Share

Bab 109

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-04-03 17:21:53

Malam itu, ruang makan keluarga Maudy terasa begitu hangat, setidaknya di permukaan. Aroma opor ayam kesukaan Ibu Maudy menguar di udara, berpadu dengan suara denting sendok yang beradu pelan dengan piring porselen. Rio duduk di kursi utama dengan senyum yang terus mengembang, sesekali ia mengambilkan lauk untuk ibu mertuanya, menunjukkan pengabdian yang luar biasa.

​"Bu, Rio sudah bicara dengan teman Rio di luar kota. Kita akan buka lini bisnis logistik kecil-kecilan. Meskipun keluarga ini sud
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 110

    Suasana di teras depan rumah Maudy terasa dingin dan kaku saat asisten rumah tangga membukakan pintu sedikit lebar, menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. Di bawah terangnya lampu teras, Lyra berdiri dengan tenang, melipat tangan di dada dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia sama sekali tidak tampak terkejut atau tersinggung saat mendengar penolakan kasar yang diteriakkan Rio dari dalam rumah.​"Maaf, Mbak Lyra... Tuan Rio bilang beliau sedang sibuk dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Beliau minta Mbak segera pergi dari sini," ucap asisten rumah tangga itu dengan suara pelan, seolah takut menyinggung tamu yang datang tak diundang itu.​Lyra hanya terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar meremehkan. Dia merapikan rambutnya yang tertiup angin malam, lalu menatap pintu jati yang tertutup rapat itu seolah ia bisa menembus dinding dan melihat wajah pucat Rio di meja makan.​"Baiklah, Bi. Kalau memang Tuanmu itu terlalu pengecut untuk sekadar menyapa teman lama

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 109

    Malam itu, ruang makan keluarga Maudy terasa begitu hangat, setidaknya di permukaan. Aroma opor ayam kesukaan Ibu Maudy menguar di udara, berpadu dengan suara denting sendok yang beradu pelan dengan piring porselen. Rio duduk di kursi utama dengan senyum yang terus mengembang, sesekali ia mengambilkan lauk untuk ibu mertuanya, menunjukkan pengabdian yang luar biasa.​"Bu, Rio sudah bicara dengan teman Rio di luar kota. Kita akan buka lini bisnis logistik kecil-kecilan. Meskipun keluarga ini sudah memiliki bisnis sebelumnya, tapi sebagai suami aku punya tanggung jawab untuk menafkahi Maudy. Aku tidak mau sekedar menumpang," ucap Rio dengan nada suara yang rendah dan meyakinkan. Seketika Maudy melirik tajam ke arah Rio yang sengaja menyindirnya. Karena Maudy sempat mengatakan jika Rio hanya sedang menumpang saja.​Ibu Maudy mengangguk-angguk, matanya berbinar menatap menantunya. "Ibu percaya padamu, Rio. Yang penting putri Ibu bahagia dan masa depan kalian terjamin. Bisnis keluarga ka

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 108

    Bayu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran yang empuk. Namun hatinya tak sedikit pun merasa rileks. Matanya menatap tajam ke arah Lyra, mencoba mencari celah kebohongan di balik riasan wajah wanita itu yang tampak sempurna. Di atas meja, jemari Bayu mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati dengan ritme yang lambat dan penuh perhitungan.​"Kamu pasti meminta bayaran yang tidak sedikit, Lyra.Tapi, Uang bukanlah masalah bagiku. Aku bisa memberimu berapapun yang kamu mau. Tapi yang menjadi masalah adalah kepercayaan. Bagaimana aku bisa yakin kamu tidak sedang bermain di dua kaki?" tanya Bayu dengan suara rendah yang berwibawa.​Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kepahitan sekaligus ambisi. Tapi, tujuan ambisi itu masih sulit ditebak oleh Bayu."Kepercayaan adalah barang mewah, Bayu. Aku tidak memintamu percaya pada moralitasku, tapi percayalah pada rasa sakit hatiku. Rio mencampakkanku. Dia menghinaku. Aku ingin melihatnya hancur sedalam-dalamnya. Dan untuk itu, aku m

