Share

Bab 574

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-10-28 22:43:38

Malam itu, setelah keempat putra kembarnya keluar dari kamar dengan wajah muram dan penuh sisa penyesalan, Evelyn duduk termenung di tepi tempat tidurnya. Suasana kamarnya terasa begitu sunyi, hanya diterangi oleh lampu tidur berpendar temaram. Keputusan yang berputar di dalam kepalanya terasa berat, tetapi ia tahu ia harus memberikan jalan tengah agar keluarganya tidak terus-menerus merasa khawatir dan cemas.

​Beberapa saat kemudian, pintu kamarnya kembali diketuk secara pelan. Bayu dan Maudy
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 590

    Sesampainya di rumah sakit, suasana koridor yang sepi membuat langkah kaki Bayu, Maudy, dan Arka terdengar jelas. Maudy duduk di bangku tunggu dengan jemari yang saling bertautan erat, sementara Arka berdiri tidak jauh di sampingnya sambil terus memegang pundak sang ibu.​Tak lama kemudian, nama Maudy dipanggil dari dalam ruang praktek. Mereka bertiga masuk dan disambut ramah oleh Dokter Haryo, dokter keluarga yang sudah lama mengenal mereka.​Setelah Maudy duduk di kursi pemeriksaan, Dokter Haryo mulai melingkarkan manset tensimeter di lengan kiri Maudy. Ruangan hening sejenak saat alat pemantau tekanan darah itu bekerja. Dokter Haryo memandangi angka yang tertera di layar monitor, lalu menghela napas pelan.​"Tekanan darah Ibu Maudy lumayan tinggi ini, 170/95," ujar Dokter Haryo seraya melepaskan manset dari lengan Maudy. "Pantas saja kepalanya terasa pusing dan kliyengan."​Bayu mengerutkan dahi, raut kecemasan jelas terpancar dari wajahnya. "Tinggi banget ya, Dok? Padahal biasanya

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 589

    Kepanikan yang terus menimbun dada Maudy akhirnya mulai mengambil jalannya sendiri. Tubuhnya tidak lagi sanggup menampung tumpukan kecemasan yang berlebihan itu. Dalam sepekan terakhir, Maudy sering memegangi pelipisnya, meringis pelan saat rasa pusing yang teramat sangat mendadak menyerang kepalanya. Wajahnya yang biasa segar kini tampak pucat dan muram.​Siang itu di ruang keluarga, Maudy baru saja meletakkan secangkir teh hangat ketika pandangannya mendadak berputar. Ia memejamkan mata erat-erat, meremas tepi sofa untuk menopang tubuhnya.​Bayu yang baru keluar dari ruang kerja langsung bergegas menghampiri istrinya. Arka yang sedang duduk di dekat sana pun ikut meloncat berdiri.​"Ma, kamu kenapa lagi? Pusingnya kumat?" tanya Bayu cemas sambil merangkul bahu Maudy.​Maudy menggeleng pelan, meski kelopak matanya masih terpejam rapat. "Cuma kliyengan sebentar, Mas. Nanti juga hilang sendiri kalau dibawa duduk."​Arka berjongkok di depan ibunya, menatap raut wajah Maudy yang begitu l

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 588

    ​Masalah Daffa yang diculik dan penyergapan Rio memang sudah berakhir secara hukum. Namun, kedamaian di kediaman keluarga Bayu tidak lantas pulih begitu saja. Trauma bertubi-tubi yang menghantam rumah tangga itu telanjur menanamkan benih kecemasan yang mendalam, terutama bagi Maudy.​Kini, fokus ketakutan Maudy berpindah pada kehadiran Ferdy, guru privat pengganti berusia 23 tahun yang mengajar Evelyn. Meskipun Evelyn sendiri yang mengizinkan guru pria itu datang, Maudy tidak pernah benar-benar merasa tenang. Bagi wanita itu, setiap sosok asing di dalam rumahnya, terutama laki-laki dewasa, adalah potensi ancaman baru.​Sore itu, sesi belajar Evelyn dan Ferdy berlangsung di ruang khusus lantai atas. Maudy tidak ikut duduk di dalam ruangan, melainkan mengurung diri di ruang kerjanya sambil menatap layar monitor besar. Layar itu menampilkan sudut pandang CCTV definisi tinggi yang terpasang persis di sudut atas ruang belajar Evelyn.​Maudy memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat setiap pe

