Masuk“Kak Ivan tolong anterin Oliv ya. Kak Ivan masih ingat kan rumahnya?” Steffany melepaskan sepatu Calvin setelah dibantu oleh Ivan merebahkan tubuh sepupunya di atas kasur setelah mabuk berat.
“Kenapa harus aku?” sebelah alis Ivan terangkat.
“Ya tinggal kamu cowo satu-satunya. Mama ga mungkin mengijinkan aku nyetir malam begini. Calvin sih ini pake acara mabuk segala.” Steffany menggerutu.
Ivan membuka mulutnya tapi Steffany langsung melanjutkan, “Ga mungkin aku membiarkan Olivia pulang sendirian naik ojol. Kalau anak gadis orang kenapa-kenapa gimana?”
Akhirnya dengan keterpaksaan, Ivan akhirnya setuju dan kembali harus semobil dengan gadis keras kepala itu.
“Duduk depan!” ucap Ivan ketus sebelum Olivia membuka pintu mobil.
“Iyah, tau koq. Ga usa galak-galak gitu. Makin keliatan tua.”
“What? Kamu bilang apa?” Ivan menutup pintu mobilnya dengan cukup keras, menatap tajam Olivia.
Olivia menggidikkan bahunya, “Kan kemarin kamu sendiri yang bilang kamu lebih tua.”
“Lebih tua tapi bukan berarti terlihat tua!” cerca Ivan.
Olivia berusaha menahan tawanya dan memilih diam dan memasang sabuk pengamannya.
Ivan berusaha mengendalikan emosinya. Entah mengapa berada satu atmosfer bersama gadis ini membuat emosinya gampang tersulut. Di kepalanya mulai muncul satu per satu kecurigaan terhadap gadis misterius ini. Dia harus lebih berhati-hati.
“By the way, terima kasih kemarin uda mau mengaku sebagai driver ojol. Mungkin mamaku sedikit curiga karena ada driver ojol setampan kamu. Tapi waktu kamu manggil aku mbak, sepertinya mamaku langsung percaya.” Olivia tersenyum tulus.
Untung saja ini sudah malam sehingga Olivia tidak akan melihat rona wajah Ivan telah berubah menjadi merah karena dikatakan tampan. Ivan berusaha tidak masuk ke perangkap gadis itu, yang sepertinya seorang perayu ulung.
Ivan memilih untuk mengangguk singkat menjawab rasa terima kasih Olivia.
“Di mana kamu kenal Calvin?”
“Dia pelatih basketku pas SMA.”
Ivan cukup terkejut, “Kamu pemain basket?”
Olivia mengangguk, “Yeah pas SMA, sekarang sudah tidak.”
Pantas saja Olivia memiliki postur tubuh tinggi dan terlihat sedikit tomboy, ucap batin Ivan melihat sekilas ke arah Olivia.
“Dan Randy?”
Olivia tertawa, “Aku kira kamu anak teknik, ternyata jurusan jurnalis ya?”
Sebelah alis Ivan terangkat ke atas.
“Kepo banget mau tau urusan orang.” Tawa Olivia dan membuat Ivan merasa kesal karena telah di skatmat oleh gadis muda yang tidak tau diri ini.
“Kamu ga usa besar kepala. Aku hanya ingin memastikan kalo kamu tidak punya cowo lain sebelum mendekati sepupuku.” Ucap Ivan blak-blakan, sudah kepalang tanggung.
Bukannya marah, Olivia malah tertawa. “Aku sudah kenal dengan Calvin hampir empat tahun. Dia sudah cukup tau aku seperti apa.” Olivia tersenyum.
“Kalian pacaran?”
"Apakah penting untukmu?"
"Sebenarnya aku tidak akan peduli jika tidak menyangkut dengan sepupuku."
Sekali lagi Olivia tersenyum, “Well, Aku tidak akan mengatakan hal pribadi pada orang asing yang baru aku kenal. Sekali lagi terima kasih tumpangannya.” Ucap Olivia turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Ivan dan dengan riang masuk ke rumahnya. Entah mengapa tapi Olivia sangat suka melihat wajah Ivan yang terlihat kesal.
***
"Kamu dari mana jam segini baru pulang?" Seperti biasa, mama Olivia sudah menunggu di ruang tamu.
"Calvin ulang tahun, Ma. Kan Oliv uda bilang.."
"Kamu pacaran sama dia?"
Olivia menggeleng, "Oliv dan Calvin bersahabat."
"Kalau begitu, kamu harus menjauh dari dia!"
