Home / Romansa / Masih Menjadi Milikku / Bab 2 - Amit-amit

Share

Bab 2 - Amit-amit

Author: Delf
last update publish date: 2025-07-15 20:32:01

Ivan berdiri di depan mobilnya, menanti Steffany di depan kampus. Sorot mata para mahasiswi kampus berfokus pada pria tampan yang sibuk berbicara dengan orang di seberang telponnya.

Steffany yang berjalan bersama Olivia cukup terkejut melihat kehadiran Ivan di kampusnya. Mereka kemudian berjalan mendekati pria tersebut.

“Kak Ivan?" tanya Steffany bingung.

“Pak Mul izin pulang, anaknya sakit. Jadi aku yang jemput.” Ucap Ivan seakan mengerti tatapan bingung adiknya, sambil melirik ke arah gadis bertopi di sebelah Steffany yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Bibir Stefanny membentuk huruf O tanpa bersuara, kemudian menoleh ke arah sahabatnya. “Oliv, ayo..”

Olivia berjalan mendekat, “Stef, aku pulang naik ojol aja deh.” tolak Olivia halus. Olivia awalnya ingin menebeng Steffany karena hari ini dia tidak membawa kendaraan.

“Loh kenapa? Ga papa aku anterin, lewat juga koq.” 

“Hmm.. aku lupa ada tugas yang harus aku kerjakan di perpustakaan.”

“Kalo mau nebeng ya nebeng aja, ga usa pura-pura cari alasan yang ga masuk akal. Aku tau kamu grogi kan ma aku?” Ujar Ivan cuek sambil melangkah ke arah pintu kemudi, tanpa melihat ke arah Olivia.

“Hah??” Mulut Olivia menganga, tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja masuk ke gendang telinganya.

“Udah.. udah, kalian ini kenapa sih?” potong Steffany melihat suasana berubah menjadi tidak kondusif.

“Dia yang duluan!” Ucap Ivan dan Olivia bersamaan sambil saling menunjuk.

Steffany menggelengkan kepala sambil merangkul Olivia, memaksanya untuk menaiki mobil. Dan dengan terpaksa Olivia pun menurut, dan hal itu membuat senyum sinis bertengger di sudut bibir Ivan.

“Sok gengsi!” Sebuah ucapan terlontar kembali dari mulut Ivan ketika Steffany dan Olivia menutup pintu mobil.

“Stef, aku turun aja.” Olivia sudah siap-siap untuk keluar dari mobil Ivan.

“Kak Ivan!” Steffany menahan lengan sahabatnya sambil melotot ke arah sang kakak.

“Iya, maaf…” ucap Ivan kemudian melajukan mobilnya.

“Hati-hati kalian ini.” 

“Kenapa?” tanya Olivia bingung.

“Nanti saling jatuh cinta baru kapok.”

“Amit-amit!!” spontan ucap Olivia dan Ivan bersamaan dan membuat Steffany terkekeh.

***

“Olivia, kenapa kamu lama sekali pulangnya? Cepatan mandi, bentar lagi Randy jemput kamu.” Suara Lisa, mama Olivia, terdengar ketika Olivia membuka pintu rumahnya.

“Randy? Tapi Oliv banyak tugas, Ma. Oliv ga bisa keluar malam ini.”

“Kalau nongkrong dengan teman-teman kamu, punya banyak waktu ya?” jawab Lisa sarkas.

“Oliv ngerjain tugas, Ma. Bukan nongkrong.”

“Berarti tugas kamu uda selesai dong?” balas Lisa.

Olivia menarik nafas panjang, “Ma..”

 “Uda, ga usa banyak alasan. Cepat mandi, pakai baju yang mama beliin kemarin.”

 “Tapi Ma… baju yang mama beliin terlalu terbuka.” Olivia mengejar sang mama ke dapur.

