LOGINSekar mengeluarkan baju Hoodie berwarna hitam lalu celana panjang berwarna cream.
“Pakai ini? Apa ini baju yang mereka pakai juga? Wah … mainya sangat lembut dan hangat.” Tangan Damar menyentuh permukaan kain.“Bagus kan?” tanya Sekar sambil membanggakan diri karena itu adalah baju pilihannya. “Cobalah pakai aku akan berdiri di sini. Mbah bisa berganti pakaian di balik pohon itu.”“Hmm .. baiklah akan aku pakai!” Damar segera membawa pakaian itu menuju ke belakang“Boleh saja, kalau begitu bantu aku untuk mengemasi semua ini ke dalam wadah tanah liat.”Damar langsung menuju ke beberapa barang-barang yang sudah dibeli oleh Sekar untuk segera dimasukkan ke dalam wadah tanah liat yang berbentuk piring kecil. “Oke, tidak masalah aku bisa melakukannya dengan cepat.”Tentu saja karena Wurip merupakan seorang roh yang cukup memiliki kekuatan spiritual yang tinggi. Dalam hitungan detik semua barang-barang itu sudah masuk ke dalam piring kecil dengan porsi masing-masing sudah ditakarnya. Tidak lebih tidak kurang semua isinya memiliki jumlah yang sama. Wurip hanya perlu menjentikan jarinya maka semua barang-barang itu sudah tertata rapi.“Kita apakan barang-barang ini? Maksudnya apa mau disimpan di sini atau di dalam rumah saja?” tanya Wurip.Damar menjawab pelan, “Ehm, aku rasa di sini saja. Agar barang-barangnya lebih mudah untuk dibawa ke tempat ritual.”“Jadi itu sebabnya ka
“Ck, dasar! Ini benar-benar sebuah penghinaan.”“Bukankah kamu lebih dulu yang meludah ke sembarang tempat? Itulah mengapa sekarang kamu sendiri mendapatkan hal yang wajah dan pembalasan setimpal.”Yang dikatakan Damar itu benar adanya, tetapi Sumar hanya tidak mau mengakui kalau dirinya bersalah.Akan tetapi, ia masih ingin tetap sembuh agar mulutnya bisa tidak lagi membengkak seperti saat ini.“Baiklah, aku akan mengambilnya.”“Jadi cepat berikan air itu padaku sekarang juga!”Damar oun menyerahkan air yang sudah dijampi-jampi itu pada Sumar. “Minum, tiga kali sehari selama satu kali tegukan. Setelah itu kamu akan sembuh.”“Ingat untuk meminum itu setiap hari agar bengkak itu menghilang.”“Harus sampai habis!”Mendengar itu Sumar sampai mengernyitkan dahinya. Dadanya terlihat kembang kempis menahan emosi yang meluap. Tapi demi kesembuhan dirinya sendiri mau tidak mau Sumar harus mengamb
Tepat seperti yang dikatakan oleh Damar sebelumnya kalau orang yang meludahi kolam ular itu pasti akan datang kembali.Setelah dua hari lamanya pria itu akhirnya datang ke sini lagi dengan terburu-buru. Ia bahkan menyerobot antrian pengunjung yang sedang menunggu giliran masing-masing.Sumar adalah supir dari Ajeng, dia adalah pria yang sempat meludah ke dalam kolam dua hari yang lalu.Saat berdiri di dekat pendopo Sumar melihat ke arah Damar yang sedang membacakan mantra untuk pelanggannya.“Haah, bagaimana bisa dukun palsu itu memiliki lebih banyak pelanggan daripada Nyai?” Ucapan Sumar terdengar tidak jelas karena mulutnya yang bengkak.“Maaf permisi, Pak!” Sekar menghampiri Sumar yang sedang berdiri dekat di pendopo.“Apa!”Pria itu menoleh dan menatap Sekar dengan tatapan tajam. “Bapak tidak boleh berada di sini. Kalau mau antri silahkan di sebelah sana!” Tunjuk Seka
Ajeng tidak bisa berkata ataupun asal menuduh pada Sekar saat ini. Karena apa yang dikatakan oleh gadis itu sebelumnya. Ternyata benar apa adanya tidak ada yang dia sembunyikan sama sekali.“Jadi bagaimana? Apa Nyai sudah menemukannya?”Pertanyaan Sekar membuat Ajeng melihat ke arahnya.“Tidak, ada apa-apa. Aku juga tidak merasakan kekuatan yang sama seperti yang ada di benda milikkku.” Hal itu membuat Ajeng sangat heran.Bagaimana bisa hal itu terjadi? Saat ini dia bahkan tidak bisa membuktikan kalau Sekar benar-benar menerima ajaran. Namun, setelah mengecek dengan ilmu penerawangannya.Ajeng sama sekali tidak menemukan bekas kekuatan yang sama seperti di benda yang dibawanya.Lantas jika bukan Sekar lalu siapa lagi? Kemudian tatapan Ajeng melihat ke arah Damar yang masih duduk di samping Sekar.Matanya menyipit saat melihat ke arah Damar.Mungkinkah?Dalam hati Ajeng mencoba m
Ini pasti hanya akal-akalan yang dibuat oleh Sekar saja sehingga banyak yang datang ke sini untuk berkonsultasi pada sang dukun.“Nyai Ajeng, silakan masuk!”Ajeng sangat lama menatap ke arah Damar. Ia sempat merasa terkejut karena pria di hadapannya ini bisa mengetahui namanya.Padahal ia belum sempat memberitahukan siapa namanya.“Ternyata kamu yang mereka sebut sebagai dukun itu!”“Yang anda katakan itu benar,” jawab Damar.Ajeng berusaha menggunakan penglihatan penerawangnya ke arah Damar.Namun sebaliknya kekuatan penerawangannya tidak bisa melihat apa-apa. Sehingga itu membuat Ajeng langsung mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa? Di balik pakaian panjang dan lengan panjang yang dipakai oleh Ajeng. Ia diam-diam mengepalkan tangannya untuk menahan rasa penasarannya. Panjang mulai bertanya-tanya siapakah sesungguhnya pria yang ada di hadapannya ini? Hal itu membuatnya sempat ter
“Kalau begitu apa bisa secepatnya?” “Itu bisa saja. Tapi kita perlu bulan purnama jadi karena beberapa hari ini bulan purnama belum muncul. Jadi ritualnya tidak bisa diadakan.“Kalau begitu kapan bulan purnama akan muncul?”Kedua tangannya sampai mengepal, wanita cantik berambut panjang bergelombang itu bernama Aluna Maheswari.“Seminggu lagi adalah waktu munculnya bulan purnama. Mungkin akan muncul pada hari Rabu Minggu depan.”“Seminggu lagi itu berarti aku harus datang ke sini hari Rabu?”Damar menjawab, “Ya, kamu harus datang pada hari itu.” “Baiklah, kalau gitu saya akan datang pada hari itu.”“Untuk saat ini, jadi saya akan pulang dulu.”Selesai berpamitan Aluna Maheswari akhirnya pergi meninggalkan tempat Damar.“Eh, Mbak!” Panggil Sekar saat melihat Aluna yang baru saja keluar dari tempat Damar.“Jadi apa yang dikatakan oleh Mbah Damar?”“Ritualnya tidak







