Share

Tidak Bisa Berhenti

last update Last Updated: 2026-02-14 20:53:54

"Apa benar kamu yang rekomendasiin beberapa tempat, tapi pura-pura pakai nama Mba Sarah?”

Dirga tidak langsung menjawab. Tangannya masih mantap di setir, tapi rahangnya mengeras sedikit—tanda yang sudah cukup Nadine kenal.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Dirga menghembuskan napas panjang. “Iya,” akuinya akhirnya, nada suaranya datar tapi jujur. “Itu aku.”

Nadine menoleh penuh ke arah Dirga.

Dirga melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Aku minta Sarah buat pakai na
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
enggar kristianiii
bosen kak kalo up nya cuma 3 bab, minimal 5 lahh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tidak Bisa Berhenti

    "Apa benar kamu yang rekomendasiin beberapa tempat, tapi pura-pura pakai nama Mba Sarah?” Dirga tidak langsung menjawab. Tangannya masih mantap di setir, tapi rahangnya mengeras sedikit—tanda yang sudah cukup Nadine kenal. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Dirga menghembuskan napas panjang. “Iya,” akuinya akhirnya, nada suaranya datar tapi jujur. “Itu aku.” Nadine menoleh penuh ke arah Dirga. Dirga melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Aku minta Sarah buat pakai namanya untuk merekomendasikan tempat-tenpat itu ke kamu,” lanjutnya. “Biar kamu nggak kepikiran aneh-aneh.” "Ternyata Mba Sarah nggak bohong." Dirga mendengus kecil. “Dasar Sarah. Nggak bisa jaga rahasia sama sekali.” Nada kesalnya bukan marah besar, lebih ke kesal biasa. Karena Sarah tidak bisa diajak kerja sama. Nadine memperhatikan profil wajah Dirga dari samping. Ada garis lelah di sana. Ada ketulusan juga. Dan entah kenapa, itu justru membuat dadanya terasa makin sesak. “Ga…” panggilnya

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Topeng Manusia

    Melihat itu semua, kakinya terasa lemas. Nadine sampai harus menahan diri agar tidak langsung terduduk. Matanya menatap kosong ke arah meja barang bukti. “Saya nggak nyangka dia sampai sejauh ini,” ucapnya lirih, suaranya nyaris habis. Nadine nyaris tak bisa bereaksi apa-apa saat melihat semua barang bukti yang ditampilkan. “Padahal saat bertemu dengan saya, dia kelihatan orang yang baik dan ramah.” Petugas kepolisian yang duduk di hadapan mereka menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menautkan kedua tangan di atas meja. Nada bicaranya tenang, profesional. “Mungkin dia terobsesi pada Anda karena anda pernah bersikap baik padanya. Dan bisa jadi karena ketertarikan itulah yang mendorongnya jadi seperti itu.” Nadine mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata petugas itu, penuh kebingungan dan rasa tidak percaya. “Untuk menjadi seorang tersangka sebuah kejahatan, kita tidak bisa menjadikan tampang, sikap, atau keseharian mereka saja. Karena setiap manusia, pun

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Bohong

    “Dia bohong, Pak!” Nadine berdiri dari duduknya dengan gerakan tiba-tiba. Kursinya sedikit bergeser ke belakang. Suaranya bergetar, tapi matanya menatap lurus ke depan. “Dia jelas mau melecehkan saya.” Ruangan mendadak terasa lebih sempit. “Pak, demi Tuhan saya enggak ngelakuin itu. Sumpah, Pak!” Yanto langsung menyela dengan suara keras, wajahnya menegang. Tangannya yang terborgol bergerak gelisah, seolah ingin menegaskan ketidakbersalahannya. “Bohong, Pak, dia—” Dirga meremas tangan Nadine dengan kuat namun terkendali. Sentuhan itu cukup membuat Nadine terdiam. Dirga menoleh sedikit, sorot matanya tertuju tepat ke wajah Nadine—sebuah isyarat tegas tanpa kata: tenang. Nadine menghela napas panjang. Dadanya naik turun sebelum akhirnya ia menurut. Ia duduk kembali di samping Dirga, meski tubuhnya masih terasa tegang dan perutnya melilit hebat. Jemarinya tetap berada dalam genggaman Dirga. “Bapak sudah geledah TKP, kan?” Dirga angkat bicara dengan suara tenang, nyaris dingin. Tat

