INICIAR SESIÓNDada Maudy bergemuruh hebat. Jemarinya yang agak bergetar segera mengetik tombol panggilan cepat ke nomor ponsel suaminya. Hanya dalam satu kali nada dering, sambungan telepon langsung terhubung."Mas.. Apa kamu sudah baca pesan dari Tasya?" tanya Maudy, suaranya bergetar menahan gejolak cemas dan amarah yang bercampur aduk.Di lorong rumah sakit yang dingin dan sepi, Bayu menyandarkan punggungnya pada dinding putih. Suara baritonnya terdengar sangat rendah dan berat saat menjawab. "Sudah, Maudy. Aku baru saja membacanya.""Mas, ini benar-benar jebakan! Aku sangat mengkhawatirkan Cindy, Mas. Dia sedang berjuang antara hidup dan mati di bawah sana. Tapi... tapi aku juga tidak rela kalau kita harus menyerahkan posisi penting di perusahaan kepada Tasya! Dia sangat licik. Kalau dia mendapatkan posisi Pelaksana Harian itu secara resmi, dia akan memakai segala cara untuk menjatuhkanmu dan menguasai perusahaan!" cemas Maudy. Matanya menatap nanar ke arah layar ponsel.Bayu menghembuskan
Ketegangan di ruang tamu kediaman Heru kian memuncak. Napas Mama Tasya masih memburu, matanya memancarkan penolakan keras atas ide suaminya. Bagi wanita paruh baya itu, mendonorkan darah kepada orang yang dianggap sebagai saingan anak tunggalnya adalah sebuah penghinaan.Tasya yang semula berdiri terpaku ikut merenungkan kata-kata mamanya. Pada awalnya, ia sama sekali tidak setuju. Pikiran pertamanya selaras dengan sang mamanya. Buat apa juga harus menyelamatkan nyawa Cindy? Orang yang selama ini menjadi benteng pertahanan Bayu di jajaran sekretariat? Jika Cindy tewas malam ini, bukankah posisinya otomatis kosong?Namun, tatkala mata Tasya kembali melirik penghitung waktu di layar ponselnya, yang memperlihatkan betapa kritisnya situasi di rumah sakit, sebuah kilatan ide licik yang jauh lebih besar dan berbahaya mendadak terlintas di dalam benaknya. Otak manipulatifnya bekerja dengan sangat cepat, menghubungkan setiap titik peluang.Tasya melangkah mendekati mamanya, lalu memegang k
Satu jam berlalu terasa bagaikan siksaan yang tak berujung bagi Bayu. Koridor di luar ruang operasi RS Medika diselimuti keheningan yang mencekam, hanya diselingi oleh derak roda brankar atau suara langkah tergesa-gesa petugas medis. Ponsel di genggaman Bayu terus bergetar, namun ribuan pesan dan telepon yang masuk belum juga membuahkan hasil. Mayoritas dari mereka yang menghubungi ternyata tidak memenuhi syarat medis, atau salah memahami jenis golongan darah langka tersebut. Pintu ganda ruang operasi mendadak terbuka. Dokter bedah keluar dengan gaun operasi yang masih bernoda darah, melepas maskernya dengan raut wajah yang sangat tegang dan memancarkan keputusasaan yang mendalam. "Pak Bayu..." panggil dokter bedah tersebut, suaranya terdengar begitu kaku. Bayu langsung menegakkan tubuhnya, melangkah cepat menghampiri sang dokter. "Dokter! Bagaimana kondisi di dalam? Apakah ada perkembangan?" "Tindakan pembedahan darurat untuk menutup pendarahan di organ dalam Mbak Cindy su
Di tengah kepanikan yang kian mencekik di lorong dingin luar ruang gawat darurat, Bayu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Setiap detik yang terbuang terasa seperti vonis yang semakin mendekatkan Cindy pada bahaya kematian. Pria itu menatap dokter bedah dan petugas laboratorium dengan sorot mata yang penuh tekanan."Dokter, berapa lama lagi Cindy bisa bertahan tanpa transfusi darah saat operasi?" tanya Bayu, suaranya terdengar tajam dan menuntut.Sang Dokter yang juga memantau kondisi umum rumah sakit bersama tim bedah menggelengkan kepala pelan. "Paling lambat dua jam dari sekarang, Pak Bayu. Jika dalam rentang waktu itu pendarahan dalam di area dada tidak segera ditangani dan pasokan darah tidak masuk, organ vitalnya akan mengalami gagal fungsi satu per satu. Pasien tidak akan bertahan."Bayu menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Otak bisnisnya yang biasa dingin dan penuh perhitungan kini dipaksa bekerja dalam mode darurat. Ketiadaan stok dara
Malam yang semula diliputi kehangatan dan gelak tawa manis di dalam kamar rawat VIP itu mendadak berubah tegang dalam hitungan detik setelah ada panggilan telepon dari Cindy."Apakah anda kenal dengan pemilik ponsel ini? Saya mau memberikan informasi jika pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan!" suara seorang pria dari seberang telepon terdengar tergesa-gesa dengan latar belakang kebisingan sirene dan langkah kaki yang sibuk.Bayu sangat terkejut dan panik. Panggilan telepon itu tidak berlangsung lama. Pria itu memberikan informasi jika Cindy sudah dilarikan ke Rumah Sakit. Dan kebetulan, itu adalah rumah sakit yang sama tempat Maudy dirawat."Baik! Terima kasih! Saya akan langsung ke IGD!" tegas Bayu sebelum memutus panggilan secara sepihak.Melihat raut wajah suaminya yang mendadak pucat pasi dan berdiri terburu-buru, Maudy yang bersandar di tempat tidur seketika dilanda cemas. "Mas... ada apa? Ngapain kamu mau ke IGD?"Bayu memegang kedua pundak Maudy, menatap istrinya dengan
Malam kian larut di kamar rawat VIP rumah sakit. Jika di tempat lain Tasya dan orang tuanya sedang sibuk merangkai benang-benang ide licik dan diliputi kepahitan, di dalam ruangan yang hening ini justru tercipta sebuah dunia kecil yang dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan yang membuncah.Cahaya lampu kamar sengaja diredupkan oleh Bayu, menyisakan pendar kuning lembut yang hangat di sudut ruangan. Suasana terasa begitu intim dan damai. Mual yang sempat menyiksa Maudy sejak fajar tadi perlahan meluruh, berganti dengan rasa nyaman yang luar biasa berkat kehadiran Bayu yang tak beranjak sedikit pun dari sisinya.Bayu duduk di tepi ranjang, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di samping Maudy. Salah satu lengan kokohnya melingkar protektif di bahu sang istri, sementara tangan satunya lagi terulur pelan, mengusap lembut perut Maudy yang terbalut selimut tipis.Meskipun perut itu masih terlihat datar dan belum menunjukkan tatanan benjolan kehamilan, fakta bahwa ada empat nyawa ke
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.







