Share

Masih Menjadi Milikku
Masih Menjadi Milikku
Author: Delf

Bab 1 - Pencuri

Author: Delf
last update Last Updated: 2025-07-14 21:13:52

"Stef, aku uda sampai.” Olivia mematikan mesin mobilnya ketika selesai memarkir mobilnya di halaman rumah Steffany yang sangat megah.

“Oliv, aku masih di mini market nih. Kamu langsung ke kamarku aja ya. Hidupin deh langsung laptopku, tau passwordnya kan?” ucap Steffany dari seberang telpon.

“Oke. Titip chiki ya satu.” ucap Olivia terkekeh.

“Tenang aja, uda aku beliin.”

Olivia tertawa, “You’re the best.” Ucapnya kemudian menutup telponnya. Olivia kemudian turun dari mobilnya tanpa melepas topi yang selalu bertengger di kepalanya, menekan tombol lock pada kunci remote mobilnya, dan melangkah masuk ke dalam rumah sahabatnya.

“Hallo Mbak Sathi, Om dan Tante ada?" Tentu saja Olivia tidak boleh asal masuk rumah orang tanpa permisi pada si pemilik rumah.

"Bapak dan Ibu sedang keluar, Non."

Olivia mengangguk, "Stef nyuruh aku langsung naik ke kamar, Mbak.”

“Naik langsung aja, Non.” Jawab Mbak Sathi, asisten rumah tangga Steffany, dan Olivia mengangguk sambil tersenyum.

Olivia setengah berlari menaiki tangga mewah yang meliuk sambil bersiul mendendangkan sebuah lagu menuju kamar Steffany.

“Kamu mau mencuri?” sebuah tangan tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya yang sedang mencoba menekan handle pintu.

Olivia tersentak, spontan dia menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Dan dia lebih terkejut lagi ketika pria yang menatapnya tajam dan terkesan sadis, berdiri sangat dekat dengannya, hingga deru nafasnya terdengar. Dan sialnya pria tersebut sangat tampan.

“A.. aku..” Olivia berusaha mencari suaranya yang entah menguap ke mana.

Pria tersebut tertawa sinis tanpa melepaskan tangan Olivia, bahkan semakin mempererat pegangannya, “Kamu mau beralasan apa?”

Jantung Olivia berdetak semakin kencang. Dia mengenali seluruh anggota keluarga rumah ini, tapi belum pernah melihat pria yang satu ini. Siapa dia?

Olivia berdeham, dan berusaha melepaskan tangannya. “Kamu siapa?”

Suara tawa terdengar, “Kamu tanya aku siapa? Kamu keluar sekarang sebelum aku melaporkanmu ke polisi!!” bentak pria tersebut.

“Oliv…” Nafas Olivia yang rasanya tercekik kini dapat bernafas dengan lega, untung Steffany datang tepat waktu.

Perlahan pria tersebut melepaskan tangan Olivia dan menatap wajah Steffany. Olivia lalu mengelus pergelangannya yang terasa sedikit sakit karena genggaman pria tersebut.

“Kak Ivan? Bukannya penerbangannya besok?” Steffany langsung memeluk pria di depannya, dan membuat mata Olivia terbelalak dan semakin bingung. Ivan? Itu kan nama...

“Aku reschedule, kangen banget ma rumah.” Ucap Ivan sambil memeluk dan mengecup kening sang adik.

“Kenalin ini Olivia, teman kuliah sekaligus sahabatku.” Ucap Steffany sambil tersenyum.

Ivan berdeham, mencoba menutupi rasa malunya, kemudian mengulurkan tangannya. “Ivan, kakak Stef.”

Wajah Olivia nampak kesal, tapi dia tetap harus menjaga sopan santunnya, dia menyambut uluran tangan pria tersebut dengan wajah masam, “Olivia Cristy, mahasiswi semester tiga jurusan akuntansi keuangan, bukan PENCURI.” Olivia mengucapkan kata PENCURI dengan tegas dan penuh penekanan.

Ivan menggidikkan bahunya, “Bukan salahku jika tiba-tiba kamu mau membuka pintu kamar Stef. Wajar jika aku curiga.”

“Tapi kan kamu bisa bertanya dulu, ga langsung menuduh.” Mata Olivia melotot.

“Ya kenapa juga kamu ga bilang langsung kalau kamu teman Stef?”

“Udah.. udah.. Kak, aku ke kamar dulu sama Oliv, mau buat tugas.” Ucap Steffany sambil menarik tangan Olivia memasuki kamarnya.

***

“Stef..”

“Hmmm…” Steffany tetap fokus pada game yang sedang dimainkannya.

“Hmm teman kamu uda balik?”

“Udah dari tadi.”

“Oh..” jawab Ivan singkat.

