Share

Akhir Kisah Adrian

Author: MJoy Ganteng
last update publish date: 2026-09-01 22:22:05

Sebenarnya, hidup mereka dapat berjalan sempurna jika saja tidak diselingi oleh konflik batin Arka hingga memicu keputusan perpisahan yang konyol. Seharusnya mereka dapat melewati setiap momen berharga dan membesarkan anak-anak dengan penuh kebahagiaan.

Namun, waktu terus berjalan. Seperti halnya roda kehidupan manusia pada umumnya, Gisel dan Adrian harus melewati masa naik dan turun yang teramat terjal.

Dari masa-masa sulit tersebut, sebuah kesadaran menghampiri sanubari mereka. Terkadang kehi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Deep Talk

    Info: Rania masih sekitar setahun lebih. Jadi sekolah yang dimaksud adalah taman bermain khusus anak-anak orang berpunya. Pagi itu, hujan deras mengguyur Kota Jakarta sejak subuh. Aroma tanah basah merembas masuk melalui celah jendela kaca kamar utama, menciptakan suasana hangat yang berbanding terbalik dengan dinginnya cuaca di luar.Kalila baru saja tertidur kembali setelah disusui oleh Gisel, sementara Rania sudah berangkat ke sekolah diantar oleh sopir pribadi mereka. Rumah megah itu mendadak menjadi sangat tenang, memberikan ruang yang sangat pas bagi dua insan yang telah lama memendam banyak kata.Arka berjalan mendekati tempat tidur membawa dua cangkir teh hangat yang masih berasap tipis. Pria itu meletakkan cangkirnya di atas nakas, lalu duduk perlahan di samping Gisel."Diminum dulu tehnya, Sel," ujar Arka lembut sembari menyodorkan salah satu cangkir kepada istrinya.Gisel menerima cangkir tersebut, menyesap tehnya sedikit, lalu menatap Arka lekat-lekat. "Makasih ya, Ka."A

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Momen Canggung

    Kepulangan keluarga kecil itu ke kediaman utama Arka Malik di kawasan Jakarta Selatan diliputi oleh suasana yang canggung dan serba salah. Rumah megah berarsitektur modern itu masih berdiri kokoh seperti dulu, namun kehangatan di dalamnya seolah perlu dihidupkan kembali dari awal.Arka tidak serta-merta bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pria itu sadar betul betapa besar luka dan rasa kecewa yang pernah ia tancapkan di hati Gisel. Oleh karena itu, sejak hari pertama mereka melangkah masuk ke rumah, Arka memilih untuk tahu diri. Ia tidak langsung tidur di kamar utama bersama Gisel, melainkan menata diri untuk tidur di sofa kamar atau kamar tamu sebelah.Fokus Arka kini sepenuhnya tercurah untuk menebus dosanya. Setiap pagi, sebelum Gisel bangun, Arka sudah lebih dulu menyiapkan keperluan Rania untuk sekolah. Pria yang dulunya selalu dilayani itu kini belajar memandikan Rania, menyisir rambut putri sulungnya dengan kaku namun telaten, hingga menyiapkan sarapan sederhana di me

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Akhir Kisah Adrian

    Sebenarnya, hidup mereka dapat berjalan sempurna jika saja tidak diselingi oleh konflik batin Arka hingga memicu keputusan perpisahan yang konyol. Seharusnya mereka dapat melewati setiap momen berharga dan membesarkan anak-anak dengan penuh kebahagiaan.Namun, waktu terus berjalan. Seperti halnya roda kehidupan manusia pada umumnya, Gisel dan Adrian harus melewati masa naik dan turun yang teramat terjal.Dari masa-masa sulit tersebut, sebuah kesadaran menghampiri sanubari mereka. Terkadang kehidupan sengaja membiarkan manusia mengacaukan segalanya. Sebab melalui kegagalan, kesedihan, dan rasa patah hati itulah, manusia baru dapat memahami arti penderitaan yang sesungguhnya. Tanpa rasa sakit itu, manusia tidak akan pernah mampu menghargai setiap helaan napas, gelak tawa, dan kebersamaan dengan orang-orang tersayang.Hari terus berganti di Kota Zurich, namun kondisi fisik Adrian kian hari kian tidak memungkinkan. Kerusakan organ akibat penyebaran sel kanker membuat daya penglihatan dan

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Surat Adrian

    "Ka, kalau kamu baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada lagi di dunia ini. Dan itu artinya, kamu harus berhenti jadi pria bodoh yang melarikan diri sendiri dalam rasa bersalah."Gisel menggigit bibir bawahnya erat-erat. Suara napas Adrian yang tersendat-sendat terdengar begitu menyayat hati saat melanjutkan diktenya."Kamu pikir kamu pahlawan, Ka? Kamu pikir dengan kamu kabur dan 'menyerahkan' Gisel ke aku, kamu udah bikin semua orang bahagia?”“Kamu salah besar, Arka. Kamu cuma pengecut yang lari dari kenyataan. Kamu ninggalin Gisel dalam keadaan hamil tua tanpa kamu tahu betapa hancurnya dia merawatku dalam penderitaan."Gisel meneteskan air mata tepat di atas kertas, membuat tinta hitam itu sedikit meluber. Namun ia tetap memaksakan jemarinya menari m

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Lahirnya Kalila Malik

    Dua minggu kemudian.Atmosfer di rumah sakit spesialis kanker Zurich mendadak berubah tegang. Pagi-pagi sekali, Gisel mulai merasakan kontraksi berkala di perut bagian bawahnya. Rasa mulas yang teratur dan kian hebat menandakan bahwa saat-saat persalinan telah tiba.Tuan Vale bersama Nyonya Endang dan Pak Hari yang baru tiba dari Metro City malam sebelumnya tampak panik mendampingi Gisel di koridor ruang bersalin."Sakit banget, Pa..." ringis Gisel seraya mencengkram lengan Tuan Vale. Peluh membasahi wajahnya yang pucat."Tahan ya, Sayang... Berdoa, Nak. Papa ada di sini," bisik Tuan Vale dengan mata berkaca-kaca, memeluk putri kesayangannya yang sebentar lagi akan berjuang melahirkan kehidupan baru.Sebelum didorong masuk ke dalam ruang operasi untuk tindakan persalinan caesar darurat, Gisel menahan tangan Dokter Sam."Dok... bagaimana... bagaimana kondisi Adrian pagi ini?" tanya Gisel di tengah ringisan sakitnya.Dokter Sam mengelus kepala Gisel dengan penuh kasih sayang. "Adrian st

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Bertahan Atau Melarikan Diri

    Di tempat lain, di sebuah kota kecil di pesisir Jawa Tengah, sebuah mobil MPV hitam tampak terparkir ramping di halaman sebuah rumah sewa berarsitektur kayu yang asri dan tenang.Arka Malik turun dari pintu pengemudi. Penampilannya kini jauh berbeda dari sosok pengusaha muda sukses yang selalu berpakaian setelan jas rapi di Jakarta. Arka hanya mengenakan kaus polos berwarna abu-abu dengan celana kain santai. Wajahnya tampak sedikit lebih tirus, dan ada garis-garis kelelahan emosional yang amat mendalam di matanya.Ia melangkah ke pintu penumpang belakang, membuka pintu, dan tersenyum hangat menatap putri kecilnya yang sedang tertidur lelap."Rania... bangun, Sayang. Kita sudah sampai di rumah baru," bisik Arka lembut sembari membelai rambut Rania.Anak kecil itu mengecap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status