/ Romansa / Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku / 103. Simbiosis Mutualisme

공유

103. Simbiosis Mutualisme

작가: prasidafai
last update 게시일: 2026-05-05 18:01:22

“Mikaela?!” panggil Nicolle tidak percaya.

Gadis kecil itu berbaring dengan mata terpejam dan wajah pucat. Rambut hitamnya tergerai berantakan di atas bantal, dan di tangannya masih ada bekas tanah.

“Dokter?” Olivia menoleh cepat. “Anda kenal pasien ini?”

“Ya,” jawab Nicolle cepat. “Ini Mikaela.”

Tidak salah lagi, gadis kecil di hadapannya adalah Mikaela. Anak perempuan yang pernah Nicolle temui di desa Sektor Timur dan memberikannya bunga.

Anak perempuan polos yang menganggap seorang dokter se
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
betapa menggemaskannya, Ave and Mika
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   215. Tukang Ngambek

    “Tante ....”Suara Naomi nyaris tidak terdengar.Melihat wanita yang selama bertahun-tahun selalu tampak tegar kini menangis tanpa mampu mengendalikan diri, dada Naomi terasa sesak.Tanpa berpikir panjang, Naomi bangkit dari kursinya. Dia perlaahan memeluk Tasya.Pelukan itu membuat Tasya sesaat membeku. Detik berikutnya, seluruh pertahanan wanita paruh baya itu runtuh.“Maaf ... maaf ....” Isaknya pecah semakin keras.Tasya membalas pelukan Naomi sambil menangis tanpa suara. Bahunya bergetar hebat. Air mata terus mengalir hingga membasahi bahu dan dada pakaian Naomi.Naomi hanya mengusap pelan punggung wanita paruh baya itu.Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kadang, tangisan adalah cara terbaik untuk mengeluarkan semua penyesalan yang terlalu lama dipendam.Naomi memejamkan mata.Selama ini Naomi selalu berpikir bahwa orang-orang yang menyakitinya harus menerima balasan dari tanga

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   214. Dihukum

    Naomi perlahan meletakkan sendoknya.“Papa hanya ingin Raiden fokus pada kasus,” ucap Naomi tenang. “Dan supaya Raiden bisa fokus, tentu Papa harus melindungi orang-orang yang Raiden sayang.”Tasya mengangguk pelan.Senyum tipis muncul di bibir wanita paruh baya itu, tetapi matanya masih menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.“Ya,” balas Tasya lirih. “Untuk itu saya sangat berterima kasih. Namun tetap saja, sepertinya sebanyak apa pun kami meminta maaf dan berterima kasih, itu tetap tidak akan setimpal dengan apa yang terjadi pada Naomi.”Naomi hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa canggung.Bagaimanapun juga, orang yang sedang meminta maaf kepadanya tidak tahu bahwa Naomi yang dibicarakan sedang duduk tepat di depannya.Keheningan kembali memenuhi meja makan.“Kenapa saya merasa Tante seperti orang yang berbeda dibanding saat hari pemakaman Lucy, bahkan dibanding saat kita bertemu di rumah sakit

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   213. Seperti Putri Sendiri

    Pisau di tangan Tasya berhenti tepat di tengah potongan wortel. Bahu Tasya sedikit menegang. Mata yang tadi tenang kini tampak berkaca-kaca.Tasya berbalik menatap Naomi sambil tersenyum. Senyum yang begitu tulus hingga membuat Naomi sedikit kehilangan kata-kata.“Tidak perlu,” jawab Tasya lembut. “Kecuali kamu mau istirahat, silakan pakai kamar depan.”Naomi berkedip. Reaksi itu sama sekali tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.Kalau ini terjadi sembilan tahun lalu, Tasya mungkin sudah menyerahkan sapu, pel, lap meja, dan daftar pekerjaan rumah lain sebelum Naomi sempat duduk.Namun sekarang? Wanita paruh baya itu justru mempersilahkannya beristirahat.“Kenapa kami diperlakukan berbeda?”Pertanyaan itu keluar begitu saja.Tasya terdiam.Sementara Naomi menggenggam sandaran kursi. Sebenarnya bukan itu yang ingin dia tanyakan.Yang ingin Naomi ketahui adalah kenapa Tasya berubah? Kenapa wanita

