Share

Bab 66

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-03-19 23:03:52

“Jangan banyak bacot! Ajalmu akan segera tiba!” seru para lelaki bertubuh kekar dengan memakai topeng tersebut. Mereka berusaha menggertak Bayu, tapi Bayu sama sekali tifak gentar.

“Wah, hebat. Kalian peramal ya? Kok bisa tau kapan aku mati? Jangan jangan, kalian yang akan mati?” sahut Bayu dengan santai.

Suasana di gang sempit yang tadinya mencekam itu mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk yang memekakkan telinga. Salah satu pria berjaket hitam baru saja hendak memercikkan bensin dari jerigen y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 279

    Pada saat yang bersamaan, Sedan hitam milik Bayu melaju dengan kecepatan sedang, membelah aspal jalanan ibu kota yang mulai merayap padat menjelang siang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana mencekam yang tadinya menyelimuti perjalanan menuju rumah sakit kini telah sepenuhnya mencair. Hawa dingin dari pendingin ruangan terasa menyegarkan, mengusir sisa-sisa ketegangan yang sempat memuncak di koridor IGD beberapa saat lalu.​Bayu mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya perlahan bergerak ke samping, mencari jemari Maudy yang bertumpu di atas pangkuannya. Setelah menemukannya, Bayu menyisipkan jari-jarinya, menggenggam telapak tangan wanita itu dengan sangat erat seolah sedang menyalurkan seluruh rasa lega dan kagum yang membuncah di dalam dadanya.​Ia melirik Maudy sekilas melalui sudut matanya. Wanita itu tampak menatap ke luar jendela, membiarkan bias cahaya matahari siang menerpa profil wajahnya yang kini terlihat jauh lebih tenang dan tegap.​"M

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 278

    Tuan Pradipta sudah dipindah ke ruang perawatan. Suasana di dalam ruang perawatan VIP itu terasa begitu sunyi dan tenang. Bunyi ritmis dari mesin pemantau detak jantung yang terpasang di samping ranjang Tuan Pradipta terdengar konstan, memecah keheningan ruangan bernuansa putih bersih tersebut. Tuan Pradipta tampak terbaring lemah dengan selang oksigen yang masih terpasang di hidungnya, matanya terpejam rapat di bawah pengaruh obat bius dan penenang dari dokter.​Alena duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap wajah sayu sang ayah yang tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Rasa bersalah masih menggelayuti hatinya. Sentuhan jemarinya pada punggung tangan ayahnya terasa begitu hampa.​Tepat saat Alena hendak menyandarkan punggungnya untuk sedikit melepas lelah, keheningan itu mendadak buyar oleh getaran konstan dari dalam tas jinjingnya. Ponselnya berdering, menampilkan sebuah nomor tanpa nama yang sudah sangat ia hafal.​Alena menarik napas dalam-dalam, menatap layar ponse

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 277

    Suasana di koridor depan ruang Unit Gawat Darurat itu mendadak hening seketika. Gesekan emosi dan ketegangan yang baru saja memercik antara Maudy dan Alena seolah menguap begitu saja ke udara, tergantikan oleh fokus mutlak yang tertuju pada sosok pria berjas putih di hadapan mereka. Semua yang ada di sana menahan napas, membiarkan waktu bergulir lambat dalam kecemasan yang bergelayut tebal.​Bayu melangkah selangkah ke samping Maudy, bersedekap dada dengan tatapan yang tetap waspada. Sementara Cindy berdiri sedikit di belakang mereka, ikut memasang telinga dengan saksama. Alena sendiri tampak meremas kedua telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin, matanya menatap lekat-lekat pada bibir sang dokter, menunggu vonis yang akan menentukan nasib ayahnya, dan juga nasib rencana besarnya.​Dokter paruh baya itu mengembuskan napas pendek, lalu mengulas seulas senyum tipis yang sarat akan profesionalisme untuk menenangkan suasana yang mencekam.​"Syukurlah Nona. Tuan Pradipta sudah ber

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 276

    Bayu mengambil napas dalam-dalam, bersiap untuk mengeluarkan kata-kata paling tajam demi memutus harapan Alena dan memperingatkan wanita itu agar menjaga jarak. Rahangnya mengatup rapat, dan kilat kemarahan di matanya sudah tidak lagi bisa disembunyikan. Namun, sebelum sepatah kata pun sempat keluar dari bibir Bayu, sebuah suara yang teramat tenang dan jernih tiba-tiba memotong keheningan di antara mereka.​Maudy melangkah maju. Gerakannya sangat lambat, namun memancarkan keanggunan dan ketegasan yang mutlak. Rasa syok yang sempat membuat tubuhnya lemas beberapa menit lalu kini seolah menguap, digantikan oleh kekuatan baru yang muncul dari harga dirinya sebagai seorang wanita yang tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi oleh situasi.​Maudy menatap lurus ke dalam manik mata Alena yang masih berlinang air mata, sebelum akhirnya angkat bicara.​"Nona Alena, tenanglah. Dokter spesialis dan tim ahli terbaik dari rumah sakit ini sudah menangani Papa Anda di dalam. Mereka sedang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 275

    Suasana di area tunggu Unit Gawat Darurat (UGD) terasa kian mendingin, berbanding terbalik dengan gemuruh kepanikan yang kian dekat di luar lobi.​Derit pintu kaca otomatis rumah sakit yang terbuka dengan kasar mendadak memecah keheningan koridor. Suara langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang melangkah tergesa-gesa, menggema di sepanjang lantai marmer putih.​Bayu, yang sejak awal berdiri dengan kewaspadaan penuh, langsung menoleh ke arah sumber suara. Seluruh otot tubuhnya seketika menegang kaku saat matanya menangkap sosok wanita berambut acak-acakan dengan wajah yang sudah sembap oleh air mata baru saja melewati pintu masuk lobi.​Alena benar benar muncul di sana. ​Pertemuan yang begitu dihindari oleh Bayu akhirnya benar-benar terjadi di bawah lampu neon putih rumah sakit yang benderang. Alena berlari kecil, matanya memandang liar ke sekeliling lorong IGD sampai akhirnya pandangannya terkunci pada sosok petugas keamanan kantor Bayu yang berdiri di dekat tirai hijau pembatas ruan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 274

    Perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat yang terletak beberapa kilometer dari perusahaan Bayu itu terasa begitu menyiksa bagi Bayu. Di dalam mobil sedan hitamnya yang melaju membelah kepadatan arus lalu lintas pagi, keheningan yang mencekam kembali merayap. Bayu mencengkeram kemudi dengan teramat erat, sesekali matanya melirik ke arah kaca spion tengah untuk melihat Cindy yang duduk di kursi belakang, lalu beralih pada Maudy yang duduk diam di sampingnya, menatap lurus ke luar jendela kaca.​Pikiran Bayu berkecamuk hebat. Setiap putaran roda mobilnya seolah membawanya semakin dekat ke arah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Ia tahu betul, melangkah ke rumah sakit itu sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam jebakan takdir yang paling ia hindari. Namun, ia tidak punya pilihan. Berdalih lebih jauh hanya akan membuat Maudy menaruh curiga bahwa ada rahasia kelam yang sengaja disembunyikan di balik pintu ruang kerjanya tadi. Dengan berat hati, Bayu memilih untuk mengambil segala risiko

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 42

    Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 18

    Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. ​Lyra hanya tertawa k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 16

    Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. ​"Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 55

    Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status