Home / Male Adult / Marlon Menantu Terhebat / BAB 1: MENANTU YANG TERTINDAS

Share

Marlon Menantu Terhebat
Marlon Menantu Terhebat
Author: Langit Berawan

BAB 1: MENANTU YANG TERTINDAS

last update publish date: 2026-05-31 19:18:06

“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.

“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.

“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagian yang menggorengnya,” jelas Marlon sambil tersenyum semringah karena Erinka menyukai masakannya. 

Erinka pun meminta suaminya untuk sarapan pagi bersama, tapi tiba-tiba datang sang mama yang langsung bertolak pinggang dan menatap tidak senang ke arah suaminya.

 “Marlon... mau ngapain kamu?” teriak Kemala saat melihat lelaki bertubuh gempal itu baru saja duduk di meja makan, di samping istrinya.

“Erin yang minta Marlon menemaniku makan, Mah,” jelas Erinka membela suaminya.

“Enggak usah dimanja suamimu itu, Rin! Pokoknya tidak ada jatah makan apa pun sebelum bekerja, bisa-bisa kalau perutnya sudah kenyang dia jadi pemalas, enggak mau mengerjakan apa-apa, maunya tidur terus di kamar...!” tegas Kemala melarang menantunya itu menyentuh nasi goreng yang tampak menggiurkan di atas meja.

“Selama tiga tahun aku tinggal di rumah ini, mana pernah aku bermalas-malasan, Mah,” ujar Marlon coba membela diri.

“Alasan aja kamu... lagi cari muka kamu ya di depan istrimu? Padahal kenyataannya sebaliknya...!” ujar Kemala tidak mau terima alasan Marlon.  

“Tapi, Mah...” ucap Erin coba mencegah Marlon yang bangkit dari duduknya.

“Sudah..., sudah... sekarang juga kamu pergi ke depan, Marlon, buang air bekas rendaman kaki aku dan Papa,” perintah Kemala dengan tegas sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah depan rumah.

“Sudah Sayang, jangan bikin Mama marah... aku enggak apa-apa kok, kamu lanjutkan saja ya makannya... muahhh...” ucap Marlon sambil mengusap lembut rambut Erinka yang lurus dan panjang sepunggung, lalu dengan lembut dia mengecup kepala istrinya yang wangi shampo lavender.

Marlon berjalan menuju teras depan, tampak di sana ada Sugalih, bapak mertuanya, yang baru saja selesai merendam kaki dengan air garam di sebuah ember plastik berwarna biru. Kegiatan yang dilakukannya rutin dua hari sekali setiap pagi ini katanya dipercaya bisa mengurangi nyeri karena penyakit asam urat. 

“Sudah ya, Pah? Aku benahi embernya... ” ucap Marlon menghampiri Sugalih, lalu mengambil ember bekas rendaman kaki yang ada di dekat tempat duduk lelaki itu.

“Biar saja di situ, Nak Marlon,... biar nanti si bibi yang membenahinya,” ucap Sugalih dengan suara yang lembut.

Berbeda dengan istrinya, sejak Marlon menjadi menantu dalam keluarganya, Sugalih memperlakukan Marlon sama seperti dia memperlakukan anak kandungnya sendiri, Erinka, penuh perhatian dan kasih sayang seorang ayah pada anaknya. 

“Enggak apa-apa, Pah, biar aku yang simpan embernya ke belakang, kalau menunggu Bi Puri pulang dari pasar pasti masih lama,” jelas Marlon beralasan.

“Maafin Papa ya, Nak Marlon, Papa jadi enggak enak sama kamu, setiap hari kamu melakukan banyak pekerjaan di rumah ini,” ucap Sugalih coba menunjukkan perasaan bersalahnya pada Marlon.

“Tidak apa-apa, Pah, ini kan sudah menjadi tanggung jawabku sebagai bagian dari keluarga ini,” ucap Marlon coba meyakinkan lelaki berkacamata di depannya bahwa dia sama sekali tidak keberatan melakukan pekerjaan rumah yang diberikan padanya.

“Ya udah, Nak, simpanlah ember itu, nanti setelah kamu selesai, buatlah minuman, kopi atau susu, lalu kamu duduk sini temani Papa ngobrol,” pinta Sugalih saat Marlon menjinjing kedua ember berisi bekas rendaman kaki itu. 

Saat Kemala sedang membuatkan kopi untuk suaminya di dapur, dia memandang sinis ke arah Marlon  yang tampak baru saja selesai membersihkan ember bekas rendaman kaki. 

“Marlon, jangan pergi dulu, antarkan kopi ini ke Papa,” ucap Kemala memerintahkan menantunya seperti pada seorang jongos. “Aku ingatkan pada kamu, jangan coba-coba kamu meracuni pikiran suamiku, atau coba-coba meminta dikasihani, karena aku tahu semua itu tipu dayamu untuk mengambil keuntungan dari keluarga ini,” ucap Kemala dengan ketus sambil mengaduk kopi hitam di dalam gelas kaca.

