Masuk"Nyonya mau nangis sampai kapan? Kita nggak jadi ke kantor Nyonya?”
Pertanyaan datar Arka seketika menarik Gisel kembali ke realitas yang kejam. Wanita itu menyeka sisa air mata di pipinya dengan jemari yang gemetar, menatap kosong ke arah dasbor SUV mewah miliknya. Gema desahan menjijikkan Adrian dan wanita bernama Mila di telepon tadi masih terngiang jelas, meremukkan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang istri.
Arka tidak memaksanya menjawab. Dengan pengertian khas pria jalanan yang tahu kapan harus diam, dia menyalakan mesin mobil, membiarkan AC dingin meredam atmosfer kabin yang mencekam.
"Kita... pulang ke apartemen aja, Arka," ucap Gisel akhirnya dengan suaranya yang parau. "Aku mau batalin semua jadwalku hari ini."
"Siap, Nyonya," jawab Arka pendek.
Arka memilih mengemudikan mobil dengan kecepatan normal, memberikan ruang bagi Gisel untuk menata hatinya yang hancur lebur di kursi penumpang. Namun, ketenangan yang baru saja mereka bangun di dalam kabin langsung hancur ketika ponsel Gisel berdering nyaring.
Nama 'Mama Mertua' tertera di layar. Begitu tombol hijau digeser, suara cempreng ibunya Adrian itu langsung memekakkan telinga.
‘Gisel! Kamu di mana, ha?! Mama ke kantor kamu, tapi sekretaris kamu bilang kamu belum sampai! Mama nggak mau tau. Sekarang cepat pulang, Mama di udah jalan ke apartemen kalian!’
Klik! Sambungan diputus sepihak. Gisel seketika panik, wajahnya yang tadinya pucat kini berubah cemas luar biasa.
"Arka, kita harus cepat. Mama mertuaku mau datang, dia udah di ja–,” kalimat Gisel terputus saat teringat sesuatu, “Gawat, rumah! Ruang tamu masih berantakan banget. Aku belum sempat beresin tadi," bisik Gisel dengan suara bergetar menahan malu.
Dia ingat betul, pecahan vas bunga dan barang-barang yang berhamburan akibat amukan Adrian sebelum berangkat kerja tadi belum sempat dia sentuh sama sekali. Jika ibu mertuanya yang bermulut lemes itu melihat kondisi apartemen yang seperti kapal pecah, habislah dia dihujani dengan makian baru.
Sesuai perintah, SUV milik Gisel melaju cepat, menuju ke gedung apartemen, tempat mereka memulai perjalanan hari ini. Begitu SUV mewah itu terparkir di basement, Gisel bergegas turun menuju lift khusus penghuni, diikuti Arka yang berjaga dua langkah di belakangnya.
Begitu lift khusus membawa mereka tiba di lantai unit, Gisel membuka pintu dengan tangan gemetar. Benar saja, ruang tamu masih kacau balau. Bantal sofa berserakan, dan pecahan kaca dari vas yang pecah tadi masih berserakan di atas lantai marmer.
"Arka... tolong aku, please," ucap Gisel setengah berbisik, matanya berkaca-kaca menatap Arka dengan penuh permohonan. "Tolong bereskan ruang tamu ini sebisamu. Aku... harus ke dapur, siapin makan buat Mama.”
Melihat kepanikan wanita di depannya, Arka tidak banyak tanya. Sebagai mantan preman yang biasa taktis di lapangan, dia langsung mengangguk. "Siap, Nyonya… Nyonya fokus aja di dapur. Tau-tau udah rapi aja nanti."
Arka langsung bergerak cekatan. Sementara itu, Gisel bergerak cepat memakai celemek dan menyalakan kompor, mulai memanggang daging untuk menjamu mertuanya.
Dari posisinya mengelap meja kaca, sepasang mata elang Arka tidak lepas dari punggung Gisel. Dari jarak beberapa meter, dia bisa melihat bahu wanita itu sesekali terguncang kecil. Gisel sedang menangis lagi dalam diam, menyembunyikan air matanya di balik desis minyak panas dan kepulan asap masakan.
