แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Lailiela
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-18 11:33:41

Dengan cepat Sekar merapikan rambutnya dan mengibaskan bekas bunga yang menempel di pada bajunya saat membantu ritual yang dilakukannya tadi. Saat Sekar melihat pada Laras ternyata ia juga sama sepertinya yang diam-diam melihat ke arah Damar.

“Mbak jangan lihatin terus, Mbak kan sudah punya suami,” bisik Sekar.

Seketika Laras dengan cepat melihat ke arah lain, bisikan Sekar menyadarkan akan keberadaan suaminya yang saat ini berada di kota. Namun, meski demikian pria itu sudah menyakiti hati Laras dan bahkan berkhianat berulang-ulang kali sampai membuatnya muak.

Wajah Laras pun terlihat sayu, kesedihan di wajahnya membuatnya menunduk. ‘Akan tetapi, apa salahnya jika ia juga mulai melihat pria lain atau bahkan berselingkuh? Bukankah itu akan menjadi balas dendam yang setimpal?’ pikir Laras dalam hatinya.

“Kamu benar, tapi tidak ada salahnya kan jika hanya melihat?” Laras tersenyum membalas bisikan Sekar tadi.

Sementara Sekar yang melihat ekspresi Laras yang berubah-ubah dengan sangat cepat membuatnya agak takut. Dalam hati ia berpikir wanita ini akan jadi saingannya!

Sehingga membuat Sekar segera memalingkan wajahnya dari Laras. Suasana di antara mereka jadi tidak bersahabat karena mereka sama-sama tertarik pada Damar. Kemungkinan besar akan bersaing tentu akan sangat sengit.

Sekar mulai melipat kedua tangannya di depan dada. “Sudah punya suami masih saja mengincar pria lain!”

“Apa yang kamu katakan barusan?” Laras yang sempat mendengar ucapan Sekar seketika membuatnya tersinggung.

Namun, Sekar tidak mau mengulangi perkataannya tadi. Ia malah kembali melihat Damar yang berdiri hendak berjalan setelah melihat hujan di luar jendela karena hujan deras ia juga tidak mendengar ucapan bisik-bisik antara Laras dan Sekar.

“Mbah Damar! Mau kemana?”

Ucapan Sekar membuat Laras ikut menoleh ke arah Damar.

“Aku akan merapikan kamarku sebentar. Kalian diam saja di sini nanti aku kembali lagi!” Damar sengaja mengatakan itu karena Sekar baru saja akan berdiri untuk mengikutinya.

Gadis itu semenjak Damar terbangun dan bahkan melihat wujud aslinya, dia mulai sering menempel pada Damar dengan mengikutinya setiap kali datang ke kediaman tua itu. Sambil menjalankan tugasnya Sekar memang sering mendekati Damar.

Terkadang suara tawa atau dia berbuat usil lalu menertawakan Damar. Tidak membuat pria itu merasa risih, itu malah membuat suasana sepi jadi terasa lebih ramai dan membuatnya suasana jadi lebih hidup.

Sementara itu di luar kamar mereka berdua mereka jadi diam tapi Laras merasa tidak enak meski tadi ia sangat kesal pada Sekar karena menyinggungnya. Tapi tetap saja ia ingin bicara dengan Sekar.

“Emm … malam ini menurutmu apa kita akan tidur di sini?” tanya Laras.

Mendengar Laras yang mengajaknya bicara duluan Sekar mau tidak mau juga harus menjawabnya, “Ya … jika hujan tidak reda dalam waktu satu jam kita terpaksa bermalam di sini. Tapi masalahnya tidak ada tempat yang layak untuk tidur lihat saja sekeliling.”

Yang dikatakan Sekar itu benar bahkan jendela di rumah itu semuanya terbuka karena tidak ada penutupnya.

“Lihat kan rumah ini seperti game free fire yang nggak ada jendelanya itu!” celetuk Sekar lagi karena ia teringat akan game tersebut saat melihat jendela.

Laras langsung mengangguk setuju menyetujui apa yang dikatakan Sekar. Ia juga sempat tertawa kecil karena ucapan Sekar yang menyamai rumah tua itu dengan rumah yang ada di dalam game.

