Share

Istri Rasa ART

last update Last Updated: 2025-08-25 19:57:56

“Mas Rhevan, kenapa kamu tega sekali?” bisiknya lirih, nyaris tanpa suara.

"Berisik!" umpat Rhevan sambil saklar lampu di samping ranjang. Ia tidur dengan posisi membelakangi Nadine. Pria itu kembali sibuk dengan ponselnya seolah tak terjadi apa-apa.

Sementara Nadine hanya terpekur perih menyaksikan sikap dingin dan kasar suaminya.

'Tuhan, sampai kapan Mas Rhevan bersikap seperti ini? Kapan dia mau memperlakukanku seperti kayaknya seorang istri?'

***

Pagi itu, Nadine menyiapkan sarapan untuk sang suami seperti biasanya. Yang berbeda hanyalah mata sembab efek terlalu banyak menangis kemarin malam.

"Mana sarapanku?"

Nadine menoleh. Ia melihat ke arah Rhevan yang sudah rapi dengan kemeja biru tuanya. Ia menarik salah satu kursi di meja makan setelah mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

"Sebentar, Mas. Ini lagi aku siapin," jawab Nadine lembut.

"Ck. Makanya jadi istri itu bangunnya jangan siang-siang! Pemalas!"

Sekali lagi. Kalimat hinaan itu meluncur bebas dari bibir Rhevan. Namun hanya dibalas dengan kalimat maaf lirih yang tak pernah luput Nadine sampaikan.

"Maaf! Maaf! Tapi kamu gak pernah becus!" Ia melirik sinis ke arah sang istri. "Cepet siapin makanannya! Aku keburu telat!"

Dengan segera ia mengambil nasi dan mulai menuangkan nasi goreng buatannya ke atas sana. Ia tidak lupa menambahkan suwiran ayam dan telor mata sapi sebagai lauknya.

Tanpa mengucapkan terimakasih, Rhevan mulai menyantap sarapannya. Sesekali matanya tertuju ke arah ponsel yang terus menyala. Ia tak memperdulikan kehadiran Navira sama sekali.

Nadine mengambil sebuah piring. Ia hendak makan bersama dengan suaminya, akan tetapi...

"Jangan makan dulu! Buatkan aku kopi!" Tanpa melihat ke arah Nadine, Rhevan kembali memerintah istrinya.

Perempuan dengan dress motif bunga kecil-kecil itu hanya mengangguk. "Iya Mas."

Ia berdiri. Wajahnya semakin murung. Dengan hati meradang, perempuan berambut panjang sepunggung itu mulai menyiapkan kopi yang diminta suaminya.

Kadang, Nadine juga ingin ditanya, apa dia sudah makan? Atau setidaknya Rhevan mengajaknya makan bersama, tapi pria itu tak pernah melakukannya. Sekalipun tidak.

Rhevan tak pernah menganggapnya sebagai istri atau pasangannya. Ia sudah seperti pembantu yang memenuhi segala kebutuhannya.

Setelah menyantap suapan terakhir nasi gorengnya, Rhevan meletakkan sendok dengan bunyi clak yang membuat Navira sedikit terlonjak.

“Tambahin gula kopinya dikit lagi! Terlalu pahit!” omelnya sambil berdiri, mengambil jas yang tersampir di kursi.

Nadine segera meraih cangkir kopi itu dengan cepat. Ia menambahkan sedikit gula, mengaduk pelan, lalu menyerahkan kembali pada suaminya.

Namun, setelah kopi itu selesai dibuat, Rhevan justru berkata jika dia harus segera berangkat ke kantor.

Dengan masih memegang cangkir kopi di tangannya, Nadine memperhatikan suaminya yang melenggang cepat menuju pintu utama. Ekspresi penuh luka tergambar jelas di wajahnya.

“Apa aku segitu gak berartinya di mata kamu, Mas?” bisiknya parau. Lagi-lagi ia dikecewakan oleh sikap Rhevan, suaminya.

***

Tas belanjaan di tangan Nadine terasa berat. Kakinya melangkah gontai menuju dapur. Setiap langkah terasa sepi, namun pikirannya riuh oleh obrolan ibu-ibu di tukang sayur tadi pagi.

["Suamiku kenapa ya hampir tiap hari minta jatah. Padahal kita ini capek loh. Udah ngurus rumah, anak, eh— malamnya masih aja harus ngelayani suami."]

["Iya Bu. Aku juga heran loh. Kalau gak dikasih pasti dia uring-uringan, alasan sakit kepala lah, obat capeklah."]

["Aku aja yang dua hari sekali aja males apalagi yang tiap hari. Males saya Jeng."]

Nadine menarik napas panjang ketika mengingat obrolan mereka. Ada rasa getir menyergap hatinya.

Rhevan bukan tipe suami yang penuh gairah. Bukan juga lelaki yang menginginkan istrinya setiap malam. Justru sebaliknya. Dalam hampir lima tahun pernikahan mereka, Nadine bisa menghitung dengan jari seberapa sering Rhevan benar-benar menyentuhnya.

