LOGINAndre yang ditemani Mayang sudah selesai memeriksa pembukuan dan stok di seluruh cabang, kini mereka berada di dalam ruko yang tidak tertutup sempurna. Seluruh anggota Andre sudah pulang, menyisakan mereka berdua yang berdiskusi tentang bagaimana mengembangkan bisnis ke depannya.“Kamu banyak berkembang, loh. Dalam dua setengah tahun bisa sebesar ini, lama-lama bisa jadi raja kuliner kamu di sini,” puji Mayang tulus.“Kamu bisa aja mujinya, kalo ga dibantu kamu sama Bu Ram, mana bisa begini aku,” sahut Andre.Mayang bangkit dari duduknya, lalu pamit pulang. Andre berdiri dan menarik pergelangan tangan Mayang.“Mayang … terima kasih,” ucap Andre lembut.Tubuh mereka terlalu dekat, membuat Mayang menjadi salah tingkah dan wajah bersemu merah.Andre mencondongkan kepalanya lebih dekat, hingga bisa merasakan setiap hembusan nafas dari hidung bagir wanita cantik itu.Andre menatap bibir Mayang, lalu mengecupnya pelan. Wanita itu terkejut dan membelalakkan matanya, tetapi tubuhnya tidak me
Yudi, koki senior turut mencicip masakan Andre. Dirinya sependapat dengan Fian, bahkan menurutnya ini kaya rasa dengan takaran yang tepat. Lelaki itu yang kini makin kagum pada Andre, lalu dengan serius mencatat tiap detail racikan tersebut.Kelak, menu ini akan menjadi tanggung jawab Yudi. Termasuk ketika membuka cabang nanti, Yudi lah yang akan turun tangan. "Luar biasa, Mas Andre, teknik pemanggangan pelan ini bikin minyak rempahnya meresap sampai ke dalam tulang!" seru Yudi kegirangan.“Itulah kekayaan masakan negara kita,” sahut Andre.Dika yang bertugas menyiapkan marinasi bahan tidak mau ketinggalan menyumbang keahlian barunya. "Untuk kuah sotonya, sangrai kemiri dan kunyitnya sudah saya sesuaikan dengan standar jam lima pagi tadi, Mas," celetuk Dika dengan sigap.Andre menepuk bahu kedua staf koki terdepannya itu dengan rasa bangga yang luar biasa. "Bagus, kalian berdua sudah paham betul standar kualitas yang saya mau di setiap piring pelanggan," puji Andre penuh kehangata
Tubuh Andre merasakan getaran aneh, tetapi lelaki itu tampak tenang dan berusaha meredam gejolak energi di dalam tubuhnya.Andre mengepalkan tangan, lalu tersenyum tanpa terlihat sedang berjuang menekan energi itu agar tidak keluar.Ki Juang harus melakukan sesuatu, tiba-tiba listrik padam dan Raja Durji melepas pelukannya dari Andre.“Apa ini? Kenapa mati!” teriak Raja Durji.Ki Jaga tahu betul kelemahan Raja Durji, sejak dulu … lelaki itu takut dengan kegelapan total.Suasana menjadi riuh, sekejap kemudian lampu kembali menyala.‘Selamat aku kali ini,’ pikir Andre. Andre menghembuskan napas perlahan, meregangkan jemarinya yang sempat kaku karena terkepal dan menekan energi agar tidak bergetar sedikit pun.‘Aneh, sok berkuasa gitu kok takut sama gelap gulita. Ternyata … semua ada titik lemahnya dan itu ga disangka-sangka,” pikir Andre sambil melirik Raja Durji yang masih mengusap dadanya akibat panik. "Aku masih mengawasimu," ucap Raja Durji pelan.Andre turun dari panggung sambil
‘Kuperingatkan kau, jangan muncul. Aku bisa tanpamu,’ pikir Andre menekan energi kalung itu.Tujuan Andre adalah agar energi itu tidak terpancing, dan membiarkan Raja Durji bingung karena tidak ada jejak energi sama sekali dari tubuhnya.Seluruh kilatan lampu kamera mendadak mengarah pada Andre, saat pria bertubuh tegap dengan wajah tampan itu menaiki panggung.Andre berdiri sejajar dengan Raja Durji, saling berhadapan di bawah sorotan lampu terang yang menyorot tajam.Raja Durji mendekatkan mikrofonnya ke mulut, tersenyum licik seraya menyerahkan tropi emas tersebut "Selamat, Anak Muda. Tapi bisakah kamu menjelaskan kepada seluruh media di sini ... bagaimana usaha kecilmu bisa mendapatkan pasokan bahan mentah segar ketika seluruh pasar induk sedang mengalami krisis?" tanya Raja Durji.‘Cih, pertanyaan jebakan,’ pikir Andre.Jebakan itu dilemparkan secara terbuka di depan publik, Raja Durji mencoba menggiring opini bahwa Andre menggunakan jalur ilegal atau penggelapan bahan baku untu
Raja Durji menggerakkan tangannya yang ditutupi jubah, berniat menancapkan tiga jari berkuku hitamnya langsung ke dada Andre."Tindakanmu ini … bisa dibilang sebagai pelecehan," bisik Andre dengan nada sangat tenang, tanpa sedikit pun menggeser posisi berdirinya.Raja Durji menarik kembali tangannya dengan gemetar karena menahan amarah, matanya mendelik, berbanding terbalik dengan Andre yang begitu tenang. "Kamu pikir bisa bersembunyi di balik kerumunan manusia ini selamanya, Bocah?" sahut Raja Durji."Aku tidak pernah bersembunyi, untuk apa aku bersembunyi? Jika memang aku punya sesuatu yang kau cari, maka untuk apa aku datang,” balas Andre seraya menyunggingkan senyum "Sombong sekali kau! Tanpa pusaka itu, kamu cuma serangga yang bisa aku remukkan kapan saja," geram Raja Durji dengan tatapan yang makin tajam."Kalau begitu remukkan sekarang. Kenapa cuma banyak bicara dari tadi? Apa kau menemukan benda yang kau cari di tubuhku? Kau bisa mati tersambar petir jika seenaknya," tand
Bagas menepuk tangannya pelan, menyunggingkan senyum seolah-olah kagum atas jawaban Andre, padahal … itu adalah cara Bagas untuk menghina.Mereka yang berbisnis puluhan tahun dengan Bagas paham betul sikap ini, memilih diam dan tidak berbicara kecuali diminta.Mereka begitu takut kepada Bagas, padahal kedudukan mereka lebih tinggi. "Wah ... tidak disangka, pedagang bakso bisa mengerti hal sebesar ini. Negeri kita memang hebat," sindir Bagas dengan nada sinis.Andre menyesap minumannya santai, menatap Bagas sambil tersenyum ramah."Negeri ini memang hebat karena orang kecil seperti saya sibuk bekerja di lapangan, sementara orang berjas mahal biasanya sibuk mencari siapa yang bisa disalahkan saat pasar kacau," balas Andre dengan nada bicara yang begitu tenang.“Maksudmu?” tanya Bagas.“Orang hebat seperti Pak Bagas tentu mengerti ucapan tukang bakso ini,” jawab Andre santai.Beberapa pengusaha dan investor di sekitar meja mulai berbisik-bisik, tertarik dengan perbincangan yang mendadak







