Share

Bab 58

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-03-16 15:04:57

Maudy merasakan dadanya sesak saat melihat Bayu mulai melangkah pergi meninggalkan rumahnya dengan jalan kaki dan akan memesan ojek. Rasa tidak rela yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah. Ia melepaskan cengkeraman tangan ibunya dengan sentakan kasar, lalu berbalik arah, berlari kecil mengejar punggung Bayu yang tampak begitu kokoh namun kini terasa sangat jauh.

​"Bayu! Tunggu!" teriak Maudy, suaranya parau menahan tangis.

​Namun, langkah Maudy terhenti saat ibunya dengan sigap menghadang jal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 113

    Rio tersentak. Dengan cepat dia menjawab pertanyaan Ibu mertuanya.​"Bu, demi Tuhan, Rio tidak tahu! Ini pasti kerjaan orang yang ingin menjatuhkan Rio!" Rio mencoba mengelak, suaranya parau. Ia segera menyambar kotak itu dan memberikannya kembali pada asisten rumah tangga. "Bi, buang ini! Saya tidak mau makan makanan dari orang tidak jelas!"​Maudy hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum miring. Lalu dia menoleh pada ibunya. Mencoba untuk mempengaruhi pikiran sang Ibu."Bu, seorang pria yang jujur tidak akan sepanik itu hanya karena sebuah paket makanan. Ibu masih mau percaya kalau dia sudah berubah? Buktinya, masa lalunya masih mengejar sampai ke meja makan kita,” cakap Maudy dengan santai.​Ibu Maudy terdiam seribu bahasa. Ia terjebak dalam pusaran bimbang yang menyesakkan. Di satu sisi, ia sangat ingin mempertahankan Rio demi nama baik. Namun di sisi lain, bukti-bukti kecil mulai bermunculan satu per satu, meruntuhkan tembok pembelaannya.​Di tengah hiruk-pikuk perdeba

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 112

    ​Maudy sedikit menggeliat. Namun ia hanya membalikkan posisi tidurnya tanpa membuka mata. Rio mengembuskan napas lega yang sangat panjang, tapi keringat dingin kini sudah membanjiri kausnya. Ia memilih untuk memejamkan mata rapat-rapat, berpura-pura tidur dengan jantung yang masih berpacu liar, demi menambah masalah baru.“Sialan perempuan itu! Berani beraninya dia bermain api denganku? Awas kamu!” geram Rio sebelum matanya benar benar terpejam.​Keesokan harinya, suasana meja makan kembali terasa canggung. Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela besar. Namun tidak mampu mengusir awan mendung di wajah Rio. Matanya yang merah dan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya menunjukkan bahwa dia kurang tidur malam itu.​"Mas, wajahmu kuyu sekali pagi ini? Apa semalam tidurnya tidak nyenyak? Atau jangan jangan semalaman kamu main ponsel terus ya?" tanya Maudy sambil mengoleskan selai ke rotinya dengan gerakan yang sangat elegan. Dia hanya sedang menggoda Rio, tapi hal itu seket

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 111

    Malam semakin larut, tapi udara di dalam kamar utama itu terasa begitu kontras bagi kedua orang yang berbaring di atas ranjang king-size tersebut. Suara jangkrik di luar jendela terdengar samar, mengiringi keheningan yang mencekam di antara Maudy dan Rio.​Maudy merebahkan tubuhnya dengan santai, menarik selimut hingga sebatas dada. Untuk pertama kalinya sejak Rio tinggal di rumah itu, dia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Bukan karena ia telah memaafkan Rio, melainkan karena ia merasa menang. Kehadiran Lyra malam itu adalah jawaban atas keraguannya. Sebuah bukti nyata bahwa pertobatan Rio hanyalah sebuah panggung sandiwara yang sangat rapuh.​Maudy menoleh sedikit ke arah Rio yang berbaring kaku di sampingnya. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan mata yang terus berkedip cepat, napasnya terdengar pendek dan tidak beraturan.​"Mas, kok belum tidur? Biasanya kamu cepat sekali mendengkur setelah bicara soal proyek bisnis masa depan kita. Apa pesan dari Lyra tadi membua

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 110

    Suasana di teras depan rumah Maudy terasa dingin dan kaku saat asisten rumah tangga membukakan pintu sedikit lebar, menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. Di bawah terangnya lampu teras, Lyra berdiri dengan tenang, melipat tangan di dada dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia sama sekali tidak tampak terkejut atau tersinggung saat mendengar penolakan kasar yang diteriakkan Rio dari dalam rumah.​"Maaf, Mbak Lyra... Tuan Rio bilang beliau sedang sibuk dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Beliau minta Mbak segera pergi dari sini," ucap asisten rumah tangga itu dengan suara pelan, seolah takut menyinggung tamu yang datang tak diundang itu.​Lyra hanya terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar meremehkan. Dia merapikan rambutnya yang tertiup angin malam, lalu menatap pintu jati yang tertutup rapat itu seolah ia bisa menembus dinding dan melihat wajah pucat Rio di meja makan.​"Baiklah, Bi. Kalau memang Tuanmu itu terlalu pengecut untuk sekadar menyapa teman lama

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 109

    Malam itu, ruang makan keluarga Maudy terasa begitu hangat, setidaknya di permukaan. Aroma opor ayam kesukaan Ibu Maudy menguar di udara, berpadu dengan suara denting sendok yang beradu pelan dengan piring porselen. Rio duduk di kursi utama dengan senyum yang terus mengembang, sesekali ia mengambilkan lauk untuk ibu mertuanya, menunjukkan pengabdian yang luar biasa.​"Bu, Rio sudah bicara dengan teman Rio di luar kota. Kita akan buka lini bisnis logistik kecil-kecilan. Meskipun keluarga ini sudah memiliki bisnis sebelumnya, tapi sebagai suami aku punya tanggung jawab untuk menafkahi Maudy. Aku tidak mau sekedar menumpang," ucap Rio dengan nada suara yang rendah dan meyakinkan. Seketika Maudy melirik tajam ke arah Rio yang sengaja menyindirnya. Karena Maudy sempat mengatakan jika Rio hanya sedang menumpang saja.​Ibu Maudy mengangguk-angguk, matanya berbinar menatap menantunya. "Ibu percaya padamu, Rio. Yang penting putri Ibu bahagia dan masa depan kalian terjamin. Bisnis keluarga ka

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 108

    Bayu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran yang empuk. Namun hatinya tak sedikit pun merasa rileks. Matanya menatap tajam ke arah Lyra, mencoba mencari celah kebohongan di balik riasan wajah wanita itu yang tampak sempurna. Di atas meja, jemari Bayu mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati dengan ritme yang lambat dan penuh perhitungan.​"Kamu pasti meminta bayaran yang tidak sedikit, Lyra.Tapi, Uang bukanlah masalah bagiku. Aku bisa memberimu berapapun yang kamu mau. Tapi yang menjadi masalah adalah kepercayaan. Bagaimana aku bisa yakin kamu tidak sedang bermain di dua kaki?" tanya Bayu dengan suara rendah yang berwibawa.​Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kepahitan sekaligus ambisi. Tapi, tujuan ambisi itu masih sulit ditebak oleh Bayu."Kepercayaan adalah barang mewah, Bayu. Aku tidak memintamu percaya pada moralitasku, tapi percayalah pada rasa sakit hatiku. Rio mencampakkanku. Dia menghinaku. Aku ingin melihatnya hancur sedalam-dalamnya. Dan untuk itu, aku m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status