Beranda / Male Adult / Marlon Menantu Terhebat / BAB 3 : DISEREMPET LAMBORGHINI

Share

BAB 3 : DISEREMPET LAMBORGHINI

Penulis: Langit Berawan
last update Tanggal publikasi: 2026-05-31 19:18:25

Setelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada dirinya yang belum dia ketahui. Jadi Erinka meralat sendiri ucapannya, kalau dia sudah mengenal Marlon luar dalam. Karena kenyataannya tidak seperti itu.

Bagian luar tubuh Marlon memang sudah semua Erinka jelajahi, mulai dari dadanya berbulu halus hingga, area ketiaknya yang selalu dicukur bersih, bagian bokongnya yang pejal dan berbulu halus, serta bagian sensitifnya yang memiliki ukuran besar seperti yang dimiliki oleh laki-laki dari benua hitam. Tetapi, bagian dalam diri Marlon, sepertinya banyak yang belum dia ketahuinya, buktinya setelah tiga tahun berlalu baru kali ini dia tahu kalau Marlon memiliki kepandaian mengemudi yang sangat baik.

Saat Erinka termenung mengingat akan diri suaminya, Marlon sendiri tiba-tiba terbayang kejadian 10 tahun lalu saat dia berusia 15 tahun, saat pertama kali dia bertemu Erinka yang telah menyelamatkan nyawanya dengan sebuah bakpao.

“Sayang, kamu masih ingatkan kedai Bakpao Gemilang?” tanya Marlon membuka obrolan kembali dengan Erinka.

“Ya, ingatlah, masak sama bekas kedai ayahku sendiri aku lupa. Kenapa sih Sayang, kok tiba-tiba kamu menanyakan itu?” tanya Erinka heran.

“Karena kedai itu punya kenangan berarti dalam hidupku,” jawab Marlon dengan wajah yang mendadak murung. Erinka bertambah heran melihat perubahan pada diri suaminya, bukan seperti Marlon yang selama ini dikenalnya.

“Apa kamu pernah datang ke kedai bakpao milik Papa?” tanya Erinka menegasi.

Belum sempat Marlon menjawab, tiada angin tiada hujan tiba-tiba dari arah kanan sebuah Lamborghini sengaja memepet mobil avanza yang sedang dikendarai oleh Marlon.

“Awasss...!” teriak Erinka yang menyadari Lamborghini berwarna kuning itu akan menerjang ke arah mobil mereka. Namun, dengan skill mengemudi yang di atas rata-rata, Marlon berhasil menghindari Lamborghini itu dengan tiba-tiba memecut dengan kencang laju mobilnya.

“Sayang, pastikan sabuk pengamanmu, dan berpeganglah yang kuat,” ucap Marlon saat menyadari Lamborghini itu tidak ingin melepasnya begitu saja. Erinka sangat ketakutan hingga membuatnya menjerit seketika saat Marlon menambah kecepatan mobilnya kembali.

Walaupun Marlon sudah mengerahkan kecepatan laju mobilnya dengan maksimal di jalan yang sepi itu, tapi tidak mampu menandingi kecepatan sebuah mobil sport sekelas Lamborghini, sehingga beberapa saat kemudian si kuning itu sudah menyusulnya, dan kini berjalan beriringan dengannya.

“Siapa dua lelaki bajingan itu? Apa kamu mengenalnya, Sayang?” tanya Marlon setelah melirik ke arah mobil itu ada dua orang lelaki muda berpakaian kasual yang tampak kelasnya berasal dar orang-orang kelas atas. Apalagi tunggangan mereka sekelas Lamborghini, hanya anak pejabat atau pengusaha yang mampu memilikinya.

“Iya Sayang, aku mengenali mereka...” ucap Erinka dengan suaranya yang bergemuruh karena masih berada dalam rasa ketakutan yang amat sangat.

