Share

Surat Adrian

Author: MJoy Ganteng
last update publish date: 2026-08-30 08:00:15

"Ka, kalau kamu baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada lagi di dunia ini. Dan itu artinya, kamu harus berhenti jadi pria bodoh yang melarikan diri sendiri dalam rasa bersalah."

Gisel menggigit bibir bawahnya erat-erat. Suara napas Adrian yang tersendat-sendat terdengar begitu menyayat hati saat melanjutkan diktenya.

"Kamu pikir kamu pahlawan, Ka? Kamu pikir dengan

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Surat Adrian

    "Ka, kalau kamu baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada lagi di dunia ini. Dan itu artinya, kamu harus berhenti jadi pria bodoh yang melarikan diri sendiri dalam rasa bersalah."Gisel menggigit bibir bawahnya erat-erat. Suara napas Adrian yang tersendat-sendat terdengar begitu menyayat hati saat melanjutkan diktenya."Kamu pikir kamu pahlawan, Ka? Kamu pikir dengan kamu kabur dan 'menyerahkan' Gisel ke aku, kamu udah bikin semua orang bahagia?”“Kamu salah besar, Arka. Kamu cuma pengecut yang lari dari kenyataan. Kamu ninggalin Gisel dalam keadaan hamil tua tanpa kamu tahu betapa hancurnya dia merawatku dalam penderitaan."Gisel meneteskan air mata tepat di atas kertas, membuat tinta hitam itu sedikit meluber. Namun ia tetap memaksakan jemarinya menari m

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Lahirnya Kalila Malik

    Dua minggu kemudian.Atmosfer di rumah sakit spesialis kanker Zurich mendadak berubah tegang. Pagi-pagi sekali, Gisel mulai merasakan kontraksi berkala di perut bagian bawahnya. Rasa mulas yang teratur dan kian hebat menandakan bahwa saat-saat persalinan telah tiba.Tuan Vale bersama Nyonya Endang dan Pak Hari yang baru tiba dari Metro City malam sebelumnya tampak panik mendampingi Gisel di koridor ruang bersalin."Sakit banget, Pa..." ringis Gisel seraya mencengkram lengan Tuan Vale. Peluh membasahi wajahnya yang pucat."Tahan ya, Sayang... Berdoa, Nak. Papa ada di sini," bisik Tuan Vale dengan mata berkaca-kaca, memeluk putri kesayangannya yang sebentar lagi akan berjuang melahirkan kehidupan baru.Sebelum didorong masuk ke dalam ruang operasi untuk tindakan persalinan caesar darurat, Gisel menahan tangan Dokter Sam."Dok... bagaimana... bagaimana kondisi Adrian pagi ini?" tanya Gisel di tengah ringisan sakitnya.Dokter Sam mengelus kepala Gisel dengan penuh kasih sayang. "Adrian st

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Bertahan Atau Melarikan Diri

    Di tempat lain, di sebuah kota kecil di pesisir Jawa Tengah, sebuah mobil MPV hitam tampak terparkir ramping di halaman sebuah rumah sewa berarsitektur kayu yang asri dan tenang.Arka Malik turun dari pintu pengemudi. Penampilannya kini jauh berbeda dari sosok pengusaha muda sukses yang selalu berpakaian setelan jas rapi di Jakarta. Arka hanya mengenakan kaus polos berwarna abu-abu dengan celana kain santai. Wajahnya tampak sedikit lebih tirus, dan ada garis-garis kelelahan emosional yang amat mendalam di matanya.Ia melangkah ke pintu penumpang belakang, membuka pintu, dan tersenyum hangat menatap putri kecilnya yang sedang tertidur lelap."Rania... bangun, Sayang. Kita sudah sampai di rumah baru," bisik Arka lembut sembari membelai rambut Rania.Anak kecil itu mengecap

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Lari Seperti Pengecut

    Setelah ritual doa pagi selesai, Gisel meraih sebuah buku bersampul kulit warna cokelat muda yang tergeletak di atas nakas. Buku harian milik Adrian yang ia temukan di dalam tas pria itu beberapa bulan lalu.Gisel membuka lembaran yang telah terlipat, lalu mulai membacakan emerges tulisan tangan Adrian dengan suara yang sangat lembut."Selama ini... dia selalu ada walau tidak pernah menoleh padaku sekalipun..."Gisel melirik wajah Adrian yang masih terpejam tenang, lalu melanjutkan bacaannya."Aku bagai sosok transparan yang hanya dilihat sekilas olehnya. Itu pun hanya saat suaraku memanggil namanya. Jika tidak, senyum singkatnya itu tidak mungkin bisa kulihat di seperdetik bahagia itu..."Gisel mengusap sudut matanya yang mendadak basah menggunakan tisu. Ia membalik lembaran berikutnya dengan penuh kehati-hatian."Aku menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya. Aku mencintainya setelah aku sadar hanya wajahnya yang selalu memenuhi pikiranku. Tuhan... dosakah aku jika menaruh rasa

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Bisikan Doa Lewat Angin Eropa

    Dinginnya udara pagi di Kota Zurich, Swiss, menembus kaca tebal ruang rawat kelas VIP rumah sakit spesialis kanker ternama itu. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih steril tersebut, suasana begitu hening, hanya diselingi oleh bunyi ritmis dari monitor tanda vital.Adrian terbaring lemah di atas brankar. Wajahnya yang dahulu tegas dan menawan kini tampak kian pucat dan tirus. Garis-garis keletihan tercetak jelas di parasnya, sementara tubuhnya terlihat kian kurus akibat gerogotan penyakit Kanker Testis stadium lanjut yang dideritanya.Gisel duduk setia di samping ranjang. Jemari lentiknya menggenggam erat tangan Adrian yang dingin dan kurus. Tatapan matanya menyiratkan luka yang amat dalam, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata di hadapan Adrian.Belakangan ini, kondisi Adrian memang menunjukkan penurunan yang signifikan. Efek samping dari serangkaian pengobatan serta jadwal kemoterapi antikanker yang padat membuat nafsu makan pria itu merosot drastis.

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Rahasia Di Rahim Giselle

    Beberapa hari telah berlalu sejak insiden kritis yang hampir merenggut nyawa Adrian. Setelah melewati masa pemantauan ketat di ruang perawatan intensif, kondisinya perlahan menunjukkan stabilitas yang signifikan. Tim medis akhirnya memberikan izin untuk memindahkan Adrian ke ruang perawatan biasa.Di dalam ruangan yang jauh lebih tenang tersebut, kedua orang tua Adrian telah berkumpul. Meskipun di masa lalu mereka dikenal sangat keras dan kaku dalam mendidik Adrian, melihat putra tunggal mereka terbaring lemah di antara batas hidup dan mati berhasil meruntuhkan seluruh dinding ego mereka. Sang ibu beberapa kali tampak mengusap air mata penyesalan sewaktu mendampingi di samping brankar.Gisel turut berada di ruangan itu, didampingi oleh sang ayah, Tuan Vale. Dengan kelapangan hati yang luar biasa, Gisel berupaya mengurai benang kusut masa lalu. Ia menceritakan seluruh kebenaran secara jujur, meluruskan kesalahpahaman besar terkait isu kemandulan yang di masa lalu sempat merusak hubunga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status