Lisa membalikkan badannya menatap Olivia lekat dengan tatapan tajam, kemudian menyingkirkan topi yang masih bertengger di kepala Olivia, “Mana ada cowo yang mau sama cewe yang tomboy dan tidak bisa merawat diri kayak kamu? Uda syukur Randy masih mau jalan sama kamu! Kalau bukan karena dia anak sahabat mama, mana mungkin dia mau jalan sama kamu? Jadi kamu ga usa sok nolak kalau diajakin pergi sama dia!”

Olivia sudah sangat terbiasa mendengar kata-kata negative sang mama, “Ma..”

Olivia bukannya tidak bisa merawat diri, tapi memang dia kurang suka dengan hal-hal yang berbau feminim. Dia lebih suka tampil apa adanya, yang terpenting rapi dan membuatnya merasa nyaman.

“Oliv, dengarin mama. Kamu itu bukan anak kecil lagi, kamu sudah memasuki usia dewasa.  Dan ini saatnya kamu mencari pasangan terbaik buat kamu.”

“Ma, kalau Oliv bukan anak kecil lagi, seharusnya Oliv bisa memilih sendiri apa yang terbaik buat Oliv.”

Lisa tertawa sinis, “Kamu berharap ada pangeran berkuda putih seperti di novel-novel yang selalu kamu baca? Lihat sepupu-sepupu kamu, mereka semua sudah menikah dan bahagia. Lihat suami-suami mereka, semuanya pengusaha sukses. Sedangkan kamu? Kamu ga malu sama mereka? Mama malu, Liv!”

Kali ini Olivia yang tersenyum sinis, “Bahagia karena menikah dengan orang kaya?”

“Ya, uang itu penting Olivia Cristy! Kamu ga usah terpaku dengan pikiranmu yang terlalu idealis itu, kita hidup di dunia realistis Liv. Semua orang pengen hidup bahagia, bukan hidup susah! Dan jika kamu tidak merubah penampilanmu, tidak akan ada pria kaya yang mau denganmu! Kamu harus upgrade diri kamu.”

“Upgrade diri dengan memakai pakaian seksi dan menjual diri, seperti itu maksud mama?”

Plaaakkk!!!

Sebuah tamparan berhasil menghentikan ucapan Olivia. Olivia memegang pipinya yang terasa panas dan spontan membuat air matanya mengalir, bukan karena rasa sakit di pipinya, namun di hatinya.

“Ma…!!” Mario, papa Olivia, langsung merangkul Olivia ketika mendengar keributan di dapur. “Kenapa Mama menampar Oliv?”

“Lihat hasil dari anak yang terlalu kamu manjakan!”

“Kenapa tidak bisa dibicarakan baik-baik sih, Ma?”

Dan pertengkaran semakin memanas dan membuat air mata Olivia semakin mengalir deras, “Pa.. Oliv ga apa-apa. Oliv mandi dulu, sebentar lagi Randy jemput.” ucap Olivia berusaha menghentikan pertengkaran kedua orangtuanya, dan memilih melangkah ke kamarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 93 - Still Mine

    Olivia membekap mulutnya, dia hampir tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Ivan. Dia menjatuhkan bokongnya di atas kasur. “Ka.. kamu..?”Ivan mengangguk, “Bisa dibilang, aku memperkosamu.. aku mengambil keperawananmu. Maafkan aku Olivia, aku..aku hanya tidak tahan melihatmu tersiksa..”Olivia masih menggelengkan kepalanya, mencoba menggali kenangan masa lalunya. Ya dia ingat bahwa dia merasakan kesakitan di inti tubuhnya namun kemudian kenikmatan yang bertubi-tubi. Dia merasa melakukannya dengan Ivan, dan dia sangat menikmati segala sentuhan lembut dari pria yang dicintainya itu. Dia tidak menyesal sama sekali. Tapi hari di saat dia terbangun keesokan paginya, yang sedang tertidur di sampingnya adalah Randy. Jadi Olivia berpikir bahwa dia hanya sedang bermimpi atau terlalu mabuk sehingga membayangkan Randy sebagai Ivan.“Ya Tuhan!!” hanya itu kata yang dapat diucapkan oleh Olivia.Ivan meraih tangan Olivia, “Maafkan aku Olivia.”“Jadi kamu melakukannya karena kasihan melihatk

