LOGINSetelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada dirinya yang belum dia ketahui. Jadi Erinka meralat sendiri ucapannya, kalau dia sudah mengenal Marlon luar dalam. Karena kenyataannya tidak seperti itu.
Bagian luar tubuh Marlon memang sudah semua Erinka jelajahi, mulai dari dadanya berbulu halus hingga, area ketiaknya yang selalu dicukur bersih, bagian bokongnya yang pejal dan berbulu halus, serta bagian sensitifnya yang memiliki ukuran besar seperti yang dimiliki oleh laki-laki dari benua hitam. Tetapi, bagian dalam diri Marlon, sepertinya banyak yang belum dia ketahuinya, buktinya setelah tiga tahun berlalu baru kali ini dia tahu kalau Marlon memiliki kepandaian mengemudi yang sangat baik.
Saat Erinka termenung mengingat akan diri suaminya, Marlon sendiri tiba-tiba terbayang kejadian 10 tahun lalu saat dia berusia 15 tahun, saat pertama kali dia bertemu Erinka yang telah menyelamatkan nyawanya dengan sebuah bakpao.
“Sayang, kamu masih ingatkan kedai Bakpao Gemilang?” tanya Marlon membuka obrolan kembali dengan Erinka.
“Ya, ingatlah, masak sama bekas kedai ayahku sendiri aku lupa. Kenapa sih Sayang, kok tiba-tiba kamu menanyakan itu?” tanya Erinka heran.
“Karena kedai itu punya kenangan berarti dalam hidupku,” jawab Marlon dengan wajah yang mendadak murung. Erinka bertambah heran melihat perubahan pada diri suaminya, bukan seperti Marlon yang selama ini dikenalnya.
“Apa kamu pernah datang ke kedai bakpao milik Papa?” tanya Erinka menegasi.
Belum sempat Marlon menjawab, tiada angin tiada hujan tiba-tiba dari arah kanan sebuah Lamborghini sengaja memepet mobil avanza yang sedang dikendarai oleh Marlon.
“Awasss...!” teriak Erinka yang menyadari Lamborghini berwarna kuning itu akan menerjang ke arah mobil mereka. Namun, dengan skill mengemudi yang di atas rata-rata, Marlon berhasil menghindari Lamborghini itu dengan tiba-tiba memecut dengan kencang laju mobilnya.
“Sayang, pastikan sabuk pengamanmu, dan berpeganglah yang kuat,” ucap Marlon saat menyadari Lamborghini itu tidak ingin melepasnya begitu saja. Erinka sangat ketakutan hingga membuatnya menjerit seketika saat Marlon menambah kecepatan mobilnya kembali.
Walaupun Marlon sudah mengerahkan kecepatan laju mobilnya dengan maksimal di jalan yang sepi itu, tapi tidak mampu menandingi kecepatan sebuah mobil sport sekelas Lamborghini, sehingga beberapa saat kemudian si kuning itu sudah menyusulnya, dan kini berjalan beriringan dengannya.
“Siapa dua lelaki bajingan itu? Apa kamu mengenalnya, Sayang?” tanya Marlon setelah melirik ke arah mobil itu ada dua orang lelaki muda berpakaian kasual yang tampak kelasnya berasal dar orang-orang kelas atas. Apalagi tunggangan mereka sekelas Lamborghini, hanya anak pejabat atau pengusaha yang mampu memilikinya.
“Iya Sayang, aku mengenali mereka...” ucap Erinka dengan suaranya yang bergemuruh karena masih berada dalam rasa ketakutan yang amat sangat.
“Siapa mereka itu?” tanya Marlon sambil terus mengimbangi laju mobil Lamborghini di samping kanannya.
