Share

Bab 7

Penulis: Lailiela
last update Tanggal publikasi: 2026-07-19 11:32:31

“Hah, itu ….” Laras sampai terperangah mendengar usulan Sekar yang di luar pemikirannya. Namun, itu bukan ide yang buruk.

“Tidak, aku ini pria dan kalian wanita jadi sebaiknya aku di luar saja. Sudah sana masuk jangan pakai ide anehmu itu!” Damar langsung menolak ia bahkan kembali berdiri lalu mendorong masuk kedua wanita itu. “Sudah sana masuk saja!”

Pintu dengan cepat ditutup oleh Damar agar mereka tidak keluar lagi. Di dalam Sekar melihat tempat tidur di sana tidak ada bantal, ia baru menyadari kalau ternyata di sana tidak ada bantal ataupun selimut hanya ada sarung tua saja.

“Tidak ada bantal?” tanya Laras lalu menoleh ke arah Sekar. “Katanya kamu asistennya tapi bantal saja nggak kamu urus?”

“Cih, aku mana tahu apa-apa tentang tempat tidur pria?!” Sekar yang tersinggung langsung meninggikan suaranya.

“Kenapa kamu jadi marah kan yang aku katakan itu benar,” balas Laras.

Di luar hujan sangat lebat sekali Sekar berpikir jika ia bertengkar dengan Laras itu akan semakin membuat mereka canggung jadi ia memilih untuk mengalah saja untuk saat ini.

“Aku tidak marah, baiklah besok akan aku bawakan bantal.”

“Tapi malam ini kita tidak pakai bantal.” Laras membuka baju kardigan yang dipakainya lalu melipatnya untuk dijadikan alas kepala.

Di ranjang Sekar juga lebih dulu berbaring. “Ya mau bagaimana lagi!”

Mereka tidur dengan posisi saling membelakangi satu sama lain dan mulai tidak saling bicara lagi, Sekar mulai merasa kesal lagi karena ucapan Laras barusan hingga akhirnya mereka berdua terlelap.

Hujan di malam ini tidak juga reda sampai hari mulai subuh barulah hujan mulai agak mereda.

Damar yang terbiasa bangun lebih awal sekarang baru saja membuka matanya melihat ke atap rumah tua yang tidak memiliki plafon. Namun, ia merasakan tubuhnya terasa berat terutama di kedua lengannya seolah ada yang menindihnya bukan hanya itu bagian kakinya juga terasa berat.

Saat menoleh ke kiri dan kanan ternyata Laras dan Sekar sedang tidur di sampingnya mereka sama-sama meringkuk kedinginan dengan berantakan lengan Damar.

“Ah, pantas saja terasa sangat berat ternyata mereka berdua rupanya!” gumam Damar.

Sedangkan hari yang semakin pagi membuat Damar merasa kalau tubuhnya akan kembali berubah menjadi tua lagi jadi dengan cepat ia menggerakkan kedua tangannya. Namun malah membangunkan Sekar dan Laras.

Ketika Damar beranjak dan mulai duduk ia pun bertanya, “Coba jelaskan kenapa kalian tidur di luar?”

Mendengar itu Sekar langsung menjawab, “Mbah! Maaf semalam kami datang ke sini karena terbangun di tengah malam. Habis itu Laras takut karena suara guntur lalu ia pergi keluar karena aku sendirian di dalam jadi aku juga ikut ke sini!”

“Yang dikatakan Sekar itu benar,” ucap Laras membenarkan ucapan Sekar.

Damar pun tidak bisa berkata apa-apa lagi ia hanya menghela nafasnya sambil menggelengkan kepala.

Detik berikutnya cahaya matahari menyinari bumi membuat Bayu melihat keluar jendela. Saat cahaya sinar matahari masuk ke dalam rumah di saat yang sama Damar pun mulai berubah menjadi tua.

Berawal dari kakinya mengeriput hingga naik perlahan ke badan, tangan, leher, lalu wajah serta rambutnya memutih. Hal itu disaksikan langsung oleh Laras dan Sekar yang sama-sama baru saja melihat kejadian itu.

“Haah … benar-benar berubah!” Laras terkejut ia segera menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku juga baru lihat,” ucap Sekar. “Tapi Mbah setiap pagi selalu berubah seperti ini ternyata.”

