Short
Pergi Dari Belenggu Cinta

Pergi Dari Belenggu Cinta

By:  YumiCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hari kedua setelah resmi menikah, aku berdiri di bandara sambil memegang dua lembar tiket pesawat, menunggu suamiku, Yoel. Akhirnya dia datang, tapi ada Wenny di belakangnya, sahabat masa kecilnya. “Sayang, Wenny baru putus cinta. Aku mengajaknya ikut biar dia bisa melepas penat.” Ujar Yoel menjelaskan dengan nada hati-hati. Wenny mengenakan gaun pantai yang sama persis denganku, lalu melemparkan senyuman penuh permohonan maaf. “Kak, aku nggak mengganggu kalian, ‘kan? Aku hanya mau ikut biar kecipratan kebahagiaan kalian saja.” Aku melirik tangan Yoel, ada tiket ketiga yang terselip di antara tiket kami. Nomor kusinya 16B. Sementara, kursiku 16A dan Yoel 16C. Yoel sengaja menempatkan Wenny tepat di tengah-tengah kami. Aku berdiri membeku dan amarahku langsung meluap ke kepala. Aku menarik Yoel ke samping dan berkata pelan, “Suruh dia pergi atau aku yang pergi.” Wajah Yoel tampak serba salah dan agak pasrah, dia menjawab, “Sayang, bisa nggak agak pengertian?” “Wenny bilang dia takut sendirian di rumah, makanya mau ikut biar suasana kita juga lebih ramai.” “Lagipula, aku dan dia sudah kenal sejak kecil. Pergi liburan bersama juga nggak masalah….” Aku langsung memotongnya, “Kalau kamu nggak suruh dia pergi sekarang, kita cerai hari ini juga.”

View More

Chapter 1

Bab 1

Yoel mengulurkan tangan hendak merangkulku, tapi aku langsung menghindar.

“Jangan ngambek hanya gara-gara masalah sepele gini, ya?”

Nada bicaranya jadi melunak, mencoba membujukku.

Aku diam saja, hanya menatapnya dengan dingin.

Dia tak tahan ditatap seperti itu olehku, lalu menghela napas,

“Ya sudah, aku bakal bilang ke dia, suruh dia pergi.”

Dia mengangkat kedua tangan, memberi tanda menyerah.

“Istriku paling penting, puas?”

Usai bicara, dia pun berbalik berjalan mendekati Wenny dan berbicara dengan suara yang pelan.

Seketika itu juga, bahu Wenny langsung tampak lemas.

Dia mendongak dan matanya langsung berkaca-kaca.

“Kak Yoel, Kak Susan nggak suka denganku, ya?”

“Aku ada salah? Aku hanya lagi sedih karena baru putus, mau kecipratan kebahagiaan kalian saja.”

Sambil bicara, dia melirik ke arahku dengan tatapan tersakiti, lalu kembali menatap Yoel sambil memegang lehernya.

“Kak Yoel, aku tahu Kak Susan pasti salah paham dengan kita.”

“Tapi bukannya kamu sudah jelasin ke dia? Masa dia masih nggak percaya denganmu?”

Ekspresi itu lagi.

Kata-kata sok polos itu lagi.

Kepalaku bahkan sampai berdengung.

Dua bulan lalu, saat Wenny menyeret dua koper besar dan muncul di depan rumah baru kami, ekspresinya juga persis seperti ini.

Waktu itu, Yoel merangkulku sambil menatapnya dengan tatapan penuh rasa kasihan.

“Sayang, Wenny baru saja putus dan diusir sama pemilik kontrakan. Dia kasihan sendirian di kota ini.”

“Biarkan dia tinggal di sini dulu sebentar, nanti setelah dia dapat kerja dan tempat tinggal baru, dia bakal langsung pindah.”

Namun, hasilnya? Sejak pindah masuk, Wenny tak pernah sekali pun menyinggung soal pindah rumah.

Lalu, setengah bulan sebelum kami resmi menikah, saat pesta lepas lajang.

Di depan semua orang, Wenny menatap Yoel dengan mata berkaca-kaca.

“Aku iri sekali dengan Kak Susan, bisa menikah dengan orang sebaik Kak Yoel.”

“Perlakuan mantan pacarku dulu bahkan nggak sebaik Kak Yoel padaku.”

Teman-teman mulai menggoda, menyuruh Wenny dan Yoel bersulang.

Yoel sempat ragu.

Namun, Wenny malah langsung menggandeng lengannya.

“Ayo Kak Yoel, anggap saja ini ucapan selamatku padamu.”

Yoel pun bersulang dengannya.

Saat foto bersama, Wenny bahkan terang-terangan menyenggolku, lalu wajahnya tampak sangat dekat dengan pipi Yoel.

Malam itu menjadi pertengkaran paling besar selama kami berhubungan.

“Yoel, kamu punya batasan nggak, sih?”

“Sayang, jangan asal mikir, kami hanya bercanda. Kami memang sudah begitu sejak kecil.”

Aku gemetar sangking marahnya.

Kami pun perang dingin selama seminggu.

Aku bahkan sudah mengemas koper, siap untuk mengakhiri hubungan ini.

Namun, malam sebelum kami menikah, Yoel memelukku dan meminta maaf.

“Sayang, aku salah. Aku janji bakal jaga jarak dengan Wenny ke depannya.”

“Aku janji, ini yang terakhir kalinya.”

Melihat matanya yang merah, aku pun percaya.

Namun sekarang, di lobi bandara ini, janjinya terasa seperti lelucon.

Tatapannya ke Wenny tampak penuh dengan rasa iba.

Dan rasa iba itu bukan untukku.

Yoel berjalan ke arahku dengan wajah yang tampak sangat lelah.

“Sayang, lihat Wenny menangis dengan begitu sedih, bagaimana kalau….”

Tak menunggu dia selesai bicara, aku langsung berbalik pergi.

“Kalau begitu, aku yang pergi. Kalian saja yang pergi bulan madu.”
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status