Se connecterSatu jam berlalu terasa bagaikan siksaan yang tak berujung bagi Bayu. Koridor di luar ruang operasi RS Medika diselimuti keheningan yang mencekam, hanya diselingi oleh derak roda brankar atau suara langkah tergesa-gesa petugas medis. Ponsel di genggaman Bayu terus bergetar, namun ribuan pesan dan telepon yang masuk belum juga membuahkan hasil. Mayoritas dari mereka yang menghubungi ternyata tidak memenuhi syarat medis, atau salah memahami jenis golongan darah langka tersebut.Pintu ganda ruang operasi mendadak terbuka. Dokter bedah keluar dengan gaun operasi yang masih bernoda darah, melepas maskernya dengan raut wajah yang sangat tegang dan memancarkan keputusasaan yang mendalam."Pak Bayu..." panggil dokter bedah tersebut, suaranya terdengar begitu kaku.Bayu langsung menegakkan tubuhnya, melangkah cepat menghampiri sang dokter. "Dokter! Bagaimana kondisi di dalam? Apakah ada perkembangan?""Tindakan pembedahan darurat untuk menutup pendarahan di organ dalam Mbak Cindy sudah sel
Di tengah kepanikan yang kian mencekik di lorong dingin luar ruang gawat darurat, Bayu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Setiap detik yang terbuang terasa seperti vonis yang semakin mendekatkan Cindy pada bahaya kematian. Pria itu menatap dokter bedah dan petugas laboratorium dengan sorot mata yang penuh tekanan."Dokter, berapa lama lagi Cindy bisa bertahan tanpa transfusi darah saat operasi?" tanya Bayu, suaranya terdengar tajam dan menuntut.Sang Dokter yang juga memantau kondisi umum rumah sakit bersama tim bedah menggelengkan kepala pelan. "Paling lambat dua jam dari sekarang, Pak Bayu. Jika dalam rentang waktu itu pendarahan dalam di area dada tidak segera ditangani dan pasokan darah tidak masuk, organ vitalnya akan mengalami gagal fungsi satu per satu. Pasien tidak akan bertahan."Bayu menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Otak bisnisnya yang biasa dingin dan penuh perhitungan kini dipaksa bekerja dalam mode darurat. Ketiadaan stok dara
Malam yang semula diliputi kehangatan dan gelak tawa manis di dalam kamar rawat VIP itu mendadak berubah tegang dalam hitungan detik setelah ada panggilan telepon dari Cindy."Apakah anda kenal dengan pemilik ponsel ini? Saya mau memberikan informasi jika pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan!" suara seorang pria dari seberang telepon terdengar tergesa-gesa dengan latar belakang kebisingan sirene dan langkah kaki yang sibuk.Bayu sangat terkejut dan panik. Panggilan telepon itu tidak berlangsung lama. Pria itu memberikan informasi jika Cindy sudah dilarikan ke Rumah Sakit. Dan kebetulan, itu adalah rumah sakit yang sama tempat Maudy dirawat."Baik! Terima kasih! Saya akan langsung ke IGD!" tegas Bayu sebelum memutus panggilan secara sepihak.Melihat raut wajah suaminya yang mendadak pucat pasi dan berdiri terburu-buru, Maudy yang bersandar di tempat tidur seketika dilanda cemas. "Mas... ada apa? Ngapain kamu mau ke IGD?"Bayu memegang kedua pundak Maudy, menatap istrinya dengan
Malam kian larut di kamar rawat VIP rumah sakit. Jika di tempat lain Tasya dan orang tuanya sedang sibuk merangkai benang-benang ide licik dan diliputi kepahitan, di dalam ruangan yang hening ini justru tercipta sebuah dunia kecil yang dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan yang membuncah.Cahaya lampu kamar sengaja diredupkan oleh Bayu, menyisakan pendar kuning lembut yang hangat di sudut ruangan. Suasana terasa begitu intim dan damai. Mual yang sempat menyiksa Maudy sejak fajar tadi perlahan meluruh, berganti dengan rasa nyaman yang luar biasa berkat kehadiran Bayu yang tak beranjak sedikit pun dari sisinya.Bayu duduk di tepi ranjang, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di samping Maudy. Salah satu lengan kokohnya melingkar protektif di bahu sang istri, sementara tangan satunya lagi terulur pelan, mengusap lembut perut Maudy yang terbalut selimut tipis.Meskipun perut itu masih terlihat datar dan belum menunjukkan tatanan benjolan kehamilan, fakta bahwa ada empat nyawa ke
Tasya melangkah keluar dari gedung rumah sakit dengan napas yang memburu dan dada yang bergemuruh hebat oleh amarah yang tertahan. Begitu melewati pintu kaca otomatis dan menginjakkan kaki di pelataran parkir, topeng kesantunan yang sejak tadi ia kenakan runtuh total.Tanpa peduli pada beberapa pengunjung rumah sakit yang melintas, Tasya menghentakkan kakinya kasar ke atas aspal, lalu melempar tas tangannya ke kursi penumpang saat ia membuka pintu mobilnya."Sialan! Kurang ajar sekali mereka!" Umpat Tasya sambil meremas kuat kemudi mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih.Rasa malu dan amarah bercampur menjadi satu, membakar habis sisa rasa percaya dirinya. Bayangan wajah Maudy yang menyindirnya secara halus di depan Bayu dan Ibu Maudy terus berputar-putar di otaknya bagai kaset rusak."Maudy bodoh! Perempuan tidak tahu diri! Dia sengaja melakukan itu untuk mempermalukanku di depan Pak Bayu! Dia berpura-pura kuat padahal tubuhnya ringkih begitu, hanya demi menggagalkan rencanaku
Maudy merebahkan kepalanya kembali ke tumpukan bantal empuk rumah sakit. Kelopak matanya perlahan-lahan memberat, lalu ia mengembuskan napas panjang yang terdengar teramat lelah. Wajahnya sengaja ia buat sedikit meredup, menyiratkan daya tahan tubuhnya yang seolah-olah sudah berada di batas paling bawah."Ibu... Tasya..." panggil Maudy dengan suara yang diatur sedemikian rupa. Terdengar serak, pelan, dan sarat akan rasa kantuk yang teramat sangat. "Maaf ya... sepertinya efek obat dari dokter mulai bekerja. Kepala Maudy mendadak terasa berat sekali dan mataku sangat mengantuk. Maudy mau tidur sebentar..."Mendengar ucapan putrinya, Ibu Maudy seketika memelankan pergerakannya. Wajah paruh baya itu diliputi rasa iba dan pengertian yang mendalam. Naluri keibuannya langsung mengambil alih."Astaga, iya, Nak... tidur dan istirahatlah," bisik Ibu Maudy pelan sembari mengusap dahi Maudy dengan penuh kasih sayang. Ia kemudian menoleh ke arah Tasya, mengisyaratkan keponakannya itu dengan ger
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k







