LOGIN“Hah, itu ….” Laras sampai terperangah mendengar usulan Sekar yang di luar pemikirannya. Namun, itu bukan ide yang buruk.
“Tidak, aku ini pria dan kalian wanita jadi sebaiknya aku di luar saja. Sudah sana masuk jangan pakai ide anehmu itu!” Damar langsung menolak ia bahkan kembali berdiri lalu mendorong masuk kedua wanita itu. “Sudah sana masuk saja!” Pintu dengan cepat ditutup oleh Damar agar mereka tidak keluar lagi. Di dalam Sekar melihat tempat tidur di sana tidak ada bantal, ia baru menyadari kalau ternyata di sana tidak ada bantal ataupun selimut hanya ada sarung tua saja. “Tidak ada bantal?” tanya Laras lalu menoleh ke arah Sekar. “Katanya kamu asistennya tapi bantal saja nggak kamu urus?” “Cih, aku mana tahu apa-apa tentang tempat tidur pria?!” Sekar yang tersinggung langsung meninggikan suaranya. “Kenapa kamu jadi marah kan yang aku katakan itu benar,” balas Laras. Di luar hujan sangat lebat sekali Sekar berpikir jika ia bertengkar dengan Laras itu akan semakin membuat mereka canggung jadi ia memilih untuk mengalah saja untuk saat ini. “Aku tidak marah, baiklah besok akan aku bawakan bantal.” “Tapi malam ini kita tidak pakai bantal.” Laras membuka baju kardigan yang dipakainya lalu melipatnya untuk dijadikan alas kepala. Di ranjang Sekar juga lebih dulu berbaring. “Ya mau bagaimana lagi!” Mereka tidur dengan posisi saling membelakangi satu sama lain dan mulai tidak saling bicara lagi, Sekar mulai merasa kesal lagi karena ucapan Laras barusan hingga akhirnya mereka berdua terlelap. Hujan di malam ini tidak juga reda sampai hari mulai subuh barulah hujan mulai agak mereda. Damar yang terbiasa bangun lebih awal sekarang baru saja membuka matanya melihat ke atap rumah tua yang tidak memiliki plafon. Namun, ia merasakan tubuhnya terasa berat terutama di kedua lengannya seolah ada yang menindihnya bukan hanya itu bagian kakinya juga terasa berat. Saat menoleh ke kiri dan kanan ternyata Laras dan Sekar sedang tidur di sampingnya mereka sama-sama meringkuk kedinginan dengan berantakan lengan Damar. “Ah, pantas saja terasa sangat berat ternyata mereka berdua rupanya!” gumam Damar. Sedangkan hari yang semakin pagi membuat Damar merasa kalau tubuhnya akan kembali berubah menjadi tua lagi jadi dengan cepat ia menggerakkan kedua tangannya. Namun malah membangunkan Sekar dan Laras. Ketika Damar beranjak dan mulai duduk ia pun bertanya, “Coba jelaskan kenapa kalian tidur di luar?” Mendengar itu Sekar langsung menjawab, “Mbah! Maaf semalam kami datang ke sini karena terbangun di tengah malam. Habis itu Laras takut karena suara guntur lalu ia pergi keluar karena aku sendirian di dalam jadi aku juga ikut ke sini!” “Yang dikatakan Sekar itu benar,” ucap Laras membenarkan ucapan Sekar. Damar pun tidak bisa berkata apa-apa lagi ia hanya menghela nafasnya sambil menggelengkan kepala. Detik berikutnya cahaya matahari menyinari bumi membuat Bayu melihat keluar jendela. Saat cahaya sinar matahari masuk ke dalam rumah di saat yang sama Damar pun mulai berubah menjadi tua. Berawal dari kakinya mengeriput hingga naik perlahan ke badan, tangan, leher, lalu wajah serta rambutnya memutih. Hal itu disaksikan langsung oleh Laras dan Sekar yang sama-sama baru saja melihat kejadian itu. “Haah … benar-benar berubah!” Laras terkejut ia segera menutup mulutnya dengan tangan. “Aku juga baru lihat,” ucap Sekar. “Tapi Mbah setiap pagi selalu berubah seperti