Share

Bab 8

Author: Sulki
Entah sudah berapa lama dia pingsan, saat membuka mata, dia sudah berada di rumah sakit.

Begitu sadar, Arsy hanya merasakan sakit seolah-olah seluruh tubuhnya remuk. Lengannya terbalut perban, sementara tangan yang lain sedang dipasangi infus.

Melihat dia terbangun, asisten Niam langsung menghela napas lega. "Bu Arsy, akhirnya kamu bangun."

"Pak Niam baru saja mendapat kabar tentang kecelakaanmu dan sedang dalam perjalanan ke sini. Istirahat dulu ya. Nanti kalau Pak Niam sudah sampai, aku akan kasih kabar."

Arsy berusaha duduk. "Berapa lama aku pingsan?"

Asisten itu tertegun sesaat, lalu menjawab jujur, "Satu hari satu malam."

Satu hari satu malam ... tetapi Niam baru tahu? Alasan ini terasa terlalu dibuat-buat. Namun, dia tidak membongkarnya, hanya mengangguk pelan.

Setelah asisten itu keluar untuk mengurus administrasi, ponsel di samping tempat tidurnya berdering. Itu adalah panggilan dari kakak kelasnya.

"Arsy, rencana di sini mendadak berubah. Kita harus berangkat malam ini. Kamu masih sempat?"

Arsy terdiam sejenak, lalu langsung mengangguk. "Bisa. Barang-barangku sudah siap. Aku bisa berangkat kapan saja. Jam berapa? Aku akan beli tiket sekarang."

Baru saja dia selesai berbicara, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Suara pria yang rendah terdengar. "Tiket apa?"

Arsy terkejut dan langsung mengangkat kepala. Niam sudah berdiri di depan pintu. Dia buru-buru menutup telepon. Belum sempat berbicara, Niam sudah meletakkan bubur yang dibawanya di nakas, lalu duduk di sampingnya dan menyentuh dahinya dengan ringan.

"Syukurlah nggak demam. Dokter bilang hanya luka luar, istirahat beberapa waktu akan sembuh."

"Tadi kamu bilang tiket. Walaupun bukan luka berat, tetap jangan bepergian jauh dulu. Rencana perjalanan yang kamu bilang sebelumnya lebih baik dibatalkan saja."

Arsy tertegun, baru sadar dia salah paham. Dulu mereka memang pernah berjanji akan pergi liburan bersama, tetapi karena sibuk bekerja paruh waktu dan tidak punya cukup uang, rencana itu tidak pernah terwujud.

Sekarang proyeknya sukses besar. Dia sudah punya waktu dan uang, tetapi dia tidak lagi ingin pergi bersama Arsy.

Arsy hanya menarik sudut bibir, tidak menjelaskan. Niam juga tidak menyadari apa-apa. Dia mengambil bubur di nakas dan bertanya dengan pelan, "Aku bawa bubur dari rumah. Mau makan sedikit?"

Dulu saat dia sakit, Niam selalu memasakkan bubur sendiri dan menyuapinya. Awalnya Niam tidak bisa memasak. Buburnya pernah gosong dan lengket. Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya dia berhasil.

Hanya saja sekarang ... sudah lama sekali dia tidak masuk dapur.

Arsy tidak berkata apa-apa, hanya mengambil bubur itu dan menyendokkannya ke mulutnya. Namun, baru satu suapan, gerakannya langsung terhenti. Bubur ini jelas bukan buatan tangannya. Rasanya seperti bubur yang dibeli di jalan menuju rumah sakit.

Arsy tersenyum getir, mentertawakan dirinya sendiri yang terlalu berharap. Dengan status Niam sekarang, mana mungkin dia masih mau memasak sendiri untuknya?

Arsy makan dua suap, lalu meletakkan sendok. Niam tidak banyak berbicara. Setelah menerima beberapa panggilan, dia lagi-lagi hendak pergi.

Melihat dia bangkit, Arsy akhirnya tidak bisa menahan diri untuk memanggilnya, "Ada yang ingin kukatakan."

Niam berhenti sejenak, melepaskan tangannya dengan lembut. "Aku masih ada urusan. Nanti aku kembali lagi."

"Nanti", "lain kali", "besok" .... Alasan seperti itu sudah terlalu sering Arsy dengar.

