menunjukkan rasa ketidakpercayaannya sedikit pun pada diri Marlon.
“Jangan ambil hati ya, ucapan Mama...” ucap Erinka pada Marlon saat keduanya berjalan menuju garasi mobil di depan rumah.
“Iya, Sayang... aku bukan sehari dua hari kenal Mama, aku sangat-sangat memakluminya. Mungkin saja ucapan Mama benar, aku memang tidak punya bakat jadi orang kaya... hehehe...”ucap Marlon sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih dan rapi, menambah nilai ketampanannya.
“Ya tidak apa-apa... lagian aku tidak butuh suami yang kaya, yang aku butuhkan suami yang setia dan selalu ada waktu untukku,” ujar Erinka sambil menyungging senyum pada Marlon.
“Love you, Beb...” ucap Marlon pelan balas memandang wajah istrinya dengan penuh perasaan dan kasih sayang.
Seburuk apa pun perangai Kemala, baik Marlon maupun Erinka memang tidak pernah melawan atau berkata kasar pada mamanya itu. Keduanya tahu Kemala memang cerewet, tapi dia tetap seorang ibu yang tidak boleh di sakiti perasaannya.
Kesabaran dan kebesaran hati Marlon dalam menghadapi sikap mamanya lah sebenarnya yang menjadi alasan Erinka dari hari ke hari semakin mencintai Marlon. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, bukan hanya memiliki suami yang gagah dan tampan, tetapi juga memiliki seorang pria yang penyayang terhadap keluarga.
Saat sampai di garasi mobil, Marlon meminta kunci Avanza dari tangan Erinka. Tanpa berkomentar apa-apa Erinka pun memberikannya.
Seingat Erinka, dia tidak pernah sekalipun melihat Marlon mengendarai mobil, selama ini dia hanya mengendarai motor matic kalau Kemala atau Sugalih memintanya keluar mengambil barang atau membeli sesuatu.
Erinka memperhatikan Marlon masuk ke dalam mobil, lalu duduk dibalik kemudi, dan tidak lama kemudian dia menghidupkan mesinnya. Walaupun sebenarnya merasa heran, Erinka tidak ingin berkata apa-apa tentang kemampuan suaminya menyetir mobil. Lantas dia duduk di kursi penumpang di bagian depan, di samping Marlon.
“Berangkat sekarang ya, Sayang...?” tanya Marlon memulai obrolan di dalam mobil Avanza tua milik keluarga Erinka yang sudah bertahun-tahun tak pernah diganti itu. Erinka tidak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kenapa sih, kok senyum... senyum...?” tanya Marlon jadi ikutan tersenyum pada istrinya.
“Enggak apa-apa....” jawab Erinka.
“Jawab jujur, kamu takut nabrak ya, karena aku yang nyetir?” tanya Marion coba menebak pikiran Erinka.
“Aku enggak berpikir seperti itu, aku hanya merasa surprise saja, karena selama ini aku belum pernah melihat kamu nyetir mobil,” jawab Erinka menjelaskan pada Marlon.
Selama ini Marlon memang tidak ingin menunjukan apa pun kelebihan pada dirinya, semata-mata karena dia ingin menyembunyikan identitasnya dan memilih jadi orang yang sederhana dan dipandang tidak punya apa-apa di hadapan Erinka dan keluarganya.
“Ya sama aja itu sih... karena kamu belum pernah melihat aku nyetir jadi kamu was-was kan mobilmu ini nanti nabrak? Hayo ngaku... hehehe...” canda Marlon sambil menunjuk ke arah Erinka.
“Enggak sama sekali kok..., karena aku udah kenal kamu luar dalam, kamu pasti tidak akan sembarangan melakukan tindakan yang kamu akan ambil. Kalau kamu merasa mampu, pasti kamu mau melakukannya. Betul begitu, kan, Sayang?” tegas Erinka sambil mengutarakan sifat Marlon yang sudah sangat dikenalnya.
“I don’t know...” ucap Marlon sambil mengangkat kedua bahunya, Erinka langsung mencubit lembut lengan Marlon yang besar dan kekar.
Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang benderang, menembus kabut tipis dan polusi yang menggantung di atas jalanan aspal ibukota. Bagi dunia luar, hari ini hanyalah hari biasa yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk kemacetan dan kesibukan kaum urban yang mulai memadati trotoar jalan.Namun bagi Marlon Pramudya, detik ini adalah sebuah penegasan takdir yang paling sakral di dalam bentangan panjang silsilah kehidupannya yang penuh dengan darah. Linimasa waktu seolah berputar mundur di dalam benaknya, mencatat dengan sangat rapi setiap jengkal perjalanan yang telah ia lalui selama ini.Tepat enam tahun yang lalu, ketika usianya baru menginjak dua puluh tahun, ia melangkah keluar dari sangkar emas The Shadow of Death sebagai seorang eksekutor muda. Menggunakan jaket kulit hitam andalannya dan sepasang belati titanium, ia menjelma menjadi sesosok bloody killer nomor satu yang paling ditakuti dunia bawah tanah.Nama besar dan reputasinya yang mengerikan sempat meroket tajam di sepanjang lo
Langkah pertama Marlon untuk kembali ke dunia atas dimulai dari sebuah titik yang sangat sentimental bagi masa mudanya. Di dalam mobil sport hitamnya yang terparkir di seberang jalan, mata elang Marlon menatap tajam ke arah sudut gang sempit yang dulunya menjadi saksi bisu kehancurannya.Tempat yang sembilan tahun lalu merupakan sebuah kedai bakpao sederhana, kini telah berubah menjadi deretan ruko modern yang bising oleh deru mesin kendaraan. Marlon menyandarkan tubuh tegap berototnya pada kursi kulit kemudi, membiarkan jemari tangannya mengetuk setir mobil secara ritmis penuh perhitungan.Ia tidak bisa bergerak gegabah tanpa memiliki data intelijen yang akurat mengenai kondisi lingkaran keluarga besar Hardiyata setelah sepuluh tahun berlalu sejak pengeroyokan itu. Oleh karena itu, Marlon sengaja mengerahkan sisa jaringan anak buah setianya dari divisi peretasan data untuk melakukan penyelidikan mendalam hari ini.Ponsel khusus yang diletakkan di atas dasbor mobil mendadak bergeta
Proses transisi dari kegelapan menuju cahaya benderang dunia atas membutuhkan ketelitian yang jauh lebih rumit daripada sekadar menanggalkan pakaian taktis tempur. Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi di puncak pent house mewah, Marlon duduk tegak di depan deretan layar monitor komputer yang memancarkan cahaya biru redup.Jemari tangannya yang kekar berotot bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, menjalankan baris-baris kode enkripsi militer tingkat tinggi. Malam ini, ia fokus melakukan operasi pembersihan paling krusial dalam hidupnya: menghapus seluruh jejak digital identitas aslinya dari setiap basis data dunia bawah tanah.Nama Marlon Pramudya sebagai sang bloody killer legendaris andalan The Shadow of Death harus benar-benar lenyap, menguap tanpa menyisakan satu pun bukti fisik atau digital. Segala rekaman CCTV, manifes penerbangan jet pribadi, hingga catatan medis luka tembak sembilan tahun lalu dikikis habis sampai ke akar-akarnya."Apakah proses pen
"Aku ingin mundur dari posisi eksekutor utama lapangan dan menyerahkan kembali seluruh koin perak operasional mulai hari ini, Tante," ucap Marlon dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan mutlak.Marlon berdiri tegak laksana karang di tengah ruang kerja privat yang dilapisi dinding baja anti-peluru. Di usianya yang kini resmi menginjak dua puluh enam tahun, kegagahan fisiknya tampak begitu matang, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat menindas udara sekitar.Tante Goldies yang sedang duduk di balik meja kerjanya seketika menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memeriksa berkas. Ia mendongak dengan kening berkerut dalam, menatap anak angkat sekaligus pembunuh berdarah dingin terbaik yang pernah dilahirkan oleh organisasinya.Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut militer khas juga turut mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Pria itu adalah sang Jenderal bintang tiga, suami dari Tante Goldies sekaligus pria
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan yang layak kepada kami, Marlon," bisik Jessy sembari merapatkan tubuh seksinya yang hanya dibalut gaun malam minim.Marlon tidak segera menjawab, ia hanya memutar gelas wiski di tangan kanannya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalam ruang VIP penthouse privat yang super mewah itu, atmosfer malam terasa begitu pekat oleh aroma parfum mahal dan kabut gairah yang menggebu-gebu."Jessy benar, Marlon. Selama ini kamu selalu datang dan pergi laksana hantu malam, membuat kami semua merana karena merindukan keperkasaan tubuhmu," sahut Tamara yang duduk di sisi kirinya."Malam ini adalah malam terakhirmu di sirkel kehidupan malam kami sebelum kamu mengurus bisnis barumu itu, jadi layani kami sepuasnya," tambah Santy, sang janda kaya pengusaha berlian yang turut hadir di sana.Marlon melayangkan tatapan mata elangnya yang tajam namun kini dipenuhi oleh binar karisma sensual ke arah para wanita cantik yang berkumpul di sek
Kabut tebal yang dingin menyelimuti kawasan hutan pinus di pinggiran Sektor Barat malam itu. Suara angin yang bergesek di antara rimbunnya dedaunan menciptakan simfoni alam yang mencekam, seolah menyembunyikan langkah kaki maut yang sedang mengintai. Di tengah kegelapan pekat yang terisolasi tersebut, sisa-sisa anggota kartel Kobra Hitam berlari dengan napas memburu berantakan.Mereka mengira pelarian ke dalam hutan lebat ini bisa menyelamatkan nyawa mereka dari amukan organisasi The Shadow of Death. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa bertingkah paranoid di tengah alam liar justru mempermudah insting berburu milik Marlon Pramudya. Menggunakan pakaian tempur taktis serba hitam yang melekat erat pada tubuh kekarnya, Marlon bergerak tanpa suara di atas tumpukan daun kering."Hei, apakah kamu mendengar sesuatu di belakang kita tadi?" bisik seorang anggota kartel berkulit legam kepada temannya sembari menodongkan senapan serbu ke arah kegelapan."Jangan menakut-nakuti aku, k
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per







