تسجيل الدخولArman masih mematung di tempatnya. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. Alisnya berkerut dalam melihat notifikasi Sistem yang tertera.
Poin toko sama sekali tidak berubah. Padahal beberapa saat sebelumnya, poin afeksi Sekar telah meningkat lima poin. Seharusnya, menurut dugaan Arman, peningkatan afeksi akan diikuti dengan bertambahnya poin toko. Namun kenyataannya, saldo poin tetap sama. Rasa kesal mulai memenuhi dadanya, dalam hati ia menggerutu. "Sistem, jangan main curang! Hadiah pemula yang kau berikan saja sudah aneh. Bukannya kemampuan bertarung atau senjata, malah sepuluh set bikini transparan. Sekarang poin toko juga tidak bertambah? Jangan bilang kau memang sengaja mempermainkanku!" Suara Sistem segera bergema di dalam benaknya. [Poin Toko hanya diperoleh ketika Poin Afeksi meningkat dari nilai positif. Poin Afeksi yang naik dari nilai minus tidak menghasilkan Poin Toko.] Arman membeku beberapa saat, kemudian urat di pelipisnya berkedut. "Kau..." Ia benar-benar ingin memaki Sistem habis-habisan. Rasanya, sejak terbangun di dunia akhir zaman ini, Sistem tidak memberinya sesuatu secara cuma-cuma. Bahkan penjelasannya selalu singkat dan menyebalkan. Namun, sebelum amarahnya benar-benar meledak, suara lirih seseorang menghentikan pikirannya. "...Terima kasih." Arman segera menoleh. Sekar masih duduk dengan kepala tertunduk, rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya menggenggam botol air mineral kosong seolah benda itu merupakan harta paling berharga yang ia miliki. Meski suaranya sangat pelan, Arman dapat merasakan ketulusan di balik ucapan sederhana itu. Tatapan gadis tersebut tidak lagi dipenuhi kewaspadaan seperti sebelumnya. Masih ada rasa takut, tetapi kini bercampur dengan sedikit kepercayaan. Arman menghela napas pelan, baru saja ia hendak menjawab, Rini mendahuluinya. Dengan senyum hangat, gadis itu berjongkok di hadapan Sekar, lalu menggenggam kedua tangan wanita tersebut. "Kakak pertama... perkenalkan, namaku Rini." Sekar sedikit terkejut hingga tanpa sadar mengangkat kepalanya. "Mulai sekarang... anggap saja kita saudara," lanjut Rini sambil tersenyum. Ucapan itu membuat Sekar terdiam, matanya berkedip beberapa kali, seolah tidak percaya masih ada orang yang bersedia menerimanya di tengah dunia yang telah berubah menjadi neraka. Perlahan ia mengalihkan pandangannya kepada Arman, tatapan itu seakan bertanya. "Apa yang sedang terjadi?" Bahkan Arman sendiri ikut tercengang. Ia juga belum mengenal sifat Rini dengan baik, tetapi ia tidak menyangka gadis itu bisa menerima orang asing secepat ini. Rini kemudian melepaskan genggamannya. Ia membuka ransel kecil yang dibawanya lalu mengeluarkan satu kaleng makanan. "Kak. Makan dulu." Tanpa menunggu jawaban, Rini menyodorkan makanan tersebut. "Kakak kelihatan pucat sekali. Kalau terus begini, Kakak bisa pingsan lagi. Setelah makan, kita cari tempat yang lebih aman bersama." Kemudian Rini menoleh ke arah Arman. "Iya, kan, Mas Arman?" Arman menyipitkan matanya. "Aku tidak bilang mau mengajakmu." "Mas Arman... kalau aku tidak ikut, siapa yang mau menunjukkan tempat itu? Lebih baik kita bekerjasama saja oke," ucap Rini sambil tersenyum. Arman menghela napas, pada lahirnya dia mengangguk setuju. Sekar yang melihat Arman mengangguk setuju, entah kenapa merasa senang. [Ding! Poin Afeksi Sekar Ayu naik 10. Poin Afeksi sekarang: -65/100.] Mata Sekar sedikit memerah. Dengan tangan gemetar, ia membuka kaleng makanan itu. Ia pun mulai menyantapnya dengan lahap. Setiap suapan dilakukan begitu cepat, seolah ia takut makanan itu akan menghilang jika terlambat. Rini hanya tersenyum melihatnya, sesekali ia mengajak Sekar mengobrol. Meski jawaban Sekar selalu singkat, Rini tidak merasa terganggu sedikit pun. Ia terus mengobrol, berusaha mencairkan suasana. Sedikit demi sedikit, ekspresi tegang di wajah Sekar mulai menghilang. Sementara itu, Arman hanya memperhatikan mereka. Keberadaan Rini ternyata jauh lebih berguna daripada yang ia bayangkan. Tidak hanya mempercayainya tanpa syarat, gadis itu bahkan mampu membuat orang lain merasa nyaman hanya dalam waktu singkat. --- Matahari perlahan tenggelam di balik reruntuhan gedung-gedung. Malam di dunia akhir zaman pun Arman rasakan untuk pertama kalinya dan semua terlihat gelap gulita. Setelah memastikan keadaan sekitar cukup aman, Arman berdiri. "Kita berangkat sekarang." Rini dan Sekar