LOGINHari kedua setelah resmi menikah, aku berdiri di bandara sambil memegang dua lembar tiket pesawat, menunggu suamiku, Yoel. Akhirnya dia datang, tapi ada Wenny di belakangnya, sahabat masa kecilnya. “Sayang, Wenny baru putus cinta. Aku mengajaknya ikut biar dia bisa melepas penat.” Ujar Yoel menjelaskan dengan nada hati-hati. Wenny mengenakan gaun pantai yang sama persis denganku, lalu melemparkan senyuman penuh permohonan maaf. “Kak, aku nggak mengganggu kalian, ‘kan? Aku hanya mau ikut biar kecipratan kebahagiaan kalian saja.” Aku melirik tangan Yoel, ada tiket ketiga yang terselip di antara tiket kami. Nomor kusinya 16B. Sementara, kursiku 16A dan Yoel 16C. Yoel sengaja menempatkan Wenny tepat di tengah-tengah kami. Aku berdiri membeku dan amarahku langsung meluap ke kepala. Aku menarik Yoel ke samping dan berkata pelan, “Suruh dia pergi atau aku yang pergi.” Wajah Yoel tampak serba salah dan agak pasrah, dia menjawab, “Sayang, bisa nggak agak pengertian?” “Wenny bilang dia takut sendirian di rumah, makanya mau ikut biar suasana kita juga lebih ramai.” “Lagipula, aku dan dia sudah kenal sejak kecil. Pergi liburan bersama juga nggak masalah….” Aku langsung memotongnya, “Kalau kamu nggak suruh dia pergi sekarang, kita cerai hari ini juga.”
View MoreYoel dan Wenny serentak menghentikan aksi mereka, lalu terbengong menatapku.Di mata Yoel, sempat terbersit secercah harapan.Sementara itu, Wenny reflek menciut ke belakang.Aku mengeluarkan ponsel ke arah mereka dan mulai merekam video.“Jangan berhenti, dong.”Ujarku pelan.“Lanjutkan saja, aku belum puas menontonnya.”Mereka berdua mematung di tempat.“Bukannya katamu Kak Yoel itu yang terbaik? Kok sekarang malah main tangan?”“Kok kamu tega memukul Adik Wen?”“Yoel, jadi begini cara kamu melindunginya?”Setiap kalimatku menusuk tepat di titik paling menyakitkan bagi mereka.Mereka saling pandang, tapi hanya tersisa rasa benci yang mendalam di mata mereka sekarang.Setelah merekamnya, aku membagikan video itu ke sahabatku.[Wanita jalang dan pria bajingan lagi berantem di pinggir jalan, selamat menonton.]Setelah itu, aku menginjak pedal gas.Aku tak menoleh ke arah mereka lagi.Setengah bulan kemudian, pengacaraku meneleponku.“Pihak Ferry sudah membayar ganti rugi, uangnya sudah
Baru saja masuk ke rumah, telepon dari sahabatku langsung masuk.“Beb! Cepat cek berita viral, si Wenny mau lompat dari gedung.”Aku membuka instagram dan ternyata benar.Wenny yang masih memakai baju pasien, berdiri di pinggir atap gedung dan menangis tersedu-sedu di depan kamera.“Aku hanya mencintai orang yang salah, kok kalian terus menggangguku?”“Kalau kematian bisa membuatmu puas, aku rela melakukannya.”Kolom komentar langsung penuh dengan orang sok suci yang menyerangku.Tepat saat itu, telepon dari Yoel masuk.Aku mengangkatnya dan langsung menekan tombol rekam.“Susan, cepat ke rumah sakit! Suruh si Wenny gila itu turun!”Bentaknya dengan panik.“Kalau dia benaran mati dan arwahnya gentayangan menggangguku, gimana?”Aku menjawab datar, “Apa urusannya denganku?”Setelah menutup telepon, aku mengirim rekaman itu secara anonim ke seorang jurnalis yang sedang melakukan siaran langsung di lokasi.Tak sampai lima menit, suara lantang jurnalis itu menyebarkan rekaman tersebut ke se
Begitu bukti-bukti itu terunggah, ponselku bergetar hebat.Aku pun langsung memblokir Yoel dan semua temannya.Pesan suara dari sahabatku masuk, sangking semangatnya, suaranya sampai gemetar.“Beb! Keren sekali! Teman-teman di media sosial bilang postinganmu itu buku panduan untuk menangkis pelakor paling ampuh.”Aku mematikan ponsel dan tertidur selama belasan jam di pesawat.Begitu mendarat dan menyalakan ponsel, banyak pesan yang langsung menyerbu masuk.Wenny mulai beraksi lagi.Dia mengunggah foto tangan yang sedang diinfus di rumah sakit, dengan keterangan, [Ini semua salahku. Kumohon jangan salahkan Kak Yoel.]Kolom komentar langsung penuh dengan hujatan yang menyebutku kejam karena sudah memaksa orang sampai mau bunuh diri.Sahabatku panik, [Pelakor ini benar-benar jago akting, sialan!]Tanpa banyak bicara, aku mengirimkan video yang sudah kusiapkan sebelumnya pada sahabatku.Video saat dia berbisik di telinga Ferry sambil mengataiku sok suci.Lengkap dengan video kualitas tin
Aku menunjuk ke arah lantai di depanku.“Kalau begitu, berlutut dan sujud tiga kali di hadapanku, baru aku pertimbangkan untuk memaafkanmu.”Seketika, wajah Wenny langsung membeku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya.Yoel pun meledak amarahnya, “Kamu jangan keterlaluan!”“Aku keterlaluan?”Aku mengangkat ponselku dan menekan tombol play.Sebuah rekaman suara terdengar dengan sangat jelas.“Lihat mukanya yang menyebalkan itu, sok suci sekali.”“Hari ini, aku mau dia tahu siapa yang sebenarnya pantas berdiri di samping Kak Yoel.”Suasana bar memang bising, tapi aku cukup cerdik untuk merekamnya diam-diam.Aku menatap Yoel yang tampak terkejut.“Dengar nggak?”“Ini adik kesayanganmu, si Wen.”“Sekarang, bawa Adik Wen ini keluar dari kamarku dan pergi.”Aku berjalan mendekat, melemparkan kopernya langsung keluar pintu hingga pakaiannya berceceran di lantai.Lalu, aku mengambil ponsel dan memesan tiket pesawat untuk pulang.Kemudian, aku mengirimkan pesan singkat pada pengacaraku.[Si
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.