LOGINKeheningan yang ditinggalkan Rio terasa begitu berat, menyelimuti ruangan luas itu seperti kabut tebal setelah badai berlalu. Maudy masih berdiri terpaku di dekat jendela, kedua tangannya saling meremas dengan jari-jari yang memucat. Suara makian Rio yang tadi menggema di lorong seolah masih terngiang di telinganya, meninggalkan getaran kecemasan yang merayap dari ujung kaki hingga ke dadanya.Maudy menarik napas panjang, tapidadanya terasa sesak. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Bayu yang kini kembali duduk dengan sangat tenang di kursi kebesarannya, seolah-olah baru saja menyelesaikan percakapan ringan tentang cuaca, bukan sebuah konfrontasi hidup dan mati."Bayu… kamu dengar apa yang dia katakan tadi? Dia tidak akan pernah melepaskanku. Dia akan mempersulit semuanya,” cemas Maudy dengan suara yang terdengar lirih. “Tenang sayang. Kamu tidak perlu cemas begitu,” sahut Bayu sambil menatap ke arah Maudy.Maudy pun melangkah mendekat ke meja kerja Bayu, matanya yang berkaca-ka
Ruangan komisaris yang luas itu mendadak terasa sempit akibat energi negatif yang dibawa Rio. Napas pria itu terdengar pendek-pendek dan berat, seperti seekor binatang buruan yang terpojok, tapi masih mencoba menunjukkan taringnya yang sudah tumpul. Dia berdiri di depan meja Bayu dengan tangan yang masih gemetar karena amarah, sementara matanya yang memerah menatap tajam ke arah map yang tersimpan di laci meja.“Cepat berikan surat cerai itu, atau aku akan bertindak gila yang tidak pernah kamu duga!” ancam Rio.Bayu tidak menunjukkan reaksi yang diharapkan Rio. Dia tidak panik, tidak marah, dan tidak pula terkejut. Dengan gerakan yang sangat lambat dan teratur, Bayu merapikan letak pulpen di atas mejanya, lalu menyilangkan tangan di depan dada. Dia menatap Rio seolah sedang mengamati sebuah fenomena yang menyedihkan, tapi menarik untuk dipelajari."Sudah aku katakan tadi, Rio. Kamu terlambat. Surat itu tidak lagi ada di gedung ini. Begitu kemarin aku melangkah keluar dari gedung pen
Rio terduduk lemas di atas lantai gudang yang dingin dan berdebu, napasnya masih tersengal akibat kemarahan yang meluap. Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah pikiran tiba-tiba melesat masuk ke dalam benaknya seperti kilat yang menyambar. Wajahnya yang semula pucat pasi perlahan berubah menjadi tegang, dan matanya membelalak lebar."Surat itu..." gumam Rio, suaranya parau.Dia teringat lembaran kertas yang dia tanda tangani dengan penuh kesombongan di depan Bayu, yakni surat gugatan cerai. Saat itu, dia merasa Maudy adalah beban yang tidak berharga, dan melepaskannya adalah harga kecil untuk kekayaan Bayu. Namun sekarang, saat kekayaan itu terbukti hanya fatamorgana, kenyataan bahwa dia telah memberikan kebebasan pada Maudy terasa seperti belati yang menusuk jantungnya."Tidak... aku tidak boleh membiarkan mereka menang! Aku sudah kehilangan aset itu, aku tidak boleh kehilangan kendali atas Maudy! Mereka tidak boleh bahagia di atas kehancuranku!" teriak Rio sambil ban
Mobil yang dikendarai Rio melaju dengan serampangan, membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membahayakan, saat meninggalkan perusahaan milik Bayu. Di balik kemudi, napas Rio tersengal-sengal, matanya memerah karena amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Rasa malu ditertawakan oleh Bayu dan dihina di depan notarisnya sendiri terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan harta itu sendiri.Dia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu mencari nama Lyra di daftar kontak. Begitu sambungan terhubung, dia tidak memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk menyapa."Temui aku di gudang tua tempat kita menyekap Maudy. Sekarang!" bentak Rio, suaranya parau dan penuh ancaman."Ada apa, Rio? Bukankah seharusnya sekarang kamu sedang merayakan kemenanganmu di kantor Bayu?" sahut Lyra dari seberang telepon, suaranya terdengar santai, seolah dia sedang menikmati segelas anggur di apartemennya."Jangan banyak tanya! Datang saja ke sini kalau kamu tidak mau aku habisi!" bentak Rio sambil
Tangan sang notaris tampak sedikit bergetar saat dia merapatkan kedua dokumen itu di bawah sorot lampu meja yang terang. Dia mengeluarkan sebuah lup kecil dari tasnya, meneliti setiap lekukan tinta, tekanan pena, hingga kemiringan huruf pada tanda tangan tersebut. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Keheningan di ruangan itu begitu pekat, hanya didominasi oleh deru napas Rio yang semakin memburu.Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, sang notaris menarik napas panjang dan meletakkan kedua dokumen itu kembali ke meja dengan bahu yang tampak layu."Mohon maaf, Pak Rio...Setelah saya bandingkan dengan saksama antara spesimen tanda tangan asli di sertifikat ini dengan tanda tangan pada surat pernyataan pengalihan aset Anda... saya harus menyatakan bahwa keduanya tidak identik. Ada perbedaan signifikan pada tarikan garis akhirnya,” suara sang notaris terdengar berat dan ragu.“Lalu apa maksudnya? Aku tidak peduli apapun itu. Aku membayarmu mahal untuk menyelesaik
Ketegangan di dalam ruangan itu terasa semakin padat, seolah-olah udara telah membeku di antara mereka bertiga. Rio, dengan napas yang memburu karena rasa tidak sabar, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja jati yang dingin. “Keluarkan semua sertifikat asli kepemilikan aset perusahaan, tanah, dan saham atas namamu. Karena sekarang tiba waktunya semua dokumen itu akan beralih menjadi namaku!” teriak Rio. Dia menatap Bayu dengan pandangan lapar dan menuntut.Bagi Rio, biaya administrasi atau pajak balik nama yang selangit bukanlah halangan. Dia sudah membayangkan pundi-pundi uang yang akan mengalir masuk setelah gedung ini resmi berada di bawah kendalinya. Ia merasa telah memenangkan pertaruhan terbesar dalam hidupnya.Bayu, dengan ketenangan yang hampir tidak manusiawi, perlahan membuka brankas kecil di sudut mejanya. Tanpa suara, Dia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang berisi dokumen-dokumen paling krusial dalam kerajaan bisnisnya. Rio mencondongkan tubuh, ma
Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. Lyra hanya tertawa k
Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang
Pagi itu, Bayu datang terlambat. Dia sedikit berlari menuju pintu masuk. Langkah kaki Bayu terhenti di lobi utama gedung perkantoran mewah itu saat Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Sebuah rekor keterlambatan baginya yang biasanya selalu datang paling awal. Pikir
Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. "Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau







