Home / Romansa / Masih Menjadi Milikku / Bab 6 - Pacaran?

Share

Bab 6 - Pacaran?

Author: Delf
last update Last Updated: 2025-07-18 14:04:20

“Kak Ivan tolong anterin Oliv ya. Kak Ivan masih ingat kan rumahnya?” Steffany melepaskan sepatu Calvin setelah dibantu oleh Ivan merebahkan tubuh sepupunya di atas kasur setelah mabuk berat.

“Kenapa harus aku?” sebelah alis Ivan terangkat.

“Ya tinggal kamu cowo satu-satunya. Mama ga mungkin mengijinkan aku nyetir malam begini. Calvin sih ini pake acara mabuk segala.” Steffany menggerutu.

Ivan membuka mulutnya tapi Steffany langsung melanjutkan, “Ga mungkin aku membiarkan Olivia pulang sendirian naik ojol. Kalau anak gadis orang kenapa-kenapa gimana?”

Akhirnya dengan keterpaksaan, Ivan akhirnya setuju dan kembali harus semobil dengan gadis keras kepala itu.

“Duduk depan!” ucap Ivan ketus sebelum Olivia membuka pintu mobil.

“Iyah, tau koq. Ga usa galak-galak gitu. Makin keliatan tua.”

“What? Kamu bilang apa?” Ivan menutup pintu mobilnya dengan cukup keras, menatap tajam Olivia.

Olivia menggidikkan bahunya, “Kan kemarin kamu sendiri yang bilang kamu lebih tua.”

“Lebih tua tapi bukan berarti terlihat tua!” cerca Ivan.

Olivia berusaha menahan tawanya dan memilih diam dan memasang sabuk pengamannya.

Ivan berusaha mengendalikan emosinya. Entah mengapa berada satu atmosfer bersama gadis ini membuat emosinya gampang tersulut. Di kepalanya mulai muncul satu per satu kecurigaan terhadap gadis misterius ini. Dia harus lebih berhati-hati.

“By the way, terima kasih kemarin uda mau mengaku sebagai driver ojol. Mungkin mamaku sedikit curiga karena ada driver ojol setampan kamu. Tapi waktu kamu manggil aku mbak, sepertinya mamaku langsung percaya.” Olivia tersenyum tulus.

Untung saja ini sudah malam sehingga Olivia tidak akan melihat rona wajah Ivan telah berubah menjadi merah karena dikatakan tampan. Ivan berusaha tidak masuk ke perangkap gadis itu, yang sepertinya seorang perayu ulung.

Ivan memilih untuk mengangguk singkat menjawab rasa terima kasih Olivia.

“Di mana kamu kenal Calvin?”

“Dia pelatih basketku pas SMA.”

Ivan cukup terkejut, “Kamu pemain basket?”

Olivia mengangguk, “Yeah pas SMA, sekarang sudah tidak.”

Pantas saja Olivia memiliki postur tubuh tinggi dan terlihat sedikit tomboy, ucap batin Ivan melihat sekilas ke arah Olivia.

“Dan Randy?”

Olivia tertawa, “Aku kira kamu anak teknik, ternyata jurusan jurnalis ya?”

Sebelah alis Ivan terangkat ke atas.

“Kepo banget mau tau urusan orang.” Tawa Olivia dan membuat Ivan merasa kesal karena telah di skatmat oleh gadis muda yang tidak tau diri ini.

“Kamu ga usa besar kepala. Aku hanya ingin memastikan kalo kamu tidak punya cowo lain sebelum mendekati sepupuku.” Ucap Ivan blak-blakan, sudah kepalang tanggung.

Bukannya marah, Olivia malah tertawa. “Aku sudah kenal dengan Calvin hampir empat tahun. Dia sudah cukup tau aku seperti apa.” Olivia tersenyum.

“Kalian pacaran?”

"Apakah penting untukmu?"

"Sebenarnya aku tidak akan peduli jika tidak menyangkut dengan sepupuku."

Sekali lagi Olivia tersenyum, “Well, Aku tidak akan mengatakan hal pribadi pada orang asing yang baru aku kenal. Sekali lagi terima kasih tumpangannya.” Ucap Olivia turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Ivan dan dengan riang masuk ke rumahnya. Entah mengapa tapi Olivia sangat suka melihat wajah Ivan yang terlihat kesal.

***

"Kamu dari mana jam segini baru pulang?" Seperti biasa, mama Olivia sudah menunggu di ruang tamu.

"Calvin ulang tahun, Ma. Kan Oliv uda bilang.."

"Kamu pacaran sama dia?"

Olivia menggeleng, "Oliv dan Calvin bersahabat."

"Kalau begitu, kamu harus menjauh dari dia!"

