Share

78. Shaka Cemburu

Author: Aloegreen
last update Last Updated: 2025-08-14 11:34:12

"Sebagai montir lama biar kujelaskan. Kondisi kendaraan kalian bukan hanya mengalami kebocoran ban, tetapi olinya juga habis. Jadi aku menggantinya. Bayar dua kali lipat." orang itu mengulurkan tangannya meminta uang.

Nayla ternganga, "Kenapa main ganti oli aja nggak bilang-bilang?! Nggak profesional banget! Ceritanya pemerasan namanya?! Kalian mau malak aku?"

Orang itu justru tersipu malu, "Mana mungkin kami malak Mbak. Mbak cantik begini." terkikik pelan.

Sudut bibir Nayla berkedut syok, "Anak muda, matamu rabun, ya?" dia merasa kasihan.

"Mana ada rabun? Mbak cantik banget makanya kita suka bercandain," balas montir itu.

Nayla menepuk dahi, "Aku udah punya suami, loh."

Dalam artian seharusnya mereka tidak perlu menggodanya.

"Emangnya kenapa?" kata montir itu.

Petir menyambar di atas kepala Nayla. Muka Nayla serasa gosong seketika. Mendengar pengakuan blak-blakan dari cowok itu Nayla seperti ditampar petir secara langsung. Menggeleng mengusir kecemasannya dan menarik motornya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Married to My Childhood Friend   166. Kencan Dadakan

    Lenguhan di kedua lengan kokoh membuat tidur Nayla semakin pulas. Shaka hanya bisa mengulas senyum sambil menggendongnya memasuki rumah hingga membaringkannya di ranjang. Pelan-pelan, memastikan Nayla tidak akan bangun dalam pergerakan sekecil apapun. Dia sangat memperlakukannya lemah lembut seolah-olah Nayla adalah boneka yang bisa patah. "Sssttt, tenanglah. Kita sudah sampai di rumah," gumam laki-laki itu di balik senyumnya. Ketika dia hendak berdiri tegak, tangan Nayla meraih pergelangan tangannya dan menarik Shaka hingga mendekat. Jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Shaka terkejut, matanya berkedip menatap wajah Nayla yang masih terpejam erat. Gadis itu melenguh dalam tidurnya. "Jangan tinggalkan aku, Shaka," kemudian dia melantur. Shaka terkesiap luar dalam dan bingung harus bereaksi seperti apa. Dia tersenyum, menatap wajah Nayla lembut dan membelai pipinya."Dalam mimpi pun kamu tidak bisa melepaskan aku. Segitu takutnya kamu kembali kehilangan aku." Perlahan-lahan

  • Married to My Childhood Friend   165. Atmosfer yang Memabukkan

    "Ngomong-ngomong, Nayla, kamu sama Shaka lengket banget apa kalian udah ...," Vira menggantung ucapannya lagi, tetapi kali ini ada senyum licik di wajahnya."Eee, udah apa?"Nayla mendorong Vira agar mundur sedikit karena dia benar-benar terpojok sekarang. "Ck, udah itu lah masa nggak tau, sih." alis Vira turun-naik. Nayla seketika melotot, "Kamu gila, ya?!" "Haha, udah aku duga kamu paham. Nggak usah malu ngaku aja. Udah apa belum?" senyum Vira menyebalkan membuat Nayla berdecak."Bukan urusan kamu. Lagian ngapain bahas itu, sih, bikin malu tau." "Ih, kamu nggak seru, ih. Sejak kapan hari kamu cerita kalau kalian udah ciuman, aku makin kepo tau. Pasti kalian udah menciptakan momen-momen romantis di tengah kehangatan bulan, 'kan?" goda Vira lagi. "Vira! Apa, sih, jangan ngomong begitu lagi," Nayla kesal. Pipinya memerah membuat Vira tergelak.Memalingkan wajah sempat melihat pantulan diri sendiri di cermin dan segera memalingkan diri tidak mau melihat wajah malunya yang kentara je

  • Married to My Childhood Friend   164. Warna-warni di Pesta

    Sofa di sudut gedung dekat dengan meja penuh hidangan manis menjadi tempat ternyaman mereka saat ini. Setelah menyapa sang manajer dan para petinggi perusahaan, Nayla hanya ingin memenuhi mulutnya dengan makanan dan berbincang ringan bersama Shaka. Vira dan Gilang sampai muak melihat mereka di pojokan. "Astaga, kalau cuma seperti itu doang bisa kali dilakukan di rumah. Kenapa malah datang ke sini? Kue besarnya juga belum muncul buat dipotong. Apa jangan-jangan Nayla mau menghabiskan kue ulang tahunnya juga?" Vira geleng-geleng kepala padahal dia sendiri juga sedang makan kue kecil. Gilang berdecak, "Aku habis marahin mas Shaka, ternyata efeknya nggak tanggung-tanggung. Tangan mereka nggak lepas sedikitpun tau." Vira memberikan kuenya secara paksa pada Gilang, "Ini nggak bisa dibiarin. Aku harus rebut Nayla!" Gilang ingin menghentikannya, tetapi Vira sudah terlanjur ingin melabrak Nayla dan Shaka."Aduh, tamatlah sudah." Gilang menepuk dahinya lagi."Yang ini manis banget tau. Kam