ini ternyata.” Damar mengangguk. “Ya, ini akan terjadi terus menerus sampai kutukannya menghilang.” Karena Laras penasaran jadi ia pun bertanya, “Jadi kapan kutukannya menghilang?” Pandangan Damar menatap ke atas sambil melihat hamparan pepohonan di luar jendela. “Itu tergantung aku masih mencari cara untuk mematahkannya jadi aku masih berusaha.” Sekar terlihat sedang bersiap-siap lalu melihat ke arah Laras yang sedang menatap Damar. “Mbak, cepat kita harus segera keluar dari hutan sekarang.” Ucapan Sekar membuat Laras segera beralih ia langsung mengambil cardigan miliknya yang berada di dalam kamar. “Tunggu sebentar,” teriak Laras di dalam kamar. “Cepatlah Mbak!” balas Sekar. “Iya …!” Dengan cepat Laras berlari keluar karena ia juga harus kembali ke desa sebelum banyak orang yang melihatnya. Karena Laras masih merahasiakan kalau dirinya mendatangi seorang dukun. Sebelum Laras pergi, Damar menghampiri Laras. “Laras aku akan meminta Sekar menemuimu saat ritual berikutnya akan diadakan.” Laras pun menghentikan langkahnya sebelum pergi. “Baiklah, aku akan datang saat itu tapi apa ada yang perlu aku bawa lagi?” “Tidak ada, sekarang kamu boleh pergi.” Setelah mendengar ucapan Damar, Laras segera menyusul Sekar yang sudah menunggu di depan rumahnya. Sekarang hanya tinggal Damar seorang diri yang tersisa di tempat itu. Seperti biasa ia akan bersiap untuk melatih kekuatan spiritualnya lebih dulu.Tangan Damar menyentuh pucuk kepala Sekar, mengusapnya lembut.“Apa sekarang kamu tidak mau menjelaskannya? Hem …!”“Lihat, kamu malah bersembunyi.”Pinggang Sekar yang ramping saat tangan Damar memegangnya terasa rapuh. Jadi tangan Damar pun hati-hati saat mengangkat tubuhnya hingga membuat wajah Sekar tidak lagi bersembunyi.Karena Damar mengangkatnya, jadi tinggi wajah mereka jadi sejajar. Sehingga wajah mereka bisa saling menatap satu sama lain.“Mbah, kenapa tiba-tiba menggendongku?”Saat kakinya berada di udara tidak lagi menginjak lantai. Sekar memegang erat di kedua pundak Damar saat merasakan dirinya diangkat.“Itu karena kamu tidak berbicara dengan jelas atas apa yang kamu inginkan!”“I-itu …!” Kedua pipi Sekar menggembung, ia menyipitkan matanya sambil memukuli pelan dada Damar.“Padahal Mbah tahu itu, gimana sih!”“Eh, kamu jadi kesal?”Damar langsung tertawa, men
Kali ini Damar membacakan mantra sambil meniupkannya ke arah bejana berisi air yang ada di hadapannya. Ia berusaha untuk membantai air yang ada di dalam bejana itu. Kemudian barulah Damar menambahkan seutas benang berwarna merah memasukkannya ke dalam air. Mulutnya masih berkomat-kamit membacakan mantra, dengan tangan yang terus bergerak di atas permukaan air. Di dalamnya benang merah itu sudah terendam sempurna sehingga meresap air yang ada di dalamnya. Setelah beberapa lama ia menyelesaikan mantra dan akhirnya kembali mengambil benang warna merah itu dari dalam air. Dengan benang berwarna merah itu Damar mulai membuat simpul hingga membentuk sebuah gelang yang harus dipakai oleh Raka. Saat sudah selesai dibuatnya, barulah benang itu terlihat seperti gelang. “Berikan tanganmu aku akan segera memasangkannya di tanganmu sekarang juga!” Raka mengulurkan tangannya se
“Aku rasa sebaiknya biar pakai punyaku saja. Tabungan uang yang ada di dalam akun bankmu biar kamu saja yang simpan.”“Tidak, aku juga mau—”“Tidak Sekar, itu adalah hakmu. Tetapi bukankah bagus jika seperti itu? Bagaimana jika suatu saat nanti kita butuh uang dalam jumlah banyak secara mendadak?”“Bukankah nanti bisa pinjam uang yang ada di dalam akunmu? Anggap saja sebagai uang jaga-jaga untuk milikmu.”Sejenak Sekar juga memikirkan hal itu, tidak ada ruginya jika mereka menyimpan uang untuk jaga-jaga nanti jika terjadi sesuatu di lain waktu. Atau jika nanti ada sesuatu yang membuat mereka terdesak sehingga membutuhkan uang. Maka mereka pasti akan membutuhkan uang itu dengan segera jadi akhirnya Sekar pun mengangguk.“Baiklah, aku akan mendengarkan Mbah. Jadi uang di akun ku akan tetap tersimpan.”“Ya, buat seperti itu.” Sekar mendekatkan dirinya sampai menempel di bahu Damar.“Hari ini karena tidak
“Dia akan segera sadar. Jadi duduklah dengan tenang,” ucap Damar.Saat melihat Suryani yang masih mencemaskan suaminya yang belum juga sadar.Namun seperti yang dikatakan oleh Damar barusan. Kalau Santoso akan segera sadar, baru beberapa saat damar mengatakan hal itu. Sekarang tangan Santoso mulai bergerak kemudian kelopak matanya akhirnya perlahan terbuka.Santoso sadarkan diri awalnya pandangannya terlihat buram, tetapi perlahan ia bisa melihat dengan jelas. Serta wajah Suryani yang langsung mendekat, menunduk melihat ke arahnya sambil berderai air mata.“Sayang kamu nggak apa-apa kan?”Suryani membiarkan suaminya membaringkan kepalanya di atas pahanya.“Sekarang aku merasa baik-baik saja. Tolong bantu aku duduk!”Santoso pun akhirnya duduk dibantu oleh istrinya. Ia menoleh pada Damar lalu menundukkan kepala sambil berkata,“Mbah Dukun, terima kasih atas bantuannya. Berkat Mbah, saya sekarang merasa
Air yang berada di dalam bejana itu langsung berubah menjadi warna hitam. Itu berarti kekuatan gaib sudah diserap oleh benda itu. Sehingga itu sebabnya air berubah jadi hitam. Mantra yang dibacakan oleh Damar sambil diiringi dengan suara lonceng di tangannya. Membuat udara sekeliling mereka terasa berat.Jelas meskipun tidak terlihat tetapi kekuatan yang dipancarkan oleh Damar membuat situasi jadi seperti itu.Kekuatan gaib yang berasal baju yang direndam oleh Damar itu memiliki aura gaib yang sangat kental dengan ilmu hitam.Maka dari itu hanya merendamnya saja sudah terlihat kalau air yang ada di dalam bejana saat ini berubah menjadi semakin pekat dan warnanya lebih hitam dari sebelumnya.Mengucapkan mantra damar kembali membuka matanya sambil menunduk melihat ke air dalam bejana.“Aku rasa dukun yang mengendalikan suamimu ini memiliki tingkat kekuatan ilmu hitam yang tinggi.”“Jadi bagaimana Mbah?”
“Bagus, hanya itu saja yang kita perlukan. Dan semua barang ini sudah lengkap seperti yang Mbah inginkan.”Melihat itu Damar langsung mengusap kepala Sekar.“Kamu benar, ini semua sudah sama persis dengan apa yang aku minta padamu.”“Ya, kan, hehehe …!”Sekar sangat senang saat Damar memujinya. “Kalau begitu, ayo cepat bantu aku aku meletakkan semua benda ini ke atas meja. Kita perlu merapikannya!”Mendengar ucapan Sekar Damar pun segera bergegas untuk membantunya.Damar sebenarnya ingin mengajarkan beberapa ilmu yang dilakukan saat ritual pada Sekar. Namun, sepertinya ia harus mengajarkannya secara perlahan.Dengan memberitahukan caranya sedikit demi sedikit.“Jadi kali ini karena kita akan menjalankan ritual di siang hari. Jadi kamu hanya perlu melihat dari samping saja. Sekalian membantuku jika aku butuh bantuan.”“Iya, aku mengerti Mbah!” jawab Sekar.Saat mereka sibuk d







