LOGINIni pasti hanya akal-akalan yang dibuat oleh Sekar saja sehingga banyak yang datang ke sini untuk berkonsultasi pada sang dukun.
“Nyai Ajeng, silakan masuk!”Ajeng sangat lama menatap ke arah Damar. Ia sempat merasa terkejut karena pria di hadapannya ini bisa mengetahui namanya.Padahal ia belum sempat memberitahukan siapa namanya.“Ternyata kamu yang mereka sebut sebagai dukun itu!”“Yang anda katakan itu benar,” jawab Damar.Ajeng berusaTepat seperti yang dikatakan oleh Damar sebelumnya kalau orang yang meludahi kolam ular itu pasti akan datang kembali.Setelah dua hari lamanya pria itu akhirnya datang ke sini lagi dengan terburu-buru. Ia bahkan menyerobot antrian pengunjung yang sedang menunggu giliran masing-masing.Sumar adalah supir dari Ajeng, dia adalah pria yang sempat meludah ke dalam kolam dua hari yang lalu.Saat berdiri di dekat pendopo Sumar melihat ke arah Damar yang sedang membacakan mantra untuk pelanggannya.“Haah, bagaimana bisa dukun palsu itu memiliki lebih banyak pelanggan daripada Nyai?” Ucapan Sumar terdengar tidak jelas karena mulutnya yang bengkak.“Maaf permisi, Pak!” Sekar menghampiri Sumar yang sedang berdiri dekat di pendopo.“Apa!”Pria itu menoleh dan menatap Sekar dengan tatapan tajam. “Bapak tidak boleh berada di sini. Kalau mau antri silahkan di sebelah sana!” Tunjuk Seka
Ajeng tidak bisa berkata ataupun asal menuduh pada Sekar saat ini. Karena apa yang dikatakan oleh gadis itu sebelumnya. Ternyata benar apa adanya tidak ada yang dia sembunyikan sama sekali.“Jadi bagaimana? Apa Nyai sudah menemukannya?”Pertanyaan Sekar membuat Ajeng melihat ke arahnya.“Tidak, ada apa-apa. Aku juga tidak merasakan kekuatan yang sama seperti yang ada di benda milikkku.” Hal itu membuat Ajeng sangat heran.Bagaimana bisa hal itu terjadi? Saat ini dia bahkan tidak bisa membuktikan kalau Sekar benar-benar menerima ajaran. Namun, setelah mengecek dengan ilmu penerawangannya.Ajeng sama sekali tidak menemukan bekas kekuatan yang sama seperti di benda yang dibawanya.Lantas jika bukan Sekar lalu siapa lagi? Kemudian tatapan Ajeng melihat ke arah Damar yang masih duduk di samping Sekar.Matanya menyipit saat melihat ke arah Damar.Mungkinkah?Dalam hati Ajeng mencoba m
Ini pasti hanya akal-akalan yang dibuat oleh Sekar saja sehingga banyak yang datang ke sini untuk berkonsultasi pada sang dukun.“Nyai Ajeng, silakan masuk!”Ajeng sangat lama menatap ke arah Damar. Ia sempat merasa terkejut karena pria di hadapannya ini bisa mengetahui namanya.Padahal ia belum sempat memberitahukan siapa namanya.“Ternyata kamu yang mereka sebut sebagai dukun itu!”“Yang anda katakan itu benar,” jawab Damar.Ajeng berusaha menggunakan penglihatan penerawangnya ke arah Damar.Namun sebaliknya kekuatan penerawangannya tidak bisa melihat apa-apa. Sehingga itu membuat Ajeng langsung mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa? Di balik pakaian panjang dan lengan panjang yang dipakai oleh Ajeng. Ia diam-diam mengepalkan tangannya untuk menahan rasa penasarannya. Panjang mulai bertanya-tanya siapakah sesungguhnya pria yang ada di hadapannya ini? Hal itu membuatnya sempat ter
“Kalau begitu apa bisa secepatnya?” “Itu bisa saja. Tapi kita perlu bulan purnama jadi karena beberapa hari ini bulan purnama belum muncul. Jadi ritualnya tidak bisa diadakan.“Kalau begitu kapan bulan purnama akan muncul?”Kedua tangannya sampai mengepal, wanita cantik berambut panjang bergelombang itu bernama Aluna Maheswari.“Seminggu lagi adalah waktu munculnya bulan purnama. Mungkin akan muncul pada hari Rabu Minggu depan.”“Seminggu lagi itu berarti aku harus datang ke sini hari Rabu?”Damar menjawab, “Ya, kamu harus datang pada hari itu.” “Baiklah, kalau gitu saya akan datang pada hari itu.”“Untuk saat ini, jadi saya akan pulang dulu.”Selesai berpamitan Aluna Maheswari akhirnya pergi meninggalkan tempat Damar.“Eh, Mbak!” Panggil Sekar saat melihat Aluna yang baru saja keluar dari tempat Damar.“Jadi apa yang dikatakan oleh Mbah Damar?”“Ritualnya tidak
Perkataan Ajeng membuat pelayannya jadi mengangguk. Ia mulai berpikiran yang sama seperti yang dipikirkan oleh Ajeng saat ini.“Lalu apa yang akan Nyai lakukan?” Pelayan itu tampak sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh tuannya. “Sugang, sepertinya aku akan meninggalkan lembah ini untuk sebentar.”“Mungkinkah, Nyai akan pergi ke Desa Pandesari sekarang?”Sugang berdiri mendekat ke arah Ajeng.“Kalau begitu bawa aku juga!”“Tidak, jika kamu pergi siapa yang akan menjaga lembah ini?” Mendengar itu Sugang jadi terdiam. Tidak bisa membantah, karen dirinya tidak berani memprotes pada Ajeng. “Kalau begitu aku akan menyiapkan supir untuk mengantar Nyai ke sana sekarang juga.”“Yah, persiapkan semuanya.”—Sementara itu di tempat lain, Damar berjalan kembali ke rumahnya dan saat ini mereka sedang melewati hutan. Terik matahari menyinari di sela-sela ce
“Huh, ini?” tanya Sekar.Damar memasukkan ujung baju ke mulut Sekar. “Gigit!”Sekar mendengarkan apa yang dikatakan oleh Damar, sehingga ia menggigit ujung bajunya sendiri hingga bajunya tersingkap ke atas.Memperlihatkan bagian perut hingga dadanya yang sedang memakai bra. “Ughh … nggh!” Tubuh Sekar jadi gemetar saat Damar Barus aja membuka bra yang menahan dadanya.Mulutnya menghisap salah satu buah dada Sekar, dengan satu tangannya yang lain ia meremas sisi yang lainnya.“Ukhh … hnggh, hhaah!”Pandangan wajah Sekar menunduk, melihat wajah Damar yang sedang menghisap miliknya.Saat mata Damar melihat ke arah wajah Sekar yang sedang terengah-engah menahan erangannya karena mulutnya harus menggigit ujung bajunya.“Hnggh Mbah!”Tak tahan Sekar akhirnya membuka mulutnya hingga bajunya melorot ke bawah.Damar langsung melepaskan mulutnya dari dada Sekar. Ia