  • Married to My Childhood Friend   163. Pekerjaan Baru

    Setelah sekian lama berusaha akhirnya mereka mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan swasta. Mereka tidak mempermasalahkannya, hanya saja bekerja di tempat yang berbeda membuat mereka harus terpisah beberapa jam lagi dalam sehari. Nayla menjadi administrator di sebuah pabrik kertas, sedangkan Shaka juga administrator di bidang properti. Soal gaji tentu Shaka lebih tinggi. Namun, bukan betapa sulit ya pekerjaan dan lingkungan baru itu, melainkan betapa lamanya waktu satu menit seakan satu hari penuh untuk berlalu. Mereka tidak bisa berpisah terlalu lama. Setiap kali pulang mereka selalu berpelukan dan lebih lengket. Bersantai bersama bahkan tidak ingin tidur dan tidak mau mengulang hari esok untuk berpisah kembali, tapi mereka harus bekerja untuk mendapatkan uang. Hari ini terlalu panas. Nayla beristirahat di sebuah teras cafe sambil menguyah es batu yang berada di dalam segelas jus. "Ih, aku ikut kesel banget kenapa perusahaan kita nggak mau nerima kamu lagi? Padahal kinerja kam

  • Married to My Childhood Friend   162. Mencari Pekerjaan Selalu Sulit

    "Oh, kamu masih ingat di mana lokasi Enna menculik Nayla di hutan?" tanya Shaka menghebohkan Gilang lagi. "Sampai mati pun nggak akan aku lupa. Hutan itu dalam kawasan perlindungan polisi sekarang. Mendingan nggak usah ke sana atau bakal kena masalah," kata Gilang. "Gimana kamu bisa tau aku mau ke sana?" Shaka mengernyit. "Ck, tercetak jelas di dahimu, Mas, kalau kamu mau balas dendam dengan caramu sendiri. Aku masih ingat kalau Mbak Nayla pernah bilang kamu psiko." dengan entengnya Gilang membongkar isi pikiran Shaka sambil makan kue. Kemudian, Shaka tergelak puas membuat Gilang dan Nayla bingung, "Sungguh pria yang luar biasa. Beruntung banget Nayla punya teman kayak kamu sedangkan selama hidupnya dia nggak punya teman, hahaha." Gilang meringis lagi dengan kue yang menyumbat mulutnya sambil beringsut ke sisi Nayla dan berbisik, "Suamimu ... gila?" Nayla mengangguk dan menggeleng, "Nggak tau. Aku juga nggak tau." Namun, Nayla juga tidak menduga jika kehadirannya pertama kali d

  • Married to My Childhood Friend   161. Kehebohan di Rumah Gilang

    Mulutnya berbuih, mangap seperti ikan kesetrum listrik. "Gilang! Gilang, aduh, kenapa kamu pingsan? Shaka, cepat bantuin dia." Nayla panik membantu Gilang berdiri, tapi Gilang terlalu berat. Shaka berdecak sembari melipat tangan di dada, "Dia cuma pura-pura." Nayla menoleh kaget, "Ha? Pura-pura?" Lalu, kembali menatap Gilang, "Kamu pura-pura, ya? Bangun, nggak!" menampar pipi Gilang dan akhirnya Gilang sadar mengaduh kesakitan. "Aduh, sakit tau, Mbak! Jahat banget, sih." Gilang cemberut mengusap pipinya. Kemudian, menatap Nayla dan Shaka bergantian lagi membuatnya pura-pura pingsan kembali, "Astaga, aku pasti salah lihat. Kenapa kalian berdua ada di rumahku?" "Aaaa! Gilang pingsan lagi!" Nayla menampar pipi Gilang lagi dan kini laki-laki itu tidak mau sadar. Terpaksa cara terakhir adalah menyeret kakinya masuk dan membiarkannya tergeletak di depan kursi ruang tamu. "Hahh, merepotkan. Baru kali ini aku lihat tuan rumah pingsan lihat tamunya. Emang ya aku selangkah itu apa? Hah?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status