LOGINMikaela perlahan menoleh. “Main apa?” Suaranya kecil dan serak. Namun sudah cukup untuk membuat Aveline langsung menarik kursi dan duduk di tepi ranjang seolah mereka sudah berteman sejak lama. “Tebak-tebakan!” jawab Aveline antusias. Aveline memang tidak pernah butuh waktu lama untuk membuat seseorang nyaman di dekatnya. Tebak-tebakan berganti menjadi permainan menghitung benda-benda di ruangan. Beberapa menit berlalu, mereka sudah beralih ke permainan sederhana dengan jari-jari tangan yang tidak memerlukan banyak gerakan. Mikaela mulai mau merespons, dan tersenyum meski hanya setipis kertas. Lalu, di tengah satu permainan yang entah aturannya sudah berubah berapa kali, Mikaela tiba-tiba berhenti. “Aku lapar.” Kedua mata Nicolle membola senang. Nicolle menoleh ke perawat di sampingnya dan mengangguk singkat. Perawat itu membalas anggukannya dan segera pergi, langsung memahami bahwa yang harus dia lakukan saat itu adalah memberikan makanan pada Mikaela. Aveline memandangi
“Mikaela?!” panggil Nicolle tidak percaya.Gadis kecil itu berbaring dengan mata terpejam dan wajah pucat. Rambut hitamnya tergerai berantakan di atas bantal, dan di tangannya masih ada bekas tanah.“Dokter?” Olivia menoleh cepat. “Anda kenal pasien ini?”“Ya,” jawab Nicolle cepat. “Ini Mikaela.”Tidak salah lagi, gadis kecil di hadapannya adalah Mikaela. Anak perempuan yang pernah Nicolle temui di desa Sektor Timur dan memberikannya bunga.Anak perempuan polos yang menganggap seorang dokter sebagai malaikat. Kini dia terbaring kaku dengan kaki yang nyaris tidak bisa dikenali bentuknya.Nicolle mengepalkan tangannya di dalam sarung tangan, lalu melangkah maju.“Tekanan darah?” tanya Nicolle cepat.“Turun. Kita harus segera bertindak,” jawab Olivia.“Siapkan ruang operasi sekarang,” perintah Nicolle tanpa menoleh. “Kita tidak punya waktu.”Nicolle sudah mulai memeriksa luka Mikaela dengan cekatan. Darah masih merembes dan serpihan kecil tertanam di jaringan kulit.“Mikaela,” panggil Ni
Mobil berhenti, dan Nicolle sudah membuka pintu bahkan sebelum Brandon sempat mematikan mesin.“Aveline!” panggil Nicolle begitu kakinya menyentuh paving halaman depan. Dia menoleh ke arah Vance yang turun dengan langkah jauh lebih santai. “Ayo, Pa. Cepat!”Vance mendengkus. “Kamu tiba-tiba bersemangat sekali?”Nicolle tidak menjawab. Dia sudah menarik tangan Vance menuju pintu depan.“Mamaaa!” Aveline muncul dari balik pintu, rambutnya sedikit berantakan.Wajah Aveline langsung berbinar begitu melihat Nicolle. Dia berhenti mendadak saat matanya jatuh pada sosok tinggi di samping Nicolle.Nicolle tersenyum lebar. “Sini, Sayang. Ini–”“Aku tahu!” potong Aveline cepat, menunjuk Vance dengan penuh keyakinan polos. “Ini Kakek Tentala!”Vance membeku sepersekian detik. Lalu, tanpa bisa ditahan tawanya pecah.“Ten-ta-ra,” koreksi Nicolle pelan.Aveline menggeleng keras. “Tentala!”Vance kemb
Dua hari cukup untuk membangun keberanian, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan rasa gugup.Nicolle berdiri di pinggir jalan, beberapa meter di luar gerbang markas. Mobil hitam itu sudah menunggunya dengan mesin menyala.Brandon ada di belakang kemudi, dan bayangan sosok tegak di kursi belakang yang bisa Nicolle kenali bahkan lewat kaca yang sedikit buram.Nicolle menarik napas panjang, lalu membuka pintu.“Kenapa kamu tidak langsung naik dari dalam?” tanya Vance begitu Nicolle duduk di sebelahnya.Pintu tertutup.“Karena ada yang akan bertanya-tanya jika melihat Dokter Nicolle naik ke mobil Jenderal Vance,” jawab Nicolle datar sambil merapikan sabuk pengamannya. “Papa seperti tidak tahu saja kalau markas ini pasti penuh mata-mata, apalagi Papa adalah target empuk untuk mereka.”Vance tidak merespons. Namun dari sudut mata, Nicolle melihat pria paruh baya itu memalingkan wajah ke jendela.Brandon menjalankan m
Ketegangan semakin mencekam begitu Nicolle meninggalkan ruangan. Vance tidak membuang waktu. “Apa seperti ini Jenderal Viktor mendidik Mayor Raiden?” tanya Vance sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Apa Mayor lupa etika dalam kemiliteran?” Raiden tidak menjawab. “Jika ingin bicara dengan seseorang yang pangkatnya berada di atas Mayor, seharusnya Mayor membuat janji dari jauh-jauh hari,” lanjut Vance. Raiden berdiri tegak di hadapan Vance. Tinggi badan mereka hampir sama, jadi tidak ada yang perlu mendongak, atau pun menunduk. “Saya ingin bicara dengan Jenderal Vance sebagai seorang menantu,” sahut Raiden. Vance memelotot. “Apa Mayor bilang?" “Menantu,” jawab Raiden tanpa ragu mengulang ucapannya. “Walaupun Naomi sudah meninggal dunia, saya tidak pernah bercerai dengannya, Jenderal.” “Jadi Jenderal Vance masih ayah mertua saya,” tambah Raiden. Vance tertawa terbahak-bahak, persis seperti Nicolle, ketika mendengar sesuatu yang benar-benar menggelikan. Tidak p
“Dokter Nicolle,” panggil Raiden lirih.Di belakang Raiden, Brandon yang ditugaskan untuk mencegah siapa pun masuk ke ruangan, membungkuk dalam.“Jenderal, maaf. Saya lalai.”Vance mengibaskan tangan, memberi kode supaya Brandon mundur tanpa perlu mengatakan apa pun.Brandon menurut. Dia segera melangkah menjauh, kembali berjaga di depan pintu.Nicolle sudah lebih dulu memalingkan wajahnya. Wanita itu mengusap sisa air mata dengan punggung tangan, memastikan Raiden tidak melihat itu.Namun sudah terlambat. Raiden melihatnya.“Ada apa ini?” tanya Raiden pelan.Nicolle tidak langsung menjawab. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan.Seberapa banyak yang didengar Raiden? Apa pria itu mendengar namanya disebut sebagai Naomi? Atau ada lebih banyak rahasia yang Raiden dengar?Belum sempat Nicolle merangkai jawaban, suara lain memotong.







