LOGINTangan sang notaris tampak sedikit bergetar saat dia merapatkan kedua dokumen itu di bawah sorot lampu meja yang terang. Dia mengeluarkan sebuah lup kecil dari tasnya, meneliti setiap lekukan tinta, tekanan pena, hingga kemiringan huruf pada tanda tangan tersebut. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Keheningan di ruangan itu begitu pekat, hanya didominasi oleh deru napas Rio yang semakin memburu.Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, sang notaris menarik napas panjang dan meletakkan kedua dokumen itu kembali ke meja dengan bahu yang tampak layu."Mohon maaf, Pak Rio...Setelah saya bandingkan dengan saksama antara spesimen tanda tangan asli di sertifikat ini dengan tanda tangan pada surat pernyataan pengalihan aset Anda... saya harus menyatakan bahwa keduanya tidak identik. Ada perbedaan signifikan pada tarikan garis akhirnya,” suara sang notaris terdengar berat dan ragu.“Lalu apa maksudnya? Aku tidak peduli apapun itu. Aku membayarmu mahal untuk menyelesaik
Ketegangan di dalam ruangan itu terasa semakin padat, seolah-olah udara telah membeku di antara mereka bertiga. Rio, dengan napas yang memburu karena rasa tidak sabar, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja jati yang dingin. “Keluarkan semua sertifikat asli kepemilikan aset perusahaan, tanah, dan saham atas namamu. Karena sekarang tiba waktunya semua dokumen itu akan beralih menjadi namaku!” teriak Rio. Dia menatap Bayu dengan pandangan lapar dan menuntut.Bagi Rio, biaya administrasi atau pajak balik nama yang selangit bukanlah halangan. Dia sudah membayangkan pundi-pundi uang yang akan mengalir masuk setelah gedung ini resmi berada di bawah kendalinya. Ia merasa telah memenangkan pertaruhan terbesar dalam hidupnya.Bayu, dengan ketenangan yang hampir tidak manusiawi, perlahan membuka brankas kecil di sudut mejanya. Tanpa suara, Dia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang berisi dokumen-dokumen paling krusial dalam kerajaan bisnisnya. Rio mencondongkan tubuh, ma
Begitu daun pintu terbuka, Rio tidak lagi memiliki sisa-sisa kesopanan. Dengan gerakan yang kasar dan penuh provokasi, dia menerobos masuk lebih dulu, sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Bayu dengan cukup keras sebagai simbol bahwa dialah yang kini memegang kendali. Rio melangkah lebar menyisir karpet bulu domba yang mewah di dalam ruangan itu, menuju meja besar dari kayu jati yang mengilap, dan tanpa ragu langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran komisaris.DIa menyandarkan punggungnya, memutar kursi itu ke kiri dan ke kanan dengan senyum kemenangan yang memuakkan. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja yang dingin, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.Bayu tetap berdiri di ambang pintu untuk beberapa saat. Dia tidak tampak terhina, tidak juga tampak meledak. Sebaliknya, dia hanya menggelengkan kepala perlahan sambil menyunggingkan senyum simpul yang misterius. Di belakangnya, sang notaris masuk dengan kepala tertunduk, wajahnya memerah menahan malu. Pria berkaca
Di balik pintu kayu yang tertutup rapat, Maudy duduk dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Dia bisa mendengar sayup-sayup suara gaduh dari luar, suara tendangan ke pintu dan teriakan pongah yang sangat dia kenali. Dengan napas yang tertahan, ia meraih ponselnya dan mengetikkan pesan singkat kepada Bayu."Bayu, Rio sudah ada di depan ruanganmu. Dia membawa notaris dan tampak sangat agresif. Dia membuat keributan dengan asistenmu dan security. Hati-hati, Bayu. Aku takut dia nekat melakukan hal lain.” tulis Maudy pada pesan yang dia kirim untuk Bayu.Hanya dalam hitungan detik, ponselnya bergetar. Balasan dari Bayu begitu tenang, kontras dengan kekacauan yang ada di luar sana."Aku sudah tahu. CCTV lobi dan lantai eksekutif tersambung ke ponselku. Tetaplah di dalam ruangan, Maudy. Kunci pintunya. Jangan temui dia meskipun dia mendobrak pintumu. Tunggu sampai aku sampai di sana,” balas Bayu.Maudy menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia membalas dengan sat
Setelah tendangan kerasnya pada pintu kayu jati itu hanya menghasilkan suara dentum hampa tanpa hasil, Rio terpaksa mundur dengan napas yang masih memburu. Dia menyadari bahwa memaksakan pintu itu terbuka hanya akan membuatnya tampak semakin menyedihkan di depan para karyawan yang kini mulai berbisik-bisik di balik partisi meja kerja mereka. Dengan sisa-sisa harga diri yang terluka, dia menghempaskan tubuhnya ke sebuah kursi kulit di sudut ruang tunggu, tepat di samping sebuah meja kaca kecil yang biasanya digunakan tamu untuk menunggu giliran audensi.“Kita tunggu saja di sini!” seru Rio sembari menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan kasar dan kesal.Sang notaris duduk di sampingnya dengan sangat kaku. Pria berkacamata itu terus menunduk, pura-pura sibuk memeriksa tumpukan dokumen di dalam mapnya hanya untuk menghindari kontak mata dengan siapa pun. Suasana di lantai eksekutif itu mendadak menjadi sangat dingin dan kaku, hanya didominasi oleh bunyi detik jam dinding yang seolah mengej
Setelah perdebatan sengit yang memalukan di lobi, Rio akhirnya menyerah dan melangkah menuju lift tamu dengan gerutu yang tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Notaris di sampingnya hanya bisa menunduk, memperbaiki letak kacamatanya berulang kali, merasa seolah-olah martabat profesinya sedang dipertaruhkan karena mendampingi pria yang temperamental seperti Rio.Lift bergerak naik perlahan. Setiap kali angka lantai di atas pintu lift bertambah, napas Rio semakin memburu. Dia sudah membayangkan dirinya duduk di kursi kebesaran Bayu, memutar kursi itu ke arah jendela, dan menatap kota sebagai penguasa mutlak. Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, Rio melangkah keluar dengan hentakan kaki yang keras di atas karpet mewah yang meredam suara. Namun tidak meredam aura kemarahan yang dia bawa.Dia melewati meja asisten yang biasanya ditempati oleh Cindy. Kini, di sana duduk seorang karyawan pria muda yang tampak cekatan, menggantikan posisi Cindy untuk sementara waktu. Karyawan i
Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. "Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau
Amarah yang sudah mencapai ubun-ubun membuat Rio benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia menyambar sebuah vas bunga kristal yang ada di atas nakas dan dengan gerakan membabi buta menghantamkannya ke arah Bayu.Prang!Vas itu hancur berkeping-keping. Bayu tidak sempat menghindar sepenuhnya, dan p
Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang
Suasana kamar itu mendadak sunyi sesenyap kuburan. Lyra, yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan, hampir saja memekik kegirangan mendengar keputusan perceraian Maudy dan Rio. Di dalam otaknya, dia sudah membayangkan dirinya menjadi nyonya besar dengan cara yang terhormat di rumah itu, menggantika







