Share

Mawar Merah Sang CEO
Mawar Merah Sang CEO
Author: Hanna Aisha

Prolog

Author: Hanna Aisha
last update Last Updated: 2022-06-16 22:05:25

"Berapa harganya?" Seorang pria paruh baya berambut klimis bertanya kepada wanita yang berdiri di sampingku.

"Tujuh juta dolar, Tuan. Dia baru di sini. Masih segel," jawab wanita yang harus kupanggil Mami itu.

Pria tambun dengan jas yang terlihat tak mampu menutupi perut buncitnya itu memindaiku dari atas ke bawah. Matanya menyipit, seperti sedang menilai kelayakanku. Setelah menimbang beberapa saat, dia berujar.

"Baiklah, aku ingin dia malam ini." Kemudian, pria itu berlalu meninggalkanku dan Mami di sini.

Setelah kepergiannya, Mami menepuk bahuku dan berkata dengan penuh penekanan, "Rose, layani Tuan Rob dengan baik. Dia pelanggan tetap Mami."

Aku mengangguk ragu, meski dalam hati bertanya, bagaimana caranya melayani yang baik?

Mami mengajakku ke sebuah ruangan tempat para gadis sepertiku bersiap sebelum mulai bekerja. 

Aku mendudukkan diri di kursi depan meja rias, lalu tangan lentik Mami mulai menunjukkan keahliannya merias wajah. Eye shadow smokey eyes dan lipstik merah terang menghiasi wajahku setengah jam kemudian. Mami berdecak kagum, mungkin bangga melihat hasil kerjanya. Setelah menyuruhku mengganti baju dengan dress merah selutut yang bagian bahunya terbuka, Mami mengantarku ke tempat di mana laki-laki tadi menunggu.

Kami turun ke lantai satu, tempat manusia-manusia yang ingin menghilangkan penat berkumpul jadi satu. Mereka berjejal-jejalan di dance floor, melenggak-lenggok serempak menggerakkan tubuh mengikuti irama musik layaknya cacing dalam bejana. 

Beberapa orang terlihat duduk di sofa-sofa yang disediakan di sudut-sudut ruangan. Ada yang meracau tak jelas sembari mencekik leher botol, ada pula yang asik bercumbu dengan kekasihnya, atau selingkuhan—atau mungkin seseorang yang baru mereka temui malam ini? Entahlah.

Beberapa orang lebih memilih duduk di depan meja bar, bercengkrama dengan bartender sembari menikmati minuman di gelas masing-masing. Semua suara bercampur menjadi satu, memekakkan telinga. Lampu sorot redup warna-warni yang berkelap-kelip membuat kepalaku terasa pening.

Aku bahkan belum menginjakkan kaki di lantai satu, tapi melihat penampakan tempat itu dari balkon lantai dua saja sudah membuat kepalaku nyut-nyutan. Bagaimana jika aku sampai ke sana? Apa aku akan pingsan?

"Rose," tegur Mami saat melihatku mematung.

Aku menelan ludah. Lalu, dengan perlahan mengayunkan kaki mengikuti Mami yang telah terlebih dahulu menuruni satu-satu anak tangga.

Langkahku terseok, sementara jemariku mencengkeram erat railing tangga besi yang menjadi tumpuan tangan. Sepatu heels merah yang kupakai menjadi alasan mengapa aku kesusahan berjalan —selain degup jantung yang berpacu terlalu kencang, tentu saja.

"Rose, bergegaslah. Jangan buat tamu pertamamu menunggu lama!" tegas Mami. 

Aku terkesiap, lantas berusaha sebisa mungkin mempercepat langkah. Meski harus sesekali terpincang karena sepatu yang kugunakan, namun pada akhirnya aku sampai di bawah dengan selamat.

Sekali lagi, aku harus berhadapan dengan pria buncit di depanku ini. Kini, matanya tidak lagi memicing, tetapi justru melotot. Kurasa sebentar lagi kedua bola mata itu akan melompat keluar dari tempurungnya. Seringai di bibirnya yang hitam menambah kesan menyeramkan laki-laki itu di mataku.

"Polesanmu memang tidak pernah gagal." Pria itu mencolek dagu Mami. Aku bergidik melihatnya.

Anehnya, Mami justru tersipu malu. "Silakan, Tuan. Rose sudah siap."

Tuan Rob mengangguk setuju, dia merangkul bahuku. "Ayo, cantik."

"Ke mana?" tanyaku sembari menahan langkah.

Dia terlihat menautkan alis. "Aku tidak suka bermain di sini. Kita ke hotel langgananku saja." Dia melanjutkan langkah, tetapi detik berikutnya kembali berbalik. "Oh, iya, aku mengeluarkan biaya yang tidak murah untuk memesanmu. Jadi, kuharap pelayanan yang kau berikan juga sebanding dengan itu."

Tuan Rob kembali merangkul bahuku dan mengajakku keluar. Namun, belum sampai tiga langkah, seseorang telah terlebih dahulu menahan kami.

"Tunggu!" Suara serak dari laki-laki itu mengalahkan dentuman musik. Kami menoleh.

