แชร์

Bab 54

ผู้เขียน: Kak Han
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-14 15:27:13

Begitu pintu kontrakan Bayu terbuka, Ibu Maudy tidak lagi mempedulikan sopan santun atau izin dari Bayu. Ia langsung menerobos masuk, melewati tubuh Bayu yang sempat mematung di ambang pintu. Matanya seketika tertuju pada sosok yang meringkuk di atas kasur tanpa dipan tersebut. Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip redup, ia melihat putrinya tertidur dengan sisa air mata yang mengering di pipi.

​"Maudy! Ya Tuhan, Maudy!"

​Ibu Maudy menghambur dan langsung memeluk tubuh putrinya. Guncangan da
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Yusuf Ansyari
makin seru
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 377

    Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela ruang makan yang tenang. Aroma nasi goreng dan kopi mint kesukaan Bayu sudah menguar di udara. Namun, suasana hangat itu mendadak pecah oleh suara sendok yang berdenting keras di atas piring kaca.​Maudy yang baru saja menyuap sesendok kecil sarapannya tiba-tiba meletakkan sendoknya kembali. Wajah cantiknya seketika kehilangan warna, berubah menjadi pucat pasi. Sebelah tangannya refleks mencengkeram pinggiran meja, sementara tangan lainnya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat.​"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Bayu, langsung meletakkan cangkir kopinya. Guratan cemas seketika tercetak jelas di wajah tampannya.​"Pusing, Mas... kepala aku mendadak berputar," bisik Maudy lirih. belum sempat Bayu menjawab, Maudy membekap mulutnya sendiri. Rasa mual yang teramat sangat menyodok dadanya. Tubuhnya gemetar dan lemas, kehilangan seluruh tenaga hingga ia nyaris terkulai dari kursi jika Bayu tidak dengan cekatan menangkap tubuhnya.​

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 376

    Maudy yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bayu bisa merasakan dada suaminya naik-turun karena sisa kekehan pelan. Aroma maskulin khas tubuh Bayu yang bercampur dengan sabun mandi malam benar-benar menjadi candu yang menenangkan bagi Maudy. Rasa cemas akibat ulah Tasya tadi siang seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang teramat dalam.​"Tapi, Mas… Memangnya tadi di koridor tidak ada staf lain yang melihat? Maksudku, kalau Tasya sampai hampir jatuh begitu, apa sekretarismu tidak menolongnya?" Maudy mendongak lagi, menatap wajah tampan suaminya dengan mata bulatnya yang jernih.​Bayu menaikkan sebelah alisnya, jemarinya beralih memainkan ujung rambut Maudy yang bergelombang. "Sekretarisku? Dia justru berdiri kaku di belakangku sambil menahan napas. Begitu kami masuk lift, dia langsung batuk-batuk kecil menahan tawa. Aku rasa, kalau tidak ada aku di sana, dia sudah terpingkal-pingkal di depan wajah Tasya."​Maudy tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Kamu

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 375

    Malam kembali menjemput kota, dan di dalam kamar utama yang hangat, suasana tenang itu kembali tercipta. Setelah makan malam bersama yang santai, Bayu dan Maudy kini sudah berada di atas tempat tidur. Bayu bersandar santai di kepala ranjang dengan kaos santai berwarna abu-abu, sementara Maudy merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung Bayu yang konstan. Sebelah tangan Bayu bergerak lambat, mengusap bahu Maudy dengan penuh kasih sayang.​"Sayang, kamu tahu tidak? Hari ini aku menonton sebuah pertunjukan komedi gratis di koridor kantor," celetuk Bayu tiba-tiba, memecah keheningan malam dengan nada suara yang terdengar sangat geli.​Maudy mendongak, menatap dagu kokoh suaminya dari bawah. "Komedi? Memangnya siapa yang melucu di kantor, Mas? Jangan bilang anak-anak direksi membuat masalah lagi."​Bayu terkekeh rendah, suara tawa baritonnya bergetar di dada, membuat Maudy bisa merasakannya langsung. "Bukan mereka. Tapi sepupumu yang luar biasa itu, Tasy