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 107

    Sinar matahari pagi menembus dinding kaca ruang kerja Bayu, memantulkan kilau pada deretan buku dan dokumen yang tertata rapi. Di tengah kesibukannya meninjau laporan ekspansi perusahaan, pintu jati besar itu diketuk pelan. Sekretaris Bayu melangkah masuk dengan raut wajah yang sedikit ragu.​"Pak Bayu, ada seorang wanita bernama Lyra yang ingin menemui Anda. Dia bilang ini sangat mendesak. Katanya berkaitan dengan... Ibu Maudy dan Pak Rio," lapor sang sekretaris.​Bayu tertegun sejenak. Pena di tangannya berhenti bergerak. Nama itu tentu tidak asing. Ingatannya melayang pada masa-masa sulit dulu, saat ia masih menjadi saksi bisu di balik kebusukan Rio. Lyra bukan sekadar teman kuliah Maudy. Wanita itu adalah duri dalam daging, selingkuhan Rio yang pernah menghancurkan perasaan Maudy berkali-kali.​"Suruh dia masuk!” titah Bayu dingin. Rahangnya mengeras. Ia melepaskan kacamata bacanya dan bersandar pada kursi kebesarannya, bersiap menghadapi apa pun yang akan dibawa oleh wanita itu.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 106

    ​Wajah Rio sedikit berubah, ada kilatan ketidaksabaran yang muncul sekilas di matanya. Namun ia segera menutupinya dengan anggukan pelan yang patuh. "Tentu, Maudy. Aku mengerti. Ambillah waktu sebanyak yang kamu butuh. Aku akan menunggumu di rumah, menyiapkan segala sesuatunya untuk kepulanganmu,” jawab Rio dengan tenang.​Ibu Maudy mengusap puncak kepala putrinya, mencoba memberikan senyum yang ia anggap menenangkan dan tentunya mendukung sekali niat Rio untuk membangun kembali rumah tangga mereka."Pikirkan baik-baik, Nak. Ingat nama baik keluarga dan masa depanmu. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu,” sahut Ibunya dengan sangat lembut. Setelah itu, Ibunya berpamitan untuk pulang sebentar mengambil pakaian ganti untuk Maudy. Sementara Rio, dia berpamitan untuk membelikan Maudy makanan.Mendengar Rio dan Ibu mertuanya hendak keluar, Bayu segera beranjak dari tempatnya berdiri di balik pintu. Dia tidak mau membuat keributan lagi hingga membuat Maudy makin tertekan.​Setelah mereka b

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 105

    Drama yang dipentaskan Rio ternyata memiliki kekuatan besar bagi ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu, yang selama ini mendambakan menantu dari kelas sosial yang ia anggap setara, tampak luluh dengan perkataan Rio. Sekarang, kebenciannya pada Bayu jauh lebih besar daripada rasa jijiknya terhadap kebusukan Rio.​Ibu Maudy melangkah mendekati brankar, tangannya yang mulai keriput mengusap lembut dahi putrinya untuk membujuknya.“Maudy... lihat suamimu. Dia sudah mengakui kesalahannya. Semua itu dilakukan karena dia terlalu mencintaimu dan tertekan oleh tuntutan orang tuanya. Dia hanya ingin kita tetap dipandang terhormat,” ujar Ibu Maudy menasehati putrinya.​Maudy hanya bisa terdiam, matanya menatap kosong ke arah plafon rumah sakit. Kata-kata ibunya terasa seperti sembilu yang menyayat luka yang baru saja menganga akibat keguguran itu.​"Lupakan masa lalu, Nak. Anggap saja keributan ini adalah ujian rumah tangga. Kembalilah seperti dulu, sebelum ada Bayu yang datang mengacaukan semua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status