Share

Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?
Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?
Penulis: suki_luxu

Prolog

Penulis: suki_luxu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 17:20:11

Pagi hari di Ibu Kota Anduvel. Sinar matahari pertama yang hangat dan keemasan—bukan dari matahari biasa, melainkan dari kristal matahari raksasa yang melayang tinggi di langit—menyusup melalui celah tirai jendela, menyentuh wajah seorang gadis yang sedang tidur.

Seorang perempuan muda bernama Lola, kini berusia lima belas tahun, perlahan-lahan terbangun dari alam mimpinya. Dia duduk di atas kasurnya, tubuhnya masih terbungkus selimut lembut berwarna pastel. Tangannya yang sudah lebih panjang dan ramping mengusap wajahnya yang masih lesu dan berbekas bantal. Rambutnya yang berwarna kuning pucat, yang dulu seperti sinar mentari musim semi, kini tumbuh lebih panjang hingga ke bahu, dan terlihat berantakan setelah semalaman. Matanya yang berwarna hijau muda kekuningan—masih jernih seperti kolam hutan, namun kini lebih dalam—terlihat buram dan berat, tanda bahwa dia belum sepenuhnya puas dengan tidurnya.

Dia melenguh kecil, suara serak pagi hari, sambil mengusap-usap tengkuknya yang pegal. Dengan gerakan yang masih penuh kelambanan, dia akhirnya meninggalkan pelukan kasur kesayangannya. Kasur itu seperti sahabat setia baginya, meskipun Lola tumbuh menjadi gadis yang tetap bersemangat dan tak kenal lelah dalam berpetualang, ritual bangun tidur tetaplah momok yang harus dihadapi dengan malas. Ya, bukan hanya dia. Di mana pun, baik di Bumi maupun di Tanah Kebahagiaan, kebanyakan manusia—dan mungkin makhluk ajaib—pasti akan merasakan kemalasan yang mendalam saat harus meninggalkan kehangatan dan kenyamanan kasur, apalagi jika malam sebelumnya mereka melakukan pekerjaan atau petualangan yang melelahkan. Keinginan untuk berkubur di kasur seharian adalah keinginan universal.

Lola lalu berjalan pelan menuju sebuah meja rias yang terbuat dari kayu berukir halus. Di atasnya terdapat sebuah cermin bulat besar yang bingkainya dihiasi ukiran daun dan bunga. Dia duduk di kursi kecil di depannya. Kepalanya beberapa kali nyaris menunduk tertidur lagi, sebelum akhirnya dia menepuk kedua pipinya sendiri dengan lembut, lalu mengucek-ngucek matanya untuk mengusir sisa kantuk.

Dia kemudian menatap wajahnya sendiri di dalam cermin. Garis rahangnya terdefinisi, pipinya yang dulu tembam kini lebih ramping, tapi cahaya nakal dan semangat petualang di matanya masih sama. Ruangan menjadi hening sejenak, sunyi yang begitu pekat sehingga seolah-olah konsep suara itu sendiri menghilang dari dunia.

Namun, keheningan itu pecah oleh helaan napas panjang dan dalam dari Lola. Dia menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan, siku bertumpu di meja. Lalu, dengan suara lirih yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri dan mungkin bayangan di cermin, dia bergumam:

"Hah... kira-kira... sudah berapa tahun kami terjebak di dunia ini?" dia memiringkan kepalanya, matanya yang berwarna musim semi itu menatap refleksi dirinya yang penuh pertanyaan. "Kalau dipikir-pikir lagi, aku, Lulu, dan Lala pertama kali datang ke dunia ini saat kami berusia..." dia berhenti, membuka mulutnya seolah menghitung, sambil menatap langit-langit kamar yang dicat dengan motif awan. "... enam tahun? Berarti... kami sudah berada di sini selama kurang lebih sembilan tahun?"

Diam sejenak. Ekspresinya berubah, menjadi lebih kontemplatif. "Walaupun dunia ini... sungguh ajaib dan menyenangkan," dia berhenti sejenak untuk memikirkan beberapa hal, nada suaranya mengandung kerinduan yang samar, "Tapi... benar juga kata Tn. Apel dulu. Dunia asal adalah dunia terbaik."