Akhirnya, dia berkata, "Niam, aku tahu kamu buru-buru ingin menemui orang yang kamu cintai. Aku nggak akan mengganggumu, tapi aku hanya minta tiga menit ... nggak, satu menit saja .... Apa nggak bisa?"

Satu menit untuk mengucapkan perpisahan, untuk mengakhiri semuanya, sebagai penutup yang layak untuk tujuh tahun ini.

Namun, Niam hanya mengerutkan kening, lalu menolak tanpa ragu, "Aku benar-benar ada urusan sekarang. Apa pun itu, kita bicarakan nanti saja ya?"

Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi. Entah sudah berapa lama berlalu, ponsel di sampingnya tiba-tiba berdering.

Pesan dari Eira. Arsy ragu cukup lama, tetapi akhirnya tetap membukanya. Di dalamnya hanya ada satu foto, sebuah tangkapan layar dari media sosial.

Di sebuah alun-alun terbuka, ribuan bunga mawar merah muda memenuhi tempat itu. Kerumunan orang mengelilingi Eira dan Niam.

Di tengah senyuman dan sorak-sorai, Eira mengulurkan tangannya, membiarkan pria di depannya perlahan memakaikan cincin lamaran. Di bawahnya tertulis kalimat singkat.

[ Aku bersedia! ]

Barulah Arsy mengerti, alasan Niam begitu terburu-buru tadi ... adalah untuk melamar Eira.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 28

    "Cium! Cium!"Di pesta pernikahan, mempelai pria dan wanita saling menggenggam tangan, mengucapkan janji sehidup semati. Para keluarga dan teman-teman di bawah panggung bersorak riuh.Enzo memegang wajah Arsy, satu tangannya menutup pandangan orang-orang. Dengan penuh kehati-hatian, dia mencium bibir Arsy."Waaah!"Upacara pernikahan segera selesai. Para tamu sibuk makan dan mengobrol, hanya satu orang di sudut yang tampak tidak pada tempatnya.Pengantin mengenakan pakaian adat, para tamu sebagian besar memakai warna merah untuk melambangkan kebahagiaan.Hanya Niam yang mengenakan jas putih bersih. Di saku dadanya terpasang bunga kecil bertuliskan "pengantin pria: Niam".Setelah menyaksikan upacara, dia diam-diam pergi tanpa ada yang menyadari. Semua orang mengira itu adalah pengantin pria dari acara lain yang salah masuk tempat.Bagaimanapun, restoran itu sering dipakai untuk pernikahan. Kejadian salah lokasi bukan hal aneh."Arsy, aku pernah bilang ... kalau kamu mau, kamu bisa selal

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 27

    Sore hari, setelah berpamitan dengan Enzo, Arsy naik ke lantai atas. Lampu di tangga entah kenapa tiba-tiba mati.Arsy sedikit takut, lalu menyalakan senter dari ponselnya. Cahayanya tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk melihat jalan.Dengan meraba-raba, Arsy akhirnya sampai di depan pintu rumahnya. Dia mengeluarkan kunci dari tas, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.Begitu terdengar suara, dia hendak membuka pintu dan segera masuk. Namun saat itu, sebuah tubuh tinggi menempel dari belakangnya, mendorongnya masuk ke rumah.Niam menangkap kedua tangan Arsy dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Tubuhnya yang tinggi menutup seluruh ruang di sekitar Arsy.Arsy langsung panik. Sambil berusaha melepaskan diri, dia juga menekan tombol panggilan darurat di ponselnya."Lepaskan aku! Aku punya uang. Aku ambilkan untukmu ya? Jangan gegabah!" Dia tidak langsung mengenali bahwa itu adalah Niam. Dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat, bahkan tidak tahu apakah panggilan daruratnya sud