Damar mengangguk. “Ya, ini akan terjadi terus menerus sampai kutukannya menghilang.”

Karena Laras penasaran jadi ia pun bertanya, “Jadi kapan kutukannya menghilang?”

Pandangan Damar menatap ke atas sambil melihat hamparan pepohonan di luar jendela. “Itu tergantung aku masih mencari cara untuk mematahkannya jadi aku masih berusaha.”

Sekar terlihat sedang bersiap-siap lalu melihat ke arah Laras yang sedang menatap Damar.

“Mbak, cepat kita harus segera keluar dari hutan sekarang.”

Ucapan Sekar membuat Laras segera beralih ia langsung mengambil cardigan miliknya yang berada di dalam kamar.

“Tunggu sebentar,” teriak Laras di dalam kamar.

“Cepatlah Mbak!” balas Sekar.

“Iya …!”

Dengan cepat Laras berlari keluar karena ia juga harus kembali ke desa sebelum banyak orang yang melihatnya. Karena Laras masih merahasiakan kalau dirinya mendatangi seorang dukun.

Sebelum Laras pergi, Damar menghampiri Laras. “Laras aku akan meminta Sekar menemuimu saat ritual berikutnya akan diadakan.”

Laras pun menghentikan langkahnya sebelum pergi. “Baiklah, aku akan datang saat itu tapi apa ada yang perlu aku bawa lagi?”

“Tidak ada, sekarang kamu boleh pergi.”

Setelah mendengar ucapan Damar, Laras segera menyusul Sekar yang sudah menunggu di depan rumahnya.

Sekarang hanya tinggal Damar seorang diri yang tersisa di tempat itu. Seperti biasa ia akan bersiap untuk melatih kekuatan spiritualnya lebih dulu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 106

    Wurip mendekat pada Damar. “Ya, tapi sebelum itu ada yang ingin aku sampaikan terlebih dahulu.”“katakan!”“Ini tentang gunung Lewi, aku rasa beberapa utusan yang dikirimkan oleh para tetua itu sudah berada di salah satu pelanggan yang datang.”Damar mengepalkan tangannya saat mendengar para suruhan dari gunung lewi. “Jadi mereka benar-benar mengirimkan orang suruhan?” “Iya, itu benar sekali. Karena itu aku jadi karena itu aku ingin agar kamu segera bersiap-siap untuk menghadapi sekarang.”Wurip kembali menambahkan,“Aku rasa orang suruhan para tetua itu ingin melihat secara langsung Sekar, aku yakin Nyai Ajeng mengadukan tentang perdukunan tempat ini pada mereka.”“Aku mengerti, sepertinya juga sudah saat nya untuk menghadapi lara tetau gunung Lewi.” Damar mulai kembali melirik ke arah pintu pagarnya.Kali ini beberapa pelanggan sudah mulai masuk, dan setelah melihat aura dan sediki memakai

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 105

    Kemudian Sekar dengan sengaja menginjak gas dan melajukan mobil dengan kuat-kuat sampai orang di depan sana segera menepi. Ia takut akan tertabrak.Mobil akhirnya bisa lolos dengan mudah dari lapangan. Sementara para pria itu mengejar dengan motor dan berteriak pada penduduk setempat, mereka mengatakan kalau mobil menculik wanita muda.Sehingga penduduk lainnya berbondong-bondong menghalangi jalan mobil.Mulut Sekar berkecak kesal, karena ia terpaksa harus menghentikan mobilnya.Di situasi seperti itu mereka tidak mungkin kabur, jadi Sekar pun terpaksa harus keluar dari mobil bersama Damar.Namun, sebelum itu para warga berusaha untuk mengetuk-ngetuk pintu mobil, sehingga Sekar jadi takut. Sedangkan Damar menepuk pundak Sekar.“Tenang dulu, kita hanya perlu bicara sebentar saja. Jadi biarkan aku keluar lebih dulu.”Setelah mengatakan itu Damar langsung keluar dari mobil.Seorang pria berbadan besa

