LOGIN“Entahlah, kamu sih nggak bangun dari tadi. Tapi sekarang apa kamu sudah puas? Bukankan ini yang kamu inginkan?” Damar mengeluarkan batang miliknya dari dalam lubang.
Sehingga cairan spermanya keluar menetes ke kasur. Sprei sudah berantakan dan bahkan darah perawan Sekar masih ada di sana.“Awhh, apa punyaku berdarah semalam? Pantas saja sekarang rasanya ada perih-perihnya. Aku akan mandi dulu sebentar Mbah, tunggu di sini sebentar.”“Sekar apa kamu tidak merasa jijWajah Dian mengangguk, kemudian pandangannya melihat ke bawah. Ia melihat tangan Damar mulai memasukkan jarum ke dalam dengan perlahan. Akan tetapi, rasanya tidak sesakit saat dimasukkan ke wajah tadi. Dian tidak tahu mengapa, tapi rasanya hanya berfokus pada rasa remasan tangan Damar tadi. “Apa tidak sakit?” tanya Damar. “Tidak, rasanya tidak sesakit saat tadi dimasukin ke area wajah.” Dian melihat tangan Damar yang sedang memasukkan kembali susuk ke dada yang satunya. Namun, anehnya Dian merasa meskipun tangan Damar memang terlihat keriput dan dia merupakan orang tua. Tapi Dian tetap merasa sangat nikmat akan sentuhan itu. Apa mungkin karena usianya, dia jadi lebih berpengalaman? Diam-diam Dian menatap wajah pria tua di hadapannya. Namun, ia merasakan getaran perasaan yang aneh. Jantungnya berdegup kencang dan juga pandangannya tidak bisa lepas dari tangan Damar yang sedang mem
“Baiklah, kita bisa atur itu.” Memasang susuk bukanlah hal yang susah baginya. Itu sangat mudah, jadi Damar segera melambaikan tangannya pada Sekar yang baru saja datang setelah mengantar Sari pulang. Saat melihat ke arah pondok, Sekar segera berjalan cepat ke sana karena dipanggil Damar. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar saat menapaki lantai kayu di dalam pondok. “Haah … ada apa, Mbah?” tanya Sekar. “Ini, aku ingin kamu menyiapkan sebuah kamar di dalam. Aku akan memasangkan susuk pada pelanggan kita.” Hanya dengan melemparkan pandangan ke arah Dian, Sekar sudah tahu pada siapa susuk itu akan diberikan. “Ya, aku akan segera menyiapkannya, jadi mohon tunggu sebentar.” Sementara Sekar menyiapkan kamar yang sering digunakan untuk keperluan ritual, ia juga menyuruh Dian menunggu di ruang tamu dalam rumahnya. Sementara Damar menyelesaikan sisa pertemuannya dengan pelanggan lain yang datang menemuinya. Sampai satu jam berlalu … Damar baru saja selesai bertemu den
“Eh, Mbah Wurip! Bikin kaget aja deh!” Sekar yang duduk sambil menyaksikan ritual yang dilakukan Damar dari sana. Sekarang ia bersama dengan Wurip sambil menyaksikan roh halus itu yang berdesakan di dalam pondok.“Tapi Mbah, kenapa ada di sini? Bukannya tadi berada di samping Mbah Damar?”“Ya kan, kamu lihat itu di sana udah full. Kalau aku juga ada di sana apa bedanya sama mereka?”“Mbah, bisa aja. Ya beda lah! Eh, tapi iya juga ya. Kalian kan sama-sama roh!”Mendengar itu Wurip sempat tersenyum pelan lalu sampai bersandar ke sandaran bangku kayu.“Karena itu Aku ini tidak mau berasa di sana. Meski aku berbeda tapi tetap saja kami sama-sama hanyalah roh saja.” “Tapi Mbah bisa nyandar tuh!” Jari telunjuk Sekar langsung menunjuk.“Ah, ini sih. Suka-suka aku aja kan kamu tahu aku ini roh yang spesial. Mungkin karena aku ini orang baik.” Wurip langsung tertawa pelan.“Mbah Wurip ini d
Dari zamar dulu karena ajaran keluarga dukun mereka sangatlah susah untuk dipelajari. Tidak ada satupun yang berhasil diterima sebagai murid. Akan tetapi, kakeknya pernah mengatakan kalau ada satu orang yang berhasil. Bahkan karena kecerdasannya dalam menguasai ilmu perdukunan dia hampir mengimbangi kekuatan yang dimiliki oleh gurunya. Dan saat Sekar bertanya siapa orangnya sang kakek menunjuk ke arah Damar yang sedang tertidur. Sekar yang memiliki mata indra keenam tentu saja langsung melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Ia melihat semua fisik Damar yang menua tetapi roh yang dimilikinya masih sangat muda. Seorang pria tampan yang tidak memiliki kesadaran karena rohnya saat itu juga ikut terkunci oleh kutukan. Mulai saat itulah Sekar selalu datang ke tempat Damar dan membersihkan rumah dan semua yang ada di sana. Meskipun tempat itu tidak lagi layak huni tapi Sekar selalu members
Damar melihat langit yang mulai gelap tentu saja ia paham dengan ucapan Sari, waktu yang dimaksud adalah hari yang yang sudah mulai gelap.“Aku akan memberikan hikmat untuk sementara padamu. Tapi ini hanya bisa dipakai sekali saja, jadi akan bertahan sampai pagi.”“Setelah itu besok gali benda yang aku maksud lalu segera bawa ke sini tanpa menunda-nunda.”Damar mengambil jimat yang penangkal ilmu hitam yang sudah dibuatnya. Dia memang sering membuat beberapa jimat untuk diberikan pada pelanggannya. Itu sebabnya Damar memiliki beberapa stok jimat yang sudah dibuatnya, dengan berbagai macam fungsi penangkal tergantung keinginan pelanggan.Dengan mengeluarkan jimat lalu memberikannya pada Sari.“Ini sebaiknya diikatkan di pinggang agar tidak lepas. Aku akan menyuruh Sekar untuk membantumu memakaikan ini di pinggangmu.” Damar kemudian melihat Sekar yang baru saja datang membawakan garam kasar seperti yang disuruhnya tadi.
Wajah Sari jadi terlibat memelas. Namun, Damar tidak bisa bersikap lunak hanya karena itu saja. “Jika kamu tidak mau tidak masalah. Tetapi jika guna-guna itu tidak dihilangkan maka bisa membuatmu jadi gila atau mati.” Mendengar itu membuat tubuh Sari semakin gemetar. Ia akhirnya mau memberikan kalung itu sebagai bentuk bayaran pada Damar. “Kalau begitu aku akan memberikan kalung ini sebagai pembayaran. Jadi Mbah Dukun akan memutuskan guna-guna itu, kan?” Dengan senang hati Damar pun meraih kalung emas yang diserahkan oleh Sari. “Ya, tentu saja. Aku pasti akan membantumu untuk melepaskannya.” Sekar yang melihat itu tidak tahan lagi ingin menyela, “Mbak, apa mungkin kalung itu diberikan oleh pria yang akan menikahi Mbak Sari?” “Itu benar, dia memberikannya sebagai hadiah padaku. Sebenarnya sebulan yang lalu mas Santo melamarku, tapi aku sempat menolaknya karena dia sudah punya istri.” “Lalu apa mungkin dia berhasil membujuk Mbak? Lalu kalian akan menikah tanpa persetujuan dari i