‘Miris bener,’ batin Arka bergejolak, rahangnya mengatup rapat. Wanita sekelas Gisel kini merendahkan diri menjadi juru masak dadakan hanya demi menyenangkan ibu mertuanya, ‘Belum tahu aja emaknya, kalau anaknya di luar kota lagi sibuk olahraga ranjang sama si jalang.’
Ding... Dong...
Suara bel yang ditekan kasar berulang kali memutus lamunan Arka. Tatapannya mengekori Gisel yang buru-buru mengusap pipinya, lalu membuka pintu depan.
Seorang wanita paruh baya dengan kebaya modern mencolok, sanggul besar yang kaku, dan rentengan perhiasan emas yang berisik langsung menerobos masuk tanpa permisi.
Itu ibunya Adrian–Nyonya Endang. Gaya angkuhnya terlihat norak, khas orang kaya baru zaman now.
"Lama banget bukanya! Kaki Mama pegel tau!” Omelnya seketika. Begitu masuk, hidungnya langsung mengangkap aroma menggilitik lambung, “Kamu baru masak? Udah matang belum? Mama laper banget nih!”
Dia langsung melangkah ke dapur, berdiri di samping meja makan minimalis di sana. Tangannya yang penuh cincin langsung mencomot daging dari piring saji.
“Ish… Asin banget!” cercanya seketika, “Sengaja banget kamu, mau buat darah tinggi Mama kumat?!” semprot Nyonya Endang, lagi. Tapi anehnya, sedetik kemudian tangan tuanya kembali mencomot potongan daging lain dan mengunyahnya dengan entengnya.
Nyonya Endang berbalik, matanya yang dilapisi eyeshadow hijau terang menatap sinis ke sekeliling. "Mana tukang masak kamu? Kok nggak dia aja yang masak, sih? Kasihan banget anakku dimasakin beginian sama kamu. Sehat enggak, cepat mati iya.”
“Kokinya udah berhenti, Ma. Ada panggilan ke luar negeri.” Gisel menjawab lembut.
“Ya cari koki baru lah! Kok sudah amat!” Bentaknya seketika, “Gaji anakku kan banyak, belum lagi gaji kamu. Bohong banget nggak bisa nyari koki baru. Mau kamu habisin sendiri ya duitnya Adian?!”
Gisel meremas ujung celemeknya, menahan sabar. Apartemen ini adalah hadiah pernikahan dari sang papa, dan operasional rumah tangga mereka menggunakan gaji pribadinya. Sementara sang ibu mertua mencibirnya, tanpa tahu kalau Adrian bahkan jarang memberinya uang belanja yang layak.
Tapi demi sopan santun, Gisel memaksakan senyum. "Ya, Ma… nanti aku cari koki baru.”
Nyonya Endang mendengus, lalu berpindah duduk ke meja makan sambil terus mengunyah daging di piring saji. "Gisel, minggu ini kosongin jadwal. Ikut Mama ke rumah sakit."
Gisel menoleh lambat. "Mama sakit?"
“Jangan tetiba bego ya, Gisel! Kamu udah berapa bulan nggak ngisi lagi sehabis keguguran terakhir? Mau terus-terusan nggak punya anak? Pikirin Adrian dong, jangan egois kamu aja yang mau dikasih makan!”
“Memang Papa kamu bilang nggak mau buru-buruin kalian punya anak, tapi keluarga kami butuh! Adrian harus punya keturunan buat nerusin nama keluarga kami, Gisel!” Nyonya Endang menatap Gisel dengan pandangan menghakimi. "Kamu itu sadar nggak sih? Dari dulu, masalahnya ada di kamu aja. Terus-terusan gagal kasih Mama cucu!”
Masih basah di ingatannya, suara menjiikkan lewat telepon sang suami, kini ibu mertuanya dengan sadar menyiram garam di luka segarnya, dengan membawa semua riwayat keguguran seolah semua itu dosanya sendiri.
Gisel mematikan kompor dengan sentakan kasar, lalu berbalik penuh menghadapi mertuanya. "Mama... bukannya dulu Mama dan Adrian dengar sendiri dari dokter spesialis kandungan? Alasan aku selalu keguguran itu karena kualitas sperma Adrian yang bermasalah, kan? Dokter bilang semua keguguranku karena pola hidup Adrian yang nggak sehat.”
