Share

Bab 183

Penulis: Kak Han
last update Tanggal publikasi: 2026-04-26 19:23:48

Di lantai atas gedung perkantoran yang megah itu, suasana di dalam ruangan CEO terasa begitu kontras dengan ketegangan yang menyelimuti Rio dan Lyra di tempat lain. Maudy, yang semalam nyaris tidak bisa memejamkan mata karena didera ketakutan, kini duduk di sofa dengan tawa yang lepas. Da memegangi perutnya, membayangkan wajah Lyra yang memerah padam saat rencananya yang dianggap sempurna justru membentur tembok besi bernama logika Bayu.

​"Bayu, aku benar-benar ingin melihat wajahnya Lyra secar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 192

    Suasana di dalam ruangan luas itu mendadak terasa begitu sempit dan pengap. Bayu masih berdiri mematung, menatap asistennya yang tidak lain adalah adik angkatnya itu, sedang bersimpuh di lantai marmer yang dingin. Awalnya, Bayu dan Maudy hanya saling lirik. Mereka mengira ini hanyalah babak baru dari drama harian Cindy yang mungkin sebuah taktik agar tidak dimarahi karena melakukan kesalahan kerja atau sekadar rengekan manja untuk mencari simpati setelah kunjungan kemarin.​Namun, isak tangis Cindy kali ini terdengar berbeda. Ada getaran keputusasaan yang lebih dalam, yang membuat bulu kuduk Bayu meremang karena firasat buruk.​"Mas... aku sudah tidak bisa menahannya lagi," suara Cindy keluar terputus-putus di sela tangisnya. Ia mendongak, menatap Bayu dengan mata yang memerah dan basah. “Cindy, apa maksud kamu? Kenapa kamu bertindak aneh seperti ini?” tanya Bayu tanpa basa basi."Semalaman aku tidak bisa tidur Mas. Ucapan Ibu kemarin benar-benar menyakitiku,” jawab Cindy. Belum sem

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 191

    Pagi itu, gedung perkantoran masih terasa lengang. Lantai marmer yang baru saja dibersihkan memantulkan cahaya lampu koridor dengan sempurna. Cindy melangkah dengan napas yang sengaja dia atur agar tidak terdengar memburu. Dia tidak berhenti di meja asistennya yang berada di area terbuka, melainkan langsung menuju pintu jati besar menuju ruangan pribadi Bayu. Dengan kunci cadangan yang dia pegang sebagai asisten, dia menyelinap masuk ke dalam kesunyian ruangan itu.​Di dalam sana, aroma parfum maskulin Bayu yang khas masih tertinggal tipis, menyelimuti indra penciuman Cindy. Dia duduk di kursi tamu, meremas jemarinya yang dingin. Dia ingin menjadi kejutan pertama bagi Bayu hari ini, sebuah kejutan yang akan mengubah garis takdir mereka.​Sekitar lima belas menit kemudian, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki dari arah lorong. Bukan hanya satu pasang langkah, melainkan dua. Suara tawa kecil dan obrolan ringan menyertai langkah-langkah itu. Bayu dan Maudy sedang berjalan bersama men

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 190

    Malam itu, bukan hanya Maudy dan Lyra yang sedang dibuat sesak di dada memikirkan masalah. Tetapi situasi yang sama juga dirasakan oleh Cindy.Di dalam kamarnya yang kecil dan tertata rapi, Cindy duduk bersimpuh di tepi ranjang. Suasana sunyi hanya dipecahkan oleh isak tangisnya yang tertahan dan detak jam dinding yang seolah mengejek kegelisahannya. Debat panas dengan Ibunya tadi sore masih menyisakan perih di dadanya. Dia merasa dunia seolah tidak adil. Ibunya yang seharusnya menjadi pendukung utamanya, justru menjadi orang pertama yang meruntuhkan harapannya.​Namun, alih-alih menyerah, rasa sakit itu perlahan mengkristal menjadi sebuah kenekatan yang berbahaya. Cindy mengepalkan kedua tangannya di atas seprai, matanya menatap tajam ke arah foto kecil di atas meja riasnya. Di sana ada foto masa remaja mereka di mana Bayu merangkul pundaknya dengan hangat sebagai seorang kakak.​"Kita ini bukan saudara sedarah, Mas. Ibu boleh tidak setuju, dunia boleh menganggap ini salah, tapi aku