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 92 - Flash back

    Flashback empat tahun lalu…Resepsi pernikahan berlangsung meriah, para tamu undangan sangat terpukau dengan kecantikan pengantin wanita. Banyak yang mengatakan Randy begitu beruntung bisa memiliki Olivia. Namun kemeriahan pesta berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Olivia.Jika benar mengenal Olivia, maka akan jelas terlihat ratapan sedih di balik senyum manisnya. Apalagi sejak kehadiran Ivan membuat konsentrasi Olivia benar-benar berantakan, bahkan ketika harus mengucapkan janji pernikahan, barisan kalimat yang berusaha dihafalnya dalam seminggu terakhir benar-benar hilang tanpa jejak. Bahkan ketika pendeta bertanya bersediakah dia menerima Randy menjadi suaminya, Olivia bahkan tidak menyadari pertanyaan itu tertuju padanya. Karena yang ada dalam benaknya hanyalah Ivander Elio.“Liv, kamu jangan minum terlalu banyak.” Ucap Steffany mengingatkan sahabatnya pada saat after party, acara seusai resepsi, dimana yang tersisa hanya pengantin dan juga teman-teman dekat, menikma

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 91 - Tes DNA

    Ivan memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya. “Kamu pegang saja ini, kapan kamu siap, kamu bisa memakainya. Aku akan menunggumu.”Olivia menerima kotak tersebut, “Ivan.. boleh aku meminta sesuatu?”“Katakan.”“Aku ingin mencobanya denganmu, tapi..” suara Olivia bergetar, “Jika aku tidak bisa memuaskanmu.. tolong jujur padaku dan tinggalkan aku. Aku tidak ingin terjebak di situasi yang sama.”Ivan terkejut dengan perkataan Olivia, dia bukanlah pria brengsek yang memaksakan gairahnya pada seorang wanita. “Liv..” protes Ivan.“Please, Van.” Air mata Olivia mengalir, “Aku tidak ingin kamu membuang waktu menungguku.”“Kamu yakin?”Olivia mengangguk dengan tegas, ya dia telah memutuskan, mungkin ini satu-satunya cara yang harus dipilihnya agar Ivan menyerah. Mungkin juga ini menjadi kenangan terindah yang akan selalu dia kenang.Ivan menatap dalam mata Olivia, Ivan tidak ingin melakukannya dalam kondisi seperti ini, tapi toh Ivan akhirnya setuju, karena hanya dengan cara ini bisa me

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 90 - Penolakan Olivia

    Dariel yang memasuki musim liburan diculik oleh Steffany ke luar kota bersama orangtua Ivan, membuat Olivia leluasa mengurung diri di kamar. Sudah dua minggu berlalu dan Ivan tidak pernah muncul di hadapannya, hanya pesan singkat yang memberi kabar bahwa dia sedang sibuk mengerjakan suatu project.Olivia tidak bertanya banyak, karena baginya mungkin Ivan hanya mencari alasan untuk menghindarinya. Ivan bahkan tidak meminta penjelasan apapun padanya. Dan hati Olivia mulai berhenti berharap pada kebahagiaan impiannya.Knock knockSuara ketukan mengagetkan Olivia dari lamunannya. Siapa yang datang? Olivia menghapus air matanya dan berjalan ke depan rumah.“Ivan?”Ivan tersenyum menatap Olivia yang terkejut dengan mata sembab. Dua minggu mereka tidak bertemu, Olivia nampak semakin kurus dengan pipi tirusnya. Ivan sengaja tidak menemui Olivia, karena dia tau Olivia perlu menenangkan diri, pun juga dengan dirinya sendiri.“Sudah makan?” tanya Ivan dengan senyum manisnya dan Olivia menggeleng