Olivia terkejut, "Ma, mama ga bisa maksa Olivia untuk menjauh dari Calvin! Mama uda kenal dia lama kan? Calvin pria yang baik. Kenapa Olivia tidak boleh berteman dengan dia? Salah Calvin apa, Ma? Coba jelaskan ke Oliv!" Kali ini emosi Olivia tersulut.

"Salah dia adalah terlalu dekat denganmu! Bagaimana bisa kamu mendapatkan pacar kalau dia selalu menempel sama kamu? Randy jadi ragu denganmu!"

"Ma, semua keinginan mama uda coba Oliv turuti. Bahkan ketika Mama menyuruh Olivia berpakaian seksi hanya untuk menemani Randy ke club malam, Oliv juga menuruti. Tapi tolong Ma, jangan pernah memaksa Oliv untuk memutuskan persahabatan Oliv dan Calvin! Karena Oliv tidak akan pernah melakukannya!" ucap Olivia geram dan berjalan menuju kamarnya.

Kali ini Olivia sudah tidak dapat menahan diri untuk tidak membantah sang mama. Walaupun terkesan kurangajar, namun Olivia hanya mencoba mempertahankan satu-satunya kebahagiaan yang masih bisa dia rasakan, yaitu persahabatannya dengan Steffany dan Calvin. Hanya mereka berdua yang masih bisa membuat Olivia tetap ingat bagaimana caranya tertawa dan tersenyum.

"Olivia, mama cuma ingin memberikan yang terbaik untukmu!!" teriak Lisa. Olivia menutup pintu kamarnya, mengacuhkan perkataan sang mama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 75 - Kita hanya teman

    “Liv, mau ke mana? Ga ikut makan?” Ivan terkejut melihat Olivia yang berjalan ke arah mobilnya, dan pria itu segera mengejarnya.“Engga, aku mau jemput Iel.”Ivan melihat jam tangannya, baru menunjukkan pukul lima sore. “Kamu tadi bilang Iel nonton bioskop sama Calvin.”“Iya, harusnya bentar lagi selesai. Aku juga ada janji makan malam dengan Calvin.”Ivan merasa kecewa namun dia mengangguk.“Kaki kamu uda ga papa? Bisa nyetir ga? Mau aku anter pulang?”Olivia tersenyum, “Uda ga papa koq, untung ga terkilir. Thanks ya.”Ivan tersenyum, “Yeah, sama-sama.”“Kak Ivan, ayo..” suara Nanda terdengar, mereka berdua menoleh pada sumber suara tersebut. Terlihat gadis cantik itu melambaikan tangan sambil tersenyum.“Uda ada yang nungguin tuh.” Ucap Olivia terdengar menggoda Ivan walau entah mengapa perasaannya sedikit sakit ketika mengatakan hal itu.“Ya uda, aku duluan ya. Ati-ati di jalan, Liv. Bye.”Olivia mengangguk dan melihat pria itu berlari sambil melambaikan tangan menuju Nanda. Olivi

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 74 - Memilih mundur

    “Ivan? Kamu di sini juga?” Olivia tiba-tiba merasa gugup. Pria yang sudah seminggu tidak pernah muncul batang hidungnya, ternyata kini berada di tempat yang sama dengannya.Ivan tersenyum, “Yeah, sekarang aku selalu di sini.”Olivia mengangguk. Jadi ini alasan Ivan tidak pernah muncul lagi?“Iel ga ikut?”Olivia menggeleng, “Iel lagi jalan sama Calvin dan Ana. Katanya mau nonton bioskop dengan keponakan Ana.”Ivan mengangguk, “Kalau gitu kamu ada waktu dong buat tanding basket?”Olivia tersenyum sambil menggeleng.“Kenapa? Takut kalah?” Tantang Ivan mengangkat sebelah alisnya.“Aku ke sini pengen main sama anak-anak, bukan mau mencari siapa yang lebih hebat.”Ivan tertawa, “Pertandingan itu tidak selalu mencari siapa yang terhebat. Anggap saja ini pertandingan persahabatan. Yang kalah traktir anak-anak makan.”Olivia memandang Ivan kemudian tersenyum, “Oke kalo gitu, aku yang duluan pilih team.”Ivan mengulurkan tangannya sembari sedikit membungkuk, “Silahkan, tuan putri.”Pertandinga

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 73 - Ga kangen aku?