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ada Orang Lain

    "Yah— kamu benar." Dirga menegakkan punggungnya, seolah baru tersadar pada satu kenyataan yang sengaja ia kesampingkan. Gerakannya refleks—menjaga jarak saat Nadine mulai menyebut nama yang sama-sama mereka hindari. "Aku lupa kalau masih punya Clara." Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup untuk menghantam. Nadine meremas ujung kemejanya sendiri di bawah meja. Jemarinya mengerut, menahan sesuatu yang mengganjal di dada. Ia benci saat harus mengingat fakta menyebalkan itu—fakta yang selalu berhasil mengembalikan jarak di antara mereka. "Apa kamu cemburu?" Dirga menoleh. Nada suaranya terdengar ringan, nyaris menggoda, namun matanya mengamati setiap perubahan kecil di wajah Nadine. "Kalau aku bilang iya, apa semua bisa merubah kenyataan yang ada?" Jawaban itu membuat Dirga tak kuasa menahan senyum di bibirnya. Senyum tipis—nyaris tak terlihat. Apalagi Nadine sudah terlanjur membuang muka, menatap ke arah lain seolah percakapan ini terlalu menyakitkan untuk dilanjutkan. "Nggaklah."

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Aku Pikir Kamu Menjauh

    Akhirnya mereka berdua duduk berhadapan di meja makan bulat yang hanya cukup untuk dua orang. Meja itu sederhana, tapi pagi itu terasa hangat. Dirga baru saja selesai memasak, sementara Nadine baru keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah lembap. Aroma makanan rumahan memenuhi ruangan. Dirga terlihat telaten. Ia memastikan piring Nadine terisi penuh, sendok dan garpu tertata rapi, bahkan segelas air sudah ia dorong mendekat ke sisi perempuan itu. “Makan yang banyak, Nad,” ucap Dirga sambil melirik sekilas, suaranya lembut. Nadine mengangguk kecil. “Makasih, Ga,” balasnya pelan. “Iya. Sama-sama.” Untuk beberapa detik, hanya suara alat makan yang terdengar. Nadine makan perlahan, sesekali melirik Dirga diam-diam. Tatapannya mencuri-curi, seolah sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Hingga akhirnya, ia berhenti mengunyah. “Ga?” panggilnya ragu. “Hm?” Dirga menyahut tanpa mengangkat kepala. “Kemarin, kamu kok bisa datang tepat waktu begitu?” Gerakan tangan Dirga semp

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Mimpi Buruk

    Namun saat tengah malam— Nadine menggeliat gelisah di atas ranjang. Keningnya berkerut dalam, napasnya mulai tidak teratur. Jemarinya mencengkeram selimut kuat-kuat, seolah sedang menahan sesuatu yang tak terlihat. “J-jangan…” gumamnya lirih. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Rambutnya menempel di pelipis, wajahnya pucat. Napasnya tersengal, semakin cepat, semakin panik. Dalam tidurnya, Nadine terjebak dalam mimpi buruk. Kamar kos yang sempit. Suara itu. Tatapan itu. “Janga Bang... Jangan…” Nadine meronta dalam tidurnya, suaranya bergetar. “Tolong… berhenti, jangan lakukan ini…” Tangannya terangkat seolah menepis sesuatu. Tubuhnya menegang. Nafasnya mulai memburu. Air mata mulai jatuh. Dirga yang tertidur di sisi ranjang langsung terbangun. “Nad?” panggilnya pelan tapi sigap. Ia segera bangkit, duduk di tepi ranjang. Begitu melihat kondisi Nadine yang terjebak dalam mimpi buruk, seketika jantung Dirga mencelos. “Nad… Nadine, bangun!” ucapnya lembut tapi tegas. Tangannya sege

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status