Skakmat. Sanggahan berani Gisel seketika membungkam mulut Nyonya Endang. Wajah tuanya yang tebal bedak memerah padam karena terpojok fakta medis. Namun, bagi wanita seangkuh beliau, kalah dari menantu sama dengan HARAM.
“Halah! Terus aja kamu ungkit-ungkit soal itu!" pekik Nyonya Endang dengan suara ditinggikan untuk menutupi rasa malunya. "Adrian itu merokok, mabuk, ya karena tuntutan kerjaannya. Masa iya kalau klien nyuruh minum, dia nggak ikutan minum?”
“Kamu tuh, ya, nggak pernah bersyukur dapat anakku! Lihat sekarang, Adrian keluar kota buat urusan kerjaan. Harusnya kamu bisa bilang ke Papa kamu buat kasih aja urusan begituan ke orang lain. Dia itu capek, tau!”
Mendengar kata 'capek’, hati Gisel hancur berkeping-keping. Dia tersenyum getir. "Iya, Ma... Adrian memang capek banget. Aku tau,"
Nyonya Endang mendengus puas karena menantunya kembali tunduk. Dia melangkah kembali ke ruang tengah, dan saat itulah matanya baru menyadari keberadaan Arka yang berdiri diam bersedekap di sudut ruangan.
Nyonya Endang menghentikan langkah, menatap Arka dengan pandangan sangat merendahkan. "Heh, kamu siapa? Maling!"
Hembusan angin laut yang hangat menyambut kedatangan keluarga kecil itu begitu mereka melangkahkan kaki keluar dari bandara di Pulau Dewata. Setelah melewati masa-masa kelam yang cukup panjang, Bali menjadi pilihan sempurna bagi Arka Malik untuk memboyong istri dan kedua putri kecilnya menikmati masa liburan yang telah lama tertunda.Sebuah resort privat bergaya vila modern di kawasan Nusa Dua menjadi markas kecil mereka selama seminggu ke depan. Vila tersebut memiliki akses langsung ke pantai berpasir putih dan dilengkapi kolam renang pribadi di tengah taman tropis yang asri.Siang itu, matahari bersinar cerah di atas langit Bali. Suara gemericik air kolam berpadu manis dengan gelak tawa riang dari dua bocah kecil yang sibuk bermain air."Kalila, jangan ke tempat yang dalam! Sini dekat Kakak aja!" seru Rania dengan gaya yang sangat protektif.Anak perempuan berusia enam tahun itu berdiri tegak di area kolam dangkal. Dengan rompi pelampung berwar
Dua tahun telah berlalu sejak badai besar itu benar-benar menguap dari kehidupan keluarga Malik. Waktu telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik: menyembuhkan luka yang menganga, memudarkan sisa kepedihan, dan menggantikannya dengan tawa yang riang di setiap sudut rumah.Pagi itu, kediaman megah keluarga Malik terasa begitu hidup. Matahari bersinar cerah menembus pepohonan rimbun di halaman belakang, membiaskan cahaya keemasan ke atas rumput hijau yang basah oleh embun pagi. Dekorasi bernuansa warna merah muda dan emas tampak menghiasi area taman, lengkap dengan panggung kecil dan deretan kursi tamu yang tertata rapi.Hari ini adalah hari istimewa: ulang tahun Kalila yang kedua, sekaligus acara syukuran atas pencapaian baru perusahaan Arka yang makin sukses berkembang.Dari arah ruang keluarga, suara derap langkah kaki kecil terdengar berlarian menghentak lantai marmer. Kalila, yang kini sudah tumbuh menjadi balita yang sangat menggemaskan dengan pipi tembam dan rambut ikal bergel