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 104

    Sehingga lagi-lagi ia sampai muncrat duluan, padahal Damar belum mengeluarkan cairannya. Tetapi Sekar sudah merasa hampir lemas dan keenakan duluan. Melihat itu tentu saja Damar tidak bisa membiarkannya. Jadi kedua tangannya mulai memegang kedua sisi pinggul Sekar, tangannya mulai menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Sehingga hentakan tubuhnya semakin kencang dan Sekar sampai terkejut karena batang Damar masuk lebih dalam lagi. Tidak hanya itu saja, karena hentakan semakin cepat dan kuat jadi Sekar merasa alat kelamin Damar seolah sedang memukul mulut rahimnya. “Akhhh …! Nggh, ahh ahhh Mbah!” Tidak kuat Sekar hanya bisa pasrah saat lubangnya terus dihujam oleh milik Damar. Suara mesum dari decakan tubuh mereka terdengar semakin keras, belum lagi dari luar mobil juga terlihat bergoyang. “Ughh … ini membuatku juga tidak tahan!” Damar meme

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 103

    Damar melihat ke atas langit, hari ini cuaca sangat cerah sehingga langit biru muda. Angin bahkan berhembus sepoi-sepoi membuat keringatnya mengering perlahan. Wajahnya jadi terlihat lebih segar dari sebelumnya. Tidak terasa lima menit berlalu dan ia masih menunggu. Ketika Damar menoleh lagi ternyata mobil Sekar sudah sampai dan berhenti tepat berada di hadapannya. Sekar pun segera keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Damar, tangannya terulur ke arah Damar. “Ayo Mbah, kita berlatih lagi.” “Ya!’ Dengan senang hati Damar juga meraih uluran tangan Sekar yang mengarah ke arahnya. Damar kembali duduk di kursi kemudi dan mulai kembali menyalakan mesin. Sambil ditemani Sekar yang tersur memberikan intruksi cara mengemudi padanya. Sehingga Damar hampir menguasai apa yang diajarkan Sekar sekarang perlahan padanya. Sekar yang yang melihat cara Damar mengemudi sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Sehingga ia pun memuji kerja kerasnya dalam belajar, “Bagu

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 102

    Dengan tubuh gemetar Raka memberitahu Damar sambil memperagakan roh yang dilihatnya semalam.Damar memperhatikan reaksi Raka dengan seksama.“Jadi begitu, lalu sekarang apa kamu menyesal karena telah mengganti boneka itu?”“Jika kamu tidak melakukannya, mungkin saja saat ini kamulah yang menjadi korbannya. Kamu yang akan mati dan roh itu akan memakan seluruh isi kepalamu!”Mendengar itu Raka jadi semakin bergidik ngeri, dia yang tadinya merasa bersalah karena tidak meminta bantuan untuk menyelamatkan kakak tirinya. Namun, sebaliknya saat ini Damar baru saja menyadarkannya atas rasa bersalah yang dirasakannya senak semalam.“Yang Mbah katakan itu benar. Aku …!”Tangan Damar menepuk pundak Raka.“Apa yang terjadi tidak bisa kita kembalikan seperti semula. Jika kamu tidak melakukan hal itu maka kamu yang akan jadi korbannya.”“Semalam mungkin saja kamu berada di posisi itu dan hari ini dia menertawak

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 101

    Rasid juga berencana untuk segera melakukan ritual yang akan dijalankannya. Jadi karena itu juga saat ini Rasid lanjut berjalan.“Ternyata begitu, sekarang aku akan kembali ke kamar jadi sebaiknya kamu juga kembali ke kamarmu.”Rasid sempat menepuk pundak Raka sebelum pergi. Sedangkan Raka tidak mengatakan apa-apa lagi, ia hanya mengangguk saja.Saat di kamarnya Rasid segera memeriksa bawah ranjang, tangannya berusaha meraih boneka yang disimpannya di bawah ranjang.Tangannya memegang dengan erat boneka itu kemudian membawanya keluar dari kamar. Rasid keluar dari rumah dan berjalan ke belakang rumahnya.Rasid melihat sekelilingnya saat i tiba di bawah pohon belakang rumah. Memastikan tidak ada seorangpun yang mengikuti atau melihatnya.Namun, tanpa diketahuinya Raka diam-diam melihatnya dari kejauhan. Ia menyaksikan ritual yang akan dilakukan oleh Rasid.Tiba-tiba seorang pria yang tidak tahu dari mana datang mengha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status