Mag-log in“Jangan Om aja yang jilat... Dina nggak mau keenakan sendirian,” rengek Dina dengan bibir mencebik basah. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun cepat menahan denyut panas di selangkangan. “Dina juga pengen ngisep punya Om Burhan. Kita sama-sama saling isep aja, Om. Sini...”
“Nakal kamu,” gumam Burhan rendah, tapi dia tidak menahan tangan Dina yang sigap m
“Tumben-tumbenan nolak dianter pulang ...” gumam Burhan heran. “Biasanya kalau liat mobil ini bawaannya antusias mau nebeng, cengengesan minta disopirin. Jelas ada yang gak beres.”Firasat ganjil itu menolak pergi dari dadanya. Tanpa pikir panjang, Burhan memutuskan menunda agendanya ke kantor kecamatan. Kesepakatan tanah atau tanda tangan berkas bisa menunggu, tapi rasa mengganjal di hatinya ini harus tuntas sekarang juga.Burhan memilih tetap diam di dalam kabin mobil yang terparkir tepat di seberang pintu masuk pasar kecamatan. Matanya mengawasi lalu-lalang orang, berniat mencegat Dina begitu gadis itu melangkah keluar membawa keranjang kosongnya.Namun menit demi menit bergulir lambat. Panas matahari kian terik memanggang atap Jeep, dan jarum jam di dasbor sudah bergeser menunjuk pukul sepuluh siang. Batang hidung gadis itu tak kunjung terlihat di pintu gerbang.Tepat saat rasa resahnya kian memuncak, dering ponsel di saku celananya memecah keheningan kabin. Burhan merogoh benda p
Burhan melempar tiga helai celana dalam katun itu ke atas etalase kaca kasir dengan napas yang agak memburu. Mbak-mbak kasir bertubuh tambun di balik meja berusaha keras menahan kedutan di sudut bibirnya, pura-pura sibuk menghitung total harga dengan kalkulator butut. “Udah ini aja, Din?” tanya Burhan heran sambil merogoh dompet kulit tebal dari saku celananya. “Ambil baju sekalian, atau daster kek. Sendal juga boleh. Om yang bayar.” Dina menggeleng pelan sambil tersenyum manis menatap pria kota di sampingnya. “Iya, Om, gak apa-apa. Secukupnya aja. Tiga udah cukup buat ganti-ganti, yang satu dipake, yang dua dicuci. Buat apa banyak-banyak, menuh-menuhin lemari reyot Dina aja.”Deg.Batin Burhan mendadak bergemuruh hebat mendengar celotehan sederhana yang meluncur begitu tulus itu. Burhan langsung teringat pada mantan istrinya di kota—wanita serakah yang tak pernah puas menguras kartu kreditnya, merengek minta tas bermerek dan liburan mewah tanpa pernah menghargai kerja kerasnya.Sed
Mobil Jeep Burhan akhirnya menepi di pangkalan tepi pasar kecamatan. Teriakan pedagang saling sahut dengan klakson angkot, pikulan kuli angkut, dan bau ikan asin yang bercampur dengan sayur segar. Selesai parkir, Burhan segera menarik tuas rem tangan, lalu melangkah turun ke bak belakang untuk membantu Dina menurunkan karung dan keranjang sayur. Dina sudah lebih dulu melompat turun dari jok depan, berjalan ke arah bak dengan langkah agak tertatih, kakinya sedikit mengangkang.“Jalannya kenapa, Din?” tanya Burhan, pura-pura polos.“Nggak usah pura-pura deh, Om. Ini juga gara-gara siapa coba?” sahut Dina enteng.“Gara-gara kamu suruh Om liatin apem bengkak kan? Terus minta nambah.”Wajah Dina langsung merona merah. “Kan Dina cuma suruh liatin, bukan malah dicucup terus disodok!”Burhan tergelak rendah, suara tawa beratnya beradu dengan riuh deru pasar. Ia menyambar satu karung goni berisi kentang basah dengan santai, otot lengannya menegang padat di balik kaos polo abu-abu ketat yang i