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 189

    Malam semakin larut. Akan tetapi bagi Lyra, kesunyian di apartemen mewahnya justru terasa memekakkan telinga. Dia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, tumit sepatunya sesekali mengetuk lantai marmer dengan irama yang mencerminkan kekacauan pikirannya. Rio telah menjadi tembok yang sulit ditembus. Egonya setinggi langit dan kecurigaannya terhadap Bayu telah mencapai titik paranoid.​Di sisi lain, Bayu bukanlah pria yang mudah digertak. Lyra merasa seperti sedang terjepit di antara dua batu besar yang siap menghimpitnya hingga hancur. Jika dia tidak segera mendapatkan tanda tangan salah satu dari mereka, rencana besarnya untuk menguasai lima puluh persen aset itu akan menguap begitu saja.​"Sialan! Rio ingin harta, Bayu ingin Maudy, tapi keduanya tidak ada yang mau melangkah lebih dulu. Jika begini terus, aku yang akan gigit jari!” umpat Lyra lirih sambil melempar ponselnya ke sofa.​Dia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Sebuah ide tiba-tiba melintas di benaknya. Sebuah la

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 188

    Pada kesempatan yang sama, di sebuah kelab privat yang eksklusif, jauh dari kebisingan kota, Rio dan Lyra duduk berhadapan di atas sofa kulit yang mewah. Ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya temaram dari lampu gantung kristal dan bara cerutu yang dihisap Rio. Di atas meja marmer di depan mereka, sebotol minuman mahal telah berkurang separuhnya, mencerminkan suasana hati mereka yang sedang merayakan kemenangan yang belum sepenuhnya digenggam.​Rio menyandarkan kepalanya, lalu tawa beratnya pecah memenuhi ruangan yang kedap suara itu. Dia membayangkan kembali nada suara Maudy di telepon tadi, sebuah kepuasan tersendiri baginya bisa mengusik ketenangan wanita itu.“Kamu ini kenapa Rio? Apa yang membuatmu tertawa?” tanya Lyra.​"Tentu saja Maudy. Kamu harusnya mendengar suaranya tadi, Lyra. Dia terdiam. Aku bisa merasakan napasnya yang tertahan di seberang telepon. Aku yakin, saat ini dia sedang menangis atau setidaknya gemetar ketakutan dan akan menelpon Bayu untuk bercerita! Hahahahh

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 187

    Setelah meninggalkan kediaman Ibu angkatnya dengan perasaan campur aduk, Bayu segera memacu mobilnya membelah kemacetan sore menuju satu-satunya tempat yang bisa memberinya kedamaian: rumah Maudy. Meski tadi Maudy melepasnya dengan senyuman tenang, Bayu tahu bahwa di balik ketenangan itu, Maudy pasti merasakan sedikit kegelisahan. Dia ingin membuktikan bahwa sejauh apa pun ia pergi, ia akan selalu kembali pada Maudy.​Setibanya di sana, suasana berubah menjadi sangat hangat. Ibunda Maudy menyambut Bayu dengan sukacita, menghidangkan teh hangat dan camilan sore di ruang makan yang diterangi cahaya lampu gantung berwarna kuning keemasan. Mereka duduk melingkar, tertawa menceritakan kejadian-kejadian lucu di kantor, sejenak melupakan bayang-bayang Lyra dan Rio yang mengintai.​"Nak Bayu ini kalau sudah kerja memang suka lupa waktu, Untung ada Maudy yang bisa mengingatkan,” ujar Ibunda Maudy sambil tersenyum tulus. Sangat berbeda dengan dirinya yang dulu membenci Bayu.​Bayu tertawa kecil

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 55

    Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 50

    Suasana kamar itu mendadak sunyi sesenyap kuburan. Lyra, yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan, hampir saja memekik kegirangan mendengar keputusan perceraian Maudy dan Rio. Di dalam otaknya, dia sudah membayangkan dirinya menjadi nyonya besar dengan cara yang terhormat di rumah itu, menggantika

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 49

    Amarah yang sudah mencapai ubun-ubun membuat Rio benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia menyambar sebuah vas bunga kristal yang ada di atas nakas dan dengan gerakan membabi buta menghantamkannya ke arah Bayu.​Prang!​Vas itu hancur berkeping-keping. Bayu tidak sempat menghindar sepenuhnya, dan p

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 48

    ​"Eh, Mbak Lyra juga," lanjut Bayu menatap Lyra dengan wajah polos yang menyebalkan. "Lipstiknya agak berantakan sedikit di sudut kiri. Mungkin tadi di mobil kena guncangan ya? Maklum, jalanan di sini memang tidak semulus janji-janji lelaki."​"Kamu... kamu lancang ya!" desis Lyra, wajahnya merah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status