FAZER LOGINBurhan menyulut sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu menyemburkan asap pekat ke arah kaca mobil yang terbuka separuh. Kenapa dia sebegininya cuma demi Dina?“Demi cucur setengah matengnya?”Burhan terkekeh sinis. Kalau cuma butuh pemuas ranjang, ibu kota punya stok ratusan wanita kelas atas yang bisa ia bayar. Tidak perlu repot-repot mengurusi bangkotan tua.Tapi Dina beda.Dina masih sembilan belas tahun, tapi otaknya cukup encer, mentalnya baja dibanding gadis seusianya, dan dia ulet.Burhan bisa melihat potensi besar kalau gadis itu dibawa ke kota dan disekolahkan lagi. Menghancurkan masa depan gadis sepintar itu di tangan bangkotan bau tanah cuma perkara utang receh ... jelas tidak sebanding.“Sayang banget anak sepintar itu kalau cuma jadi pajangan kasur aki-aki peot,” gumam Burhan dingin. Puntung rokok yang masih menyala ia jentikkan keluar celah jendela.Tangan Burhan memutar kunci kontak. Mesin Jeep langsung meraung, kakinya menginjak gas memburu keberadaan Dina.Me
Di seberang sambungan telepon, suara dengusan santai terdengar diiringi kekehan renyah seorang pria.“Santai napa, Bro,” sahut Rangga enteng, suara berisik khas puntung rokok yang diketuk ke asbak terdengar samar di latar belakang. “Belum juga sebulan di desa, lagaknya udah kayak debt collector nagih kreditan aja. Kerjaan apaan emang? Aku nggak mau kalau aneh-aneh, ya!” Burhan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kasar lewat sela bibir yang terkatup rapat. Di dalam kabin mobil yang pengap disengat matahari siang, dada pria itu naik-turun menahan luapan emosi yang mendidih sampai ke tenggorokan.“Urusan jual beli tanah kebun kakek ada yang sengaja mempersulit. Ada preman tanah lokal di sini yang sok berkuasa. Aku mau tahu semua borok atau data apapun soal orang yang biasa dipanggil Juragan Sobri di kecamatan ini.”Hening sejenak merayap di seberang sana. Suara tawa Rangga seketika lenyap, berganti decitan kursi kerja yang ditarik maju.“Juragan Sobri?” gumam Rangga mengula
Berniat mencari Dina langsung ke dalam pasar, Burhan segera melompat turun dari mobil, melangkah panjang menyeberangi jalan aspal yang berdebu disengat terik siang.Kakinya berderap mantap menerobos gerbang pasar kecamatan yang becek. Suasana lorong utama mulai melompong, kios-kios sayur kecil banyak yang sudah tutup dan dibereskan pemiliknya, hanya tersisa kios-kios sayur berukuran besar yang memang buka sampai sore hari.Burhan menoleh ke kiri dan ke kanan. Pandangan matanya menyapu tajam setiap sudut lorong yang tersisa, memperhatikan lalu-lalang orang barang kali bersinggungan jalan dengan Dina. Tapi hasilnya masih nihil. Batang hidung gadis itu sama sekali tak tampak.Tak ingin membuang waktu, Burhan bergegas melangkah menuju lapak Bude Puji, tempat Dina menyuruhnya menitipkan karung-karung sayur tadi pagi. Hanya kios itu satu-satunya tempat yang mungkin bisa memberikan petunjuk.Namun saat tiba di depan lapak semi-permanen itu, sosok Bude Puji tidak terlihat. Meja kayu panjangn
“Tumben-tumbenan nolak dianter pulang ...” gumam Burhan heran. “Biasanya kalau liat mobil ini bawaannya antusias mau nebeng, cengengesan minta disopirin. Jelas ada yang gak beres.”Firasat ganjil itu menolak pergi dari dadanya. Tanpa pikir panjang, Burhan memutuskan menunda agendanya ke kantor kecamatan. Kesepakatan tanah atau tanda tangan berkas bisa menunggu, tapi rasa mengganjal di hatinya ini harus tuntas sekarang juga.Burhan memilih tetap diam di dalam kabin mobil yang terparkir tepat di seberang pintu masuk pasar kecamatan. Matanya mengawasi lalu-lalang orang, berniat mencegat Dina begitu gadis itu melangkah keluar membawa keranjang kosongnya.Namun menit demi menit bergulir lambat. Panas matahari kian terik memanggang atap Jeep, dan jarum jam di dasbor sudah bergeser menunjuk pukul sepuluh siang. Batang hidung gadis itu tak kunjung terlihat di pintu gerbang.Tepat saat rasa resahnya kian memuncak, dering ponsel di saku celananya memecah keheningan kabin. Burhan merogoh benda p
Burhan melempar tiga helai celana dalam katun itu ke atas etalase kaca kasir dengan napas yang agak memburu. Mbak-mbak kasir bertubuh tambun di balik meja berusaha keras menahan kedutan di sudut bibirnya, pura-pura sibuk menghitung total harga dengan kalkulator butut. “Udah ini aja, Din?” tanya Burhan heran sambil merogoh dompet kulit tebal dari saku celananya. “Ambil baju sekalian, atau daster kek. Sendal juga boleh. Om yang bayar.” Dina menggeleng pelan sambil tersenyum manis menatap pria kota di sampingnya. “Iya, Om, gak apa-apa. Secukupnya aja. Tiga udah cukup buat ganti-ganti, yang satu dipake, yang dua dicuci. Buat apa banyak-banyak, menuh-menuhin lemari reyot Dina aja.”Deg.Batin Burhan mendadak bergemuruh hebat mendengar celotehan sederhana yang meluncur begitu tulus itu. Burhan langsung teringat pada mantan istrinya di kota—wanita serakah yang tak pernah puas menguras kartu kreditnya, merengek minta tas bermerek dan liburan mewah tanpa pernah menghargai kerja kerasnya.Sed
Mobil Jeep Burhan akhirnya menepi di pangkalan tepi pasar kecamatan. Teriakan pedagang saling sahut dengan klakson angkot, pikulan kuli angkut, dan bau ikan asin yang bercampur dengan sayur segar. Selesai parkir, Burhan segera menarik tuas rem tangan, lalu melangkah turun ke bak belakang untuk membantu Dina menurunkan karung dan keranjang sayur. Dina sudah lebih dulu melompat turun dari jok depan, berjalan ke arah bak dengan langkah agak tertatih, kakinya sedikit mengangkang.“Jalannya kenapa, Din?” tanya Burhan, pura-pura polos.“Nggak usah pura-pura deh, Om. Ini juga gara-gara siapa coba?” sahut Dina enteng.“Gara-gara kamu suruh Om liatin apem bengkak kan? Terus minta nambah.”Wajah Dina langsung merona merah. “Kan Dina cuma suruh liatin, bukan malah dicucup terus disodok!”Burhan tergelak rendah, suara tawa beratnya beradu dengan riuh deru pasar. Ia menyambar satu karung goni berisi kentang basah dengan santai, otot lengannya menegang padat di balik kaos polo abu-abu ketat yang i