"Hehe," Lola terkekeh ringan, sebuah senyum kecil yang penuh nostalgia muncul di bibirnya. Tangan kanannya dengan santai membenarkan helaian rambutnya yang berantakan. "Aku jadi teringat... waktu itu..."

.....

Sembilan tahun yang lalu—menurut perhitungan Lola.

"Di balik kenyataan dunia yang berisik, di balik kabut kenyataan dunia yang riuh dan penuh dengan hiruk pikuk, di seberang lautan waktu yang sering kali terasa berat, terselip sebuah negeri yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang masih memiliki mata hati yang jernih. Di sanalah, di bawah langit yang selalu berwarna senja keemasan, tawa tak pernah benar-benar padam. Itu hanya bergulung-gulung seperti ombak lembut, menyapu bukit-bukit hijau dan menyelinap di antara dedaunan yang berbisik.

"Di sana, segala sesuatu hidup dalam harmoni yang ajaib. Buah-buahan di pohon tidak hanya berwarna cerah, tetapi juga dapat berbicara, berbagi kisah manis tentang matahari yang menyirami mereka atau tentang burung yang bersiul di pagi hari. Apel merah akan berbagi lelucon renyah, jeruk kuning akan bercerita tentang petualangannya dari kuncup menjadi buah, dan anggur ungu akan menyanyikan melodi-melodi riang berkelompok.

"Yang lebih ajaib lagi adalah pohon-pohonnya tidak tumbuh dari tanah biasa, melainkan dari cahaya murni. Akar-akarnya adalah jalinan sinar bulan yang dingin dan lembut, batangnya adalah tiang cahaya matahari yang hangat, dan dahan-dahannya merentang seperti aurora yang menari. Daun-daunnya adalah kelap-kelip kunang-kunang yang abadi, menerangi jalan-jalan setapak yang dihiasi kerikil bercahaya.

"Di dunia itu, udara terasa seperti pelukan yang hangat. Sungainya mengalirkan air jernih yang rasanya seperti harapan yang baru lahir. Bebatuan di tepiannya, jika didengar dengan saksama, berdetak berirama seperti hati yang gembira. Bahkan angin yang berhembus pun seolah-olah membawa serta gumaman manis dari kenangan-kenangan indah yang terkumpul dari seluruh penjuru alam semesta.

"Konon, tanah ini adalah impian tersembunyi setiap jiwa---sebuah tempat di mana semua beban menjadi ringan, semua luka menemukan obatnya, dan hati yang keras sekalipun akan luluh menjadi kelembutan. Ini adalah tanah di mana semua orang akan menemukan kebahagiaannya sendiri, di mana tidak ada ruang untuk kesedihan yang lama, karena hanya kebahagiaan murni yang diizinkan untuk tinggal dan berakar.

"Dan siapapun yang berhasil mencapainya, meski hanya dalam mimpi, akan bangun dengan senyum terukir di bibir dan secercah cahaya negeri ajaib itu, bersemayam abadi di dalam kalbu mereka.

"Itulah tanah impian, tempat di mana jiwa-jiwa yang lelah menemukan pelabuhan terakhirnya. Tanah itu bernama... Tanah Kebahagiaan."

Dengan senyuman yang dalam, seorang pria lanjut usia menutup perlahan buku di pangkuannya. Sampulnya usang namun penuh kenangan, bergambar seorang gadis yang sedang mengangkat tangannya ke langit malam, dikelilingi oleh cahaya kunang-kunang yang seolah-olah sedang menari dalam ritual. Sinar-sinar kecil itu seperti biduan-biduan samar dari alam mimpi, menari di antara jari-jari gadis itu, seolah sedang menuliskan puisi tanpa kata di atas kanvas gelap langit.

Pria itu... atau lebih tepat dipanggil dengan penuh kasih, Kakek itu, memandang keluar jendela. Rambutnya telah sepenuhnya memutih, nyaris gundul, meninggalkan mahkota kebijaksanaan yang halus.

Dia sedang bersandar dengan tenang di dinding rumah kecilnya, yang terbuat dari kayu-kayu tua yang mungkin telah bercerita lebih banyak daripada manusia. Di atas pangkuannya yang hangat, terbaring seorang gadis kecil dengan rambut panjang berwarna kuning pucat yang terurai seperti sinar mentari pertama di musim semi. Itu lembut, hangat, dan menjanjikan kehidupan. Warna rambutnya itu seperti dedaunan muda yang baru saja berani mengintip dari ujung ranting, setelah sekian lama tertidur.

Gadis kecil itu telah terlelap, napasnya teratur dan damai. Di balik kelopak matanya yang tertutup, tersembunyi pupil mata berwarna senada dengan rambutnya: hijau muda kekuningan yang jernih, seperti kolam di hutan yang memantulkan cahaya musim semi. Matanya seperti jendela menuju dunia di mana tumbuhan-tumbuhan mulai merangkak keluar setelah terkubur lama oleh salju musim dingin.

Rumah kayu Kakek itu berdiri kokoh di tepi hutan, menyendiri. Tidak ada tetangga di sekitarnya, hanya pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang, rerumputan yang bergoyang mengikuti irama angin, dan langit luas sebagai atapnya. Namun, kesendirian itu bukanlah kesepian. Itu adalah kemewahan yang tak ternilai.

Di sini, Kakek bisa mendengar suara kicauan burung-burung yang saling bersahutan dari dahan ke dahan, bukan deru mesin atau klakson mobil yang memekik kesal karena kemacetan. Sebagai manusia dengan usia lanjut usia, dia hanya menginginkan ketenangan.

Selain itu, ada hal yang tak dapat didengar di kota---suara alam. Di hutan, dia bisa mendengar bisikan angin yang membelai daun, gemericik sungai kecil di kejauhan, dan kadang-kadang, lolongan serigala yang samar dari jantung hutan, semuanya merangkai simfoni alam yang jauh lebih merdu daripada suara apa pun di kota.

Di dalam kesunyian yang hidup itulah, di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, Kakek menatap wajah gadis kecil yang sedang tertidur lelap. Buku dongeng di sampingnya belum selesai dibacakan, dia menghentikannya karena gadis kecil yang menjadi alasannya membaca itu telah terlelap.

"Hehe, selalu manjur," suara gumaman Kakek terdengar serak dan hangat, seperti bunyi gesekan dua batang kayu tua. Suaranya mengisi ruang kecil yang harum bau kayu pinus dan buku-buku lama. "Dengan satu, dua halaman saja, matamu sudah berat, dan dunia mimpi pun menyapamu. Kakek jadi bingung, Nak," Kakek berhenti sejenak saat dia membelai lembut rambut kuning pucat itu dengan tangan-tangannya yang telah dihiasi oleh keriput. "Kau ini manusia sungguhan, atau justru makhluk mimpi yang tersesat ke dunia nyata? Makhluk yang tubuhnya teranyam dari embun pagi dan napasnya adalah angin sepoi-sepoi?"

Gadis kecil itu hanya balas bernapas dalam-dalam, tenggelam dalam alam bawah sadar di mana kisah-kisah dari halaman pertama tadi mungkin menjelma menjadi petualangan yang sepenuhnya miliknya. Senyum Kakek mengembang, penuh kasih dan sedikit rasa kagum pada keajaiban sederhana ini. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah polos sang cucu ke arah jendela kayu yang terbuka.

Di luar, hari telah merangkak maju menuju senja. Langit seolah-olah dicelup ke dalam lelehan emas cair dan madu. Sinar mentari sore yang miring menyapu lantai hutan, itu menyulap pepohonan menjadi siluet-siluet yang megah dan menghidupkan debu-debu di udara menjadi partikel emas yang menari-nari. Ratusan kunang-kunang mulai mengeluarkan cahayanya yang tampak indah mempesona.

Lalu, dari balik semak-semak dan rerumputan, muncullah nyanyian jangkrik. Bunyinya bergetar, bergema, menyebar dari satu titik ke titik lain, sebelum akhirnya itu menyebar ke seluruh hutan, bagai rangkaian lonceng yang tak terlihat. Bagi banyak telinga di kota, suara itu mungkin hanya dianggap sebagai derau, gangguan yang mengganggu keheningan. Tetapi di telinga Kakek, yang telah lama menjadi pendengar setia bumi, bunyi itu adalah musik paling murni.

Dia mendengarkannya dengan mata setengah terpejam, seakan-akan bisa melihat setiap getaran suara itu. "Dengarkan itu," Kakek mengalihkan pandangannya ke arah sang cucu sambil mengelus kepalanya dengan lembut, berbisik kepada gadis kecil yang tertidur, meski tahu dia takkan mendengar. "Suara mereka tulus, Nak. Tak ada pretensi. Mereka tidak berbunyi untuk menyenangkan siapapun, tidak pula untuk berbohong. Mereka hanya menyatakan keberadaan mereka, merayakan hidup, dan memanggil yang lain. Itu adalah nyanyian kebenaran. Itu adalah suara paling jujur."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Bab 13 - Tanah Kebahagiaan

    Ketiga pasang mata mungil itu refleks menutup rapat, disilangi oleh tangan-tangan kecil yang berusaha meredam silau luar biasa dari cahaya warna-warni yang menerpa mereka. Meski kelopak mata telah tertutup, mereka masih bisa merasakan kehadiran cahaya itu-sebuah sensasi hangat dan berdenyut yang meresap ke dalam. Bagaikan berdiri tepat di tengah-tengah pelangi cair yang bergelombang dan berputar, setiap warna-merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu-seolah menyentuh kulit mereka dengan lembut namun penuh kekuatan magis. Kemudian, seiring dengan alunan melodi alam yang semakin jelas terdengar, cahaya pelangi yang menyilaukan itu pun berangsur-angsur mereda, seperti tirai cahaya yang perlahan-lahan dibuka. Dengan hati-hati, Lola, Lulu, dan Lala mulai membuka mata mereka. Mereka mengerjapkan mata beberapa kali, bulu mata mereka yang basah oleh kelembapan ajaib lorong tadi berkedip-kedip. Tangan mungil mereka mengusap-usap mata, berusaha menghapus sisa-sisa kilau warna yang masi

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Kabut Abu-abu

    Lola terdiam sejenak, sebuah keheningan mendadak yang membuat dua penghuni pondok---Lulu, dan Lala---merasa sedikit keheranan. Namun, keheningan itu hanya berlangsung selama dua detik sebelum badai kegembiraan meledak."YEEEEEEY!!!" Lola berteriak dengan suara yang begitu lantang dan penuh sukacita, hingga seolah-olah bisa menggetarkan debu-debu yang baru saja mereka bersihkan. Dia melompat-lompat tinggi di tempat, seperti pegas kecil yang dilepaskan, tangannya mengepal ke atas. "KITA AKAN PERGI KE DUNIA DONGENG! KITA AKAN PERGI KE TANAH KEBAHAGIAAN!"Gelombang suara yang tiba-tiba dan penuh energi itu langsung membuat Lulu dan Lala refleks menutup telinga mereka dengan kedua tangan, menyipitkan mata, dan meringis. Mereka tidak akan pernah bisa terbiasa dengan teriakan Lola saat sedang sangat bersemangat. Rasanya seperti ada lonceng kecil yang berdenting keras tepat di sebelah gendang telinga mereka. "Lola, pelan-pelan!" Lala ingin protes, tapi suaranya tertahan.Adapun Pengawal Priba

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Ketika Apel Berdasi Kupu-Kupu Keluar dari TV dan Namanya Lebih Panjang dari Antrean Es Krim

    Apel itu, yang hanya sedetik lalu masih terjebak dalam dimensi dua dimensi layar kaca, tiba-tiba bergerak dengan lincah, seolah-olah melepaskan diri dari ikatan layar, dan dengan lembut melayang keluar dari bingkai TV, menggantung di udara tepat di hadapan mereka.Lola, Lulu, dan Lala hanya bisa berdiri membeku. Mata mereka membelalak lebar hingga hampir bulat sempurna, mulut mereka terbuka terkagum-kagum. Jika ada nyamuk atau lalat yang kebetulan lewat, pasti akan dengan mudahnya menjadikan mulut mereka yang terbuka lebar itu sebagai rumah baru. Mata mereka bergetar, mengikuti setiap gerakan apel yang melayang itu, seolah-olah mereka sedang menyaksikan bukan sebuah buah, melainkan kupu-kupu langka atau burung surga yang paling aneh.Kaki Lala mulai bergetar tak terkendali. Dengan gerakan pelan dan penuh ketakutan, dia melangkah mundur satu langkah, dua langkah. Lulu, yang biasanya lebih tenang, menyusul dua detik kemudian, langkahnya juga mundur dengan hati-hati. Sementara itu, Lola