“Siapa mereka itu?” tanya Marlon sambil terus mengimbangi laju mobil Lamborghini di samping kanannya.

“Lelaki yang mengemudi mobil itu namanya Hendrik Iryawan, anak seorang pengusaha kaya, sedangkan yang duduk di sebelahnya, Tony Soedibyo, putra dari salah satu pejabat di kota ini. Mereka berdua memang terkenal sombong dan sering ugal-ugalan di jalan, temanku saja pernah mobilnya dibikin terbalik saat dia berangkat kerja, tapi untungnya dia baik-baik saja, hanya saja mobilnya rusak parah,” jelas Erinka mengingat kejadian beberapa minggu lalu itu, sehingga dia begitu mengenali kedua lelaki kejam itu.

“Sekarang giliran mobil mereka yang akan aku bikin jungkir balik,” ucap Marlon sambil tersenyum penuh kebencian pada kedua lelaki di dalam Lamborghini yang coba terus memepet mobil Avanza yang sedang dikendarai Marlon.

“Marlon... Apa yang ingin kamu lakukan ini?” tanya Erinka heran melihat Marlon melayani aksi mobil Lamborghini yang terus coba memepet mobilnya.

 “Please... jangan bikin masalah dengan mereka... mereka terkenal kejam, aku enggak mau terjadi apa-apa dengan kita nanti...” tegas Erinka yang semakin ketakutan.

“Kamu tenang saja... mereka memang pantas diberi pelajaran,” jelas Marlon sambil menekan kembali gas dan menambah kelajuan mobilnya langsung menyalip ke lajur kanan. Erinka berpegangan kuat sambil menutup matanya karena merasa sangat ketakutan.

“Ayo kejar, Bro...” ujar Tony merasa geram dipermainkan oleh mobil Avanza butut di depannya.

Hendrik yang mengemudi mobil Lamborghini  tidak mau ketinggalan jarak, dia pun langsung berpindah ke lajur kiri, lalu memecut laju mobilnya dengan kecepatan penuh. 

Setelah berhasil berjalan sejajar kembali dengan mobil Marlon, Hendrik bermaksud menyenggol mobil Avanza di sebelah kanannya itu, tapi dengan sigap Marlon memelankan laju mobilnya, sehingga mobil Lamborghini itu tidak berhasil mengenai badan mobilnya, dan kini Lamborghini itu berada di tengah jalan tepat di depannya. 

Kesempatan baik itu dimanfaatkan Marlon untuk menabrak sisi kanan belakang mobil mewah itu sehingga seketika itu juga si kuning  terpelanting ke kiri dan tanpa diduga mobil itu malah terbalik di tepi jalan raya.

Menyadari lawannya keok, Marlon tersenyum lebar sambil terus memecut mobil Avanza yang dikendarainya di lajur cepat terus meninggalkan mereka menuju hotel bintang lima di pusat kota.

 “Shit... sialan...!” umpat Hendrik yang kakinya terhimpit di balik kemudi.

“Kenapa kalian diam saja, ayo bantu temanku...!” ucap Tony yang berhasil keluar terlebih dahulu dari dalam mobil sambil duduk di aspal merasakan kesakitan pada kedua lengannya. 

Namun, para pengemudi yang sempat turun dari mobil untuk melihat kejadian mobil mewah itu terbalik, malah meninggalkan mereka setelah tahu bahwa yang mengalami kecelakaan itu adalah dua orang yang terkenal sombong yang selalu bikin masalah di mana saja mereka berada.

“Biarkan saja mereka itu, tidak perlu ditolong orang jahat seperti mereka...!” ucap seorang lelaki paruh baya yang merasa dendam pernah diperlakukan tidak adil oleh kedua pemuda itu.

“Biar tahu rasa mereka... jangan ditolong...!” tegas seorang wanita yang kembali ke dalam mobilnya.