Seketika suasana di antara mereka kembali berubah untuk saat ini mereka tidak lagi menyimpan rasa kesal seperti tadi. Dalam sekejap mereka melupakan rasa kesal masing-masing.

“Kalian sedang menertawakan apa?” tanya Damar yang baru saja datang tiba-tiba.

Sontak Sekar dan Laras menoleh dan mendongakkan kepala mereka bersama-sama.

“Mbah, ada apa nih? Kok keluar lagi tadi bukannya udah masuk ke dalam?” Sekar berdiri.

“Tadi aku baru saja merapikan tempat tidur untuk kalian, sebaiknya kalian berdua masuk ke dalam karena aku akan tidur di luar malam ini.” Damar hanya membawa satu sarung untuk dipakainya.

“Tapi Mbah sendiri bagaimana masa tidur di luar?” Laras ikut berdiri.

“Terus kalian mau tidur di sini?” Damar duduk di depan pintu kamarnya sambil menutupi tubuhnya dengan kain sarung.

Laras dan Sekar saling memandang satu sama lain. Mereka berpikir apa yang dikatakan Damar itu benar karena tidak mungkin untuk tidur di luar belum lagi cuaca dingin karena hujan yang tidak kunjung reda.

“Itu tidak mungkin juga, di sini sangat dingin sekali aku tidak tahan,” keluh Laras.

“Makanya Aku suruh kalian tidur di dalam sana,” timpal Damar.

Namun, Sekar memiliki ide lain. “Begini saja! Bagaimana kalau kita tidur bertiga di dalam?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 99

    Mata Damar sempat menyipit, ia sedikit curiga dengan apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh pria di depannya.“Itu Mbah, saya mencalonkan diri sebagai Bupati jadi kalau bisa buat juga agar aura saya terlihat menjanjikan.”“Kalau bisa buat saya terpilih jadi Bupati ….”Pria yang berbicara di depannya ini bernama Karno salah satu peserta yang ikut pemilihan Bupati setempat. Dia terus berbicara dan menjelaskan situasinya pada Damar.Sejenak Damar berpikir mengenai sistem pemerintahan di era ini jelas berbeda dari zaman dulu.Jadi itu adalah pemimpin setempat yang harus dipilih? Damar mengira kalau pemimpin akan berlanjut dari garis keturunan saja.Karno melihat Damar yang sejak tadi terdiam di hadapannya. Membuatnya kembali bertanya,“Jadi Mbah, gimana?”“Tentu saja bisa, tapi seperti yang kamu tahu kalau pengaruh air ini akan bergantung pada bayarannya.” Damar tahu kalau beberapa pejabat mungkin tidak m

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 98

    Sekar meminum obatnya, kemudian Damar masuk ke kamar mandi.—Esok harinya Damar berjalan keluar hutan bersama Sekar. Udara pagi masih terasa dingin.Cuaca masih terlihat gelap karena cahaya matahari belum menembus ke dalam hutan. Langkah kaki mereka berjalan cepat, setiap hembusan nafas yang keluar dari hidung membentuk embun tipis di udara.“Di mana kamu memarkirkan mobilnya?”“Ada di dekat sini. Aku sengaja memasukkannya sedikit ke dalam hutan yang areanya ada sedikit lahan kosong.”Saat mereka jalan sedikit ke depan barulah terlihat mobilnya.Pertama kali Damar melihat mobil ituatanya langsung membulat dengan kedua alis yang terangkat.“Ini terlihat masih baru. Apa kamu yakin kalau yang kami beli ini bekas?” tanya Damar.Sambil mendekati mobil itu Damar mengamatinya lebih seksama.Sekar menekan tombol kunci yang ada di tangannya. Sehingga mobil itu berbunyi dan sempat membuat Dama