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   212. Menjadi Tamu

    “Dokter Nicolle mengenalnya?” Bisikan itu muncul tepat di belakang telinga Naomi.“Ah!” Naomi tersentak keras. Jantung Naomi seperti melonjak ke tenggorokan. Secara refleks dia melompat menjauh sambil memegangi dada.Beberapa langkah darinya, Tasya berdiri dengan wajah penuh penyesalan.“Maaf.” Wanita paruh baya itu mengangkat kedua tangannya. “Saya tidak bermaksud membuat Dokter kaget.”Naomi mengembuskan napas panjang. Dadanya masih naik turun akibat kejutan mendadak itu.“Tidak apa-apa,” jawab Naomi setelah napasnya kembali normal.Naomi melihat Tasya membawa sebuket bunga mawar putih segar. Tampaknya wanita paruh baya itu hendak mengunjungi makam Lucy.Pandangan Naomi kembali mengarah ke makam Lucy.Dante masih berada di sana.Pria itu berdiri membelakangi mereka. Bahunya sesekali bergetar. Entah sedang menangis atau tenggelam dalam pikirannya sendiri. Yang jelas, dia sama sekali tidak men

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   211. Sebelum Hari Kematian

    Senyum mengejek Viktor tidak langsung menghilang.Pria itu bersandar santai di kursinya, seolah posisi sebagai narapidana yang menunggu hukuman mati tidak mengubah apa pun.Namun Naomi tetap tenang.“Tidak,” jawab Naomi pelan. “Ada hal lain yang ingin saya ketahui.”Viktor mendengkus.“Kamu pikir saya akan memberitahumu?” tanya Viktor sinis. “Apa pun yang ingin kamu ketahui itu, Naomi Frances?”Nada suaranya dipenuhi ejekan, seolah nama keluarga Frances adalah sesuatu yang menjijikkan.Naomi memejamkan mata sesaat. Wanita itu menarik napas panjang.Dia datang bukan untuk bertengkar. Apalagi membiarkan Viktor mengendalikan emosinya.Saat membuka mata kembali, Naomi langsung menatap pria itu.“Soal Lucy,” ucap Naomi. “Apa benar bukan Anda yang melakukannya?”Tatapan Viktor spontan menajam. Senyum mengejek di bibirnya perlahan memudar.“Seperti hasil persidangan.” Viktor akhirnya

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   210. Dua Anak Berbakat

    Gideon berdeham pelan sambil menatap satu per satu orang yang masih berada di halaman belakang. Semua mata tertuju kepadanya, menunggu apa pun yang akan keluar dari mulutnya.Semua orang, kecuali Vance. Karena hanya mereka berdua yang selama ini mengetahui cerita itu.Gideon akhirnya menoleh pada bawahan paling setianya itu.“Bagaimana, Vance?” tanya Gideon pelan. “Ini cerita tentang kedua putrimu. Saya akan menghormati keputusanmu sebagai ayah mereka.”Seketika seluruh perhatian beralih kepada Vance.Pria itu diam cukup lama. Lalu mendengkus.“Rencananya, cerita ini tidak akan disembunyikan selama ini,” ucap Vance akhirnya. “Perasaan bersalah saya pada Naomi begitu besar. Sampai-sampai saya takut menceritakan kondisi kesehatan adiknya.”Vance menatap putrinya.Jantung Naomi berdegup lebih cepat.“Sekitar 28 tahun lalu,” lanjut Vance pelan, “saat Naomi berusia tiga tahun, Nicolle yang baru berusia satu

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   45. Paman Jahat!

    Aveline mengangguk pelan. Wajah gadis kecil itu penuh rasa bersalah. Alis kecil Aveline bertaut dan bibirnya gemetar menahan isak tangis yang belum selesai. “Aku bilang dia jahat, tapi dia dolong aku,” jawab Aveline terputus-putus. “Telus aku ambil lego, aku tidak sengaja sek

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   44. Anak Haram

    Lampu lalu lintas di persimpangan jalan menyala merah. Nicolle terlambat menyadari, setengah detik sebelum akhirnya kakinya menginjak rem dengan cukup keras untuk membuat tubuhnya terdorong ke depan. Dari belakang, klakson panjang langsung menyalak.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   43. Bukan Kabar yang Ingin Nicolle Dengar

    “Ada renovasi kecil dan Tuan Dante ikut membantu para tukang bangunan.” Olivia tersenyum lebar, matanya berbinar. “Pertunjukan pagi hari yang bagus, Dokter Nicolle harus melihatnya. Ayo!” “Nanti, Olivia, aku harus–” Sebelum Nicolle sempat menolak, tangan Olivia sudah

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   42. Raiden Tertembak

    “Apa?!” Nicolle tidak bisa menahan diri untuk tidak memekik. Nicolle langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Meski terlambat, karena reaksi spontan tanpa filter itu sudah terdengar. Sama sekali tidak mencerminkan seorang dokter yang menerima laporan kondisi

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status