Share

Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan
Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan
Author: Sulki

Bab 1

Author: Sulki
Hal paling konyol yang pernah dia lakukan seumur hidupnya adalah membawa pulang seorang tuan muda bangsawan yang bangkrut.

Dia dan pria itu tinggal di kamar sewaan dengan harga satu juta per bulan, memakai kaus murahan seharga puluhan ribu dengan ongkir gratis, dan satu-satunya hiburan mereka adalah saling terjerat dalam keintiman setiap malam.

Tujuh tahun kemudian, pria itu bangkit kembali. Hal pertama yang dia lakukan justru adalah mengadakan pesta penyambutan besar-besaran untuk cinta pertamanya yang pernah meninggalkannya.

Ikan emas tak mungkin selamanya terkurung di kolam kecil. Dia selalu tahu, pria itu pasti akan pergi.

Namun kali ini, sebelum pria itu benar-benar pergi, dia memilih untuk lebih dulu melepaskannya.

....

"Kak, aku memutuskan untuk mendaftar program mengajar di desa pegunungan."

Orang di seberang telepon terdengar kaget. "Arsy, kehidupan di desa pegunungan itu sangat berat. Kamu benar-benar sudah memikirkannya matang-matang?"

Arsy tersenyum pelan. "Aku nggak punya orang tua. Hidup susah sudah biasa bagiku. Bisa membantu anak-anak di desa keluar dari pegunungan dan melihat dunia yang lebih luas itu justru hal yang sangat berarti bagiku."

"Terus, pacarmu? Aku dengar ... sekarang dia sudah jadi tokoh besar di dunia bisnis. Dia pasti nggak akan setuju kamu pergi ke tempat seburuk itu. Apalagi kalau kamu pergi, kalian akan sulit bertemu."

Pacar? Niam ... bisa disebut pacarnya?

Arsy tersenyum lagi. "Aku dan dia memang bukan berasal dari dunia yang sama. Selama ini aku hanya mencuri sedikit kebahagiaan. Sekarang aku sudah memutuskan untuk putus dengannya. Dia setuju atau nggak, itu nggak ada hubungannya lagi denganku."

Melihat tekadnya, orang di ujung telepon tak berkata apa-apa lagi. Sebelum menutup telepon, dia hanya mengucapkan satu kalimat terakhir, "Setengah bulan lagi berangkat. Siapkan semuanya dari sekarang."

Arsy mengiakan, lalu menutup telepon.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Dia mengira kakak kelasnya masih ingin memberi instruksi tambahan, jadi dia segera membukanya. Namun, setelah melihat isi pesan itu, tubuhnya sedikit menegang.

Itu adalah sebuah video yang dikirim oleh Eira. Untuk merayakan kepulangannya ke tanah air, semua orang mengadakan pesta penyambutan besar. Adapun pria dalam video itu .... Itu adalah Niam.

Meskipun sudah tahu Niam mengadakan pesta penyambutan untuk Eira hari ini, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Namun, Eira tampaknya tidak sabar untuk memberitahunya.

Di dalam video, Eira menarik jas Niam dengan tatapan menyedihkan sekaligus lembut. "Niam, dulu aku nggak benar-benar ingin meninggalkanmu. Orang tuaku mengancam dengan nyawa mereka. Mereka nggak mengizinkanku menghubungimu. Aku benar-benar nggak punya pilihan."

"Maaf ... selama ini nggak ada satu hari pun aku nggak memikirkanmu. Jangan tinggalin aku. Maafkan aku ya?"

Niam tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengambil mahkota bertabur berlian dari samping, lalu memakaikannya dengan lembut di kepala Eira. Suaranya rendah, penuh emosi yang tertahan.

"Aku menunggumu setiap hari."

Mata Eira langsung memerah. Dia terharu dan langsung memeluk Niam. Niam pun tentu tidak menolaknya. Orang-orang di sekitar langsung bersorak, tepuk tangan bergemuruh.

Setelah video itu selesai, Eira mengirim pesan lagi. Nadanya penuh kesombongan dan kemenangan.

[ Hari ini ulang tahunmu, 'kan? Tapi gimana ya, Niam memilih menemaniku. ]

[ Kamu pasti sedih karena sendirian, 'kan? Perlu aku carikan seseorang untuk menemanimu? ]

Arsy hanya menatap layar ponselnya yang penuh kata-kata provokatif itu dalam diam. Namun, itu belum selesai. Orang-orang asing terus mengirimkan foto dan pesan kepadanya.

Ada foto Niam menemani Eira berbelanja, ada juga foto Niam menghamburkan uang demi membeli perhiasan mahal untuk Eira.

Dia tahu, semua foto itu dikirim oleh teman-teman Eira. Tujuan mereka hanya satu, memaksanya pergi dari sisi Niam.

[ Mukamu kok setebal itu sih? Kalau aku jadi kamu, dari dulu sudah diam-diam kabur, nggak perlu mempermalukan diri. ]

[ Ya, mereka itu teman masa kecil, saling cinta bertahun-tahun, cinta pertama masing-masing. Kamu itu apa? Cuma anak yatim piatu. Jangan-jangan masih berpikir bisa terus menguasai Kak Niam? ]

Arsy menggeser foto demi foto tanpa berkata apa-apa. Dia hanya diam-diam meneruskan semua foto dan pesan itu kepada Niam.

Sebenarnya, sejak awal dia sudah tahu bahwa Niam bukanlah orang yang akan selamanya berada di tempat kecil. Cepat atau lambat, dia pasti akan bangkit dan meninggalkannya. Hanya saja, dia tidak menyangka hari itu akan datang secepat ini.

Saat mengingat kembali masa SMA mereka, semuanya terasa begitu jelas di benaknya. Niam adalah juara satu angkatan, sekaligus pria paling populer di sekolah.

Saat itu, hampir semua siswi diam-diam menyukainya. Arsy pun salah satunya. Dia tahu pria itu adalah sosok yang tak mungkin bisa dia gapai. Selama tiga tahun di bangku SMA, Arsy meliriknya berkali-kali, tetapi tidak pernah berani menunjukkan perasaan sedikit pun.

Hingga saat tahun kelulusan tiba, Keluarga Charista tiba-tiba bangkrut. Ayah dan ibu Niam tak tahan dengan pukulan itu, lalu memilih mengakhiri hidup dengan melompat dari gedung. Pada saat yang sama, Eira juga memilih meninggalkannya dan pergi ke luar negeri untuk belajar.

Di saat hidupnya paling terpuruk, barulah Arsy punya kesempatan untuk mendekatinya.

Untuk membayar utang, Niam bekerja tiga pekerjaan sehari. Suatu malam, dia bekerja paruh waktu di bar. Awalnya Arsy hanya khawatir dan diam-diam mengikutinya masuk.

Namun, karena suasana dan pengaruh alkohol, entah dari mana dia mendapatkan keberanian. Dia membawa Niam pulang ke kamar sewanya yang kumuh dan menjeratnya ke tempat tidur.

Sejak saat itu, mereka tinggal bersama. Siang hari Niam bersekolah, malam hari melakukan beberapa pekerjaan untuk melunasi utang.

Meskipun mengenakan kaus murahan seharga puluhan ribu, aura yang terpancar darinya tetap tidak bisa disembunyikan.

Di depan orang lain, mereka tidak pernah mengakui hubungan mereka. Bahkan di antara mereka sendiri, mereka tidak pernah benar-benar mendefinisikan apa hubungan mereka, meskipun hampir setiap malam mereka bersama dalam keintiman.

Mereka hidup bersama, seolah-olah hanya untuk saling menghangatkan.

Pernah suatu kali Arsy menghabiskan seluruh tabungannya, mengatasnamakan dirinya sebagai pacar Niam untuk membayar utangnya bulan itu. Namun, setelah mengetahui kebenarannya, Niam sangat marah. Sejak saat itu, Arsy tidak pernah lagi berani membicarakan soal perasaan.

Sebenarnya, dia selalu tahu alasan Niam tetap di sisinya hanyalah karena dia sedikit mirip dengan Eira. Karena itulah, malam itu Niam mau ikut dengannya dan bertahan di sisinya selama bertahun-tahun.

Selama ini, dia sering melihat Niam diam-diam membuka media sosial Eira di tengah malam, membuka foto demi foto, menatapnya selama setengah jam.

Cepat atau lambat, Niam pasti akan pergi, Arsy selalu tahu itu. Kini, hari itu akhirnya datang. Kalau begitu, untuk perpisahan kali ini ... biarlah dia yang mengatakannya lebih dulu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 28

    "Cium! Cium!"Di pesta pernikahan, mempelai pria dan wanita saling menggenggam tangan, mengucapkan janji sehidup semati. Para keluarga dan teman-teman di bawah panggung bersorak riuh.Enzo memegang wajah Arsy, satu tangannya menutup pandangan orang-orang. Dengan penuh kehati-hatian, dia mencium bibir Arsy."Waaah!"Upacara pernikahan segera selesai. Para tamu sibuk makan dan mengobrol, hanya satu orang di sudut yang tampak tidak pada tempatnya.Pengantin mengenakan pakaian adat, para tamu sebagian besar memakai warna merah untuk melambangkan kebahagiaan.Hanya Niam yang mengenakan jas putih bersih. Di saku dadanya terpasang bunga kecil bertuliskan "pengantin pria: Niam".Setelah menyaksikan upacara, dia diam-diam pergi tanpa ada yang menyadari. Semua orang mengira itu adalah pengantin pria dari acara lain yang salah masuk tempat.Bagaimanapun, restoran itu sering dipakai untuk pernikahan. Kejadian salah lokasi bukan hal aneh."Arsy, aku pernah bilang ... kalau kamu mau, kamu bisa selal

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 27

    Sore hari, setelah berpamitan dengan Enzo, Arsy naik ke lantai atas. Lampu di tangga entah kenapa tiba-tiba mati.Arsy sedikit takut, lalu menyalakan senter dari ponselnya. Cahayanya tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk melihat jalan.Dengan meraba-raba, Arsy akhirnya sampai di depan pintu rumahnya. Dia mengeluarkan kunci dari tas, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.Begitu terdengar suara, dia hendak membuka pintu dan segera masuk. Namun saat itu, sebuah tubuh tinggi menempel dari belakangnya, mendorongnya masuk ke rumah.Niam menangkap kedua tangan Arsy dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Tubuhnya yang tinggi menutup seluruh ruang di sekitar Arsy.Arsy langsung panik. Sambil berusaha melepaskan diri, dia juga menekan tombol panggilan darurat di ponselnya."Lepaskan aku! Aku punya uang. Aku ambilkan untukmu ya? Jangan gegabah!" Dia tidak langsung mengenali bahwa itu adalah Niam. Dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat, bahkan tidak tahu apakah panggilan daruratnya sud

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 26

    Setelah makan malam, Enzo mengajak Arsy berjalan-jalan. Senyuman di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan."Sisy, kamu senang?""Enzo, jujur saja ... aku nggak tahu."Jawaban gugup Arsy justru membuat Enzo tertawa lepas. Suaranya menggema di sepanjang jalan."Nggak apa-apa, nikmati saja sekarang. Aku nggak ingin membuatmu menunggu terlalu lama!" seru Enzo dengan agak polos.Untungnya jalanan tidak terlalu ramai. Kalau tidak, Arsy pasti sudah ingin bersembunyi karena malu.Enzo dan Niam adalah dua orang yang benar-benar berbeda. Dulu, Niam tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Pertunangan, pernikahan, semuanya terasa seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.Rasa aman yang Arsy dapatkan dari Niam terlalu sedikit, sampai setiap hari dia khawatir, apakah besok adalah hari mereka berpisah. Setiap hari bersama Niam terasa seperti sesuatu yang dipinjam, yang bisa hilang kapan saja.Namun, sekarang berbeda. Perasaan Enzo jelas dan terang-terangan. Arsy bisa merasakannya deng