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 26

    Setelah makan malam, Enzo mengajak Arsy berjalan-jalan. Senyuman di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan."Sisy, kamu senang?""Enzo, jujur saja ... aku nggak tahu."Jawaban gugup Arsy justru membuat Enzo tertawa lepas. Suaranya menggema di sepanjang jalan."Nggak apa-apa, nikmati saja sekarang. Aku nggak ingin membuatmu menunggu terlalu lama!" seru Enzo dengan agak polos.Untungnya jalanan tidak terlalu ramai. Kalau tidak, Arsy pasti sudah ingin bersembunyi karena malu.Enzo dan Niam adalah dua orang yang benar-benar berbeda. Dulu, Niam tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Pertunangan, pernikahan, semuanya terasa seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.Rasa aman yang Arsy dapatkan dari Niam terlalu sedikit, sampai setiap hari dia khawatir, apakah besok adalah hari mereka berpisah. Setiap hari bersama Niam terasa seperti sesuatu yang dipinjam, yang bisa hilang kapan saja.Namun, sekarang berbeda. Perasaan Enzo jelas dan terang-terangan. Arsy bisa merasakannya deng

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 25

    Sore hari berikutnya, Arsy datang. Namun, dia tidak datang sendiri. Dia datang bersama Enzo untuk menjenguk Niam. Di tangannya hanya ada buah-buahan biasa, terlihat tidak terlalu dipersiapkan dengan serius.Namun, pakaian mereka justru tampak serasi. Bernuansa cokelat, seperti pakaian pasangan. Keduanya jelas sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Riasan Arsy sederhana dan anggun seperti hendak bertemu orang tua.Begitu pikiran itu muncul, Niam sendiri sampai terkejut. Dia mencoba menyangkalnya. Bahkan kalau Enzo sengaja membawa Arsy untuk menunjukkan kepemilikan, itu masih seribu kali lebih masuk akal daripada pikiran barusan."Pak Niam, gimana kondisimu? Aku membawa Arsy menjengukmu." Enzo berkata sambil meletakkan buah yang dibawanya."Kalian ...." Kata-kata Niam tertahan di bibir, lalu dia telan kembali."Arsy, kamu datang saja sudah cukup." Untuk sesaat, dia menatap wajah Arsy, tetapi justru tidak tahu harus berkata apa.Haruskah dia mengatakan "bisakah kamu merawatku", "aku sangat

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 24

    Dulu memang Eira pernah menukar obat yang seharusnya diminum Niam, tetapi obat untuk orang tua Niam juga adalah ulahnya.Karena usianya masih muda dan hubungannya dekat dengan Keluarga Charista, dia sering datang ke rumah Niam untuk bermain. Dia bisa melakukan hal-hal kecil secara diam-diam tanpa menarik perhatian.Saat itu, hampir tidak ada yang akan curiga pada seorang gadis kecil seperti dirinya. Setelahnya, demi melindungi Eira, Keluarga Halahi bahkan mengirimnya ke luar negeri."Selesaikan mereka." Niam melemparkan satu kalimat dingin, lalu seseorang segera menyeret pasangan suami istri itu pergi.Dia menyuruh anak buahnya memberi obat pada mereka, membuat mereka kehilangan kewarasan, selalu curiga, dan hidup dalam kebingungan. Dia hanya membalas dengan cara yang sama, itu bahkan sudah termasuk belas kasihan.Malam terasa dingin seperti air. Niam duduk sendirian di depan jendela besar, rasa kesepian menyelimuti dirinya.Di kakinya sudah ada beberapa botol anggur kosong. Namun, sem

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 23

    Suasana ambigu menyelimuti keduanya. Niam benar-benar tidak bisa bersembunyi lagi.Dengan wajah dingin, dia langsung berdiri di antara Arsy dan Enzo, memisahkan mereka. Dia bahkan tidak berani membayangkan, kalau dia tidak muncul, apakah mereka akan benar-benar berciuman?Niam berdiri di tengah, tidak berkata apa-apa, hanya menatap Enzo dengan tajam. Akhirnya, Arsy yang lebih dulu memecah keheningan."Niam, kamu ngapain di sini? Grup Charista sudah mau bangkrut sampai kamu sesenggang ini?"Niam menoleh, lalu tersenyum lembut. "Arsy, ini kebun binatang. Semua orang boleh datang. Kamu juga nggak perlu khawatir, setidaknya beberapa tahun ke depan, Grup Charista nggak mungkin bangkrut."Senyuman lembut yang jarang muncul itu tidak membuat Arsy nyaman, malah terasa aneh. Bahkan sesaat, dia sempat curiga, apakah Niam kerasukan. Dia tidak pernah tersenyum seperti itu."Niam, jangan senyum begitu. Jelek." Arsy melewati Niam, lalu menarik tangan Enzo. "Ayo kita pergi. Memang semua orang boleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status