ANMELDEN“Maling! Pergi kamu gembel!” teriaknya.
"Mama, dia Arka. Supir baru dan Adrian juga udah tau.” potong Gisel cepat, sebelum suara nyaring ibu mertuanya mengundang reaksi tetangga unit sebelah, “Dia di sini karena aku suruh bantu beres-beres rumah," sambungnya mencoba menjaga harga diri karyawannya.
Nyonya Endang langsung mendengkus remeh, melirik Arka dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. "Oh... supir baru toh. Mama kira maling.” Cercanya, “Besok-besok jangan biarin sembarangan orang masuk seenaknya gini. Auranya jelek, nggak cocok di sini. Ngerusak pemandangan banget!”
Arka tetap berdiri tegak bak batu karang, dengan wajahnya sedatar tembok tanpa ekspresi. Namun di balik saku celananya, kedua tangan kekar laki-laki itu sudah mengepal kencang.
Bukan karena dia sakit hati dihina sebagai supir rendahan. Percayalah, meskipun usianya tidak lebih dari Nyonya Endang, tapi pengalaman hidupnya membuat bacotan perempuan tua norak ini hanyalah… abab.
Arka marah karena kepeduliannya berontak hebat melihat bagaimana Gisel, perempuan yang begitu tulus, anggun, dan memegang kendali keuangan di perusahaan besar, harus terus-menerus diinjak harga dirinya oleh mertua parasit di dalam rumahnya sendiri.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi keluar," ucap Arka datar, berniat memundurkan diri setelah tugasnya merapikan ruang tamu selesai.
Namun, baru saja laki-laki itu berbalik satu langkah, suara melengking Nyonya Endang kembali memecah udara, menghentikan pergerakannya. "Hei, supir baru! tunggu di situ!"
Gisel menoleh dengan kening berkerut cemas. "Ada apa, Ma? Kenapa manggil Arka?"
Nyonya Endang tidak sudi menjawab menantunya. Dengan dagu terangkat angkuh, perempuan paruh baya itu melengos melewati Gisel begitu saja, lalu menatap Arka dengan pandangan menuntut. "Antarin saya. Saya males naik taksi online, mobil murah biasanya bau. Mau naik mobil Adrian aja.”
Seketika Arka dan Gisel saling bertukar pandang. Gisel yang tidak ingin memperpanjang keributan di apartemennya akhirnya mengangguk singkat, memberikan isyarat persetujuan. "Ka, tolong antar Mama mertuaku. Hati-hati di jalan."
"Baik, Nyonya," jawab Arka, menahan gejolak dongkol di dadanya.
Sebelum melangkah pergi, Nyonya Endang sengaja berbalik, menatap Gisel dengan senyum mengejek yang sarat akan racun. "Nah, kalau udah sendirian gini di rumah, merenung gih! Pikirin tuh gimana caranya jadi perempuan yang berguna. Nggak mandul, tapi nggak bisa kasih anak, buat apaan! Jadi beban keluarga aja!”
‘Bangsat banget congornya…’ umpat Arka dalam hati. Rahangnya mengeras seketika.
Kata-kata itu begitu biadab. Arka bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik Gisel langsung pias, kedua sudut bibirnya bergetar hebat menahan tangis, dan tangannya mengepal kuat di balik celemek masak, perempuan itu hancur total, dipermalukan di depan supir barunya sendiri.
Lagi-lagi, kata otak Arka mendorongnya untuk melakukan hal di luar nalar. Ingin sekali ia berbalik dan membentak nenek sihir tak tau diri di hadapannya itu. Namun, Arka buru-buru menginjak rem darurat di kepalanya. Dia butuh pekerjaan ini untuk susu formula Rania.
Ya… ini belum saatnya dia mengamuk.
“Loh, cepetan! Pake bengong lagi. Tolol banget!” bentak Nyonya Endang ketus, berjalan mendahului Arka menuju lift.
Arka menarik napas dalam, meredam sisa amarahnya. Dia menatap Gisel sekilas dengan tatapan mata elangnya yang dalam, seolah memberi kode agar perempuan itu tetap kuat, sebelum akhirnya berjalan mengikuti mertua judesnya sang majikan.
Begitu masuk ke dalam kabin SUV mewah dan memasang sabuk pengaman, Arka mulai menyalakan mesin. "Kita ke mana, Nyonya Besar?"
Nyonya Endang yang duduk angkuh di kursi belakang langsung mendengkus. "Saya nggak mau pulang, mood saya ambyar gara-gara menantu sialan itu. Anterin saya ke Salon Mega di Jalan xxx. Saya mau segerin otak sekalian cuci mata dulu.”
“Jangan banyak bacot kalau nggak mau anak saya lempar kamu ke jalanan, ya!”
Arka menatap kaca spion tengah, menangkap raut wajah tamak dan sok berkuasa dari perempuan tua di belakangnya. "Baik, Nyonya Besar," jawab Arka dingin, singkat, tanpa ekspresi.
Laki-laki itu menginjak pedal gas, membiarkan mobil mewah itu meluncur membelah jalanan kota. Tiga puluh menit berlalu, Arka menghentikan mobil di depan sebuah gedung tersembunyi di kawasan elit dengan papan nama bertuliskan Salon Mega–Klinik Spa Eksklusif.