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 374

    ​Tasya berlutut di atas lantai marmer yang dingin, jemarinya memungut kertas-kertas laporan dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia mengatur napasnya agar terdengar sedikit terengah, sementara matanya melirik dari balik helaian rambutnya yang sengaja dibiarkan jatuh berantakan membingkai wajah pucat buatannya.Langkah kaki tegap itu berhenti. Sepasang sepatu pantofel hitam mengilat milik Bayu kini berada tepat dua jengkal di depan dokumen yang berserakan. Tasya mendongak perlahan, memasang sorot mata yang sayu dan penuh kilat kepasrahan.​"P-Pak Komisaris...Maafkan saya. Saya benar-benar ceroboh. Kepala saya sedikit pusing karena meninjau ulang laporan divisi semalaman, jadi fokus saya agak terganggu,” irih Tasya, suaranya dibuat bergetar seolah ia sangat terkejut sekaligus ketakutan setengah mati melihat kehadiran sang Owner. ​Tasya mencoba bangkit berdiri, namun ia sengaja membuat gerakannya limbung. Tubuhnya condong ke depan, berpura-pura kehilangan keseimbangan agar refleks

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 373

    Setelah kembali ke ruang kerjanya, Tasya mengunci pintu dengan rapat. Wajahnya yang semula pucat pasi karena ketakutan kini perlahan berubah menjadi merah padam oleh rasa geram yang membakar dada. Ia melempar tas sepatunya ke sudut ruangan dengan kasar.​"Kurang ajar!" geram Tasya, giginya mengatup rapat sembari mondar-mandir di balik meja manajernya.​Rasa malu didepan Silvy dan ancaman pemecatan dari Bayu bukannya membuat Tasya sadar, melainkan memicu sisi gelap dari keangkuhannya yang terluka. Dari dulu, keluarganya tidak pernah mau kalah dari keluarga Maudy. Baginya, Maudy tidak layak mendapatkan segalanya. Suami tampan yang kaya raya, kekuasaan mutlak, dan pengakuan sebagai mantan CEO perusahaan itu.​Tasya berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap ke arah luar. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di otaknya yang buntu. Sumbu egonya yang sakit mulai merajut sebuah rencana baru.​"Kalau Maudy yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan pria sekelas Bayu, kenapa aku tidak?" g

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 372

    Di dalam ruangan yang mendadak terasa sekecil kotak korek api itu, keheningan bergulir begitu menyiksa. Tasya masih berdiri mematung dengan bibir yang sedikit terbuka, namun tak ada satu pun patah kata yang mampu lolos dari tenggorokannya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, merusak kenyamanan setelan kerja mahal yang ia kenakan.​Bayu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Tasya. Pria itu menarik sebelah tangannya dari saku celana, lalu mengetukkan ujung jemarinya di atas tas belanja berisi sepatu hak tinggi milik Tasya. Bunyi ketukan itu terdengar ritmis, seolah sedang menghitung sisa waktu harga diri Tasya yang berada di ambang kehancuran.​"Jika pendengaran saya tidak salah. Anda baru saja mengancam akan memberikan nilai merah pada evaluasi kerja Sekretaris Silvy jika dia menolak menjadi pelayan pribadi Anda?" Bayu kembali bersuara dengan nada yang tenang dan mengerikan.​Tasya refleks menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berkaca-kaca karena panik. "B-bukan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 209

    Keesokkan harinya, Cindy bersiap untuk meninggalkan kamar perawatannya. Empat hari telah berlalu sejak insiden berdarah di kantor Bayu, dan meskipun luka di lengannya mulai mengering di balik balutan perban putih, luka di hatinya masih terasa basah dan perih.​Pagi itu, Bayu datang lebih awal. Dia

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 205

    Suasana di dalam gudang tua itu terasa semakin mencekam, seolah-olah dinding beton yang retak di sekeliling mereka perlahan menghimpit oksigen hingga habis. Bayu berdiri mematung di depan meja kayu yang berdebu, jemarinya menyentuh permukaan kertas yang dingin. Di bawah sinar lampu gantung yang ber

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 203

    Mobil hitam itu berhenti di sebuah gudang tua yang tersembunyi di pinggiran kota, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Bau apek dan debu yang menyesakkan menyambut saat pintu besi berkarat itu dibuka secara perlahan. Kedua preman itu menggotong tubuh Maudy yang masih lunglai tak berdaya, lalu mendudukk

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 193

    Suasana di ruangan itu yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat mencekam, seolah oksigen di dalamnya mendadak menipis. Bayu berdiri mematung, menatap asistennya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia mengira kata-kata tegasnya soal pernikahan dan masa kecil dengan Maudy akan menjadi palu g

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status