Olivia terkejut, "Ma, mama ga bisa maksa Olivia untuk menjauh dari Calvin! Mama uda kenal dia lama kan? Calvin pria yang baik. Kenapa Olivia tidak boleh berteman dengan dia? Salah Calvin apa, Ma? Coba jelaskan ke Oliv!" Kali ini emosi Olivia tersulut.
"Salah dia adalah terlalu dekat denganmu! Bagaimana bisa kamu mendapatkan pacar kalau dia selalu menempel sama kamu? Randy jadi ragu denganmu!"
"Ma, semua keinginan mama uda coba Oliv turuti. Bahkan ketika Mama menyuruh Olivia berpakaian seksi hanya untuk menemani Randy ke club malam, Oliv juga menuruti. Tapi tolong Ma, jangan pernah memaksa Oliv untuk memutuskan persahabatan Oliv dan Calvin! Karena Oliv tidak akan pernah melakukannya!" ucap Olivia geram dan berjalan menuju kamarnya.
Kali ini Olivia sudah tidak dapat menahan diri untuk tidak membantah sang mama. Walaupun terkesan kurangajar, namun Olivia hanya mencoba mempertahankan satu-satunya kebahagiaan yang masih bisa dia rasakan, yaitu persahabatannya dengan Steffany dan Calvin. Hanya mereka berdua yang masih bisa membuat Olivia tetap ingat bagaimana caranya tertawa dan tersenyum.
"Olivia, mama cuma ingin memberikan yang terbaik untukmu!!" teriak Lisa. Olivia menutup pintu kamarnya, mengacuhkan perkataan sang mama.
Olivia membekap mulutnya, dia hampir tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Ivan. Dia menjatuhkan bokongnya di atas kasur. “Ka.. kamu..?”Ivan mengangguk, “Bisa dibilang, aku memperkosamu.. aku mengambil keperawananmu. Maafkan aku Olivia, aku..aku hanya tidak tahan melihatmu tersiksa..”Olivia masih menggelengkan kepalanya, mencoba menggali kenangan masa lalunya. Ya dia ingat bahwa dia merasakan kesakitan di inti tubuhnya namun kemudian kenikmatan yang bertubi-tubi. Dia merasa melakukannya dengan Ivan, dan dia sangat menikmati segala sentuhan lembut dari pria yang dicintainya itu. Dia tidak menyesal sama sekali. Tapi hari di saat dia terbangun keesokan paginya, yang sedang tertidur di sampingnya adalah Randy. Jadi Olivia berpikir bahwa dia hanya sedang bermimpi atau terlalu mabuk sehingga membayangkan Randy sebagai Ivan.“Ya Tuhan!!” hanya itu kata yang dapat diucapkan oleh Olivia.Ivan meraih tangan Olivia, “Maafkan aku Olivia.”“Jadi kamu melakukannya karena kasihan melihatk
Flashback empat tahun lalu…Resepsi pernikahan berlangsung meriah, para tamu undangan sangat terpukau dengan kecantikan pengantin wanita. Banyak yang mengatakan Randy begitu beruntung bisa memiliki Olivia. Namun kemeriahan pesta berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Olivia.Jika benar mengenal Olivia, maka akan jelas terlihat ratapan sedih di balik senyum manisnya. Apalagi sejak kehadiran Ivan membuat konsentrasi Olivia benar-benar berantakan, bahkan ketika harus mengucapkan janji pernikahan, barisan kalimat yang berusaha dihafalnya dalam seminggu terakhir benar-benar hilang tanpa jejak. Bahkan ketika pendeta bertanya bersediakah dia menerima Randy menjadi suaminya, Olivia bahkan tidak menyadari pertanyaan itu tertuju padanya. Karena yang ada dalam benaknya hanyalah Ivander Elio.“Liv, kamu jangan minum terlalu banyak.” Ucap Steffany mengingatkan sahabatnya pada saat after party, acara seusai resepsi, dimana yang tersisa hanya pengantin dan juga teman-teman dekat, menikma
