Masuk“Ahh … kamu mengagetkanku saja!” Dian mengelus dadanya.“Maaf, aku sudah membuatmu terkejut. Sebenarnya Mbah Damar menyuruhku untuk tidak langsung masuk ke dalam.”Sekar diam-diam memperhatikan penampilan Dian yang terasa berbeda. Dari aura dan wajahnya, jelas dia jadi lebih cantik dari sebelumnya.Tapi bagaimana bisa seperti itu? Apa mungkin ini karena susuk yang dimasukkan tadi?“Ehm, jadi sedari tadi kamu nunggu di depan pintu?” tanya Dian.“Nggak dari tadi juga sih. Aku baru aja kok. Soalnya dari tadi aku ada urusan di luar. Terus saat Mbah keluar, aku masuk dan dia bilang jangan masuk ke kamar gitu aja.”Sekar sengaja mendekat ke samping Dian untuk melihat wajahnya lebih dekat.“Mbah bilang kamu dari tadi kesakitan karena pemasangan susuk, ya? Emang sesakit itu?”Mendengar ucapan Sekar membuat Dian langsung mengingat kejadian, di mana Damar yang menghujam keperkasaan menusuk lubang miliknya dengan sangat da
Tangan Damar kembali mengeluarkan batang miliknya, lalu mengarahkannya sampai ke bibir lubang Dian.Di sana Damar menggesekkan batangnya yang sudah terasa panas itu di atas permukaan lubang Dian yang licin dan basah.“Ngghh … ahh, ahh, pelan dikit. Rasanya milikku akan robek, tahu!”Jari telunjuk Damar diarahkan di depan mulutnya.“Shuut …! Aku bahkan belum masuk semua ke dalam, kamu sudah merengek seperti ini.”Hanya karena gesekan saja Dian sudah merasa sangat kewalahan. Benda milik Damar terasa panas saat menggesek miliknya, terasa ada cairan yang keluar juga di ujungnya.“Haa … ahh, ngghh!”Kedua kaki Dian bergerak semakin melebar. Miliknya seolah meminta bagian lubang miliknya segera dihujam.“Mbah, aku tidak tahan jika seperti ini!”“Katanya kamu tidak mau cepat-cepat. Sekarang aku melakukannya dengan pelan, tapi kamu malah tidak tahan!”Kedua tangan Damar menahan di ranjang tepat di
Saat jarum itu baru saja masuk, seketika itu juga pengaruh dari kekuatan susuk membuat bagian intim milik Dian perlahan jadi mengecil tanpa dirasanya.“Apa sudah masuk?” tanya Dian.Ia segera mengubah posisinya jadi duduk, wajahnya menunduk dengan tatapan yang melihat ke arah bawahnya.Tangan Dian segera menyentuh permukaan bagian intim miliknya. Jarinya mencoba untuk mengecek apa yang berubah.Permukaan kulit bagian intimnya terasa berbeda. Apalagi saat tangannya masuk menyentuh bagian dalam.Hanya dengan satu jari saja yang masuk ke dalam, Dian sudah terengah-engah. Sebab, rasanya terasa berbeda sekali.“Uhh … satu jari saja susah dimasukkan!”Damar yang melihat itu hanya tersenyum, sambil terus menatap dengan saksama ketika Dian memasukkan jari ke dalam bagian intimnya.Sambil terus mengamati efek dari susuk yang dibuatnya.Bagian intimnya terasa sangat sempit sehingga satu jari saja sudah
Setiap kali Damar menghisap dadanya, bagian bawah tubuh Dian terasa berkedut-kedut. Damar merasa puas setelah menghisap dada Dian, sehingga ia pun melepaskan mulutnya. Ia melihat dada besar itu menjadi semakin bengkak dan ada bekas gigitannya di bagian ujung. Namun, dalam hati Damar merasa sangat puas dengan apa yang sudah dilakukannya. Ujung mata Damar terlihat menyipit, dengan sudut bibir yang melengkung. “Benar-benar wanita binal!” Tangan Damar mulai menyeka bagian mulutnya yang terlihat basah karena air liur. “Aku rasa saatnya bagian lainnya juga harus segera kita masukkan susuk ke dalamnya.” Arah mata Damar menatap langsung pada wajah Dian. Ia siap menunggu pemasangan susuk selanjutnya. “Jadi, di mana kamu ingin aku memasangnya lagi?” “Itu … di bagian sini!” Tangan Dian mulai melepaskan celana dalamnya yang basah, terlihat lengket
Wajah Dian mengangguk, kemudian pandangannya melihat ke bawah. Ia melihat tangan Damar mulai memasukkan jarum ke dalam dengan perlahan. Akan tetapi, rasanya tidak sesakit saat dimasukkan ke wajah tadi. Dian tidak tahu mengapa, tapi rasanya hanya berfokus pada rasa remasan tangan Damar tadi. “Apa tidak sakit?” tanya Damar. “Tidak, rasanya tidak sesakit saat tadi dimasukin ke area wajah.” Dian melihat tangan Damar yang sedang memasukkan kembali susuk ke dada yang satunya. Namun, anehnya Dian merasa meskipun tangan Damar memang terlihat keriput dan dia merupakan orang tua. Tapi Dian tetap merasa sangat nikmat akan sentuhan itu. Apa mungkin karena usianya, dia jadi lebih berpengalaman? Diam-diam Dian menatap wajah pria tua di hadapannya. Namun, ia merasakan getaran perasaan yang aneh. Jantungnya berdegup kencang dan juga pandangannya tidak bisa lepas dari tangan Damar yang sedang mem
“Baiklah, kita bisa atur itu.” Memasang susuk bukanlah hal yang susah baginya. Itu sangat mudah, jadi Damar segera melambaikan tangannya pada Sekar yang baru saja datang setelah mengantar Sari pulang. Saat melihat ke arah pondok, Sekar segera berjalan cepat ke sana karena dipanggil Damar. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar saat menapaki lantai kayu di dalam pondok. “Haah … ada apa, Mbah?” tanya Sekar. “Ini, aku ingin kamu menyiapkan sebuah kamar di dalam. Aku akan memasangkan susuk pada pelanggan kita.” Hanya dengan melemparkan pandangan ke arah Dian, Sekar sudah tahu pada siapa susuk itu akan diberikan. “Ya, aku akan segera menyiapkannya, jadi mohon tunggu sebentar.” Sementara Sekar menyiapkan kamar yang sering digunakan untuk keperluan ritual, ia juga menyuruh Dian menunggu di ruang tamu dalam rumahnya. Sementara Damar menyelesaikan sisa pertemuannya dengan pelanggan lain yang datang menemuinya. Sampai satu jam berlalu … Damar baru saja selesai bertemu den







