LOGINMelihat layar hologram Sistem yang menyatakan bahwa wanita di hadapannya memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Keluarga Harmonis, Arman menyunggingkan senyum tipis.
Senyum itu justru membuat Rahayu semakin kesal. Genggaman tangannya pada pistol semakin erat, sementara tekad untuk membunuh pria di hadapannya kian menguat. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, Arman bergerak lebih cepat. Duak! Kakinya melesat menendang pergelangan tangan Rahayu. Pistol yang berada dalam genggamannya terlepas dan melayang jatuh beberapa meter. Rahayu terkejut. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah pistol itu. Sayangnya, Rini bergerak lebih sigap. Wanita itu lebih dulu meraih pistol, lalu mengacungkannya tepat ke arah Rahayu. Rahayu mendongak dengan wajah penuh amarah. "Berikan pistolku! Jangan percaya pada pria gila itu! Wanita seperti kita cepat atau lambat pasti akan dibunuh olehnya!" bentaknya. Rini hanya tersenyum kecil. Bukannya mengembalikan pistol tersebut, ia malah melemparkannya kepada Arman. "Maaf, Nona. Tapi... aku lebih percaya pada priaku." "Priamu?" Rahayu menoleh ke arah Arman yang kini dengan tenang menangkap pistol itu. Arman mengembuskan napas pelan. Dengan gerakan santai, ia mengeluarkan seluruh peluru dari magazen sebelum memperlihatkannya kepada Rahayu. "Nona," ucapnya tenang, "aku tidak sama dengan pria-pria lain. Selama kau bersedia ikut denganku, aku akan memastikan keselamatanmu." "Cuih!" Rahayu meludah ke samping. "Di dunia ini semua pria sudah gila! Wanita yang tidak bisa menggemukkan badan dianggap sampah. Aku yakin kau juga tidak berbeda!" Arman terdiam. Menurut ingatan pemilik tubuh ini, ucapan Rahayu memang bukan tanpa alasan. Setelah kiamat terjadi, wanita bertubuh gemuk dipandang sebagai sosok yang lebih subur dan memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan keturunan. Akibatnya, wanita bertubuh kurus diperlakukan layaknya manusia kelas bawah. Tak heran jika Rahayu sama sekali tidak mempercayainya. Saat suasana kembali hening, Rini angkat bicara. "Mas Arman berbeda dengan mereka. Kalau memang berniat membunuh wanita kurus, sejak awal dia tidak akan membiarkan aku dan Sekar tetap hidup." Mendengar pembelaan itu, senyum Arman semakin lebar. 'Bagus... Rini memang bisa diandalkan,' batinnya puas. Rahayu memandang Rini, lalu melirik Sekar yang masih tampak lemah bersandar di dinding. Meski keraguannya belum hilang, ia juga sadar dirinya sudah kehilangan satu-satunya senjata, sementara pistol kini berada di tangan Arman. Arman melangkah perlahan mendekatinya. Setiap langkah yang terdengar membuat napas Rahayu semakin tidak teratur. Refleks ia mundur hingga kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai. "K-Kau... mau apa?" tanyanya dengan suara bergetar. Arman membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh sentimeter. Dengan suara pelan, ia berbisik, "Nona Rahayu Rahma... percayalah padaku. Bersamaku, hidupmu akan jauh lebih baik." Mata Rahayu langsung membelalak. "Kau... bagaimana bisa tahu namaku?" Arman kembali berdiri tegak sambil memasukkan peluru ke dalam pistol kembali. "Bukan hanya namamu yang kutahu. Ada banyak hal yang bisa kulakukan yang tidak mampu dilakukan pria lain." Tatapannya berubah tajam sebelum melanjutkan. "Jadi... kau ikut denganku, atau..." Klik. Moncong pistol perlahan terangkat dan mengarah tepat ke dahi Rahayu. Di dunia akhir zaman seperti sekarang, Arman memahami satu hal. Kebaikan saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Terkadang, ancaman adalah cara tercepat untuk membuat seseorang menyerah. Meski ia membutuhkan Poin Afeksi dari Sistem, bukan berarti ia boleh bersikap terlalu lunak. Rahayu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Setelah beberapa saat terdiam, ia akhirnya berkata lirih, "...Baik. Aku akan ikut denganmu." Senyum tipis muncul di wajah Arman. "Pilihan yang bijak." Tepat setelah kata-kata itu terucap, suara notifikasi mekanis bergema di benaknya. [Ding! Berhasil menjadikan Rahayu Rahma sebagai bagian dari Keluarga Harmonis. Misi tersembunyi berhasil diselesaikan! Syarat: Jadikan tiga wanita dengan nilai kecantikan di atas 90/100 sebagai anggota Keluarga Harmonis. Hadiah: 3 bungkus Mie Instan.] Arman yang semula hendak bersorak kegirangan mendadak membeku, sudut bibirnya berkedut pelan. Tatapannya terpaku pada layar hologram Sistem yang hanya bisa dilihat olehnya. "Astaga... hanya tiga bungkus Mie Instan?!" Arman rasanya ingin memaki Sistem. Sebelumnya dia diberi hadiah pemula berupa sepuluh set pakaian dalam transparan dan sekarang hanya diberi 3 bungkus mie instan.Keesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi
Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu
Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se
Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.
Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k
Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam







