Share

Bab 6

Author: Sulki
Keduanya saling menatap dalam diam, tak ada satu pun yang lebih dulu berbicara. Namun, atap yang terus bocor itu tiba-tiba mengeluarkan bunyi berderit.

Niam mengangkat kepala dengan tidak senang, melirik langit-langit. Tatapannya penuh rasa muak.

"Sekarang makin parah rusaknya. Kamu cari waktu untuk pindah secepatnya. Soal rumah, aku yang akan atur."

Wajah Arsy pucat. Dia hanya menggeleng. Maksudnya sebenarnya sederhana. Dia akan segera pergi, kamar ini pun sudah dia hentikan sewanya. Rumah yang akan diatur oleh Niam pun tidak akan dia tempati. Saat dia benar-benar pindah, itu juga berarti akhir sepenuhnya antara dirinya dan Niam.

Namun di mata Niam, itu justru berarti dia tidak tega meninggalkan rumah ini, juga tidak rela melepas kenangan mereka.

Niam tertegun sejenak, baru hendak berbicara, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Lagi-lagi Eira yang menelepon.

Niam tidak berkata apa-apa lagi. Setelah mengangkat telepon, dia pun pergi dengan tergesa-gesa. Dia memang selalu sibuk, sering kali hanya pulang saat malam untuk tidur. Sejak Eira kembali ke tanah air, kesibukannya semakin bertambah.

Arsy pun sudah tidak peduli lagi. Dia tetap tinggal di kamar sewaan kecil itu, diam-diam membereskan barang-barangnya.

Hingga pada hari Valentine, tiba-tiba dia menerima pesan dari Niam, mengatakan ingin mengajaknya makan di restoran. Meskipun sedikit terkejut, Arsy tetap berganti pakaian dan datang ke alamat yang telah disepakati.

Saat tiba di depan restoran, barulah dia tahu restoran itu ternyata telah dipesan seluruhnya oleh Niam malam itu.

Dari pelayan, dia mendengar bahwa Niam secara khusus mengundang koki terkenal dari luar negeri, juga memerintahkan orang membeli puluhan ribu bunga mawar untuk menghias restoran. Yang paling penting, Niam bahkan membuat sendiri sebuah kue di dapur.

Pelayan di sampingnya mendengar bahwa dia datang untuk memenuhi undangan Niam, matanya langsung berbinar-binar.

"Rupanya wanita beruntung itu Anda! Kami semua sampai iri setengah mati! Hebat sekali, sampai membuat Pak Niam berusaha sekeras ini. Kalau seumur hidup ada orang yang memperlakukanku seperti ini, mati pun aku rela."

Ucapan mereka membuat Arsy sedikit tertegun. Mungkin ... Niam sudah mengetahui kebenaran dan merasa bersalah, jadi sengaja melakukan semua ini untuknya? Namun, dia tidak butuh permintaan maaf yang datang terlambat.

Lagi pula, di mata Niam, dia bahkan tidak dianggap sebagai pacar. Jadi, tentu saja tidak perlu ada permintaan maaf atau upaya menyenangkan seperti ini.

Arsy teringat kejadian saat dia secara sepihak menggunakan status "pacar" untuk membantunya melunasi utang. Saat itu, di depan orang lain, Niam sangat marah, bahkan kata-katanya begitu menyakitkan.

"Pulang? Rumah siapa? Kamu ini siapa bagiku? Sejak kapan kamu berhak ikut campur dalam urusanku? Tolong jangan terlalu percaya diri, bisa?"

Setelah berkata begitu, Niam melempar uang yang telah dia siapkan ke udara. Tatapannya dingin dan asing saat menambahkan, "Aku nggak butuh belas kasihanmu, juga nggak butuh bantuanmu. Jauhi aku!"

Hari itu, Arsy menangis di sepanjang jalan. Mereka berjalan beriringan, tetapi Niam sama sekali tidak pernah menoleh untuk melihatnya. Sejak saat itu, Arsy tidak pernah lagi berani menyebut kata "pacar".

Duduk di dekat jendela, Arsy menatap pemandangan malam dengan tatapan kosong. Saat dia sedang melamun, tiba-tiba terdengar keributan di pintu.

Dia menoleh ke arah pintu. Di balik cahaya gemerlap restoran, dia melihat Niam dan Eira masuk bersamaan.

Musik restoran langsung terhenti. Para pelayan melihat Arsy yang duduk di dekat jendela dengan canggung, lalu terus membungkuk meminta maaf kepada Niam dan Eira.

"Maaf, karena sebelumnya ada wanita yang mengatakan datang atas undangan Pak Niam, ditambah lagi nama dan nomor teleponnya juga cocok, kami jadi salah paham ...."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 28

    "Cium! Cium!"Di pesta pernikahan, mempelai pria dan wanita saling menggenggam tangan, mengucapkan janji sehidup semati. Para keluarga dan teman-teman di bawah panggung bersorak riuh.Enzo memegang wajah Arsy, satu tangannya menutup pandangan orang-orang. Dengan penuh kehati-hatian, dia mencium bibir Arsy."Waaah!"Upacara pernikahan segera selesai. Para tamu sibuk makan dan mengobrol, hanya satu orang di sudut yang tampak tidak pada tempatnya.Pengantin mengenakan pakaian adat, para tamu sebagian besar memakai warna merah untuk melambangkan kebahagiaan.Hanya Niam yang mengenakan jas putih bersih. Di saku dadanya terpasang bunga kecil bertuliskan "pengantin pria: Niam".Setelah menyaksikan upacara, dia diam-diam pergi tanpa ada yang menyadari. Semua orang mengira itu adalah pengantin pria dari acara lain yang salah masuk tempat.Bagaimanapun, restoran itu sering dipakai untuk pernikahan. Kejadian salah lokasi bukan hal aneh."Arsy, aku pernah bilang ... kalau kamu mau, kamu bisa selal

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 27

    Sore hari, setelah berpamitan dengan Enzo, Arsy naik ke lantai atas. Lampu di tangga entah kenapa tiba-tiba mati.Arsy sedikit takut, lalu menyalakan senter dari ponselnya. Cahayanya tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk melihat jalan.Dengan meraba-raba, Arsy akhirnya sampai di depan pintu rumahnya. Dia mengeluarkan kunci dari tas, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.Begitu terdengar suara, dia hendak membuka pintu dan segera masuk. Namun saat itu, sebuah tubuh tinggi menempel dari belakangnya, mendorongnya masuk ke rumah.Niam menangkap kedua tangan Arsy dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Tubuhnya yang tinggi menutup seluruh ruang di sekitar Arsy.Arsy langsung panik. Sambil berusaha melepaskan diri, dia juga menekan tombol panggilan darurat di ponselnya."Lepaskan aku! Aku punya uang. Aku ambilkan untukmu ya? Jangan gegabah!" Dia tidak langsung mengenali bahwa itu adalah Niam. Dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat, bahkan tidak tahu apakah panggilan daruratnya sud

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 26

    Setelah makan malam, Enzo mengajak Arsy berjalan-jalan. Senyuman di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan."Sisy, kamu senang?""Enzo, jujur saja ... aku nggak tahu."Jawaban gugup Arsy justru membuat Enzo tertawa lepas. Suaranya menggema di sepanjang jalan."Nggak apa-apa, nikmati saja sekarang. Aku nggak ingin membuatmu menunggu terlalu lama!" seru Enzo dengan agak polos.Untungnya jalanan tidak terlalu ramai. Kalau tidak, Arsy pasti sudah ingin bersembunyi karena malu.Enzo dan Niam adalah dua orang yang benar-benar berbeda. Dulu, Niam tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Pertunangan, pernikahan, semuanya terasa seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.Rasa aman yang Arsy dapatkan dari Niam terlalu sedikit, sampai setiap hari dia khawatir, apakah besok adalah hari mereka berpisah. Setiap hari bersama Niam terasa seperti sesuatu yang dipinjam, yang bisa hilang kapan saja.Namun, sekarang berbeda. Perasaan Enzo jelas dan terang-terangan. Arsy bisa merasakannya deng