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   TV Antik

    "Entah-lah..." Lola menggelengkan kepalanya yang kecil. Matanya yang berwarna musim semi itu tak lepas dari sosok pondok kayu di tengah lapangan, yang seolah-olah bukan hanya sebuah bangunan, melainkan sebuah lentera ajaib yang memancarkan cahaya dan kehangatan sendiri, menerangi pulau hijau yang terisolasi ini.Lulu memandang Lola dengan ekspresi heran yang mendalam. Dia menyipitkan matanya yang berwarna kabut musim dingin, mencoba membaca ketidaktahuan temannya. "Bukankah ini hutan milik Kakekmu?" logikanya bekerja dengan cepat. "Seharusnya, kamu yang paling tahu tentang tempat ini, kan? Kamu pernah ke sini waktu kecil."Lala juga memandang Lola, menunggu jawaban yang bisa memberikan penjelasan atau setidaknya kepastian.Tanpa mengalihkan pandangan dari pondok misterius itu, Lola hanya mengangkat bahunya dengan gerakan kecil. Suaranya terdengar benar-benar bingung. "Lola juga nggak tahu. Waktu kecil dulu ke sini, Lola nggak ingat ada tempat kayak gini..." dia akhirnya menoleh sebent

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Pondok Kayu

    Untuk membuktikan klaimnya yang luar biasa, Lola pun mengajukan sebuah solusi petualangan yang jauh lebih menggoda. "Untuk membuktikan bahwa Lola tidak bohong," matanya berbinar dengan ide yang berbahaya, "Bagaimana kalau kita kejar aja kupu-kupunya? Lola masih ingat persis di mana terakhir lihat dia menghilang!" Meski makhluk itu telah sirna di balik pohon, di benak Lola yang penuh keyakinan, tidak ada yang mustahil. Baginya, dunia adalah taman bermain yang penuh keajaiban yang menunggu untuk ditemukan, dan dadanya akan selalu berapi-api jika ada petualangan yang mengintip.Melihat Lola yang bersemangat membara seperti ini, Lulu teringat pada suatu insiden di masa lalu. Saat itu hujan turun deras, dan orang tuanya telah melarangnya bermain air hujan. Namun, bujukan Lola yang tak tertahankan membuatnya melanggar aturan. Hukumannya? Berdiri di teras rumah dengan satu kaki terangkat selama tiga puluh detik yang terasa seperti tiga puluh tahun. Kenangan itu membuat Lulu lebih berhati-hat

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Kupu-kupu Pelangi

    Sepuluh menit berlalu dalam perjalanan pulang. Akhirnya, mereka kembali tiba di pelataran depan rumah kayu Kakek yang akrab. Ayah dan Ibu, dengan langkah yang kini terasa lebih berat, menaiki tangga kayu yang berderit dan langsung duduk di kursi di teras.Tubuh mereka mengeluarkan keringat halus, entah karena perjalanan pulang-pergi ke makam yang memang membutuhkan tenaga, atau mungkin karena beban emosional dari ziarah tadi. Padahal, udara sore di hutan ini sungguh sejuk dan suhunya nyaris sempurna, namun kelelahan seringkali datang dari tempat yang lebih dalam dari otot. Ayah mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya, lalu membuka kancing kemeja flanelnya yang paling atas satu per satu, membiarkan angin sejuk yang berhembus menyentuh kulitnya, mencari kesejukan.Sementara sang orang tua mencari ketenangan dan istirahat, ketiga malaikat kecil---yang justru tampak seperti telah diisi ulang energinya oleh perjalanan tadi---telah berkumpul di tengah halaman depan rumah. Mereka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status