Dalam keremangan lampu disko, tubuh tegapnya terlihat mendekat ke arahku. Tangannya bergerak membuka kancing jas yang dia kenakan. Rahang kokoh yang membingkai wajahnya begitu tegas, memancarkan aura menyeramkan, sekaligus mempesona di waktu bersamaan.

Pria itu menghentikan langkah tepat di depanku. Tatapannya beradu pandang dengan manik kecoklatan milikku, membuat pipiku terasa menghangat. Aku menunduk demi menyembunyikan rona wajah, yang belum tentu bisa dia lihat.

"Aku ingin dia," ucapnya tanpa basa-basi. Membuatku mendongak.

"T-tapi ... dia sudah dipesan Tuan Rob." Mami mendekat dan berusaha menjelaskan.

"Berapa Anda membelinya?" tanya lelaki itu pada Tuan Rob.

"Tujuh juta dolar."

Lelaki tampan dengan bulu-bulu halus menghiasi rahangnya itu terlihat mengangguk-angguk. "Kalau begitu, aku akan membelinya darimu 10 juta."

"Tidak. Aku tidak butuh uangmu. Aku hanya butuh dia untuk menemaniku malam ini." Tuan Rob menoleh ke arahku sambil menyeringai, sekali lagi aku bergidik.

"Ma'am, aku akan membayarnya 10 juta, jadi serahkan dia padaku." Lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah Mami.

Mami terlihat berpikir. Aku tahu, baginya uang sebanyak itu pasti terasa sayang untuk dilewatkan.

"Kalau begitu, aku akan menambahkan transferanku menjadi 12 juta." Tuan Rob tak mau kalah.

"Aku akan membelinya 15 juta."

"Dariku 17 juta."

Lelaki di depanku menghela napas. "Penawaran terakhir, 50 juta dolar. Deal?" tanya lelaki tampan itu kepada Mami. Sedangkan, di sebelahku, Tuan Rob mematung.

"Bagaimana, Tuan? Apa kau mau menaikkan harganya lagi?" tanya Mami memecah keheningan di antara kami.

Tuan Rob melirikku sekilas. "Membuang uang 50 juta hanya untuk wanita ini, kurasa bukanlah keputusan yang bijak." Dia mendorongku pelan ke depan, ke arah lelaki yang sedari tadi tak berhenti menatapku. "Silakan ambil. Aku bisa cari wanita lain."

Tuan Rob melenggang pergi setelah mengatakan itu, sementara lelaki yang kini berdiri di sampingku tersenyum senang, merasa menang. Mami mengejar Tuan Rob yang keluar dari tempat ini sembari menghentakkan kaki, meninggalkan aku dan lelaki di sampingku, berdua.

Setelah bayangan Tuan Rob dan Mami menghilang di balik pintu kaca besar tempat mereka keluar, lelaki yang berdiri di sampingku menoleh. Dia membungkukkan badan, membuat wajahnya sejajar dengan wajahku, kemudian menarik kedua sudut bibir.

"Long time no see."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 26

    “Apa maksudmu?”Pertanyaanku terdengar lebih pelan dari yang kurencanakan. Mungkin karena di ruangan ini, segala sesuatu terasa harus dibisikkan. Bahkan kebenaran.Darren tidak langsung menjawab. Tangannya yang masih menggenggam tanganku sedikit mengencang, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar.“Bill bukan sekadar kakek,” katanya akhirnya. “Dan bukan sekadar kepala keluarga.”Aku menahan napas.“Dia adalah sistem.”Aku menatap jauh ke dalam kedua manik hazel Darren, mencoba memahami kata itu. Sistem? Aku tidak mengerti. Semua ini terlalu besar. Terlalu abstrak. Terlalu… jauh dari kehidupan normal yang kukenal.“Dan kau?” tanyaku. “Kau apa di dalam sistem itu?”Darren menarik napas panjang. Matanya menatap ke arah jendela kamar rawat, ke gelap malam di luar sana.“Aku bagian darinya.”Dadaku mencelos.“Bukan sebagai korban,” lanjutnya pelan. “Tapi sebagai roda.”Aku merasa kata itu menghantam lebih keras daripada pengakuan apa pun.“Roda?” ulangku. “Roda untuk apa?”“Untuk m

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 25

    Darren tidak seharusnya berada di sini. Itu kesadaran pertama yang muncul ketika pintu lift privat terbuka di lantai tertinggi gedung administrasi pusat—lantai yang bahkan para direktur tidak memiliki akses tanpa pemindaian ganda.Namun, sistem membiarkannya masuk. Bukan karena ia masih berhak. Melainkan karena ia belum sepenuhnya dihapus.Lorong itu sunyi, lampu putih memantul di lantai marmer hitam seperti permukaan danau beku. Setiap langkahnya terasa salah. Setiap bunyi sepatu di lantai terdengar terlalu keras, seperti pengakuan bahwa dia masih ada, bahwa dia belum mati seperti yang telah direncanakan.Zach berdiri di ujung lorong. Tidak berubah banyak. Rambutnya masih hitam rapi, posturnya masih setegak biasanya, jas gelapnya masih tanpa cela. Tapi matanya…Matanya tidak lagi menyimpan kepongahan. Matanya menyimpan beban.“Kalau kamera aktif, kau sudah mati sebelum pintu lift terbuka,” kata Zach tanpa basa-basi.Darren berhenti dua langkah darinya.“Kalau kamera aktif, kau tidak