Seminggu sekali. Itu pun kadang-kadang. Pernah bahkan sampai sebulan penuh tanpa sekalipun ia dipeluk dengan mesra. Dan setiap kali terjadi, semuanya berlangsung terlalu cepat. Tanpa ciuman, tanpa belaian, tanpa kenikmatan untuk dirinya.

Padahal ia masih tergolong sebagai perempuan muda yang penuh gairah, penuh kebutuhan akan sentuhan seksual.

“Kenapa Mas Rhevan beda ya ama suami-suami mereka?" lirih Nadine sambil meletakkan belanjaannya di meja dapur. "Apa Mas Rhevan secapek itu kerjanya sampai gak minta buat berhubungan, atau— Mas Rhevan gak selera sama aku?"

Nadine sering memikirkan hal ini. Tapi ia mencoba untuk terus berpikir positif tentang suaminya. Meskipun di lubuk hatinya, ada kegundahan yang tak pernah ia ungkapkan.

***

Keesokan paginya, Rhevan sudah duduk di sofa dengan kemeja biru muda yang sudah rapi, dasi terikat sempurna di lehernya. Namun, matanya sama sekali tidak beralih dari ponsel di genggamannya. Jemarinya sibuk mengetik cepat, sesekali tersenyum tipis pada layar seolah tengah membalas pesan penting.

“Ini kopinya, Mas," lirih Nadine sambil meletakkan cangkir kopi request sang suami ke atas meja.

Tanpa menoleh, Rhevan hanya menjawab seadanya, “Hm."

Nadine menggigit bibirnya. Hatinya perih mendengar nada dingin itu. “Di minum dulu kopinya, Mas! Nanti keburu dingin," ucap Nadine, mencoba menarik perhatian suaminya.

Kali ini Rhevan mendesah kasar. Ia meletakkan ponsel sebentar di pahanya, menoleh cepat hanya untuk memberikan tatapan tidak sabar.

“Kamu ini kenapa berisik sekali, hah? Mau aku minum pas panas atau dingin, rasanya juga tetap sama. Tetap kopi!"

Nadine menghela nafas panjang. Ia tahu percakapan ini hanya berakhir pada pertengkaran. Jadi dia memilih untuk mengalah dan pergi dari dalam rumah. Menyiram tanaman adalah tujuannya sekarang.

Tapi saat ia baru saja menyalakan kran, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang memanggilnya. “Mbak Nadineeeee!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tak Sudi!

    “Kalau Mama mau, Mama saja yang pergi memohon ke Nadine supaya bebaskan si Rhevan. Papa nggak sudi!”Ucapan itu masih menggantung di udara ketika Pak Wijaya berbalik dan melangkah pergi. Suara langkah kakinya terdengar menjauh, disusul bunyi pintu kamar yang ditutup keras—seolah menjadi penegasan bahwa pembicaraan mereka benar-benar selesai.Bu Wijaya tak bergerak. Ia hanya duduk terpaku di sofa ruang tamu yang luas itu, punggungnya kaku, kedua tangannya saling meremas jemarinya sendiri sampai buku-bukunya memutih.“Rhevan…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Napasnya terasa berat. Dadanya sesak. Rumah itu mendadak terasa terlalu sunyi.Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan mondar-mandir tanpa arah. Beberapa kali ia berhenti, mengambil ponsel, lalu kembali meletakkannya. Namun akhirnya, satu per satu nomor tetap ia hubungi.Teman lama. Rekan kerja. Sahabat arisan. Bahkan kerabat jauh.Namun jawabannya selalu sama.“Maaf ya, aku nggak bisa.”“Rhevan begitu, kan, karena ulahnya sen

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tidak Bisa Jauh-Jauh

    Dirga diam cukup lama sebelum akhirnya menepikan mobil di pinggir jalan yang agak sepi. Mesin masih menyala, lampu sein berkedip pelan di sisi jalan. Ia mematikan musik yang sejak tadi mengalun samar, lalu menghela napas panjang—seolah sedang mengumpulkan keberanian.“Nad…” panggilnya pelan, suaranya terdengar berat.Nadine menoleh. Alisnya langsung berkerut saat menangkap ekspresi Dirga yang berbeda dari biasanya. Tidak bercanda. Tidak santai. Justru tampak ragu dan agak gugup.“Kamu inget, kan,” ujar Dirga akhirnya, menatap lurus ke depan, kedua tangannya masih menggenggam setir, “rumah itu tepat di sebelah rumahku.”Nadine mengangguk pelan. “Iya. Kita tetanggaan,” jawabnya hati-hati.“Itu alasannya,” sambung Dirga lirih.Nadine menunggu. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia sadari.“Aku nggak setuju rumah itu dijual…” suara Dirga merendah, nyaris seperti gumaman, “karena kalau kamu pindah jauh, aku juga bakal jauh dari kamu.”Nadine terdiam. Kedua matanya membesar perlahan, seo