    “Permisi, Bu. Pesanan makanannya sudah datang.” Lanny mengetuk pintu ruangan Olivia.Olivia meletakkan pulpennya dan mengkerutkan dahinya. “Makanan? Saya ga ada pesan makanan.”“Tapi nama dan alamatnya benar, Bu.” Ucap Lanny.“Ya uda, tolong taruh di meja sana aja, nanti saya lihat. Terima kasih, Lan.”Lanny mengangguk dan kemudian keluar ruangan setelah menaruh makanan tersebut. Olivia melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul dua belas, entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Mungkinkah Ivan datang lagi? Ya Tuhan, kenapa aku jadi memikirkan dia?Olivia melangkah menuju box makanan, membuka plastiknya, dan ternyata ada sebuah kertas catatan di sana.Sibuk boleh, tapi sakit jangan.Jangan telat makan. Happy lunch.-Client paling nyebelin-Olivia membaca catatan tersebut, dia terkejut, namun bibirnya tidak mampu menahan senyuman. Olivia membuka kotak tersebut, Nasi dan soto ayam. Senyuman kembali terlukis di wajah cantik wanita itu. Namun di dalam hatinya ada tanda tanya, me

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 72 - Busur panah

    Ivan membuka pintu rumah dan terdengar suara gelak tawa Steffany dan Calvin. Ivan melangkah lunglai, merasa iri melihat kedua saudaranya dapat tertawa lebar penuh kebahagiaan, sedangkan dirinya merasa hancur ditolak berkali-kali oleh wanita yang dicintainya.“Jadi gimana uda first kiss belum?” suara Steffany terdengar.“Menurutmu?” Calvin terkekeh.Steffany tertawa, “Manis mana ma bibir Olivia?”Ivan yang mendengar nama Olivia disebut langsung mendekat, “Kalian omongin apa?”Steffany dan Calvin terkejut, “Ini loh pasangan baru, ceritain pengalaman first kissnya.” Ucap Steffany terkekeh.“Aku denger ada Olivia disebut.”“Eheeemm… ada yang langsung cemburu dengar nama Olivia disebut.”“Kak, uda makan belum? Mama ada masak semur tuh.”“Aku uda makan di rumah Oliv.” Ivan duduk di samping Steffany.Steffany dan Calvin terkejut, saling menatap namun kemudian tertawa, “Ciieeeh cieeehh… ada yang CLBK nih ceritanya.” Goda Steffany.“Emang mereka pernah jadian?” Calvin bertanya serius pada Stef

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 71 - I like him so much

    Olivia melangkah duluan membuka pintu dan diikuti oleh Ivan.“Ivan..” Olivia tau bahwa dia harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Ivan berharap terlalu jauh padanya.“Ya?” Ivan memasang senyum terindahnya.“Terima kasih uda memberikan Iel mainan, dan mau main dengannya.” ucap Olivia dengan tulus.Ivan tersenyum, “No problem, aku suka main dengan Iel.”Olivia terdiam kemudian melanjutkan, “Aku harap kamu jangan terlalu memanjakan dia, dan.. jangan terlalu sering bertemu dia. A..aku tidak ingin dia bergantung pada kamu.”Ivan terkejut, ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya kelu. “Aku tidak ingin kamu menaruh harapan padaku.” Lanjut Olivia jujur.“Liv.. aku mencintai kamu. Dan itu bohong jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Kita tidak bisa terus-terusan menyangkalnya Liv.” Ivan spontan memegang pundak Olivia.Olivia memejamkan matanya mencari kekuatan, “Sudah terlambat. Keadaannya kini sudah berbeda, Van.”“Apa bedanya?”“Aku sudah pernah menikah, aku janda, punya anak satu.”“I

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 70 - Perasaan campur aduk

    “Mama.. hari ini Om Ivan datang ke rumah kan?” ucap Dariel menatap sang mama yang sedang menyetir.Olivia memandang sekilas ke arah Dariel, “Iel, Om Ivan sibuk.”“Tapi kemarin mama bilang, Om Ivan mau datang.” Protes Dariel kecewa.“Iel, Om Ivan kan juga ada kerjaan.”“Tapi mama kan uda janji. Iel mau main sama Om Ivan.” Dariel mulai merengek.“Dariel….” Ucap Olivia memberi penekanan.“Kan mama yang bilang kalau uda janji harus ditepati.”Olivia menarik nafas panjang, “Iya, tapi Om Ivan ga boleh sering-sering ke rumah, Nak.”“Kenapa, Ma? Kan Om Ivan teman mama. Papa Calvin juga sering ke rumah.”Seketika Olivia memijit keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa cekot-cekot, ini anak koq pinter banget ngelesnya, seperti.. Ivan. Ya Tuhan, kenapa harus Ivan lagi.Olivia berdeham, “Om Calvin dan Om Ivan berbeda, sayang.” Olivia lebih nyaman menyebut Calvin sebagai Om daripada papa.“Bedanya apa, Ma? Kata Om Ivan, dia dan mama uda temanan lama, Cuma Om Ivan harus pergi jauh untuk belajar biar j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status