Begitu melihat bangunan bergaya tertutup dengan kaca gelap tersebut, sudut bibir Arka langsung berkedut sinis. Sebagai orang pasaran yang lama mencicipi kerasnya dunia malam pinggiran ibu kota, Arka jelas tidak bodoh.
Sekali lirik juga dia sudah tahu kalau tempat berkedok spa VIP ini adalah sarang pijat plus-plus khusus kalangan berduit yang butuh privasi.
Nyonya Endang turun dengan terburu-buru, membawa tas bermereknya dengan gaya centil yang membuat Arka merasa muak. "Kamu tunggu di mobil! Jangan kemana-mana!" perintahnya sebelum melenggang masuk.
Arka mematikan mesin mobil, namun matanya terus mengawasi punggung perempuan tua itu dengan pandangan tajam. Otak premannya langsung bekerja cerdas. Dia tidak butuh mencari tahu ini tempat apa, tapi rasa penasarannya bergejolak kuat untuk membuktikan satu hal gila yang mungkin saja dilakukan mertua jahanam bosnya ini.
Didorong oleh insting untuk mencari kartu as, Arka turun dari mobil. Dia melangkah lebar masuk ke dalam gedung tersebut dengan langkah senyap yang terlatih. Sebagai supir, dia tinggal menyiapkan alasan klasik ingin mengantarkan barang yang tertinggal jika sampai dicegat pihak keamanan.
Suasana di dalam lorong berlampu remang-remang itu cukup lengang. Arka berjalan dengan tenang, mengikuti arah langkah Nyonya Endang hingga langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu kaca buram yang sedikit terbuka.
Dari celah sempit itu, sepasang mata elang Arka langsung disuguhi pemandangan yang menjijikkan.
Di dalam ruangan mewah tersebut, Nyonya Endang, perempuan tua yang sejam lalu berteriak lantang mencaci Gisel tentang moral, bakti, dan kesetiaan. Kini, sedang berbaring manja di atas ranjang pijat.
Perempuan paruh baya itu sedang dilayani oleh dua orang laki-laki muda berwajah tampan dan bertubuh atletis, yang hanya mengenakan selembar handuk kecil di pinggang mereka. Tawa cekikikan genit dari mulut Nyonya Endang terdengar jelas saat jemari salah satu brondong itu mulai memijat area sensitifnya.
Arka memundurkan kepalanya sedikit ke balik dinding, lalu berdecak sinis dalam hati.
‘Oalahhhh... anak sama emak sama bejatnya! Otak selangkangan!’ gerutu Arka, menahan tawa getir sekaligus muak.
Keluarga Adrian benar-benar sebusuk ini. Anaknya sibuk baku hantam ranjang dengan jalang di luar kota, sementara ibunya sibuk menikmati sentuhan brondong binal di tempat spa menggunakan uang yang diperas dari hasil keringat Gisel dan diakui sebagai milik putranya.
Tanpa membuang waktu, Arka meraba saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya dengan gerakan super pelan. Dia mengarahkan kamera ke celah pintu, mengambil beberapa jepretan foto dan rekaman video pendek dengan kualitas super jernih sebagai bukti nyata.
‘Klik. Klik.’
Arka menyimpan kembali ponselnya, lalu berbalik melangkah pergi dengan seringai mematikan yang menghiasi wajah maskulinnya. Satu kartu as yang sangat mahal kini sudah mantap berada di genggaman tangannya.
Hembusan angin laut yang hangat menyambut kedatangan keluarga kecil itu begitu mereka melangkahkan kaki keluar dari bandara di Pulau Dewata. Setelah melewati masa-masa kelam yang cukup panjang, Bali menjadi pilihan sempurna bagi Arka Malik untuk memboyong istri dan kedua putri kecilnya menikmati masa liburan yang telah lama tertunda.Sebuah resort privat bergaya vila modern di kawasan Nusa Dua menjadi markas kecil mereka selama seminggu ke depan. Vila tersebut memiliki akses langsung ke pantai berpasir putih dan dilengkapi kolam renang pribadi di tengah taman tropis yang asri.Siang itu, matahari bersinar cerah di atas langit Bali. Suara gemericik air kolam berpadu manis dengan gelak tawa riang dari dua bocah kecil yang sibuk bermain air."Kalila, jangan ke tempat yang dalam! Sini dekat Kakak aja!" seru Rania dengan gaya yang sangat protektif.Anak perempuan berusia enam tahun itu berdiri tegak di area kolam dangkal. Dengan rompi pelampung berwar