“Lelaki yang mengemudi mobil itu namanya Hendrik Iryawan, anak seorang pengusaha kaya, sedangkan yang duduk di sebelahnya, Tony Soedibyo, putra dari salah satu pejabat di kota ini. Mereka berdua memang terkenal sombong dan sering ugal-ugalan di jalan, temanku saja pernah mobilnya dibikin terbalik saat dia berangkat kerja, tapi untungnya dia baik-baik saja, hanya saja mobilnya rusak parah,” jelas Erinka mengingat kejadian beberapa minggu lalu itu, sehingga dia begitu mengenali kedua lelaki kejam itu.
“Sekarang giliran mobil mereka yang akan aku bikin jungkir balik,” ucap Marlon sambil tersenyum penuh kebencian pada kedua lelaki di dalam Lamborghini yang coba terus memepet mobil Avanza yang sedang dikendarai Marlon.
“Marlon... Apa yang ingin kamu lakukan ini?” tanya Erinka heran melihat Marlon melayani aksi mobil Lamborghini yang terus coba memepet mobilnya.
“Please... jangan bikin masalah dengan mereka... mereka terkenal kejam, aku enggak mau terjadi apa-apa dengan kita nanti...” tegas Erinka yang semakin ketakutan.
“Kamu tenang saja... mereka memang pantas diberi pelajaran,” jelas Marlon sambil menekan kembali gas dan menambah kelajuan mobilnya langsung menyalip ke lajur kanan. Erinka berpegangan kuat sambil menutup matanya karena merasa sangat ketakutan.
“Ayo kejar, Bro...” ujar Tony merasa geram dipermainkan oleh mobil Avanza butut di depannya.
Hendrik yang mengemudi mobil Lamborghini tidak mau ketinggalan jarak, dia pun langsung berpindah ke lajur kiri, lalu memecut laju mobilnya dengan kecepatan penuh.
Setelah berhasil berjalan sejajar kembali dengan mobil Marlon, Hendrik bermaksud menyenggol mobil Avanza di sebelah kanannya itu, tapi dengan sigap Marlon memelankan laju mobilnya, sehingga mobil Lamborghini itu tidak berhasil mengenai badan mobilnya, dan kini Lamborghini itu berada di tengah jalan tepat di depannya.
Kesempatan baik itu dimanfaatkan Marlon untuk menabrak sisi kanan belakang mobil mewah itu sehingga seketika itu juga si kuning terpelanting ke kiri dan tanpa diduga mobil itu malah terbalik di tepi jalan raya.
Menyadari lawannya keok, Marlon tersenyum lebar sambil terus memecut mobil Avanza yang dikendarainya di lajur cepat terus meninggalkan mereka menuju hotel bintang lima di pusat kota.
“Shit... sialan...!” umpat Hendrik yang kakinya terhimpit di balik kemudi.
“Kenapa kalian diam saja, ayo bantu temanku...!” ucap Tony yang berhasil keluar terlebih dahulu dari dalam mobil sambil duduk di aspal merasakan kesakitan pada kedua lengannya.
Namun, para pengemudi yang sempat turun dari mobil untuk melihat kejadian mobil mewah itu terbalik, malah meninggalkan mereka setelah tahu bahwa yang mengalami kecelakaan itu adalah dua orang yang terkenal sombong yang selalu bikin masalah di mana saja mereka berada.
“Biarkan saja mereka itu, tidak perlu ditolong orang jahat seperti mereka...!” ucap seorang lelaki paruh baya yang merasa dendam pernah diperlakukan tidak adil oleh kedua pemuda itu.
“Biar tahu rasa mereka... jangan ditolong...!” tegas seorang wanita yang kembali ke dalam mobilnya.
“Dulu aku pernah dibuat celaka, sekarang hukum karma berlaku...!” ujar seorang lelaki lain yang pernah jadi korban kesewenang-wenangan yang dilakukan Tony dan Hendrik.
Alhasil, bukannya menolong, semua orang yang berada di lokasi kejadian mobil Lamborghini itu terbalik hanya menonton sebentar lalu pergi dengan sumpah serapah.