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 97

    Tangan Damar menyentuh pucuk kepala Sekar, mengusapnya lembut.“Apa sekarang kamu tidak mau menjelaskannya? Hem …!”“Lihat, kamu malah bersembunyi.”Pinggang Sekar yang ramping saat tangan Damar memegangnya terasa rapuh. Jadi tangan Damar pun hati-hati saat mengangkat tubuhnya hingga membuat wajah Sekar tidak lagi bersembunyi.Karena Damar mengangkatnya, jadi tinggi wajah mereka jadi sejajar. Sehingga wajah mereka bisa saling menatap satu sama lain.“Mbah, kenapa tiba-tiba menggendongku?”Saat kakinya berada di udara tidak lagi menginjak lantai. Sekar memegang erat di kedua pundak Damar saat merasakan dirinya diangkat.“Itu karena kamu tidak berbicara dengan jelas atas apa yang kamu inginkan!”“I-itu …!” Kedua pipi Sekar menggembung, ia menyipitkan matanya sambil memukuli pelan dada Damar.“Padahal Mbah tahu itu, gimana sih!”“Eh, kamu jadi kesal?”Damar langsung tertawa, men

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 96

    Kali ini Damar membacakan mantra sambil meniupkannya ke arah bejana berisi air yang ada di hadapannya. Ia berusaha untuk membantai air yang ada di dalam bejana itu. Kemudian barulah Damar menambahkan seutas benang berwarna merah memasukkannya ke dalam air. Mulutnya masih berkomat-kamit membacakan mantra, dengan tangan yang terus bergerak di atas permukaan air. Di dalamnya benang merah itu sudah terendam sempurna sehingga meresap air yang ada di dalamnya. Setelah beberapa lama ia menyelesaikan mantra dan akhirnya kembali mengambil benang warna merah itu dari dalam air. Dengan benang berwarna merah itu Damar mulai membuat simpul hingga membentuk sebuah gelang yang harus dipakai oleh Raka. Saat sudah selesai dibuatnya, barulah benang itu terlihat seperti gelang. “Berikan tanganmu aku akan segera memasangkannya di tanganmu sekarang juga!” Raka mengulurkan tangannya se

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 95

    “Aku rasa sebaiknya biar pakai punyaku saja. Tabungan uang yang ada di dalam akun bankmu biar kamu saja yang simpan.”“Tidak, aku juga mau—”“Tidak Sekar, itu adalah hakmu. Tetapi bukankah bagus jika seperti itu? Bagaimana jika suatu saat nanti kita butuh uang dalam jumlah banyak secara mendadak?”“Bukankah nanti bisa pinjam uang yang ada di dalam akunmu? Anggap saja sebagai uang jaga-jaga untuk milikmu.”Sejenak Sekar juga memikirkan hal itu, tidak ada ruginya jika mereka menyimpan uang untuk jaga-jaga nanti jika terjadi sesuatu di lain waktu. Atau jika nanti ada sesuatu yang membuat mereka terdesak sehingga membutuhkan uang. Maka mereka pasti akan membutuhkan uang itu dengan segera jadi akhirnya Sekar pun mengangguk.“Baiklah, aku akan mendengarkan Mbah. Jadi uang di akun ku akan tetap tersimpan.”“Ya, buat seperti itu.” Sekar mendekatkan dirinya sampai menempel di bahu Damar.“Hari ini karena tidak

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 94

    “Dia akan segera sadar. Jadi duduklah dengan tenang,” ucap Damar.Saat melihat Suryani yang masih mencemaskan suaminya yang belum juga sadar.Namun seperti yang dikatakan oleh Damar barusan. Kalau Santoso akan segera sadar, baru beberapa saat damar mengatakan hal itu. Sekarang tangan Santoso mulai bergerak kemudian kelopak matanya akhirnya perlahan terbuka.Santoso sadarkan diri awalnya pandangannya terlihat buram, tetapi perlahan ia bisa melihat dengan jelas. Serta wajah Suryani yang langsung mendekat, menunduk melihat ke arahnya sambil berderai air mata.“Sayang kamu nggak apa-apa kan?”Suryani membiarkan suaminya membaringkan kepalanya di atas pahanya.“Sekarang aku merasa baik-baik saja. Tolong bantu aku duduk!”Santoso pun akhirnya duduk dibantu oleh istrinya. Ia menoleh pada Damar lalu menundukkan kepala sambil berkata,“Mbah Dukun, terima kasih atas bantuannya. Berkat Mbah, saya sekarang merasa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status