LOGINIvan berdiri di depan mobilnya, menanti Steffany di depan kampus. Sorot mata para mahasiswi kampus berfokus pada pria tampan yang sibuk berbicara dengan orang di seberang telponnya.
Steffany yang berjalan bersama Olivia cukup terkejut melihat kehadiran Ivan di kampusnya. Mereka kemudian berjalan mendekati pria tersebut.
“Kak Ivan?" tanya Steffany bingung.
“Pak Mul izin pulang, anaknya sakit. Jadi aku yang jemput.” Ucap Ivan seakan mengerti tatapan bingung adiknya, sambil melirik ke arah gadis bertopi di sebelah Steffany yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Bibir Stefanny membentuk huruf O tanpa bersuara, kemudian menoleh ke arah sahabatnya. “Oliv, ayo..”
Olivia berjalan mendekat, “Stef, aku pulang naik ojol aja deh.” tolak Olivia halus. Olivia awalnya ingin menebeng Steffany karena hari ini dia tidak membawa kendaraan.
“Loh kenapa? Ga papa aku anterin, lewat juga koq.”
“Hmm.. aku lupa ada tugas yang harus aku kerjakan di perpustakaan.”
“Kalo mau nebeng ya nebeng aja, ga usa pura-pura cari alasan yang ga masuk akal. Aku tau kamu grogi kan ma aku?” Ujar Ivan cuek sambil melangkah ke arah pintu kemudi, tanpa melihat ke arah Olivia.
“Hah??” Mulut Olivia menganga, tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja masuk ke gendang telinganya.
“Udah.. udah, kalian ini kenapa sih?” potong Steffany melihat suasana berubah menjadi tidak kondusif.
“Dia yang duluan!” Ucap Ivan dan Olivia bersamaan sambil saling menunjuk.
Steffany menggelengkan kepala sambil merangkul Olivia, memaksanya untuk menaiki mobil. Dan dengan terpaksa Olivia pun menurut, dan hal itu membuat senyum sinis bertengger di sudut bibir Ivan.
“Sok gengsi!” Sebuah ucapan terlontar kembali dari mulut Ivan ketika Steffany dan Olivia menutup pintu mobil.
“Stef, aku turun aja.” Olivia sudah siap-siap untuk keluar dari mobil Ivan.
“Kak Ivan!” Steffany menahan lengan sahabatnya sambil melotot ke arah sang kakak.
“Iya, maaf…” ucap Ivan kemudian melajukan mobilnya.
“Hati-hati kalian ini.”
“Kenapa?” tanya Olivia bingung.
“Nanti saling jatuh cinta baru kapok.”
“Amit-amit!!” spontan ucap Olivia dan Ivan bersamaan dan membuat Steffany terkekeh.
***
“Olivia, kenapa kamu lama sekali pulangnya? Cepatan mandi, bentar lagi Randy jemput kamu.” Suara Lisa, mama Olivia, terdengar ketika Olivia membuka pintu rumahnya.
“Randy? Tapi Oliv banyak tugas, Ma. Oliv ga bisa keluar malam ini.”
“Kalau nongkrong dengan teman-teman kamu, punya banyak waktu ya?” jawab Lisa sarkas.
“Oliv ngerjain tugas, Ma. Bukan nongkrong.”
“Berarti tugas kamu uda selesai dong?” balas Lisa.
Olivia menarik nafas panjang, “Ma..”
“Uda, ga usa banyak alasan. Cepat mandi, pakai baju yang mama beliin kemarin.”
“Tapi Ma… baju yang mama beliin terlalu terbuka.” Olivia mengejar sang mama ke dapur.
Lisa membalikkan badannya menatap Olivia lekat dengan tatapan tajam, kemudian menyingkirkan topi yang masih bertengger di kepala Olivia, “Mana ada cowo yang mau sama cewe yang tomboy dan tidak bisa merawat diri kayak kamu? Uda syukur Randy masih mau jalan sama kamu! Kalau bukan karena dia anak sahabat mama, mana mungkin dia mau jalan sama kamu? Jadi kamu ga usa sok nolak kalau diajakin pergi sama dia!”
Olivia sudah sangat terbiasa mendengar kata-kata negative sang mama, “Ma..”
Olivia bukannya tidak bisa merawat diri, tapi memang dia kurang suka dengan hal-hal yang berbau feminim. Dia lebih suka tampil apa adanya, yang terpenting rapi dan membuatnya merasa nyaman.
“Oliv, dengarin mama. Kamu itu bukan anak kecil lagi, kamu sudah memasuki usia dewasa. Dan ini saatnya kamu mencari pasangan terbaik buat kamu.”
“Ma, kalau Oliv bukan anak kecil lagi, seharusnya Oliv bisa memilih sendiri apa yang terbaik buat Oliv.”