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 24

    Darren menggenggam tangan wanita di hadapannya. Hangatnya terasa kontras dengan dinginnya ruangan dan dinginnya kata-kata yang baru saja dia ucapkan.“Kendali Bill?” ulang Naomi pelan dengan dahi berkerut. Lelaki itu mengangguk. Tatapannya bergeser ke langit-langit, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak kasat mata. “Aku seharusnya tidak pernah membawamu masuk sejauh ini,” ucapnya lirih. “Tapi sekarang, semuanya sudah terlanjur. Dan terlalu terlambat untukku menyesal.”“Apa maksudmu?” Darren menoleh kembali pada wanita yang sedang memandangnya dengan raut tanya yang kentara. Matanya menatap tajam, tapi bukan tajam yang mengancam, melainkan tajam yang penuh keputusan.“Bill tahu aku akan pergi."Tubuh Naomi seketika menegang. “Pergi?! Kau akan pergi ke mana?”“Pergi darinya. Pergi dari dunia gelap itu.” Darren menarik napas panjang. “Dan Bill tidak pernah membiarkan sesuatu pergi darinya dalam keadaan utuh.”***Ruangan itu terlalu putih untuk menjadi saksi sesuatu yang sehitam in

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 23

    Satu minggu berlalu dan sama sekali tidak ada kabar tentang kondisi Darren. Aku bahkan sudah hampir gila karena setiap hari yang kulakukan hanya duduk termenung sambil menatap layar ponsel, menunggu panggilan dari Zach. Aku sudah berusaha berulang kali mengirim pesan dan juga telepon, tetapi tak ada satu pun yang direspon. Entah karena lelaki itu sedang sibuk, atau Bill yang melarangnya untuk memberi kabar kepadaku tentang kondisi Darren. Para bodyguard yang ditempatkan di sekitar rumah semakin banyak, membuatku tidak punya jalan untuk menyelinap keluar barang sesaat. Padahal aku hanya ingin ke rumah sakit untuk menjenguk Darren dan melihat kondisinya, tidak lebih. Aku juga berkali-kali bertanya kepada Bibi Marry maupun Katty tentang kondisi Darren saat ini, siapa tau ada salah satu pengawal Darren yang memberinya kabar. Namun, jawaban mereka selalu sama; kita tunggu kabar dari Zach. Argh! Rasanya aku hampir gila! Aku mengacak rambut frustasi lalu melemparkan ponsel ke atas ranjan

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 22

    Suara sirene ambulans meraung membelah jalanan malam. Aku duduk di bangku belakang, tepat di samping tubuh Darren yang sedang tak sadarkan diri, sementara perawat sedang berusaha menghentikan pendarahan di bagian kepala Darren. Tubuhnya terbaring penuh luka, masker oksigen menutupi hidung dan mulut, selang infus telah terpasang di punggung tangan, sementara di dadanya ditempeli alat semacam kabel yang terhubung ke monitor EKG. Aku menggenggam tangannya sembari bibir sibuk merapal doa-doa. Setelah perjalanan yang terasa sangat lama bagiku, mobil akhirnya sampai di depan rumah sakit. Beberapa perawat segera membawa brankar tempat Darren terbaring menuju UGD. Aku mengikuti di belakang dengan setengah berlari. Setibanya di dalam ruang UGD, para perawat dan dokter segera melakukan tindakan medis. Aku melihat dari luar pintu kaca yang transparan, keadaan di dalam begitu kacau, sama kacaunya dengan perasaanku saat ini. Perasaan yang bahkan tak kumengerti, perasaan yang tak mampu kuartikan.

  • Mawar Merah Sang CEO   Bab 21

    "Untuk sementara tinggalah dulu di sini. Tempat ini jauh dari kota, Darren tidak akan mudah untuk menemukanmu—yah setidaknya dalam beberapa hari," ucap Zach saat meletakkan tas ranselku di meja. Perlahan aku melangkah masuk ke dalam kamar, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan sederhana bernuansa putih dan cokelat tua, dengan satu ranjang queen size yang diapit dua nakas kayu di kiri dan kanan, satu buah televisi layar datar di dinding, satu buah lemari, dan satu kamar mandi lengkap dengan toiletriesnya. Kamar ini juga memiliki balkon yang mengarah pada bagian belakang hotel, sehingga aku bisa menikmati pemandangan pohon-pohon rindang di sana. Well, kurasa kamar ini lebih dari cukup sebagai tempat persembunyianku sementara, menjauh dari Darren dan orang-orangnya. "Terima kasih, Zach. Maafkan aku karena telah menempatkanmu dalam masalah besar. Apa kau baik-baik saja nanti? Aku takut Darren akan melakukan sesuatu padamu." Aku menggigit bibir. Merasa tidak enak kepada Zach yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status