Share

BERTEMU KEMBALI

Author: LOVEBITES
last update publish date: 2026-07-13 12:59:28

The Obsidian Lounge

Malam itu, The Obsidian Lounge—terletak di lantai tertinggi gedung pencakar langit kawasan Sudirman. Tempat ini dikenal sebagai lounge pribadi paling eksklusif di Jakarta. Tidak semua orang boleh masuk, tidak semua mampu membayar, dan tidak semua cukup berpengaruh mendapatkan meja VIP tanpa reservasi sebelumnya.

Lampu temaram berwarna keemasan memantul di lantai marmer hitam mengilap, menciptakan suasana mewah namun hening. Alunan musik jazz modern mengalun pelan, bercamp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Marriage With Benefits   Pagi yang Manis

    Pagi itu cahaya matahari masih lembut menyelinap lewat jendela kaca besar. Kaluna berjalan pelan keluar kamar, matanya masih sedikit kabur karena baru bangun tidur. Di ruang tengah, Aldrich duduk tenang di atas karpet empuk, sedang serius membaca buku tebal berisi gambar-gambar planet, sementara Naya berdiri di belakangnya dengan sisir di tangan, merapikan rambut anak itu. Di sudut dapur, koki pribadi sudah sibuk menyiapkan aroma sarapan yang menggugah selera.Kaluna berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu Naya."Biar aku saja," katanya lembut."Baik, Nyonya," jawab Naya sopan sambil menyodorkan sisir, lalu berjalan menuju dapur membantu koki.Kaluna mengangguk, lalu mencium puncak kepala Aldrich dengan penuh kasih sayang.Aldrich langsung menoleh cerah, matanya berbinar senang."Selamat pagi Mami ku yang cantikkk!""Selamat pagi, sayang," balas Kaluna sambil tersenyum lebar. "Wangi sekali anak Mami hari ini.""Iyaaa dong! Anak Mami harus selalu wangi," jawab Aldrich bangga.Kaluna

  • Marriage With Benefits   Kaluna dan Nathan

    Nathan menyetir dengan tenang, ponselnya tersambung otomatis ke sistem suara mobil. Tiba-tiba suara Celine terdengar jelas memenuhi kabin, karena Nathan lupa tidak mematikan fitur sambungan otomatis dan tidak menggunakan earphone. "Nanti aku hubungi lagi begitu sampai di apartemen ya, sayang," ucap Nathan pelan. "Hmm... aku juga baru mau pulang dari sini," jawab Celine dari seberang. "Hati-hati di jalan ya pulangnya," pesan Nathan lembut. "Kamu juga ganteng. I love you, Nath." "Iya sayang, I love you so much." Sambungan terputus. Sejak tadi Kaluna hanya bersandar lemas di jok samping, matanya terpejam rapat, padahal setiap kata percakapan itu terdengar sangat jelas di telinganya. Kaluna tertawa kecil, suaranya datar tanpa membuka mata. Nathan tersenyum tipis, lalu tangannya terulur mengacak rambut Kaluna dengan lembut—hanya dialah satu-satunya orang yang berani dan bisa melakukannya tanpa ditolak. "Sudah selesai?" tanya Kaluna pelan. "Hmm," jawab Nathan. Kaluna tertawa lagi.

  • Marriage With Benefits   Pertemuan Rahasia

    Di sudut paling tenang bar eksklusif di lantai tertinggi gedung pusat kota, cahaya lampu gantung berwarna keemasan jatuh lembut di atas meja kayu gelap. Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi kayu cendana ruangan, menciptakan suasana hening namun terasa berat. Xander duduk santai di salah satu sofa kulit, berhadapan dengan Sean dan Arron.Sean menyandarkan punggungnya, cangkir kopi di tangannya diputar pelan tanpa diseruput sedikit pun. Wajahnya datar, tapi matanya menahan ketidaksukaan yang jelas."Aku tidak suka menjalin kerja sama dengan sesuatu yang bahkan informasinya tidak jelas," ucapnya pelan namun tegas. "Nathan?" tanya Xander seolah baru mendengar nama itu."Mungkin saja," timpal Arron sambil menyandarkan dagu di atas tangan."Kalian mengenalnya.""Benarkah?? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya," Arron menoleh cepat ke arah Sean. "Kau mengenalnya?""Kurasa tidak," jawab Sean singkat, matanya menatap lurus ke luar jendela menatap kerlap-kerlip lamp