Jemari Yanti meraba makin dalam ke dasar saku celana panjang Burhan. Ujung jarinya menjepit gumpalan kain tipis yang terasa licin dan agak lembap. Perlahan, ia menariknya keluar.Mata janda tiga puluh dua tahun itu seketika membelalak selebar piring. Napasnya tercekat kaku di kerongkongan.Di tangannya, terjuntai selembar celana dalam wanita berbahan kaos tipis warna merah muda cerah dengan renda kusam yang sudah agak mbrudul di pinggirannya. Ukurannya kecil, jelas tidak akan muat untuk pantat semok miliknya, dan mustahil juga kalau punya Endah.“Ya Gusti ... iki … suwal e sopo?!” Tangan Yanti gemetar hebat.Teka-teki beberapa menit lalu seketika berputar di kepalanya. Pemandangan Burhan yang telanjang dada dengan peluh membanjiri otot-otot kekarnya di udara dingin menusuk, serta wajah Dina yang merah padam dengan daster kusut acak-acakan, sampai cara jalan gadis itu yang meletat-meletot mengangkang lebar.Belum sempat Yanti mencerna semuanya, suara panggilan bapaknya mendadak terden
Melihat mata menyelidik Yanti di teras semen, Burhan terlihat santai. Rahang tegasnya tetap tenang tanpa raut gugup.“Ini loh, Mbak, bantuin Dina angkat karung kentang. Berat banget ternyata,” sahut Burhan enteng.Mata Yanti menyipit tajam, jelas belum puas menatap pemandangan ganjil di depannya. “Nata sayur kok sampai buka baju to, Mas? Jam segini dinginnya nusuk tulang. Itu muka Dina juga merah banget.”Kali ini giliran Dina yang lekas maju. Gadis itu menepuk-nepuk debu di daster kusamnya dengan lagak sok sibuk.“Hoalah, ini tadi Dina sama Om angkatin keranjang sayur, Mbak. Tuh, dari depan sana ....” Dina menunjuk gerbang pekarangan, tempat sepedanya disandarkan. “Om Burhan kan mau ke kecamatan, jadi Dina nebeng sekalian ke pasar. Pas Om bantuin, keringetnya ngucur, Mbak. Jadi lepas kaos deh.”“Oalah, kamu ke sini pagi-pagi mau nebeng? Udah janjian to?” Dina nyengir polos tanpa beban. “Iya, Mbak. Janjian kemarin pagi itu lho.”Yanti manggut-manggut pelan. Ekor matanya sempat meliri
Dina menelan ludahnya susah payah. Sorot matanya sempat goyah ditatap tajam sedekat itu.Tapi sedetik kemudian, dia malah nyengir manis tanpa dosa. Tubuhnya yang sudah lepas dari kungkungan Burhan berbalik membelakangi bak Jeep. Tangannya buru-buru menarik turun ujung daster kusamnya yang basah dan kusut, menutupi paha dalamnya yang lengket.“A-Apa sih, Om. Jangan mikir kejauhan deh!” sungut Dina sambil mencibir sebal. “Ya kali bisa nikah kilat kayak beli gorengan. Juragan itu cuma mau ketemu doang nanti sore, cuma dikenalin!”Burhan menyipitkan mata. Rahangnya mengetat kaku, nggak kemakan omongan itu. “Jangan bohongin Om, Din.”“Siapa yang bohong sih, Om Burhan?” Dina malah tertawa renyah. Tangannya terangkat santai, mencubit pipi brewok Burhan tanpa rasa takut. “Mukanya tegang amat kayak mau razia polisi. Udah ah. Mending buruan ke pasar, keburu siang ini!”Burhan bergeming. Dina jelas-jelas lagi ngeles, dan Burhan bukan anak kemarin sore yang bisa dialihkan pakai cubitan manja begi