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 89 - Patah hati

    “Ana… tunggu.” Ana menghempaskan tangan Calvin yang mengejar dan menarik tangannya ketika berada di parkiran cafe.“Apa lagi?” tatap Ana dengan mata berkaca-kaca pada sosok pria tampan di hadapannya.“Aku bisa menjelaskan semua.” Ucap Calvin mengenggam tangan Ana dengan wajah penuh harap.Ana menghapus air matanya, “Kalau kamu memang dekat dengan Olivia, kenapa kamu harus mendekati aku??”“Aku dan Olivia sudah bersahabat sejak lama.” “Selingkuhan bertopeng sahabat?” ucap Ana sarkas.“Aku tidak berselingkuh. Kamu jangan percaya kata-kata Randy! Dia itu hanya mencoba menghancurkan kita semua. Dia sakit hati karena Olivia menceraikannya.”Ana tertawa sinis, “Randy mungkin berbohong, tapi Mama Ivan tidak mungkin berbohong kan?”“Maksud kamu?” Calvin mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti dengan ucapan Ana.“Kamu lupa pas ulang tahun Papa Ivan, Mama Ivan bilang dulu mereka pikir kalau Olivia akan menikah dengan kamu. Maksudnya apa? Apa yang kalian sembunyikan? Sebenarnya kalian ada hu

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 88 - Kemunculan Randy

    Olivia sedang menikmati makan malamnya bersama Ivan, Steffany, dan juga Calvin bersama pasangan mereka masing-masing di sebuah cafe. Tiga pasangan ini sering keluar bareng untuk sekedar makan atau pun nonton bioskop bersama.“Wah.. lagi ngumpul, koq ga ajak-ajak sih?” sebuah suara mengagetkan mereka saat sedang menikmati makan malam bersama.“Randy?” Olivia terkejut melihat kemunculan mantan suaminya yang menghilang bagai ditelan bumi.“Kenapa terkejut? Dariel di mana?”“Iel lagi di rumah Ivan.” Jawab Olivia singkat.Randy tersenyum sinis, “I see. Kalian seperti sedang triple dating.”Ivan tersenyum, “Perkiraanmu benar.” Ivan merangkul bahu Olivia seakan mengklaim bahwa wanita itu kini adalah miliknya.Randy tersenyum, tidak terpengaruh dengan tindakan provokasi Ivan. Pria itu kemudian menatap Ana dan Andrew dan kemudian memperkenalkan diri."Pacar Steffany?" tanyanya ketika menjabat tangan Andrew. Belum sempat Andrew mengiyakan, Ivan melanjutkan, "Sudah lebih dari sebulan belum? Bias

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 84 - Teman dekat

    Olivia tersenyum menatap dirinya di depan cermin, belakangan ini hubungannya dengan Ivan semakin dekat dan harmonis. Olivia meminta waktu pada Ivan, dia memberi kesempatan pada pria itu. Olivia belum berani untuk memantapkan dirinya menuju hubungan yang lebih serius, karena Olivia tau hal itu mempu

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 83 - Beri aku waktu

    Olivia menidurkan Dariel di atas kasur kemudian keluar dari kamar.“Liv..” Ivan seketika langsung berdiri.Olivia berjalan ke arah sofa dan kemudian duduk di hadapan Ivan, “Iel sudah tidur. Terima kasih sudah menemani Iel hari ini, setidaknya dia tidak terlalu sedih Calvin tidak datang.”Ivan terse

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 82 - Pembelaan diri Dariel

    Olivia mengabaikan telpon yang terus berbunyi tanpa henti. Sudah seminggu ini Ivan terus berusaha menghubunginya, mencarinya di kantor, tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya, dan entah berapa ratus pesan dan telpon yang terus membuat handphonenya kelelahan berdering.Olivia menghembuskan nafasny

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 81 - Berjuang bersama

    Ivan sedang duduk di sofa kamar tidurnya sambil memandang handphonenya, ingin rasanya dia menelpon Olivia, atau mengetik sebuah pesan. Namun keraguan besar menghampirinya. Apakah dia harus terus melangkah atau masih menarik ulur.Ivan memejamkan matanya, angannya kembali mengingat kejadian tiga pul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status