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 587

    Hari itu, jadwal belajar privat Evelyn yang biasanya diisi oleh Bu Rahma harus mengalami perubahan mendadak. Pagi-pagi sekali, pihak yayasan pendidikan menghubungi rumah keluarga Bayu untuk mengabarkan bahwa Bu Rahma mendadak jatuh sakit dan tidak bisa datang mengajar selama beberapa hari ke depan. Pihak yayasan menawarkan dua pilihan: menunda jadwal belajar hingga minggu depan, atau mengirimkan guru pengganti.​Di ruang tamu, Maudy tampak berbicara serius melalui sambungan telepon dengan staf yayasan tersebut. Wanita paruh baya itu mengerutkan dahi, mengingat kembali prinsip awal mereka dalam memilihkan guru privat untuk putrinya.​"Halo... Kalau bisa, kami tetap mengutamakan guru perempuan, Mbak," kata Maudy dengan nada suara sopan namun tegas di ujung telepon. "Anak kami sedang dalam masa pemulihan trauma, jadi kami ingin memastikan ia merasa nyaman dan tidak terbebani."​Di seberang sana, pihak yayasan meminta maaf dan menjelaskan situasi yang pelik. "Mohon maaf sekali, Ibu Maudy.

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 586

    Malam penyergapan di pabrik gula tua itu menyisakan ketegangan yang pekat. Meskipun polisi mengerahkan seluruh personel untuk menyisir setiap jengkal bangunan terbengkalai, kegelapan malam dan luasnya kompleks reruntuhan memberikan celah bagi Rio untuk melarikan diri. Memanfaatkan lorong-lorong pembuangan air bawah tanah yang sudah kering, buronan licik itu berhasil menyelinap keluar dari kepungan aparat sebelum fajar menyingsing.​Namun, sepandai-pandainya musang berbulu, jejak pelariannya tidak bisa disembunyikan selamanya.​Dua hari kemudian, persembunyian terakhir Rio di sebuah gubuk nelayan di kawasan pesisir luar kota akhirnya tercium oleh unit intelijen kepolisian. Operasi penyergapan kilat yang dilakukan tanpa peringatan membuat sang buronan tidak berkutik. Kali ini, tidak ada lagi celah untuk melarikan diri. Rio diborgol dan diseret keluar dari gubuk reyot tersebut di bawah terik matahari siang, mengakhiri pelariannya yang penuh teror.​Berita tertangkapnya Rio langsung dikab

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 585

    Kejar-kejaran di jalanan gelap pinggiran kota itu berlangsung sengit. Lampu sorot mobil patroli membelah kegelapan, menyinari punggung Rio yang memacu motor bebek tuanya dengan kecepatan penuh melintasi tikungan-tikungan tajam perkampungan. Mesin motor tua itu meraung nyaring, mengeluarkan suara bising yang memecah kesunyian malam, namun lajunya tentu saja tidak sebanding dengan kecepatan mobil polisi yang terus menempel ketat di belakang.​Rio melirik ke kaca spion, melihat kilatan lampu biru-merah yang kian mendekat. Keringat dingin bercampur debu jalanan membasahi pelipisnya. Ia tahu jika ia terus bertahan di jalan utama, ia pasti akan terpojok dan terkejut dalam hitungan menit.​Tanpa pikir panjang, Rio membanting setang motornya ke kiri, menerobos jalan sempit berbatu yang membelah area perkebunan warga menuju bekas jalur kereta api tua. Jalanan itu penuh dengan lubang dan ilalang tinggi, membuat motornya berguncang hebat. Beberapa kali ban belakangnya tergelincir di atas tanah b

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 2

    “Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 1

    "500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 5

    Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.

  • Permintaan Khusus sang Nyonya   Bab 4

    Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status