Ivan memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya. “Kamu pegang saja ini, kapan kamu siap, kamu bisa memakainya. Aku akan menunggumu.”Olivia menerima kotak tersebut, “Ivan.. boleh aku meminta sesuatu?”“Katakan.”“Aku ingin mencobanya denganmu, tapi..” suara Olivia bergetar, “Jika aku tidak bisa memuaskanmu.. tolong jujur padaku dan tinggalkan aku. Aku tidak ingin terjebak di situasi yang sama.”Ivan terkejut dengan perkataan Olivia, dia bukanlah pria brengsek yang memaksakan gairahnya pada seorang wanita. “Liv..” protes Ivan.“Please, Van.” Air mata Olivia mengalir, “Aku tidak ingin kamu membuang waktu menungguku.”“Kamu yakin?”Olivia mengangguk dengan tegas, ya dia telah memutuskan, mungkin ini satu-satunya cara yang harus dipilihnya agar Ivan menyerah. Mungkin juga ini menjadi kenangan terindah yang akan selalu dia kenang.Ivan menatap dalam mata Olivia, Ivan tidak ingin melakukannya dalam kondisi seperti ini, tapi toh Ivan akhirnya setuju, karena hanya dengan cara ini bisa me
Dariel yang memasuki musim liburan diculik oleh Steffany ke luar kota bersama orangtua Ivan, membuat Olivia leluasa mengurung diri di kamar. Sudah dua minggu berlalu dan Ivan tidak pernah muncul di hadapannya, hanya pesan singkat yang memberi kabar bahwa dia sedang sibuk mengerjakan suatu project.Olivia tidak bertanya banyak, karena baginya mungkin Ivan hanya mencari alasan untuk menghindarinya. Ivan bahkan tidak meminta penjelasan apapun padanya. Dan hati Olivia mulai berhenti berharap pada kebahagiaan impiannya.Knock knockSuara ketukan mengagetkan Olivia dari lamunannya. Siapa yang datang? Olivia menghapus air matanya dan berjalan ke depan rumah.“Ivan?”Ivan tersenyum menatap Olivia yang terkejut dengan mata sembab. Dua minggu mereka tidak bertemu, Olivia nampak semakin kurus dengan pipi tirusnya. Ivan sengaja tidak menemui Olivia, karena dia tau Olivia perlu menenangkan diri, pun juga dengan dirinya sendiri.“Sudah makan?” tanya Ivan dengan senyum manisnya dan Olivia menggeleng
“Ana… tunggu.” Ana menghempaskan tangan Calvin yang mengejar dan menarik tangannya ketika berada di parkiran cafe.“Apa lagi?” tatap Ana dengan mata berkaca-kaca pada sosok pria tampan di hadapannya.“Aku bisa menjelaskan semua.” Ucap Calvin mengenggam tangan Ana dengan wajah penuh harap.Ana menghapus air matanya, “Kalau kamu memang dekat dengan Olivia, kenapa kamu harus mendekati aku??”“Aku dan Olivia sudah bersahabat sejak lama.” “Selingkuhan bertopeng sahabat?” ucap Ana sarkas.“Aku tidak berselingkuh. Kamu jangan percaya kata-kata Randy! Dia itu hanya mencoba menghancurkan kita semua. Dia sakit hati karena Olivia menceraikannya.”Ana tertawa sinis, “Randy mungkin berbohong, tapi Mama Ivan tidak mungkin berbohong kan?”“Maksud kamu?” Calvin mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti dengan ucapan Ana.“Kamu lupa pas ulang tahun Papa Ivan, Mama Ivan bilang dulu mereka pikir kalau Olivia akan menikah dengan kamu. Maksudnya apa? Apa yang kalian sembunyikan? Sebenarnya kalian ada hu
Olivia sedang menikmati makan malamnya bersama Ivan, Steffany, dan juga Calvin bersama pasangan mereka masing-masing di sebuah cafe. Tiga pasangan ini sering keluar bareng untuk sekedar makan atau pun nonton bioskop bersama.“Wah.. lagi ngumpul, koq ga ajak-ajak sih?” sebuah suara mengagetkan mereka saat sedang menikmati makan malam bersama.“Randy?” Olivia terkejut melihat kemunculan mantan suaminya yang menghilang bagai ditelan bumi.“Kenapa terkejut? Dariel di mana?”“Iel lagi di rumah Ivan.” Jawab Olivia singkat.Randy tersenyum sinis, “I see. Kalian seperti sedang triple dating.”Ivan tersenyum, “Perkiraanmu benar.” Ivan merangkul bahu Olivia seakan mengklaim bahwa wanita itu kini adalah miliknya.Randy tersenyum, tidak terpengaruh dengan tindakan provokasi Ivan. Pria itu kemudian menatap Ana dan Andrew dan kemudian memperkenalkan diri."Pacar Steffany?" tanyanya ketika menjabat tangan Andrew. Belum sempat Andrew mengiyakan, Ivan melanjutkan, "Sudah lebih dari sebulan belum? Bias