Marlon memosisikan dirinya dalam keadaan terbaring telentang sepenuhnya di atas bantal. Kedua lengan kekarnya yang berotot diangkat ke atas, lalu ditekuk dengan kedua telapak tangan bertumpu dengan nyaman di bawah kepala sebagai sandaran. Posisi ini memberikan keleluasaan penuh bagi Erinka untuk memegang kendali penuh atas apa yang akan dilakukannya terhadap tubuh sang suami malam itu. Dari posisinya, Marlon menyaksikan dengan tatapan mata yang menggelap oleh gairah saat Erinka mulai memberikan pelayanan yang penuh keintiman itu. Jemari lentik Erinka mulai bergerak, menyentuh dengan sangat lembut pangkal kejantanan milik Marlon yang berdenyut kencang, memberikan pijatan-pijatan kecil yang membuat Marlon spontan mendesah rendah. Erinka menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu mulai mendekatkan bibir tipisnya yang lembut untuk memberikan sentuhan kehangatan yang paling sensual di ujung milik Marlon. Detik ketika kehangatan bibir dan rongga mulut Erinka menye
Suasana kamar tidur yang sederhana itu tampak begitu senyap ketika jarum jam dinding bergeser melewati angka dua dini hari. Angin malam yang berembus pelan di luar jendela membawa hawa sejuk, membuat udara di dalam ruangan terasa semakin meneduhkan. Di atas ranjang yang empuk, Marlon dan Erinka semula telah terlelap dalam posisi saling mendekap erat di bawah selimut tebal berbahan lembut yang hangat. Kedamaian yang baru saja mereka raih setelah keluar dari bayang-bayang lingkaran korporasi Megah Hardiyata Group seolah terwujud sepenuhnya dalam pelukan hangat keduanya.Namun, ketenangan tidur itu tidak bertahan lama bagi Marlon. Di tengah keheningan yang pekat, kesadaran pria itu perlahan-lahan mulai pulih dari alam mimpi. Saraf-saraf di dalam tubuh tegapnya mendadak berdesir hebat tanpa alasan yang jelas. Aroma wangi bunga yang berasal dari lotion malam Erinka yang masih melekat di kulit mulus sang istri kembali terhirup oleh indra penciumannya, bertindak sebagai stimulan alami yang s
Suara erangan lirih Erinka menggema halus di dalam kamar, menjadi tanda bahwa ia merasakan dirinya kini telah dipenuhi secara utuh oleh milik Marlon yang sudah masuk sepenuhnya tanpa menyisakan jarak sedikit pun. Cengkeraman jemari Erinka di bahu berotot Marlon semakin menguat, kuku-kukunya sedikit menekan kulit suaminya seiring dengan tubuhnya yang melengkung kecil, berusaha menyesuaikan diri dengan ukuran kejantanan milik Marlon yang mulai berdenyut.Suasana di dalam kamar tidur yang intim itu seketika menjadi hening dari suara dunia luar, kini sepenuhnya tergantikan oleh desahan napas yang memburu dari mereka berdua. Jepitan intim yang teramat erat di antara keduanya menjadi bukti nyata dari sebuah penyatuan fisik yang penuh dan tanpa syarat. Marlon memejamkan matanya erat-erat selama beberapa saat, menahan napasnya demi menikmati sensasi kehangatan yang menjepit ketat dan mencengkeram erat miliknya di dalam tubuh sang istri. Rasa nikmat yang luar biasa hampir saja membuatnya kehi