“Mengapa Mama selalu berprasangka buruk seperti itu padaku, Mah? Coba katakan apa alasannya sampai sekarang Mama tidak menyukai aku?” tanya Marlon untuk pertama kali dengan segenap keberanian, walaupun dia masih menunjukkan sikap hormat pada ibu mertuanya.

“Dengar ya baik-baik..., gara-gara kehadiranmu di keluargaku ini, sekarang keluargaku jadi bahan gunjingan oleh saudara-suadara suamiku, mereka menganggap kalau aku tidak becus mendidik anak gadis-ku agar bisa memiliki seorang suami yang sederajat dengan keluarga mereka. Sampai di sini kamu bisa mengerti kan Marlon, mengapa aku tidak menyukaimu berada di rumah ini?” ucap Kemala penuh emosi membeberkan semua alasan ketidaksukaannya pada Marlon.

Marlon tertunduk lemas, ingin rasanya dia berteriak melampiaskan kekesalan dan rasa sakit yang ada di hatinya, tapi selalu saja dia teringat janjinya pada Erinka tiga tahun lalu, bahwa dia rela melakukan apapun demi istrinya. Namun, setelah tiga tahun berlalu sepertinya dia sudah tidak tahan lagi harus ditindas terus-menerus oleh keluarga istrinya. Tiba-tiba hari ini hatinya tergerak untuk mengakhiri penyamaran dirinya sebagai menantu belian.

“Hey, Marlon... kenapa kamu jadi bengong di situ sih...!” panggil Kemala membuyarkan lamunan Marlon. “Ayo antar kopi ini ke Papa di depan. Ingat ya, kamu hanya boleh minum teh atau air putih saja,” jelas Kemala kemudian keluar dari dapur meninggalkan Marlon.

Setelah meracik teh tawar panas, lalu Marlon membawa teh itu beserta kopi untuk Sugalih menuju teras depan. Kesempatan diminta duduk menemani bapak mertuanya minum kopi, dimanfaatkan Marlon untuk mengirim pesan ringkas pada seseorang di luar sana.

“Tante, aku sudah tidak sanggup ditindas di rumah mertuaku, aku ingin kembali menjadi diriku yang dulu” bunyi pesan yang ditulis Marlon pada seseorang yang disebutnya ‘Tante’ yang entah berada di mana.

Tidak lama menunggu balasan, sambil menemani Sugalih ngobrol tentang bisnis bakpaonya suatu ketika dulu, Marlon pun menerima pesan dari wanita itu, “Ahaaa... akhirnya setelah lama ditunggu-tunggu kau kembali juga... Selamat datang kembali, Marlon Pramudya...” 

Marlon hanya tersenyum membaca pesan dari wanita-wanita di sana yang saat ini pasti sedang tertawa bahagia menyambut kehadirannya kembali pada dunianya yang sebenarnya, setelah tiga tahun menghilang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 225: Akhir Menjadi Menantu Belian (TAMAT)

    Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang benderang, menembus kabut tipis dan polusi yang menggantung di atas jalanan aspal ibukota. Bagi dunia luar, hari ini hanyalah hari biasa yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk kemacetan dan kesibukan kaum urban yang mulai memadati trotoar jalan.Namun bagi Marlon Pramudya, detik ini adalah sebuah penegasan takdir yang paling sakral di dalam bentangan panjang silsilah kehidupannya yang penuh dengan darah. Linimasa waktu seolah berputar mundur di dalam benaknya, mencatat dengan sangat rapi setiap jengkal perjalanan yang telah ia lalui selama ini.Tepat enam tahun yang lalu, ketika usianya baru menginjak dua puluh tahun, ia melangkah keluar dari sangkar emas The Shadow of Death sebagai seorang eksekutor muda. Menggunakan jaket kulit hitam andalannya dan sepasang belati titanium, ia menjelma menjadi sesosok bloody killer nomor satu yang paling ditakuti dunia bawah tanah.Nama besar dan reputasinya yang mengerikan sempat meroket tajam di sepanjang lo

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 223: Penyelidikan Kedai Bakpao

    Langkah pertama Marlon untuk kembali ke dunia atas dimulai dari sebuah titik yang sangat sentimental bagi masa mudanya. Di dalam mobil sport hitamnya yang terparkir di seberang jalan, mata elang Marlon menatap tajam ke arah sudut gang sempit yang dulunya menjadi saksi bisu kehancurannya.Tempat yang sembilan tahun lalu merupakan sebuah kedai bakpao sederhana, kini telah berubah menjadi deretan ruko modern yang bising oleh deru mesin kendaraan. Marlon menyandarkan tubuh tegap berototnya pada kursi kulit kemudi, membiarkan jemari tangannya mengetuk setir mobil secara ritmis penuh perhitungan.Ia tidak bisa bergerak gegabah tanpa memiliki data intelijen yang akurat mengenai kondisi lingkaran keluarga besar Hardiyata setelah sepuluh tahun berlalu sejak pengeroyokan itu. Oleh karena itu, Marlon sengaja mengerahkan sisa jaringan anak buah setianya dari divisi peretasan data untuk melakukan penyelidikan mendalam hari ini.Ponsel khusus yang diletakkan di atas dasbor mobil mendadak bergeta

