تسجيل الدخولSore itu langit cerah sekali. Budi yang baru memasukkan beberapa barangnya di dalam tas, lantas keluar dan melihat aktivitas para kakek nenek yang sedang dibawa ke luar.Mereka tengah asyik bermain bersama di halaman Griya yang cukup luas, dan yang tak bermain sedang asyik bercengkrama membicarakan masa tua mereka.“Bud, kamu ngapain?” Bu Pus mendadak mendekat dengan beberapa piring pisang goreng di tangan.“Eh, Ibu?” Budi yang kaget itu langsung meraih nampan dari bu Pus. “Ini… mau dibawa ke sana?” tanya Budi padanya.“Iya, buat mereka makan bareng. Nanti Mely bawain tehnya,” jawab bu Puspa.“Ya, Bu.” Budi mulai jalan menuju tempat para lansia berkumpul.Langkahnya diperhatikan bu Pus. Punggungnya yang lebar mengecil di bagian pinggang dan membentuk V shape yang tegas. Otot punggung dan pinggulnya padat, posturnya tegak dan stabil seperti atlet profesional.Sekujur tubuh bu Pus seketika meremang, ada getar getar yang membuatnya semakin berdebar. Apalagi saat ia melihat cara jalan Bu
Kedua. pria itu masih berbalas tatapan tajam, dan semakin lama semakin dekat seperti ada kilat menyambar dari keduanya. Sebentar lagi ada petir“Eh, udah… udah! Kalian ini apaan, kayak anak kecil aja!” omel Mely, yang berusaha melerai mereka berdua.Kedua pria itu saling mendengkus kesal, lalu bersedekap membuang muka masing masing sementara Mely ada di tengah keduanya saat ini.“Mas Bud~” panggil Mely dengan suaranya yang lembut.“Hmm?” jawab Budi.“Memangnya beneran mau cuti? Tumben banget?” tanya Mely yang langsung heran itu.Cipto masih membuang muka, tapi tubuhnya condong ke kiri dan ia dekatkan telinga untuk ikut mendengar apa yang Budi katakan pada Mely di sana. Kepo maksimal.“Mau tahu aja, apa mau tahu banget?” goda Bud, sekaligus menggoda yang sedang menguping saat itu.“Ih, Mas Bud sok misterius!” kesel Mely yang langsung mencebik bibir.“Iya, Bud! Jujur apa ngapa, sih? Cuma sama kita berdua aja, loh.” Cipto akhirnya ikut geregetan dan buka suara.Budi tersenyum. Ia bulatka
“Kamu mau liburan, atau mau kemana?” Sinta bertanya dengan nada yang posesif. Tangan yang mulai kemana mana. Dari dara, ke perut, dan saat ini sudah sampai lebih ke bawah lagi untuk meraih sesuatu yang pasti kenyal menggemaskan.Budi tahu benar apa yang dimau Sinta saat ini, tapi ia tak akan memberikannya meski ia memohon.“Cuma mau istirahat, Bu. Mungkin nanti, saya menginap di rumah teman, terus jalan jalan sebentar.”“Temenmu, cewek apa cowok? Terus, kamu jalannya sama dia aja atau—”“Ibu maunya gimana?” Budi justru tersenyum membalasnya.“Kalau kamu bilang saya cemburu… saya nggak akan menyanggah itu. Ya, saya cemburu kalau kamu di luar nanti bersenang senang dengan wanita lain.”Tangan Sinta terus bermain, dan mulai menjamah si Tegar yang ada di bawah sana. Jelas ia sadar sekali jika si Tegar makin besar.“Memangnya, kita ada hubungan apa?” Seketika tangan Sinta berhenti ketika Budi mempertanyakan itu, dan ia tertunduk lesu.Semua gerakan kepalanya itu terasa oleh Budi di pungg
“Baru sekali! Biasanya kamu mau sering sering, Dek. Kamu seperti orang yang kehausan dan-““Tapi ini lagi sakit, Pak! Hawanya nggak enak. Plis, besok lagi.” Sinta terus merengek.Dari celah kecil di pintu, ia lihat Sinta yang sudah begitu tidak nyaman dengan tubuh terus dibelai oleh pak Jon. Bahkan bakpao kenyalnya juga diremas dengan keras penuh pemaksaan.Budi tarik napas panjang sebentar, lalu ia ketuk pintu agar semuanya berhenti dan Sinta tidak tersakiti lagi.Meski dulu jahat, tapi Budi tak tega jika ia tersakiti.Tok! Tok! Tok!Saat pintu diketuk, pak Jon langsung melepaskan Sinta dari cengkramannya. Ia pindah duduk di sofa dan menyalakan cerutu dengan santainya di sana.“Masuk!” ucap Sinta dari dalam, dan Budi segera membuka pintu itu.Sinta yang melihat Budi langsung tersenyum dan merasa aman dengan kedatangannya. Tapi ia tak boleh berlebihan karena pak Jon masih ada di sana dan tak kunjung pergi juga.“Pak,” sapa Budi pada pria itu.“Hmm.” Pak Jon dengan segala wibawa yang i
“Yang bener, mbak? Nanti… ada yang marah, gimana?” tanya Budi yang sungkan padanya, apalagi dengan kek Bur.“Iya, nggak papa. Pasti boleh sama kakek, karena kita juga ada keperluan.” Tiara terus meyakinkan dengan suara yang tenang.Dengan ucapan itu, Budi tahu jika Tiara tidak memiliki kekasih hingga ia tak merasa ada yang perlu dibebankan.Budi tak ada cara lain untuk mengiyakan karena memang ia butuh tempat yang nyaman. Jika ke hotel, pasti bayarannya akan cukup mahal.“Yaudah, mbak. Makasih atas bantuannya, sekali lagi. Besok saya mulai urus cuti, dan alasannya akan saya pikir sendiri supaya pak Jon nggak curiga.”“Ya, Mas, sama sama. Sukses, ya? Nanti kalau udah ke sini, kabarin aja.” Tiara membalasnya dengan bibir tersenyum sendiri sejak tadi.Setelah panggilan itu dimatikan, Tiara jadi semakin kegirangan sampai ia peluk bantal guling dengan begitu erat.“Aaaa! Besok mau ketemu Mas Budi!”’ pekiknya kecil. “Nggak besok banget, sih. Tapi bakal ketemu dan dia bakal nginep di sini. A
Budi dan Naning duduk bersama dengan napas yang masih tersengal dan tubuh dipenuhi keringat. Naning sendiri sudah tidak lagi mengenakan kacamatanya karena merasa gerah dan sempit, serta berharap Budi masih mau nambah lagi setelah ini.Janda pulen itu memang tidak ada puasnya.“Mbak Ning,” panggil Budi yang berbaring di atas pangkuan Janda itu dan nyaris tenggelam wajahnya pada melon super punya Naning.“Ya, Mas?” Naning berharap Budi mengatakan hal yang sangat ia inginkan.“Mbak Ning, tahu tentang bu Sari?”“Bu Sari, yang mana?”“Yang istri kepala yayasan Wilasita,” jawab Budi lagi.Naning berfikir sejenak dengan dahi berkerut, dan ia tarik napas panjang ketika mulai ingat. “Oh, Bu Sariyanti? Ning kenal, tapi tidak begitu akrab,” ujarnya.Budi yang berbaring itu langsung menatap Naning dengan kedipan mata penuh tanya.“Dulu itu, dia pernah kerja di salon tempat Ning kerja. Lama dia di sana, sampai Ning menikah dengan bapak Arif. Sampai Ning cerai terus balik lagi, dia masih ada. nggak