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 25

    Sore hari berikutnya, Arsy datang. Namun, dia tidak datang sendiri. Dia datang bersama Enzo untuk menjenguk Niam. Di tangannya hanya ada buah-buahan biasa, terlihat tidak terlalu dipersiapkan dengan serius.Namun, pakaian mereka justru tampak serasi. Bernuansa cokelat, seperti pakaian pasangan. Keduanya jelas sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Riasan Arsy sederhana dan anggun seperti hendak bertemu orang tua.Begitu pikiran itu muncul, Niam sendiri sampai terkejut. Dia mencoba menyangkalnya. Bahkan kalau Enzo sengaja membawa Arsy untuk menunjukkan kepemilikan, itu masih seribu kali lebih masuk akal daripada pikiran barusan."Pak Niam, gimana kondisimu? Aku membawa Arsy menjengukmu." Enzo berkata sambil meletakkan buah yang dibawanya."Kalian ...." Kata-kata Niam tertahan di bibir, lalu dia telan kembali."Arsy, kamu datang saja sudah cukup." Untuk sesaat, dia menatap wajah Arsy, tetapi justru tidak tahu harus berkata apa.Haruskah dia mengatakan "bisakah kamu merawatku", "aku sangat

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 24

    Dulu memang Eira pernah menukar obat yang seharusnya diminum Niam, tetapi obat untuk orang tua Niam juga adalah ulahnya.Karena usianya masih muda dan hubungannya dekat dengan Keluarga Charista, dia sering datang ke rumah Niam untuk bermain. Dia bisa melakukan hal-hal kecil secara diam-diam tanpa menarik perhatian.Saat itu, hampir tidak ada yang akan curiga pada seorang gadis kecil seperti dirinya. Setelahnya, demi melindungi Eira, Keluarga Halahi bahkan mengirimnya ke luar negeri."Selesaikan mereka." Niam melemparkan satu kalimat dingin, lalu seseorang segera menyeret pasangan suami istri itu pergi.Dia menyuruh anak buahnya memberi obat pada mereka, membuat mereka kehilangan kewarasan, selalu curiga, dan hidup dalam kebingungan. Dia hanya membalas dengan cara yang sama, itu bahkan sudah termasuk belas kasihan.Malam terasa dingin seperti air. Niam duduk sendirian di depan jendela besar, rasa kesepian menyelimuti dirinya.Di kakinya sudah ada beberapa botol anggur kosong. Namun, sem

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 23

    Suasana ambigu menyelimuti keduanya. Niam benar-benar tidak bisa bersembunyi lagi.Dengan wajah dingin, dia langsung berdiri di antara Arsy dan Enzo, memisahkan mereka. Dia bahkan tidak berani membayangkan, kalau dia tidak muncul, apakah mereka akan benar-benar berciuman?Niam berdiri di tengah, tidak berkata apa-apa, hanya menatap Enzo dengan tajam. Akhirnya, Arsy yang lebih dulu memecah keheningan."Niam, kamu ngapain di sini? Grup Charista sudah mau bangkrut sampai kamu sesenggang ini?"Niam menoleh, lalu tersenyum lembut. "Arsy, ini kebun binatang. Semua orang boleh datang. Kamu juga nggak perlu khawatir, setidaknya beberapa tahun ke depan, Grup Charista nggak mungkin bangkrut."Senyuman lembut yang jarang muncul itu tidak membuat Arsy nyaman, malah terasa aneh. Bahkan sesaat, dia sempat curiga, apakah Niam kerasukan. Dia tidak pernah tersenyum seperti itu."Niam, jangan senyum begitu. Jelek." Arsy melewati Niam, lalu menarik tangan Enzo. "Ayo kita pergi. Memang semua orang boleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status