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 222: Menghapus Jejak Diri & Hasrat Terkahir

    Proses transisi dari kegelapan menuju cahaya benderang dunia atas membutuhkan ketelitian yang jauh lebih rumit daripada sekadar menanggalkan pakaian taktis tempur. Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi di puncak pent house mewah, Marlon duduk tegak di depan deretan layar monitor komputer yang memancarkan cahaya biru redup.Jemari tangannya yang kekar berotot bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, menjalankan baris-baris kode enkripsi militer tingkat tinggi. Malam ini, ia fokus melakukan operasi pembersihan paling krusial dalam hidupnya: menghapus seluruh jejak digital identitas aslinya dari setiap basis data dunia bawah tanah.Nama Marlon Pramudya sebagai sang bloody killer legendaris andalan The Shadow of Death harus benar-benar lenyap, menguap tanpa menyisakan satu pun bukti fisik atau digital. Segala rekaman CCTV, manifes penerbangan jet pribadi, hingga catatan medis luka tembak sembilan tahun lalu dikikis habis sampai ke akar-akarnya."Apakah proses pen

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 221: Keputusan Bulat Sang Jagal

    "Aku ingin mundur dari posisi eksekutor utama lapangan dan menyerahkan kembali seluruh koin perak operasional mulai hari ini, Tante," ucap Marlon dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan mutlak.Marlon berdiri tegak laksana karang di tengah ruang kerja privat yang dilapisi dinding baja anti-peluru. Di usianya yang kini resmi menginjak dua puluh enam tahun, kegagahan fisiknya tampak begitu matang, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat menindas udara sekitar.Tante Goldies yang sedang duduk di balik meja kerjanya seketika menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memeriksa berkas. Ia mendongak dengan kening berkerut dalam, menatap anak angkat sekaligus pembunuh berdarah dingin terbaik yang pernah dilahirkan oleh organisasinya.Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut militer khas juga turut mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Pria itu adalah sang Jenderal bintang tiga, suami dari Tante Goldies sekaligus pria

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 220: Malam Perpisahan yang Liar (21+)

    "Kamu tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan yang layak kepada kami, Marlon," bisik Jessy sembari merapatkan tubuh seksinya yang hanya dibalut gaun malam minim.Marlon tidak segera menjawab, ia hanya memutar gelas wiski di tangan kanannya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalam ruang VIP penthouse privat yang super mewah itu, atmosfer malam terasa begitu pekat oleh aroma parfum mahal dan kabut gairah yang menggebu-gebu."Jessy benar, Marlon. Selama ini kamu selalu datang dan pergi laksana hantu malam, membuat kami semua merana karena merindukan keperkasaan tubuhmu," sahut Tamara yang duduk di sisi kirinya."Malam ini adalah malam terakhirmu di sirkel kehidupan malam kami sebelum kamu mengurus bisnis barumu itu, jadi layani kami sepuasnya," tambah Santy, sang janda kaya pengusaha berlian yang turut hadir di sana.Marlon melayangkan tatapan mata elangnya yang tajam namun kini dipenuhi oleh binar karisma sensual ke arah para wanita cantik yang berkumpul di sek

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 219: Pembantaian di Hutan Pinus

    Kabut tebal yang dingin menyelimuti kawasan hutan pinus di pinggiran Sektor Barat malam itu. Suara angin yang bergesek di antara rimbunnya dedaunan menciptakan simfoni alam yang mencekam, seolah menyembunyikan langkah kaki maut yang sedang mengintai. Di tengah kegelapan pekat yang terisolasi tersebut, sisa-sisa anggota kartel Kobra Hitam berlari dengan napas memburu berantakan.Mereka mengira pelarian ke dalam hutan lebat ini bisa menyelamatkan nyawa mereka dari amukan organisasi The Shadow of Death. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa bertingkah paranoid di tengah alam liar justru mempermudah insting berburu milik Marlon Pramudya. Menggunakan pakaian tempur taktis serba hitam yang melekat erat pada tubuh kekarnya, Marlon bergerak tanpa suara di atas tumpukan daun kering."Hei, apakah kamu mendengar sesuatu di belakang kita tadi?" bisik seorang anggota kartel berkulit legam kepada temannya sembari menodongkan senapan serbu ke arah kegelapan."Jangan menakut-nakuti aku, k

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 2: BATAS KESABARAN

    Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 10: JERAT WANITA BERGINCU TEBAL

    Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 4: MENCARI IDENTITAS MARLON

    “Orang-orang brengsek! Bukannya menolong malah ‘misuh-misuh’ engga jelas!” ucap Tony yang hanya bisa melihat Hendrik terjebak di dalam mobil.“Tolong aku, Bro... kakiku kejepit, sakit sekali nih rasanya...” ujar Hendrik memanggil Tony yang sedang duduk di luar mobil yang posisinya dalam keadaan ter

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 3 : DISEREMPET LAMBORGHINI

    Setelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status