“Cantik kan? Tapi jangan coba-coba mendekatinya.”

Ivan mengangkat sebelah alisnya menatap heran ke arah Steffany, menurutnya kata-kata adiknya sangat konyol.

“Dia berbeda dengan Alyssa.” lanjut Steffany.

Dahi Ivan semakin berkerut dalam.

“Ga usa menyangkal, aku tau apa yang kalian perbuat di belakangku dulu."

"Aku tidak pernah berniat mendekatinya. Dia yang mengejarku. Lagi pula itu masa lalu."

"Tapi kamu tetap meladeninya." Steffany memutar bola matanya dengan malas, "Pokoknya Olivia tidak boleh disentuh, titik!!!”

“Jadi dia biarawati berkedok mahasiswi?” ejek Ivan setengah tertawa.

Steffanny melotot, “Dia belum mau pacaran.”

“Beda aliran dong dengan kamu yang sebulan sekali ganti pacar?” Ejek Ivan sambil menjitak kepala adiknya.

"Ouucchh sakit! Dasar kakak sirik. Harusnya kamu tuh bangga adekmu tercantik ini laris manis.” Stefanny menjulurkan lidahnya.

Pria tampan tersebut tertawa dan merangkul adiknya, “Jangan mempermainkan hati cowo terus, ntar kakakmu ini yang kena karmanya.”

Steffany terbahak, “Mana mungkin sih ada cewe yang bisa mematahkan hati Ivander Elio? Yang ada mereka yang patah hati.”

Ivan tersenyum tipis, ya dalam hidupnya, dia tidak pernah sekalipun patah hati, karena dia tidak pernah jatuh cinta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 75 - Kita hanya teman

    “Liv, mau ke mana? Ga ikut makan?” Ivan terkejut melihat Olivia yang berjalan ke arah mobilnya, dan pria itu segera mengejarnya.“Engga, aku mau jemput Iel.”Ivan melihat jam tangannya, baru menunjukkan pukul lima sore. “Kamu tadi bilang Iel nonton bioskop sama Calvin.”“Iya, harusnya bentar lagi selesai. Aku juga ada janji makan malam dengan Calvin.”Ivan merasa kecewa namun dia mengangguk.“Kaki kamu uda ga papa? Bisa nyetir ga? Mau aku anter pulang?”Olivia tersenyum, “Uda ga papa koq, untung ga terkilir. Thanks ya.”Ivan tersenyum, “Yeah, sama-sama.”“Kak Ivan, ayo..” suara Nanda terdengar, mereka berdua menoleh pada sumber suara tersebut. Terlihat gadis cantik itu melambaikan tangan sambil tersenyum.“Uda ada yang nungguin tuh.” Ucap Olivia terdengar menggoda Ivan walau entah mengapa perasaannya sedikit sakit ketika mengatakan hal itu.“Ya uda, aku duluan ya. Ati-ati di jalan, Liv. Bye.”Olivia mengangguk dan melihat pria itu berlari sambil melambaikan tangan menuju Nanda. Olivi

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 74 - Memilih mundur

    “Ivan? Kamu di sini juga?” Olivia tiba-tiba merasa gugup. Pria yang sudah seminggu tidak pernah muncul batang hidungnya, ternyata kini berada di tempat yang sama dengannya.Ivan tersenyum, “Yeah, sekarang aku selalu di sini.”Olivia mengangguk. Jadi ini alasan Ivan tidak pernah muncul lagi?“Iel ga ikut?”Olivia menggeleng, “Iel lagi jalan sama Calvin dan Ana. Katanya mau nonton bioskop dengan keponakan Ana.”Ivan mengangguk, “Kalau gitu kamu ada waktu dong buat tanding basket?”Olivia tersenyum sambil menggeleng.“Kenapa? Takut kalah?” Tantang Ivan mengangkat sebelah alisnya.“Aku ke sini pengen main sama anak-anak, bukan mau mencari siapa yang lebih hebat.”Ivan tertawa, “Pertandingan itu tidak selalu mencari siapa yang terhebat. Anggap saja ini pertandingan persahabatan. Yang kalah traktir anak-anak makan.”Olivia memandang Ivan kemudian tersenyum, “Oke kalo gitu, aku yang duluan pilih team.”Ivan mengulurkan tangannya sembari sedikit membungkuk, “Silahkan, tuan putri.”Pertandinga

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 73 - Ga kangen aku?