“Dulu aku pernah dibuat celaka, sekarang hukum karma berlaku...!” ujar seorang lelaki lain yang pernah jadi korban kesewenang-wenangan yang dilakukan Tony dan Hendrik.

Alhasil, bukannya menolong, semua orang yang berada di lokasi kejadian mobil Lamborghini itu terbalik hanya menonton sebentar lalu pergi dengan sumpah serapah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 182: WARISAN MILIARAN RUPIAH

    "Tanda tangani ini, Marlon, Erinka. Jangan biarkan sisa hidup Kakek dipenuhi oleh rasa bersalah karena menunda keadilan bagi kalian berdua," ujar Kakek Hardiyata dengan suara yang bergetar namun sarat akan ketegasan yang tidak ingin dibantah lagi.Erinka menatap selembar dokumen tebal bersampul kulit hitam dengan logo emas keluarga Hardiyata yang baru saja diletakkan di atas meja kaca ruang perawatan. Matanya melebar saat membaca baris demi baris teks legalitas yang tertera di halaman depan. "Kakek, ini... ini terlalu banyak. Kami tidak bisa menerima semua aset ini begitu saja. Kehadiran kami untuk membantu Kakek dan Papa bukan karena harta ini.""Kakek tahu, Erinka. Justru karena Kakek tahu kalian tidak serakah seperti yang lain, Kakek dengan sukarela menyerahkan semua ini," sahut Kakek Hardiyata sambil mengarahkan pandangan matanya yang mulai meredup namun penuh kehangatan kepada Marlon. "Marlon, bagaimana menurutmu? Apakah kamu akan menolak niat baik seorang tua yang ingin menebus

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 181: PERMOHONAN TULUS KAKEK HAR 

    Suasana pagi di area taman dalam Rumah Sakit Pusat Megah Medika terasa begitu sejuk, dipenuhi oleh aroma embun yang membasahi dedaunan hijau di sepanjang jalur refleksi. Meskipun matahari mulai meninggi dan memancarkan sinarnya yang hangat, keheningan di paviliun khusus VIP itu tetap terjaga dengan sangat ketat oleh barisan pengawal dari tim keamanan. Tempat ini sengaja disterilkan dari hiruk-pikuk publik agar para petinggi keluarga yang sedang menjalani perawatan bisa menikmati ketenangan tanpa gangguan dari pihak luar maupun kejaran media massa. Di bawah keteduhan pohon pelindung yang rindang, waktu seolah bergerak lebih lambat, memberikan ruang bagi hati yang lelah untuk merenungkan kembali setiap garis takdir yang telah terlewati dengan penuh lika-liku.Di sudut paviliun yang langsung menghadap ke taman bunga bervariasi itu, keheningan beralih ke dalam sebuah ruang perawatan yang luas dan berfasilitas lengkap. Kakek Hardiyata duduk tegak di kursi rodanya sambil menatap Marlon d

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 180: DUA SISI TAKDIR YANG ADIL 

    Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapapun, membawa perubahan besar yang menandai babak baru bagi seluruh anggota keluarga besar Hardiyata. Di bawah langit kota Jakarta yang perlahan mulai cerah seiring dengan menurunnya angka infeksi pandemi, sebuah pemandangan yang sangat kontras terjadi di dua tempat yang berbeda. Roda kehidupan akhirnya berputar dengan sangat nyata dan adil di bawah langit Hardiyata, memberikan balasan yang setimpal bagi setiap perbuatan manusia yang telah menanam benih di masa lalu. Hukum alam yang tidak pernah salah alamat kini mempertontonkan bagaimana sebuah kejayaan sejati dan kehancuran total bisa terjadi dalam satu waktu yang bersamaan di dalam satu lingkaran keluarga yang sama.Di satu sisi, Marlon dan Sugalih menikmati penghormatan dunia yang luar biasa tinggi atas keberhasilan Yellow Pil membawa Megah Hardiyata Group ke puncak kejayaan internasional yang belum pernah tercapai oleh korporasi mana pun di Asia. Aula utama gedung pusat kendali op