Lisa tertawa sinis, “Kamu berharap ada pangeran berkuda putih seperti di novel-novel yang selalu kamu baca? Lihat sepupu-sepupu kamu, mereka semua sudah menikah dan bahagia. Lihat suami-suami mereka, semuanya pengusaha sukses. Sedangkan kamu? Kamu ga malu sama mereka? Mama malu, Liv!”
Kali ini Olivia yang tersenyum sinis, “Bahagia karena menikah dengan orang kaya?”
“Ya, uang itu penting Olivia Cristy! Kamu ga usah terpaku dengan pikiranmu yang terlalu idealis itu, kita hidup di dunia realistis Liv. Semua orang pengen hidup bahagia, bukan hidup susah! Dan jika kamu tidak merubah penampilanmu, tidak akan ada pria kaya yang mau denganmu! Kamu harus upgrade diri kamu.”
“Upgrade diri dengan memakai pakaian seksi dan menjual diri, seperti itu maksud mama?”
Plaaakkk!!!
Sebuah tamparan berhasil menghentikan ucapan Olivia. Olivia memegang pipinya yang terasa panas dan spontan membuat air matanya mengalir, bukan karena rasa sakit di pipinya, namun di hatinya.
“Ma…!!” Mario, papa Olivia, langsung merangkul Olivia ketika mendengar keributan di dapur. “Kenapa Mama menampar Oliv?”
“Lihat hasil dari anak yang terlalu kamu manjakan!”
“Kenapa tidak bisa dibicarakan baik-baik sih, Ma?”
Dan pertengkaran semakin memanas dan membuat air mata Olivia semakin mengalir deras, “Pa.. Oliv ga apa-apa. Oliv mandi dulu, sebentar lagi Randy jemput.” ucap Olivia berusaha menghentikan pertengkaran kedua orangtuanya, dan memilih melangkah ke kamarnya.
“Liv, mau ke mana? Ga ikut makan?” Ivan terkejut melihat Olivia yang berjalan ke arah mobilnya, dan pria itu segera mengejarnya.“Engga, aku mau jemput Iel.”Ivan melihat jam tangannya, baru menunjukkan pukul lima sore. “Kamu tadi bilang Iel nonton bioskop sama Calvin.”“Iya, harusnya bentar lagi selesai. Aku juga ada janji makan malam dengan Calvin.”Ivan merasa kecewa namun dia mengangguk.“Kaki kamu uda ga papa? Bisa nyetir ga? Mau aku anter pulang?”Olivia tersenyum, “Uda ga papa koq, untung ga terkilir. Thanks ya.”Ivan tersenyum, “Yeah, sama-sama.”“Kak Ivan, ayo..” suara Nanda terdengar, mereka berdua menoleh pada sumber suara tersebut. Terlihat gadis cantik itu melambaikan tangan sambil tersenyum.“Uda ada yang nungguin tuh.” Ucap Olivia terdengar menggoda Ivan walau entah mengapa perasaannya sedikit sakit ketika mengatakan hal itu.“Ya uda, aku duluan ya. Ati-ati di jalan, Liv. Bye.”Olivia mengangguk dan melihat pria itu berlari sambil melambaikan tangan menuju Nanda. Olivi
“Ivan? Kamu di sini juga?” Olivia tiba-tiba merasa gugup. Pria yang sudah seminggu tidak pernah muncul batang hidungnya, ternyata kini berada di tempat yang sama dengannya.Ivan tersenyum, “Yeah, sekarang aku selalu di sini.”Olivia mengangguk. Jadi ini alasan Ivan tidak pernah muncul lagi?“Iel ga ikut?”Olivia menggeleng, “Iel lagi jalan sama Calvin dan Ana. Katanya mau nonton bioskop dengan keponakan Ana.”Ivan mengangguk, “Kalau gitu kamu ada waktu dong buat tanding basket?”Olivia tersenyum sambil menggeleng.“Kenapa? Takut kalah?” Tantang Ivan mengangkat sebelah alisnya.“Aku ke sini pengen main sama anak-anak, bukan mau mencari siapa yang lebih hebat.”Ivan tertawa, “Pertandingan itu tidak selalu mencari siapa yang terhebat. Anggap saja ini pertandingan persahabatan. Yang kalah traktir anak-anak makan.”Olivia memandang Ivan kemudian tersenyum, “Oke kalo gitu, aku yang duluan pilih team.”Ivan mengulurkan tangannya sembari sedikit membungkuk, “Silahkan, tuan putri.”Pertandinga
