Share

Bab 6

Penulis: Pein
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 12:16:59

Arman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam.

Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras.

"Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita.

Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya.

Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang.

Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal."

Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu.

Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya.

Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi dia angsung memiringkan tubuhnya.

Ujung pisau hanya berjarak beberapa sentimeter dari dadanya.

Wanita itu kesal, tapi tepat saat hendak menyerang kembali, suara teriakan menggema dari kejauhan.

"Cepat! Dia ada di depan!"

"Jangan sampai lolos!"

Langkah kaki terdengar berlari mendekat.

Wanita itu mendecak kesal. "Urusan kita belum selesai!"

Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menarik kembali belatinya, lalu melompat mundur, tubuhnya bergerak sangat ringan. Hanya dalam beberapa saat, sosoknya telah berlari cepat meninggalkan Arman.

"Hei! Tunggu!"

Arman spontan mengejarnya, tetapi baru beberapa langkah ia teringat pada dua orang yang tadi ikut terjatuh bersamanya. Dia segera berbalik, Sekar dan Rini masih terduduk di tanah sambil meringis kesakitan.

Arman mengulurkan kedua tangannya. "Ayo, cepat berdiri."

Keduanya menerima uluran tangan itu.

"Apa kalian terluka?"

Sekar menggeleng pelan. "Tidak"

"Aku juga tidak apa-apa, Mas."

Mendengar jawaban itu, Arman sedikit lega, tapi suara orang-orang yang mengejar wanita tadi semakin dekat.

Dia menoleh ke arah lorong Laboratorium. Tiga pria berpakaian hitam dengan senapan otomatis tampak berlari menuju arah mereka.

Arman mengernyit. "Siapa sebenarnya wanita itu sampai dikejar mereka, padahal dia kurus?"

Tanpa berpikir panjang, ia menggenggam tangan Rini dan Sekar, lalu ikut berlari mengikuti jejak wanita misterius tersebut.

---

Ditengah malam yang sangat gelap wanita itu tetap berlari tanpa pernah menoleh ke belakang, kecepatannya luar biasa.

Arman hampir kehilangan jejaknya berkali-kali. "Dia manusia atau mutan?" gumamnya.

Tidak lama kemudian, wanita itu berbelok menuju area belakang Laboratorium BioGen.

Sesaat setelah memasuki halaman belakang laboratorium, wanita itu menghilang.

Arman berhenti, napasnya memburu. "Brengsek...." Ia memutar tubuh ke segala arah. "... kemana perginya wanita itu?"

Dia tidak melihat ada siapa pun di sana.

"Mas!" Rini tiba-tiba menunjuk ke arah samping. "Lihat itu!"

Arman mengikuti arah telunjuknya. Di sudut halaman terdapat sebuah tempat sampah berukuran cukup besar.

Belum sempat Arman berpikir lebih jauh, suara langkah kaki para pengejar kembali terdengar.

"Mereka ke arah sini!"

"Cari sampai ketemu!"

Arman langsung mengambil keputusan. "Kita sembunyi dulu!"

Ia menarik tangan Rini dan Sekar menuju tempat sampah tersebut. Tutupnya ternyata tidak terkunci.

Begitu dibuka, ketiganya langsung melompat masuk. Namun, bukannya mendarat di atas tumpukan sampah, tubuh mereka justru kehilangan pijakan.

"Lho?"

"Mas!"

"Aaaahhh!"

Ketiganya meluncur menuruni sebuah lorong kebawah. Semakin lama, semakin cepat.

Brugh!

"Ugh!" Tubuh mereka akhirnya terjatuh ke lantai.

Arman menjadi bantalan hidup bagi dua wanita yang jatuh tepat di atasnya.

"Aduh..." Ia meringis sambil memegangi punggungnya. "Sakit sekali...."

Dengan susah payah ia mendorong Rini dan Sekar yang ada di atasnya kemudian berdiri, barulah membantu kedua wanita itu bangkit.

"Kalian baik-baik saja?"

Kedua gadis itu mengangguk meski wajah mereka masih menahan nyeri.

Arman mengusap debu di pakaiannya, baru setelah itu ia menyadari sesuatu, mereka tidak berada di tempat biasa.

Ruangan itu sangat luas, lampu di langit-langit masih menyala terang. Padahal, sejak dunia runtuh jaringan listrik nasional sudah lama mati.

"Ini..." Rini menatap lampu-lampu itu dengan mata membesar. "... bagaimana mungkin masih ada listrik?"

Sekar buka suara. "Tempat ini sepertinya bunker rahasia."

Arman mengangguk pelan, Instingnya juga mengatakan tempat ini menyimpan rahasia besar.

Di saat yang sama, dari atas terdengar suara para pengejar.

"Sial!"

"Kemana mereka menghilang?"

"Aku yakin tadi mereka masuk ke area ini!"

Beberapa langkah kaki terdengar mondar-mandir tepat di atas kepala mereka.

Arman langsung mengangkat telunjuk. "Ssst..."

Rini dan Sekar langsung menutup mulut, mereka bahkan menahan napas.

Beberapa menit berlalu, suara langkah kaki mulai menjauh.

"Mungkin mereka lari ke sisi timur."

"Ayo cari ke sana!"

Tak lama kemudian, keheningan kembali menyelimuti lorong bawah tanah.

Arman akhirnya mengembuskan napas panjang. "Syukurlah...."

Belum sempat rasa lega itu bertahan lama, sebuah suara wanita terdengar dari belakang mereka. "Berani sekali kalian masuk ke tempatku!"

Seketika Arman membalik badan dengan cepat, begitu pula Rini dan Sekar.

Di belakang mereka sudah berdiri seorang wanita berambut hitam panjang mengenakan pakaian tempur berwarna gelap, memegang pistol berperedam yang kini diarahkan lurus ke kepala Arman.

Jari telunjuk wanita itu telah berada di pelatuk siap menembak kapan saja.

Arman perlahan mengangkat kedua tangannya, belum sempat dia bicara. Sebuah layar biru transparan muncul di depan matanya.

[Ding!

Terdeteksi wanita yang memenuhi syarat sebagai anggota Keluarga Harmonis.

Nama : Rahayu Rahma

Tingkat Kecantikan : 94/100

Poin Afeksi : -10/100

Tingkatkan Poin Afeksi target untuk memperoleh Poin Sistem.

Hadiah Tambahan: Saat Poin Afeksi mencapai 100/100, fitur "Berbagi Kemampuan" akan otomatis terbuka.]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 102

    Keesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 101

    Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 100

    Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 99

    Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 98

    Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 97

    Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status