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 179: PENYESALAN MENDALAM DI RUANG ICU 

    Aroma cairan antiseptik yang menyengat langsung menyambut kedatangan keluarga besar Hardiyata di lorong lantai khusus ruang ICU Rumah Sakit Pusat Megah Medika. Lampu indikator merah di atas pintu kaca besar itu menyala dengan konstan, menandakan bahwa di dalam ruangan tersebut sedang berlangsung perjuangan hidup dan mati yang sangat kritis. Langkah kaki yang terburu-buru dari para perawat dan dokter spesialis saraf yang keluar masuk ruangan semakin menambah pekat suasana ketegangan yang menyelimuti area tunggu sejak pagi buta. Di sudut lorong, Sugalih duduk dengan kedua tangan yang menopang wajah tuanya yang tampak sangat layu, kehilangan seluruh wibawa seorang CEO yang baru saja diraihnya di dunia bisnis internasional.Ketika pintu lift terbuka dengan dentingan yang nyaring, Marlon melangkah keluar dengan ekspresi wajah yang tenang namun waspada, mendampingi Erinka yang berjalan dengan tubuh yang limbung karena syok. Erinka menangis histeris saat mendapati ibunya sudah terkapar tid

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 178: SERANGAN STROKE YANG FATAL 

    Sejak fasilitas mewahnya ditarik dan status sosialnya dihancurkan oleh dewan keluarga besar Hardiyata, Kemala menghabiskan sebagian besar waktunya terkurung di dalam kamar. Kamar yang dahulu menjadi simbol kemewahan dan tempatnya memamerkan koleksi perhiasan mahal, kini terasa laksana sel penjara bawah tanah yang pengap dan sunyi, dipenuhi oleh tumpukan surat tagihan utang yang belum terbayar.Kemala duduk di tepi tempat tidur dengan gawai di tangannya—satu-satunya alat komunikasi yang tersisa setelah semua fasilitas premium miliknya diblokir oleh perusahaan. Dengan jemari yang gemetar karena menahan luapan emosi yang terpendam, ia mulai membuka aplikasi berita harian nasional dan internasional untuk melihat perkembangan situasi di luar sana. Namun, apa yang terpampang di layar gawai tersebut justru menjadi awal dari malapetaka terbesar dalam hidupnya.Puncaknya terjadi saat Kemala membaca berita harian yang menampilkan kejayaan internasional Megah Hardiyata Group dengan tajuk utama

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 177: EGO KERAS KEMALA 

    Suara deru mesin mobil-mobil mewah yang biasanya mengantar jemput para tamu sosialita kini telah lenyap, digantikan oleh kesunyian mencekam setelah tim logistik perusahaan menarik seluruh fasilitas kendaraan kemarin sore. Di dalam ruang tengah yang luas itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden besar seolah enggan menyentuh sosok Kemala yang duduk sendirian di sudut sofa, meratapi nasibnya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kabut kemarahan yang mendalam.Namun, di tengah keterpurukan sosialnya yang begitu nyata di hadapan publik dan keluarga besar, Kemala sama sekali menolak berkaca pada kesalahannya sendiri yang telah menghancurkan reputasinya. Alih-alih menyadari bahwa konspirasi busuknya bersama Zakie adalah penyebab utama dari segala penderitaan ini, hati wanita paruh baya itu justru semakin mengeras dan tertutup rapat oleh dinding keangkuhan yang semu. Pikiran Kemala telah menyimpang jauh dari kenyataan obyektif yang sedang terjadi di sekelilingnya, men

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 10: JERAT WANITA BERGINCU TEBAL

    Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 9: KETAHUAN BERBOHONG

    Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 8: DIIKUTI WANITA PENGGODA

    “Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 7: MEMILIKI BLACK CARD 

    Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status