Dua tahun telah berlalu sejak badai besar itu benar-benar menguap dari kehidupan keluarga Malik. Waktu telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik: menyembuhkan luka yang menganga, memudarkan sisa kepedihan, dan menggantikannya dengan tawa yang riang di setiap sudut rumah.Pagi itu, kediaman megah keluarga Malik terasa begitu hidup. Matahari bersinar cerah menembus pepohonan rimbun di halaman belakang, membiaskan cahaya keemasan ke atas rumput hijau yang basah oleh embun pagi. Dekorasi bernuansa warna merah muda dan emas tampak menghiasi area taman, lengkap dengan panggung kecil dan deretan kursi tamu yang tertata rapi.Hari ini adalah hari istimewa: ulang tahun Kalila yang kedua, sekaligus acara syukuran atas pencapaian baru perusahaan Arka yang makin sukses berkembang.Dari arah ruang keluarga, suara derap langkah kaki kecil terdengar berlarian menghentak lantai marmer. Kalila, yang kini sudah tumbuh menjadi balita yang sangat menggemaskan dengan pipi tembam dan rambut ikal bergel
Info: Rania masih sekitar setahun lebih. Jadi sekolah yang dimaksud adalah taman bermain khusus anak-anak orang berpunya. Pagi itu, hujan deras mengguyur Kota Jakarta sejak subuh. Aroma tanah basah merembas masuk melalui celah jendela kaca kamar utama, menciptakan suasana hangat yang berbanding terbalik dengan dinginnya cuaca di luar.Kalila baru saja tertidur kembali setelah disusui oleh Gisel, sementara Rania sudah berangkat ke sekolah diantar oleh sopir pribadi mereka. Rumah megah itu mendadak menjadi sangat tenang, memberikan ruang yang sangat pas bagi dua insan yang telah lama memendam banyak kata.Arka berjalan mendekati tempat tidur membawa dua cangkir teh hangat yang masih berasap tipis. Pria itu meletakkan cangkirnya di atas nakas, lalu duduk perlahan di samping Gisel."Diminum dulu tehnya, Sel," ujar Arka lembut sembari menyodorkan salah satu cangkir kepada istrinya.Gisel menerima cangkir tersebut, menyesap tehnya sedikit, lalu menatap Arka lekat-lekat. "Makasih ya, Ka."A
Kepulangan keluarga kecil itu ke kediaman utama Arka Malik di kawasan Jakarta Selatan diliputi oleh suasana yang canggung dan serba salah. Rumah megah berarsitektur modern itu masih berdiri kokoh seperti dulu, namun kehangatan di dalamnya seolah perlu dihidupkan kembali dari awal.Arka tidak serta-merta bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pria itu sadar betul betapa besar luka dan rasa kecewa yang pernah ia tancapkan di hati Gisel. Oleh karena itu, sejak hari pertama mereka melangkah masuk ke rumah, Arka memilih untuk tahu diri. Ia tidak langsung tidur di kamar utama bersama Gisel, melainkan menata diri untuk tidur di sofa kamar atau kamar tamu sebelah.Fokus Arka kini sepenuhnya tercurah untuk menebus dosanya. Setiap pagi, sebelum Gisel bangun, Arka sudah lebih dulu menyiapkan keperluan Rania untuk sekolah. Pria yang dulunya selalu dilayani itu kini belajar memandikan Rania, menyisir rambut putri sulungnya dengan kaku namun telaten, hingga menyiapkan sarapan sederhana di me
Sebenarnya, hidup mereka dapat berjalan sempurna jika saja tidak diselingi oleh konflik batin Arka hingga memicu keputusan perpisahan yang konyol. Seharusnya mereka dapat melewati setiap momen berharga dan membesarkan anak-anak dengan penuh kebahagiaan.Namun, waktu terus berjalan. Seperti halnya roda kehidupan manusia pada umumnya, Gisel dan Adrian harus melewati masa naik dan turun yang teramat terjal.Dari masa-masa sulit tersebut, sebuah kesadaran menghampiri sanubari mereka. Terkadang kehidupan sengaja membiarkan manusia mengacaukan segalanya. Sebab melalui kegagalan, kesedihan, dan rasa patah hati itulah, manusia baru dapat memahami arti penderitaan yang sesungguhnya. Tanpa rasa sakit itu, manusia tidak akan pernah mampu menghargai setiap helaan napas, gelak tawa, dan kebersamaan dengan orang-orang tersayang.Hari terus berganti di Kota Zurich, namun kondisi fisik Adrian kian hari kian tidak memungkinkan. Kerusakan organ akibat penyebaran sel kanker membuat daya penglihatan dan
"Ka, kalau kamu baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada lagi di dunia ini. Dan itu artinya, kamu harus berhenti jadi pria bodoh yang melarikan diri sendiri dalam rasa bersalah."Gisel menggigit bibir bawahnya erat-erat. Suara napas Adrian yang tersendat-sendat terdengar begitu menyayat hati saat melanjutkan diktenya."Kamu pikir kamu pahlawan, Ka? Kamu pikir dengan kamu kabur dan 'menyerahkan' Gisel ke aku, kamu udah bikin semua orang bahagia?”“Kamu salah besar, Arka. Kamu cuma pengecut yang lari dari kenyataan. Kamu ninggalin Gisel dalam keadaan hamil tua tanpa kamu tahu betapa hancurnya dia merawatku dalam penderitaan."Gisel meneteskan air mata tepat di atas kertas, membuat tinta hitam itu sedikit meluber. Namun ia tetap memaksakan jemarinya menari m