“Permisi, Bu. Pesanan makanannya sudah datang.” Lanny mengetuk pintu ruangan Olivia.Olivia meletakkan pulpennya dan mengkerutkan dahinya. “Makanan? Saya ga ada pesan makanan.”“Tapi nama dan alamatnya benar, Bu.” Ucap Lanny.“Ya uda, tolong taruh di meja sana aja, nanti saya lihat. Terima kasih, Lan.”Lanny mengangguk dan kemudian keluar ruangan setelah menaruh makanan tersebut. Olivia melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul dua belas, entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Mungkinkah Ivan datang lagi? Ya Tuhan, kenapa aku jadi memikirkan dia?Olivia melangkah menuju box makanan, membuka plastiknya, dan ternyata ada sebuah kertas catatan di sana.Sibuk boleh, tapi sakit jangan.Jangan telat makan. Happy lunch.-Client paling nyebelin-Olivia membaca catatan tersebut, dia terkejut, namun bibirnya tidak mampu menahan senyuman. Olivia membuka kotak tersebut, Nasi dan soto ayam. Senyuman kembali terlukis di wajah cantik wanita itu. Namun di dalam hatinya ada tanda tanya, me
Ivan membuka pintu rumah dan terdengar suara gelak tawa Steffany dan Calvin. Ivan melangkah lunglai, merasa iri melihat kedua saudaranya dapat tertawa lebar penuh kebahagiaan, sedangkan dirinya merasa hancur ditolak berkali-kali oleh wanita yang dicintainya.“Jadi gimana uda first kiss belum?” suara Steffany terdengar.“Menurutmu?” Calvin terkekeh.Steffany tertawa, “Manis mana ma bibir Olivia?”Ivan yang mendengar nama Olivia disebut langsung mendekat, “Kalian omongin apa?”Steffany dan Calvin terkejut, “Ini loh pasangan baru, ceritain pengalaman first kissnya.” Ucap Steffany terkekeh.“Aku denger ada Olivia disebut.”“Eheeemm… ada yang langsung cemburu dengar nama Olivia disebut.”“Kak, uda makan belum? Mama ada masak semur tuh.”“Aku uda makan di rumah Oliv.” Ivan duduk di samping Steffany.Steffany dan Calvin terkejut, saling menatap namun kemudian tertawa, “Ciieeeh cieeehh… ada yang CLBK nih ceritanya.” Goda Steffany.“Emang mereka pernah jadian?” Calvin bertanya serius pada Stef
Olivia melangkah duluan membuka pintu dan diikuti oleh Ivan.“Ivan..” Olivia tau bahwa dia harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Ivan berharap terlalu jauh padanya.“Ya?” Ivan memasang senyum terindahnya.“Terima kasih uda memberikan Iel mainan, dan mau main dengannya.” ucap Olivia dengan tulus.Ivan tersenyum, “No problem, aku suka main dengan Iel.”Olivia terdiam kemudian melanjutkan, “Aku harap kamu jangan terlalu memanjakan dia, dan.. jangan terlalu sering bertemu dia. A..aku tidak ingin dia bergantung pada kamu.”Ivan terkejut, ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya kelu. “Aku tidak ingin kamu menaruh harapan padaku.” Lanjut Olivia jujur.“Liv.. aku mencintai kamu. Dan itu bohong jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Kita tidak bisa terus-terusan menyangkalnya Liv.” Ivan spontan memegang pundak Olivia.Olivia memejamkan matanya mencari kekuatan, “Sudah terlambat. Keadaannya kini sudah berbeda, Van.”“Apa bedanya?”“Aku sudah pernah menikah, aku janda, punya anak satu.”“I
“Mama.. hari ini Om Ivan datang ke rumah kan?” ucap Dariel menatap sang mama yang sedang menyetir.Olivia memandang sekilas ke arah Dariel, “Iel, Om Ivan sibuk.”“Tapi kemarin mama bilang, Om Ivan mau datang.” Protes Dariel kecewa.“Iel, Om Ivan kan juga ada kerjaan.”“Tapi mama kan uda janji. Iel mau main sama Om Ivan.” Dariel mulai merengek.“Dariel….” Ucap Olivia memberi penekanan.“Kan mama yang bilang kalau uda janji harus ditepati.”Olivia menarik nafas panjang, “Iya, tapi Om Ivan ga boleh sering-sering ke rumah, Nak.”“Kenapa, Ma? Kan Om Ivan teman mama. Papa Calvin juga sering ke rumah.”Seketika Olivia memijit keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa cekot-cekot, ini anak koq pinter banget ngelesnya, seperti.. Ivan. Ya Tuhan, kenapa harus Ivan lagi.Olivia berdeham, “Om Calvin dan Om Ivan berbeda, sayang.” Olivia lebih nyaman menyebut Calvin sebagai Om daripada papa.“Bedanya apa, Ma? Kata Om Ivan, dia dan mama uda temanan lama, Cuma Om Ivan harus pergi jauh untuk belajar biar j