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 25

    Sore hari berikutnya, Arsy datang. Namun, dia tidak datang sendiri. Dia datang bersama Enzo untuk menjenguk Niam. Di tangannya hanya ada buah-buahan biasa, terlihat tidak terlalu dipersiapkan dengan serius.Namun, pakaian mereka justru tampak serasi. Bernuansa cokelat, seperti pakaian pasangan. Keduanya jelas sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Riasan Arsy sederhana dan anggun seperti hendak bertemu orang tua.Begitu pikiran itu muncul, Niam sendiri sampai terkejut. Dia mencoba menyangkalnya. Bahkan kalau Enzo sengaja membawa Arsy untuk menunjukkan kepemilikan, itu masih seribu kali lebih masuk akal daripada pikiran barusan."Pak Niam, gimana kondisimu? Aku membawa Arsy menjengukmu." Enzo berkata sambil meletakkan buah yang dibawanya."Kalian ...." Kata-kata Niam tertahan di bibir, lalu dia telan kembali."Arsy, kamu datang saja sudah cukup." Untuk sesaat, dia menatap wajah Arsy, tetapi justru tidak tahu harus berkata apa.Haruskah dia mengatakan "bisakah kamu merawatku", "aku sangat

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 24

    Dulu memang Eira pernah menukar obat yang seharusnya diminum Niam, tetapi obat untuk orang tua Niam juga adalah ulahnya.Karena usianya masih muda dan hubungannya dekat dengan Keluarga Charista, dia sering datang ke rumah Niam untuk bermain. Dia bisa melakukan hal-hal kecil secara diam-diam tanpa menarik perhatian.Saat itu, hampir tidak ada yang akan curiga pada seorang gadis kecil seperti dirinya. Setelahnya, demi melindungi Eira, Keluarga Halahi bahkan mengirimnya ke luar negeri."Selesaikan mereka." Niam melemparkan satu kalimat dingin, lalu seseorang segera menyeret pasangan suami istri itu pergi.Dia menyuruh anak buahnya memberi obat pada mereka, membuat mereka kehilangan kewarasan, selalu curiga, dan hidup dalam kebingungan. Dia hanya membalas dengan cara yang sama, itu bahkan sudah termasuk belas kasihan.Malam terasa dingin seperti air. Niam duduk sendirian di depan jendela besar, rasa kesepian menyelimuti dirinya.Di kakinya sudah ada beberapa botol anggur kosong. Namun, sem

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 23

    Suasana ambigu menyelimuti keduanya. Niam benar-benar tidak bisa bersembunyi lagi.Dengan wajah dingin, dia langsung berdiri di antara Arsy dan Enzo, memisahkan mereka. Dia bahkan tidak berani membayangkan, kalau dia tidak muncul, apakah mereka akan benar-benar berciuman?Niam berdiri di tengah, tidak berkata apa-apa, hanya menatap Enzo dengan tajam. Akhirnya, Arsy yang lebih dulu memecah keheningan."Niam, kamu ngapain di sini? Grup Charista sudah mau bangkrut sampai kamu sesenggang ini?"Niam menoleh, lalu tersenyum lembut. "Arsy, ini kebun binatang. Semua orang boleh datang. Kamu juga nggak perlu khawatir, setidaknya beberapa tahun ke depan, Grup Charista nggak mungkin bangkrut."Senyuman lembut yang jarang muncul itu tidak membuat Arsy nyaman, malah terasa aneh. Bahkan sesaat, dia sempat curiga, apakah Niam kerasukan. Dia tidak pernah tersenyum seperti itu."Niam, jangan senyum begitu. Jelek." Arsy melewati Niam, lalu menarik tangan Enzo. "Ayo kita pergi. Memang semua orang boleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status