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Rencana Nadine

    “Dari tadi, kamu kelihatan gugup.”Suara rendah Dirga memecah keheningan di dalam mobil. Nadine yang semula menatap kosong ke arah jalanan langsung mengalihkan pandangannya. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menyinari wajah pria itu yang terlihat serius namun lembut.“Masa sih?” Nadine membalas sambil mengangkat tangan, refleks menyentuh pipinya sendiri. “Emang kelihatan ya?” Ia menatap Dirga dengan raut penasaran.Dirga melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Hm. Jelas banget malah.”Nadine menghela napas panjang, pundaknya sedikit turun seolah beban yang ia pikul tak lagi bisa ditahan. “Aku gugup karena setelah ini aku bakal resmi menjanda.”Dirga mendengus pelan, suaranya terdengar ringan tapi tegas. “Single nggak seburuk itu kalau orang yang kamu tinggalin macam si brengsek itu," balas pria dengan hoodie hitam itu.“Iya sih,” Nadine tersenyum kecil, meski matanya menyiratkan keraguan. “Tapi tetap aja aku harus mulai semuanya dari awal.”“Kamu pasti bisa, Nadine.”

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Pergi atau Bertahan

    Amanda menghela napas panjang. Mobilnya melaju membelah jalanan malam, lampu kota berkelebat di sisi jendela seperti bayangan pikirannya sendiri.“Aku kenapa sampai segininya sih sama Mas Rhevan?” gumamnya lirih.Ia menertawakan dirinya sendiri yang sejak beberapa saat lalu terus berjuang, memohon, bahkan merendahkan diri di hadapan Pak Wijaya.Tapi untuk apa? Tidak ada satu pun yang benar-benar menganggapnya hanya karena ia cuma selingkuhan Rhevan.“Benar kata Pak Wijaya,” ucapnya pelan, mengulang kata-kata Pak Wijaya. “Untuk apa aku harus melakukan ini semua untuk Mas Rhevan.”Amanda menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Bayangan wajah Rhevan muncul di kepalanya—putus asa, penuh tuntutan, menggantungkan seluruh hidupnya pada satu orang: dirinya.“Ck. Kenapa juga Mas Rhevan segitu bergantungnya sama aku?” desahnya.“Padahal aku bisa kabur dan mendapatkan cowok yang lebih dari dia. Bahkan aku juga bisa dapat yang lebih kaya.”“Aku mau sama dia juga karena aku bisa hidup enak,” katany

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Bimbang

    Amanda masih mengendarai mobilnya. Matanya fokus ke jalan, tapi pikirannya melayang jauh ke belakang. Ke beberapa hari lalu, saat ia mendatangi rumah keluarga Rhevan.Jadi, beberapa saat setelah Rhevan digiring ke kantor polisi, Amanda langsung melajukan mobilnya ke rumah besar keluarga Wijaya. Tangannya masih gemetar saat memarkir kendaraan di halaman luas berlapis batu alam itu.Amanda turun dari mobil, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Pintu dibuka oleh seorang asisten rumah tangga.“Cari siapa, Mba?” tanyanya sopan.“Saya Amanda,” jawabnya cepat. “Saya mau bertemu Pak Wijaya.”Perempuan itu ragu sejenak, lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian, Amanda dipersilakan masuk ke ruang tamu.Pak Wijaya sudah duduk di sana.Pria paruh baya itu bersandar di sofa, kakinya disilangkan. Setelan rumahnya rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.“Malam, Pak.”Tatapannya terangkat begitu mendengar suara sapaan Amanda. Sorot mata yang begitu angkuh dan penuh ketidaks

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Bebaskan Aku!

    “Mas, gimana keadaan kamu?”Itulah kalimat pertama yang meluncur dari bibir Amanda begitu ia duduk di hadapan Rhevan, dipisahkan oleh sekat besi dingin ruang tahanan. Suaranya terdengar cemas, matanya menyapu wajah pria itu tanpa berkedip. “Kamu sehat, kan?”Rhevan tampak jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya kusut, rahangnya ditumbuhi jambang tipis, dan lingkar hitam di bawah matanya menandakan kurang tidur. Tubuhnya tampak lebih kurus, bahunya merosot, seolah harga dirinya ikut terkikis bersama hari-hari di balik jeruji.Alih-alih menjawab, Rhevan justru condong ke depan. Suaranya mendesak, nyaris putus asa.“Bantu aku keluar dari sini, Manda!”Amanda tercekat. Dadanya terasa mengencang.“Tempat ini kotor,” lanjut Rhevan cepat, nadanya naik. “Bau. Aku harus tidur di lantai dingin. Belum lagi napi-napi di sini—mereka memperlakukanku seenaknya!”Amanda menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Rasa iba jelas tergambar di wajahnya.“Aku tahu, Mas,” ucapnya pelan. “Aku be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status