    “Permisi, Bu. Pesanan makanannya sudah datang.” Lanny mengetuk pintu ruangan Olivia.Olivia meletakkan pulpennya dan mengkerutkan dahinya. “Makanan? Saya ga ada pesan makanan.”“Tapi nama dan alamatnya benar, Bu.” Ucap Lanny.“Ya uda, tolong taruh di meja sana aja, nanti saya lihat. Terima kasih, Lan.”Lanny mengangguk dan kemudian keluar ruangan setelah menaruh makanan tersebut. Olivia melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul dua belas, entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Mungkinkah Ivan datang lagi? Ya Tuhan, kenapa aku jadi memikirkan dia?Olivia melangkah menuju box makanan, membuka plastiknya, dan ternyata ada sebuah kertas catatan di sana.Sibuk boleh, tapi sakit jangan.Jangan telat makan. Happy lunch.-Client paling nyebelin-Olivia membaca catatan tersebut, dia terkejut, namun bibirnya tidak mampu menahan senyuman. Olivia membuka kotak tersebut, Nasi dan soto ayam. Senyuman kembali terlukis di wajah cantik wanita itu. Namun di dalam hatinya ada tanda tanya, me

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 72 - Busur panah

    Ivan membuka pintu rumah dan terdengar suara gelak tawa Steffany dan Calvin. Ivan melangkah lunglai, merasa iri melihat kedua saudaranya dapat tertawa lebar penuh kebahagiaan, sedangkan dirinya merasa hancur ditolak berkali-kali oleh wanita yang dicintainya.“Jadi gimana uda first kiss belum?” suara Steffany terdengar.“Menurutmu?” Calvin terkekeh.Steffany tertawa, “Manis mana ma bibir Olivia?”Ivan yang mendengar nama Olivia disebut langsung mendekat, “Kalian omongin apa?”Steffany dan Calvin terkejut, “Ini loh pasangan baru, ceritain pengalaman first kissnya.” Ucap Steffany terkekeh.“Aku denger ada Olivia disebut.”“Eheeemm… ada yang langsung cemburu dengar nama Olivia disebut.”“Kak, uda makan belum? Mama ada masak semur tuh.”“Aku uda makan di rumah Oliv.” Ivan duduk di samping Steffany.Steffany dan Calvin terkejut, saling menatap namun kemudian tertawa, “Ciieeeh cieeehh… ada yang CLBK nih ceritanya.” Goda Steffany.“Emang mereka pernah jadian?” Calvin bertanya serius pada Stef

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 71 - I like him so much

    Olivia melangkah duluan membuka pintu dan diikuti oleh Ivan.“Ivan..” Olivia tau bahwa dia harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Ivan berharap terlalu jauh padanya.“Ya?” Ivan memasang senyum terindahnya.“Terima kasih uda memberikan Iel mainan, dan mau main dengannya.” ucap Olivia dengan tulus.Ivan tersenyum, “No problem, aku suka main dengan Iel.”Olivia terdiam kemudian melanjutkan, “Aku harap kamu jangan terlalu memanjakan dia, dan.. jangan terlalu sering bertemu dia. A..aku tidak ingin dia bergantung pada kamu.”Ivan terkejut, ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya kelu. “Aku tidak ingin kamu menaruh harapan padaku.” Lanjut Olivia jujur.“Liv.. aku mencintai kamu. Dan itu bohong jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Kita tidak bisa terus-terusan menyangkalnya Liv.” Ivan spontan memegang pundak Olivia.Olivia memejamkan matanya mencari kekuatan, “Sudah terlambat. Keadaannya kini sudah berbeda, Van.”“Apa bedanya?”“Aku sudah pernah menikah, aku janda, punya anak satu.”“I

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 70 - Perasaan campur aduk

    “Mama.. hari ini Om Ivan datang ke rumah kan?” ucap Dariel menatap sang mama yang sedang menyetir.Olivia memandang sekilas ke arah Dariel, “Iel, Om Ivan sibuk.”“Tapi kemarin mama bilang, Om Ivan mau datang.” Protes Dariel kecewa.“Iel, Om Ivan kan juga ada kerjaan.”“Tapi mama kan uda janji. Iel mau main sama Om Ivan.” Dariel mulai merengek.“Dariel….” Ucap Olivia memberi penekanan.“Kan mama yang bilang kalau uda janji harus ditepati.”Olivia menarik nafas panjang, “Iya, tapi Om Ivan ga boleh sering-sering ke rumah, Nak.”“Kenapa, Ma? Kan Om Ivan teman mama. Papa Calvin juga sering ke rumah.”Seketika Olivia memijit keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa cekot-cekot, ini anak koq pinter banget ngelesnya, seperti.. Ivan. Ya Tuhan, kenapa harus Ivan lagi.Olivia berdeham, “Om Calvin dan Om Ivan berbeda, sayang.” Olivia lebih nyaman menyebut Calvin sebagai Om daripada papa.“Bedanya apa, Ma? Kata Om Ivan, dia dan mama uda temanan lama, Cuma Om Ivan harus pergi jauh untuk belajar biar j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status