segera mengikuti. Tujuan mereka malam itu adalah laboratorium penelitian bernama BioGen yang berada di pinggiran kota. Menurut ingatan Rini, tempat tersebut dulunya merupakan pusat penelitian bioteknologi terbesar di wilayah itu. Namun sejak wabah menyebar, seluruh aktivitas mendadak berhenti. Tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam laboratorium tersebut. Justru karena itulah Arman ingin datang, jika benar tempat itu merupakan pusat penelitian virus, mungkin masih ada informasi atau perlengkapan yang bisa dimanfaatkan. Perjalanan berlangsung cukup lama. Beruntung, Rini mengenal jalan-jalan kecil yang jarang dilalui orang. Beberapa kali mereka harus bersembunyi dari kelompok geng yang berpatroli. Akhirnya, menjelang tengah malam, bangunan BioGen mulai terlihat, gedung itu masih berdiri kokoh meski sebagian dindingnya telah retak. Logo perusahaan masih tergantung di bagian depan, tetapi hampir seluruh hurufnya telah dipenuhi lumut dan bercak darah yang mengering. Suasana di sekitarnya begitu sunyi. Rini tanpa sadar menggenggam bagian belakang baju Arman. Di sisi lain, Sekar melakukan hal yang sama, keduanya menempel begitu dekat. Tubuh mereka sedikit gemetar, tempat itu benar-benar gelap. Hanya cahaya bulan yang sesekali menembus sela-sela awan. "Mas Arman..." Suara Rini terdengar bergetar. "Kamu yakin kita masuk sekarang?" Belum sempat Arman menjawab, Sekar ikut bersuara lirih. "Kenapa kita justru datang ke tempat seperti ini? Bukankah... ini sama saja mencari kematian?" Arman tetap menatap pintu utama laboratorium, sorot matanya tajam. "Semakin lama kita menunggu, semakin besar kita di tangkap kelompok geng, tempat paling berbahaya adalah tempat teraman." Dia kemudian menoleh kepada kedua wanita itu. "Dengarkan baik-baik." Suaranya berubah serius. "Apa pun yang terjadi nanti, tetap berada di belakangku." Keduanya mengangguk bersamaan. Mereka pun melangkah perlahan menuju pintu masuk utama. Setiap langkah terdengar begitu jelas di tengah kesunyian malam, semakin dekat mereka dengan gedung BioGen, hawa dingin yang menusuk tulang semakin terasa. Entah mengapa, Arman memiliki firasat buruk. Seolah ada banyak mata yang sedang mengawasi dari balik kegelapan. Baru beberapa meter dari pintu utama, ttiba-tiba, suara langkah kaki yang sangat cepat terdengar dari sisi kanan bangunan. Arman langsung menghentikan langkahnya, tatapannya bergerak tajam ke arah sumber suara. Rini dan Sekar ikut menoleh dengan wajah pucat. Dalam kegelapan, sesosok bayangan melesat keluar dari arah kanan dengan kecepatan tinggi. Orang itu seperti sedang dikejar sesuatu. Karena minimnya cahaya, baik Arman maupun sosok misterius itu tidak sempat menghindar. Brak! Benturan keras pun tak terelakkan. "Aduh!" Mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling. Arman menjadi orang yang paling sial, tubuhnya terhempas telentang, sementara sosok misterius itu tepat menindihnya. Dia tersebut meringis kesakitan, membuka mulut, bersiap memaki orang yang menabraknya. Namun sebelum, satu kata pun keluar, telapak tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang sangat lembut dan kenyal. Refleks, Arman menekannya pelan karena mengira benda itu adalah bantalan atau tas. Ekspresinya langsung berubah aneh, alisnya berkerut, ia bergumam pelan. "Benda kenyal ini... kenapa rasanya begitu familiar...?"Arman berusaha menahan rasa kesalnya. Lagi pula, misi yang baru saja berhasil diselesaikannya memang terjadi secara tidak sengaja. Jika hadiahnya hanya tiga bungkus mi instan, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mendapat apa pun."Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Rahayu tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.Arman menoleh ke wanita itu, tanpa banyak bicara, dia menyelipkan tangan ke dalam pakaiannya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan tiga bungkus mi instan hadiah dari Sistem dan menyodorkannya kepada Rahayu."Masak ini dulu. Kalian pasti lapar, bukan?"Mata Rahayu langsung membelalak. "Mi... mie instan?"Di sampingnya, Rini buru-buru meraih ketiga bungkus mie itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Mas, dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" tanyanya antusias, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.Arman sempat mengernyit heran. Namun, beberapa detik kemudian ia baru teringat.Ini adalah dunia yang telah runtuh.Di akhir zaman seperti sekarang, bahkan