Sampai di dalam rumah yang sederhana namun nyaman untuk menjadi tempat tinggal, Marlon langsung merebahkan tubuhnya di sofa, melepaskan semua penat yang menghimpit dada setelah berhari-hari menghadapi ketegangan bisnis keluarga besar Hardiyata. Sementara itu, Erinka memilih untuk segera mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa debu rumah sakit dan udara dingin dari paviliun VIP. Selesai mandi, Erinka hanya mengenakan piyama handuk putih melangkah mendekati sofa, berniat membangunkan Marlon agar sang suami segera bangun dan membersihkan diri sebelum beristirahat di ranjang utama.Namun karena Marlon bermalasan dan hanya menggeliat kecil tanpa membuka matanya, Erinka berlutut di samping sofa dengan gemas. Dengan jemari lembutnya, Erinka membuka kancing baju Marlon satu demi satu, lalu dengan hati-hati menanggalkan celana panjang suaminya agar pria itu merasa lebih relaks. Ketika kain pakaian luar itu terlepas, pemandangan dada Marlon yang berotot dan berbulu membuat senyum Erinka meleb
"Marlon, apakah kamu tahu seberapa besar arti keputusanmu ini bagiku?" tanya Erinka dengan nada suara yang bergetar pelan, menghentikan langkah kakinya tepat di koridor luar paviliun VIP yang sunyi, jauh dari pintu kamar perawatan Kakek Hardiyata.Marlon menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuh untuk menghadap sang istri secara penuh di bawah temaram lampu selasar rumah sakit. "Aku tahu, Sayang. Ini adalah tentang kedamaian hidup kita. Harta melimpah tidak akan pernah sebanding dengan senyuman lepasmu yang sempat hilang karena tekanan keluarga."Mendengar penjelasan suaminya, Erinka tersenyum lembut dengan mata yang berkaca-kaca karena haru. Rasa hangat dan lega yang luar biasa seketika membubung di dalam dadanya, meruntuhkan seluruh sisa-sisa ketakutan yang sempat mengkristal di dalam benaknya selama beberapa jam terakhir. Tanpa ragu sedikit pun, Erinka menggenggam erat tangan Marlon dan menyatakan dukungan penuh atas keputusan itu. Ia memilih melepas status sebagai putri pem
"Apakah uang dan kekuasaan yang Kakek kumpulkan sepanjang hidup ini benar-benar tidak ada harganya di mata kalian, Marlon?" tanya Kakek Hardiyata dengan suara yang terdengar sangat parau, bergetar oleh kombinasi rasa haru, penyesalan, dan kesedihan yang mendalam. Kedua matanya yang mulai kabur oleh usia menatap lurus ke arah sepasang suami istri muda yang berdiri bergandengan tangan di hadapannya.Marlon menatap sang kakek dengan sorot mata yang tetap tenang, penuh rasa hormat namun tidak goyah sedikit pun oleh tekanan emosional tersebut. "Harta memiliki nilai untuk membangun kesejahteraan fisik, Kakek. Namun, ia tidak pernah bisa menjadi fondasi bagi kedamaian jiwa yang telah runtuh akibat ketamakan. Kami menghargai kerja keras Kakek, tetapi kami memilih untuk tidak menjadi budak dari apa yang Kakek bangun."Erinka mempererat genggaman tangannya pada jemari Marlon, memberikan kekuatan yang menegaskan bahwa keputusan mereka sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat lagi oleh retor
Siapa saja yang mendengar nama Meygi, pasti akan membayangkan seorang wanita cantik tapi memiliki hati yang kejam. Dalam kalangan pebisnis kelas atas, namanya sangat ditakuti karena dia tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang bermasalah dengan dirinya.Seperti halnya para pebisnis lainnya
Erinka masih diliputi dengan cemas atas kejadian di jalan raya akhirnya sampai juga ke hotel bintang lima tempat reuni ditemani Marlon. “Ayo, kita turun...” ucap Erinka saat Marlon sudah mematikan mesin mobil di parkiran basement hotel.“Tunggu dulu, Beb...” ucap Marlon sambil menahan lengan kanan
“Orang-orang brengsek! Bukannya menolong malah ‘misuh-misuh’ engga jelas!” ucap Tony yang hanya bisa melihat Hendrik terjebak di dalam mobil.“Tolong aku, Bro... kakiku kejepit, sakit sekali nih rasanya...” ujar Hendrik memanggil Tony yang sedang duduk di luar mobil yang posisinya dalam keadaan ter
Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf







