FAZER LOGIN“Mendiang ibumu memang menitipkan Cindy, tapi bukan berarti kamu harus menggenggam hidupnya selamanya! Reno ini pria bertanggung jawab, dia punya niat baik mau menikahi Cindy. Kamu harusnya bersyukur dan melepaskan Cindy, bukannya menahan-nahan dia seperti ini!" cerocos Ibu mertua Bayu."Ibu, Bayu cuma mau kejelasan latar belakang Reno!" tegas Bayu, napasnya mulai naik turun menahan kegeraman atas tuduhan berulang dari ibu mertuanya."Tidak perlu dicari-cari kesalahannya, Bayu! Pria mana pun pasti bakal takut melamar Cindy kalau kakak angkatnya posesif seperti ini!" balas Ibu Maudy tajam, melayangkan tuduhan yang makin menyudutkan."Cukup, Bu!" sela Maudy dari brankarnya dengan napas memburu. "Jangan memojokkan Mas Bayu terus! Mas Bayu cuma menjalankan amanat almarhumah!""Kamu jangan ikut-ikutan, Maudy! Ibu ini memikirkan masa depanmu dan adikmu!" sahut Ibu Maudy keras.Perdebatan verbal yang kian memanas dan memenuhi ruang VIP yang tertutup itu mendadak memicu ketidaknyamanan b
Suasana di dalam ruang VIP itu kian memanas. Pandangan Bayu tak bergeser sedikit pun dari wajah Reno. Sebagai pria berpengalaman yang terbiasa membaca karakter orang di dunia bisnis, intuisinya membisu. Kedatangan pria yang tak pernah terdengar namanya ini terlalu mulus, terlalu rapi, dan terjadi di saat yang sangat tidak tepat."Duduk dulu, Reno," tegas Bayu dengan suara berat. "Aku hanya ingin kejelasan. Sejak kapan kamu kenal Cindy? Kenapa baru sekarang kamu memunculkan diri? Dan usaha apa persisnya yang mau kamu jalankan di Surabaya?"Reno menarik napas pelan, lalu mulai menjawab.“Saya memang baru kenal Cindy, tapi saya serius mau nikah sama dia,” “Apa bukti keseriusan kamu? Kamu tau kan, menikah itu untuk selamanya. Nggak bisa asal asalan. Bukan cuma butuh cinta, tapi juga tanggung jawab secara materi!” tegas Bayu. Tampak sekali raut kecemasan di wajahnya.Dia tidak bisa percaya begitu saja pada Reno, yang tiba tiba hadir di hadapannya lalu berniat menikahi Cindy dan membawa
Kalimat singkat yang keluar dari bibir Cindy bagaikan petir di siang bolong. Ruangan VIP rumah sakit yang beberapa detik lalu dipenuhi gelak tawa dan gurauan hangat seketika berubah hening total. Hanya terdengar dengung halus dari mesin inkubator Baby ABCD di sudut ruangan, diiringi helaan napas kaget dan tatapan heran dari hampir semua orang yang ada di sana.Maudy yang bersandar di tempat tidur menegakkan punggungnya refleks, menatap adik angkatnya itu dengan mata berbinar kaget bercampur curiga. "Cindy?! Kamu bicara apa sih?! Menikah? Pindah keluar kota?!"Sikap Bayu tak kalah tegang. Pria itu berdiri tegap di samping brankar, memasang badan dengan raut wajah dingin khas pengusaha yang sedang menginterogasi lawan bicaranya. Selama ini Cindy hampir tidak pernah bercerita soal pria mana pun, apalagi yang begitu serius hingga membicarakan pernikahan. Kedatangan sosok pria asing bernama Reno ini terasa sangat tidak masuk akal, misterius, dan memicu tanda tanya besar di dalam benak Ba
"Lho, kenapa tidak?" goda Ibu Maudy seraya mencubit gemas pipi Tasya. "Tante malah makin bangga sama Andra. Syarat mahar dari Papamu yang seberat gunung itu saja sanggup dia tuntaskan dalam waktu tiga bulan tanpa mengeluh sepeser pun. Pria dengan tanggung jawab dan mental sekuat Andra ini pasti sanggup membesarkan anak kembar."Andra tersenyum lebar seraya menunduk santun. "Terima kasih banyak atas dukungannya, Tante. Nasihat dan doa dari Tante pasti jadi penyemangat saya.""Sama-sama, Nak Andra. Tante melihat kesungguhanmu dari awal," puji Ibu Maudy tulus. Lalu ia menoleh lagi pada Tasya yang makin salah tingkah. "Lagipula ya Tasya... Papamu itu kan cuma punya kamu seorang. Rumah Heru itu terlalu sepi. Bayangkan kalau nanti kamu dan Andra punya anak kembar tiga atau empat, wah... rumah Papamu pasti langsung ramai dan penuh tawa tiap hari!""Betul banget, Bu!" seru Maudy mengacungkan dua jempolnya dari atas brankar. "Nanti rumah Om Heru bakal heboh sama suara anak-anak berlarian!"
Tawa di ruang VIP rumah sakit itu belum sepenuhnya mereda ketika Andra mendadak mengalihkan pandangannya dari empat inkubator mungil tersebut ke arah Tasya. Melihat betapa antusias dan gemasnya Tasya menatap bayi-bayi kembar itu, sebuah ide jahat untuk menggoda calon istrinya mendadak terlintas di kepala Andra.Andra melangkah mendekati Tasya, lalu menyandarkan siku di pinggir brankar Maudy dengan mengulas senyuman jahat nan memikat."Kamu kelihatan gemas banget ya, Tasya, melihat Arka, Bagas, Cakra, sama Daffa?" tanya Andra dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut namun sarat akan godaan.Tasya mendongak, menyapu rambutnya ke belakang telinga tanpa curiga. "Iya lah! Siapa yang tidak gemas melihat empat bayi lucu begini? Mukanya mirip Mas Bayu semua lagi.""Kalau gitu..." Andra mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik dengan intonasi menggoda yang pas di telinga Tasya, "Nanti setelah kita nikah, kita minta sama Tuhan biar dikasih anak kembar juga ya? Minimal kembar tiga atau e
Sementara di kediaman Heru, suasana di ruang tamu itu terasa sangat bertolak belakang dengan ketegangan tiga bulan lalu. Lampu di ruangan menyinari meja kaca yang kini dipenuhi oleh berkas kepemilikan satu unit rumah megah, sertifikat asli logam mulia seberat satu kilogram, serta laporan saldo rekening resmi atas nama Tasya yang mengonfirmasi dana tunai lebih dari dua miliar rupiah.Heru duduk di sofa utamanya, memeriksa setiap lembar dokumen tersebut dengan teliti. Di sampingnya, Mama Tasya tersenyum lega, sedangkan Tasya berdiri di dekat jendela seraya menatap Andra dengan mata berbinar penuh kebahagiaan dan rasa bangga yang tak membendung.Andra duduk tegap di hadapan Heru. Tanpa didampingi Bayu di sisinya, keberanian dan harga diri Andra justru makin memancar kuat.Heru perlahan merapikan berkas-berkas tersebut, lalu menghela napas panjang. Pria tua yang biasanya berwajah dingin dan mengintimidasi itu kini menatap Andra dengan binar apresiasi yang mendalam. Sebuah senyuman leba
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.