Melihat layar hologram Sistem yang menyatakan bahwa wanita di hadapannya memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Keluarga Harmonis, Arman menyunggingkan senyum tipis. Senyum itu justru membuat Rahayu semakin kesal. Genggaman tangannya pada pistol semakin erat, sementara tekad untuk membunuh pria di hadapannya kian menguat. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, Arman bergerak lebih cepat. Duak! Kakinya melesat menendang pergelangan tangan Rahayu. Pistol yang berada dalam genggamannya terlepas dan melayang jatuh beberapa meter. Rahayu terkejut. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah pistol itu. Sayangnya, Rini bergerak lebih sigap. Wanita itu lebih dulu meraih pistol, lalu mengacungkannya tepat ke arah Rahayu. Rahayu mendongak dengan wajah penuh amarah. "Berikan pistolku! Jangan percaya pada pria gila itu! Wanita seperti kita c
Arman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam. Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras. "Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita. Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya. Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang. Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal." Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu. Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya. Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi
Arman masih mematung di tempatnya. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. Alisnya berkerut dalam melihat notifikasi Sistem yang tertera.Poin toko sama sekali tidak berubah. Padahal beberapa saat sebelumnya, poin afeksi Sekar telah meningkat lima poin. Seharusnya, menurut dugaan Arman, peningkatan afeksi akan diikuti dengan bertambahnya poin toko. Namun kenyataannya, saldo poin tetap sama.Rasa kesal mulai memenuhi dadanya, dalam hati ia menggerutu. "Sistem, jangan main curang! Hadiah pemula yang kau berikan saja sudah aneh. Bukannya kemampuan bertarung atau senjata, malah sepuluh set bikini transparan. Sekarang poin toko juga tidak bertambah? Jangan bilang kau memang sengaja mempermainkanku!"Suara Sistem segera bergema di dalam benaknya.[Poin Toko hanya diperoleh ketika Poin Afeksi meningkat dari nilai positif. Poin Afeksi yang naik dari nilai minus tidak menghasilkan Poin Toko.]Arman membeku beberapa saat, kemudian urat di
Arman terdiam beberapa saat dengan ekspresi sulit dijelaskan. Sudut bibirnya berkedut pelan, sementara tatapannya terpaku pada layar hologram transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.Biasanya, berdasarkan pengetahuan yang ia miliki dari berbagai novel yang pernah dibaca sebelum dunia berubah menjadi neraka, hadiah pemula dari sebuah Sistem selalu berupa kemampuan bela diri, kekuatan supernatural, senjata langka, atau setidaknya teknik bertahan hidup.Namun, Hadiah miliknya justru sangat jauh dari harapan.10 Set Bikini Transparan?"..." Arman berkedip beberapa kali, dia membaca tulisan itu berulang-ulang, berharap matanya sedang salah melihat.Sayangnya, tulisan itu tetap sama.Sesaat kemudian, suara mekanis kembali terdengar di dalam kepalanya.[10 Set Bikini Transparan telah disimpan otomatis ke Ruang Penyimpanan Anda bisa mengambilnya kapanpun.]"Astaga... Sistem macam apa ini?" Hampir saja Arman memaki sambil menunjuk layar hologram tersebut, urat di dahinya bahkan mulai menonj
Mendengar ada yang menegurnya, Arman pun mendongak dengan waspada, tapi ketika melihat siapa orang tersebut dia mengerutkan kening.Orang yang memanggilnya ternyata adalah seorang wanita berambut pendek dengan tubuh langsing dan wajah cantik, sedang menodongkan pistol ke arahnya.[Ding!Terdeteksi wanita yang dapat dijadikan Keluarga Harmonis.Nama: Rini Wulandari.Tingkat Kecantikan: 92/100.Poin Afeksi: 0/100.]Melihat pemberitahuan dari Sistem, Arman tersenyum dan masih memasang ekspresi bodoh seperti pemilik tubuh sebelumnya, dia menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. "Kakak... aku bukan orang jahat, aku mau menyelamatkan dia," katanya sambil menunjuk Sekar.Rini menyipitkan mata, tatapannya beralih ke tubuh Sekar yang masih tak sadarkan diri di lantai. Wajah wanita itu dipenuhi debu, pakaiannya kusut, dan tubuhnya tampak kurus akibat kekurangan makanan.Sesaat kemudian, Rini kembali berkata. "Kau mau menyelematkan dia tidak ada urusannya denganku, cepat serahkan semua sum