  • Marriage With Benefits   Aku Akan Menikah

    Sore itu, sinar matahari mulai berwarna keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil sedan limusin paling mewah milik keluarga Vance—berkulit cokelat lembut, pencahayaan hangat, dan kedap suara sempurna—Kaluna duduk bersandar lepas di kursi belakang yang luas. Ia sama sekali tak sadar bahwa ia sudah tertidur pulas selama satu jam penuh, padahal cairan infusnya sudah habis sejak lama di rumah sakit. Perlahan Kaluna membuka mata, menatap ke luar jendela yang melaju pelan. "Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya pelan. "Nyonya butuh istirahat," jawab Emily tenang dari kursi depan. "Lagipula saya sudah menyusun ulang semua jadwal Nyonya sejak Nyonya masuk UGD tadi." "Kata siapa?" potong Kaluna cepat. "Kata Dokter Nathan," jelas Emily santai. "Semalam Nyonya mabuk, lalu Nyonya..." Kaluna langsung berdeham keras, sengaja memotong pembicaraan itu. "Tidak perlu diingatkan terus!" Emily tertawa kecil, lalu menoleh ke belakang sambil menyipitkan mata menatap bosnya. "Sesuatu terjadi di

  • Marriage With Benefits   SEDIKIT PERHATIAN

    Sean dan Arron saling bertukar pandang sekilas, lalu perlahan kembali menatap anak laki-laki itu lekat-lekat. Aldrich tampak sungguh tampan dan menggemaskan: wajahnya bersih, mata bundar yang cerdas berbinar cerah, rambut hitam legam yang sedikit berantakan secara alami. Ia mengenakan kaos polo berwarna biru muda dengan logo kecil di dada, celana chino berwarna krem, dan sepatu kets berwarna putih bersih, penampilan yang rapi namun tetap santai dan nyaman untuk anak seusianya. Lamunan mereka terputus saat suara Kaluna terdengar tegas. "Aldrich, berapa kali Mami bilang tidak boleh masuk begitu saja di tempat rapat?" Aldrich langsung menoleh ke arah ibunya, matanya berkedip polos. "Ma... maaf Ma. Aldrich dengar ada Papa Xander di sini." "Bukan berarti kamu bisa seenaknya masuk ruangan Mama," tegur Kaluna masih kaku. Aldrich langsung menunduk dalam, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Lun..." potong Xander lembut. "Lagipula kita juga sudah selesai. Aldrich sama sek

  • Marriage With Benefits   BEKERJA SAMA

    Kaluna berjalan menyusuri lorong utama menuju sayap tamu VVIP, langkahnya tegak dan anggun di atas sepatu hak tingginya. Setiap karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat, dan Kaluna membalasnya dengan senyum tipis serta anggukan singkat, sopan namun tetap memancarkan wibawa pemimpin tertinggi. Di belakangnya, Emily berjalan selangkah di samping, memeluk erat iPad yang tak pernah lepas dari tangannya.Pintu ruangan terbuka lebar. Ruangan tamu VVIP Eve Corp tampak begitu megah, dinding dilapisi panel kayu cokelat tua berkilau, lantai marmer krem yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal buatan tangan, sofa kulit premium berwarna gading, dan jendela kaca setinggi langit-langit yang memamerkan pemandangan seluruh kota Jakarta. Semuanya mencerminkan kemewahan dan standar tertinggi yang dijunjung Eve Corp.Di tengah ruangan, di sofa utama, duduk Sean Wiratama dengan tenang. Sikapnya santai namun mendominasi, satu kakinya disilang, jari telunjuk mengetuk pelan tepi cangkir teh d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status