Mag-log inMalik perlahan meletakkan cerutunya di atas asbak kristal. Ia tidak segera menjawab, melainkan menatap Rio dengan tatapan yang sangat datar, hampir menyerupai rasa iba yang dingin. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit saat Malik menghela napas panjang, sebuah gestur yang sangat jarang ditunjukkan oleh seorang pengacara yang biasanya haus akan uang panas."Ambil kembali tasmu, Pak Rio. Simpan uangmu. Aku tidak bisa menerima kasus ini!” tolak Malik dengan suara rendah yang berat.Rio tertegun. Ia mengerutkan dahi, mengira pendengarannya sedang bermasalah. "Apa? Kamu bercanda, Malik? Aku belum menyebutkan nominal pastinya, tapi aku jamin nilainya tiga kali lipat dari kasus terbesar yang pernah kamu tangani. Rekening baruku sudah siap, tunai pun aku bisa usahakan!" tegas Rio untuk meyakinkan Malik.Malik menggeleng perlahan. Ia memutar kursi kebesarannya, menatap deretan buku hukum di dinding ruangannya. "Ini bukan soal bayaran, Rio. Kamu bisa memberiku gunung emas sekalipun, tapi
Setelah langkah kaki Bayu menghilang di balik lorong lift, kesunyian di ruang direksi itu terasa mencekik leher Rio. Ia berdiri mematung di tengah kemegahan yang kini terasa asing. Napasnya memburu, matanya menatap liar ke arah kursi kebesaran ayahnya yang kini kosong melongpong. Namun, di balik rasa syok dan ketakutan yang melanda, sebuah seringai tipis yang sarat akan kelicikan perlahan muncul di sudut bibir Rio.Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya kembali. Sebelum mulai menekan tombolnya, Rio menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya yang sempat kalut. Ia tahu Bayu mungkin sudah membekukan aset utama perusahaan dan kepemilikan tanah dan rumah. Namun Bayu tidak tahu satu rahasia besar. Rio bukanlah anak penurut yang hanya menerima uang saku. Selama tiga tahun terakhir, dengan bantuan beberapa notaris nakal yang ia suap, Rio diam-diam telah mengalihkan beberapa bidang tanah strategis di pinggiran kota dan deretan ruko di kawasan elit ke atas namanya sendiri
Ruang kerja direksi yang biasanya terasa megah dan penuh kuasa itu mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Aroma parfum mahal Haris masih tertinggal di udara, tapi pemiliknya baru saja diseret keluar dengan tangan terborgol layaknya kriminal rendahan. Rio berdiri mematung di tengah ruangan, matanya nanar menatap pintu ganda yang baru saja tertutup rapat.Saat Bayu hendak memutar tubuhnya untuk melangkah pergi, Rio seolah tersadar dari syoknya. Dengan langkah sempoyongan tapi penuh amarah, ia berlari kecil dan menghadang jalan Bayu tepat di depan pintu."Tunggu! Jangan pergi dulu, Bajingan!" teriak Rio, suaranya parau dan bergetar hebat.Bayu menghentikan langkahnya. Ia tidak menunjukkan rasa takut, tidak juga menunjukkan amarah yang meledak-ledak. Ia hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana kainnya yang rapi, lalu menatap Rio dengan tatapan yang sangat tenang. Tatapan seorang pemenang yang sedang menonton sisa-sisa perlawanan musuhnya."Apa lagi, Rio? Aku punya banyak
Di lain tempat, di ruang interogasi yang pengap dan berpenerangan redup itu, suasana terasa sangat dingin. Tiga pria berjaket hitam yang semalam mencoba membakar kontrakan Bayu duduk membisu. Borgol di tangan mereka beradu dengan meja besi, menimbulkan bunyi gemerincing yang menambah ketegangan.Seorang penyidik senior memberikan introgasi keras pada mereka. Bahkan tak jarang sampai melayangkan pukulan. Tetapi mereka tidak kunjung menyebutkan nama orang yang menyuruh mereka. Wajah wajah keluarga mereka di kampung halaman, yang menjadi sebuah ancaman jika mereka buka suara."Katakan siapa yang membayar kalian? Dengarkan ini, kalau kalian bungkam, kalian akan membusuk di penjara sendirian sementara orang yang membayar kalian tetap tidur di kasur empuknya. Apa itu sebanding? Harusnya orang itu juga sama membusuknya du penjara!” seru tim penyidik dengan suara penuh penekannya.Salah satu pelaku, yang tangannya masih gemetar, melirik rekan-rekannya. Ia teringat Rio telah memberikan uang
Pagi itu, sinar matahari yang masuk lewat jendela ruang makan rumah orang tua Maudy terasa begitu menyengat. Akan tetapi, suasana di dalamnya justru terasa sedingin es. Di atas meja, sebuah televisi layar datar menayangkan berita pagi yang memperlihatkan kerumunan polisi di sebuah gang sempit. Nama Bayu disebut beberapa kali sebagai korban percobaan pembunuhan yang berhasil selamat.Ibu Maudy meletakkan sendoknya dengan suara denting yang tajam. Ia menatap layar televisi itu dengan raut wajah yang sulit diartikan. Bukan empati yang muncul, melainkan kecemasan yang bercampur dengan rasa muak."Lihat itu, Maudy! Ini yang Ibu khawatirkan. Laki-laki itu... si Bayu itu, dia sumber masalah. Jangan sampai nama kamu ikut terseret dalam kasus ini,” ucap Ibunya dengan pelan tapi penuh penekanan.Maudy yang sejak tadi hanya mengaduk tehnya mendongak. Matanya menatap sang Ibu dengan tidak percaya. "Ibu? Apa Ibu tidak dengar beritanya? Bayu itu korbannya! Dia hampir dibakar hidup-hidup oleh pr
“Jangan banyak bacot! Ajalmu akan segera tiba!” seru para lelaki bertubuh kekar dengan memakai topeng tersebut. Mereka berusaha menggertak Bayu, tapi Bayu sama sekali tifak gentar.“Wah, hebat. Kalian peramal ya? Kok bisa tau kapan aku mati? Jangan jangan, kalian yang akan mati?” sahut Bayu dengan santai.Suasana di gang sempit yang tadinya mencekam itu mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk yang memekakkan telinga. Salah satu pria berjaket hitam baru saja hendak memercikkan bensin dari jerigen yang ia bawa ke dinding kayu kontrakan, sementara yang lainnya sudah memegang korek api dengan seringai jahat.Namun, sebelum api sempat menyulut, cahaya lampu senter berkekuatan tinggi tiba-tiba menyorot tajam dari berbagai arah, membutakan pandangan mereka seketika."Berhenti! Jangan bergerak! Letakkan senjata kalian! Kalian sudah kami kepung!"Suara lantang itu menggelegar, disusul dengan derap langkah sepatu bot yang berat dari puluhan anggota polisi berpakaian taktis lengkap. Mereka muncu