Info: Rania masih sekitar setahun lebih. Jadi sekolah yang dimaksud adalah taman bermain khusus anak-anak orang berpunya. Pagi itu, hujan deras mengguyur Kota Jakarta sejak subuh. Aroma tanah basah merembas masuk melalui celah jendela kaca kamar utama, menciptakan suasana hangat yang berbanding terbalik dengan dinginnya cuaca di luar.Kalila baru saja tertidur kembali setelah disusui oleh Gisel, sementara Rania sudah berangkat ke sekolah diantar oleh sopir pribadi mereka. Rumah megah itu mendadak menjadi sangat tenang, memberikan ruang yang sangat pas bagi dua insan yang telah lama memendam banyak kata.Arka berjalan mendekati tempat tidur membawa dua cangkir teh hangat yang masih berasap tipis. Pria itu meletakkan cangkirnya di atas nakas, lalu duduk perlahan di samping Gisel."Diminum dulu tehnya, Sel," ujar Arka lembut sembari menyodorkan salah satu cangkir kepada istrinya.Gisel menerima cangkir tersebut, menyesap tehnya sedikit, lalu menatap Arka lekat-lekat. "Makasih ya, Ka."A
Kepulangan keluarga kecil itu ke kediaman utama Arka Malik di kawasan Jakarta Selatan diliputi oleh suasana yang canggung dan serba salah. Rumah megah berarsitektur modern itu masih berdiri kokoh seperti dulu, namun kehangatan di dalamnya seolah perlu dihidupkan kembali dari awal.Arka tidak serta-merta bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pria itu sadar betul betapa besar luka dan rasa kecewa yang pernah ia tancapkan di hati Gisel. Oleh karena itu, sejak hari pertama mereka melangkah masuk ke rumah, Arka memilih untuk tahu diri. Ia tidak langsung tidur di kamar utama bersama Gisel, melainkan menata diri untuk tidur di sofa kamar atau kamar tamu sebelah.Fokus Arka kini sepenuhnya tercurah untuk menebus dosanya. Setiap pagi, sebelum Gisel bangun, Arka sudah lebih dulu menyiapkan keperluan Rania untuk sekolah. Pria yang dulunya selalu dilayani itu kini belajar memandikan Rania, menyisir rambut putri sulungnya dengan kaku namun telaten, hingga menyiapkan sarapan sederhana di me
Sebenarnya, hidup mereka dapat berjalan sempurna jika saja tidak diselingi oleh konflik batin Arka hingga memicu keputusan perpisahan yang konyol. Seharusnya mereka dapat melewati setiap momen berharga dan membesarkan anak-anak dengan penuh kebahagiaan.Namun, waktu terus berjalan. Seperti halnya roda kehidupan manusia pada umumnya, Gisel dan Adrian harus melewati masa naik dan turun yang teramat terjal.Dari masa-masa sulit tersebut, sebuah kesadaran menghampiri sanubari mereka. Terkadang kehidupan sengaja membiarkan manusia mengacaukan segalanya. Sebab melalui kegagalan, kesedihan, dan rasa patah hati itulah, manusia baru dapat memahami arti penderitaan yang sesungguhnya. Tanpa rasa sakit itu, manusia tidak akan pernah mampu menghargai setiap helaan napas, gelak tawa, dan kebersamaan dengan orang-orang tersayang.Hari terus berganti di Kota Zurich, namun kondisi fisik Adrian kian hari kian tidak memungkinkan. Kerusakan organ akibat penyebaran sel kanker membuat daya penglihatan dan
"Ka, kalau kamu baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada lagi di dunia ini. Dan itu artinya, kamu harus berhenti jadi pria bodoh yang melarikan diri sendiri dalam rasa bersalah."Gisel menggigit bibir bawahnya erat-erat. Suara napas Adrian yang tersendat-sendat terdengar begitu menyayat hati saat melanjutkan diktenya."Kamu pikir kamu pahlawan, Ka? Kamu pikir dengan kamu kabur dan 'menyerahkan' Gisel ke aku, kamu udah bikin semua orang bahagia?”“Kamu salah besar, Arka. Kamu cuma pengecut yang lari dari kenyataan. Kamu ninggalin Gisel dalam keadaan hamil tua tanpa kamu tahu betapa hancurnya dia merawatku dalam penderitaan."Gisel meneteskan air mata tepat di atas kertas, membuat tinta hitam itu sedikit meluber. Namun ia tetap memaksakan jemarinya menari m