Share

Bab 3

Author: Selamat
Seolah-olah hatiku ditusuk banyak pisau, aku duduk kaku di sofa dan menatap foto pernikahan di dinding sampai fajar menyingsing. Air mataku mengalir semalaman dan James juga tidak pulang semalaman. Di ponselku, hanya ada unggahan Instagram terbaru dari Renna yang bertuliskan bayinya bilang rindu Papa dan foto yang menyertainya adalah James mencium perutnya.

Satu malam berlalu, aku akhirnya membuat keputusan. Aku akan mempertahankan bayiku dan membawanya ikut menghilang bersamaku. Aku pergi ke rumah sakit untuk mengajukan surat pengunduran diri.

"Dokter Clara, hari ini langsung pergi ya?"

Kepala bagian menyerahkan berkas dengan ragu, lalu menghela napas. "Tinggallah satu hari lagi. Rekan-rekan di bagian ini masih ingin berpamitan denganmu."

Aku menggenggam pena dengan erat sampai jemariku memucat. "Baik."

Di ruangan VIP yang bau disinfektannya menusuk hidung, Renna sedang mencoba tas kulit buaya edisi terbatas saling bercermin. Begitu melihatku masuk, dia langsung meninggikan suaranya. "Wah, bukannya ini dokter kepala kita, kakak baikku, Clara. Semalam masih pura-pura nggak kenal aku. Kamu pikir aku nggak akan mengenalimu karena pakai masker?"

"Pemeriksaan USG."

Aku mengeluarkan probe ultrasonik dan mengabaikan provokasi Renna. "Silakan berbaring."

Renna sengaja mengusap perutnya. "Ada orang yang sudah menikah lima tahun pun nggak bisa melahirkan anak, melihat suaminya selingkuh pun hanya bisa pura-pura nggak terjadi apa-apa ...."

Aku langsung memotong ucapannya, "Tali pusat melilit leher satu kali. Kedalaman air ketuban ...."

"Clara, aku hamil anak suamimu, kenapa kamu masih bisa memeriksaku dengan begitu tenang?"

Renna menatapku dengan tatapan mengejek, berusaha memancing emosiku. "Pengecut! Wanita lain hamil anak suamimu, kamu malah nggak berani menangis dan nggak berani ribut karena takut cerai. Kamu sama seperti ibumu, sama-sama pengecut. Dulu ibuku bisa merebut ayahmu, sekarang aku juga bisa merebut suamimu."

Aku berpegang pada etika profesional dan menahan air mata sambil mencatat satu per satu data USG, lalu bersiap untuk pergi.

Renna tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku. "Aku dengar kamu baru datang sebentar sudah mau mengundurkan diri? Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"

"Apa maksudmu?" tanyaku dengan bingung.

Pada detik berikutnya, aku akhirnya mengerti.

Renna menjerit sambil meringkuk dan ekspresinya terlihat ketakutan. "Kamu menekan perutku terlalu keras. Sakit sekali! Anakku! Anakku!"

Saat tenaga medis berhamburan masuk, Renna sedang menyapu jatuh gelas air di meja samping ranjang ke lantai. "Dokter terhebat kalian menyakiti anakku!"

Renna merogoh ponselnya sambil menangis. "James, dokter ini mau membunuh bayi kita!"

Terdengar teriakan marah James dari seberang telepon. "Tangkap dokter itu! Aku segera ke sana! Berani menyentuh orangku di wilayahku sendiri, hajar dia habis-habisan!"

Dua pengawal mendobrak masuk dan langsung menahanku, lalu satu tinju menghantam kepalaku hingga pandanganku berkunang-kunang.

"Dasar bocah sialan, benar-benar keras kepala," kata salah satu dari pengawal itu sambil menarik kerah bajuku dan menyeretku ke arah pintu.

Pengawal yang lainnya melayangkan tendangan keras ke perutku, lalu rasa sakit tiba-tiba menjalar di perut bagian bawah. Aku mencengkeram pergelangan tangannya dengan sekuat tenaga sampai kuku menancap ke daging. Cairan hangat mengalir menyusuri pahaku, lalu mekar menjadi bunga merah gelap di lantai.

"Darah .... Dia berdarah!" seru pengawal yang satunya lagi sambil mundur setengah langkah.

Aku menundukkan kepala dan melihat ujung jas dokter putihku sudah basah oleh darah. Apakah ini perpisahan terakhir dengan bayiku? James bahkan belum sempat mengetahui keberadaannya?

"Jangan sampai benar-benar membunuh orang ...."

Pengawal yang menarik kerah bajuku langsung panik, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon. "Bos, dokter itu berdarah, banyak sekali ...."

James berkata dengan nada yang dingin, "Hanya seorang dokter, saja. Kalau mati, ya biarkan saja. Bereskan dengan bersih, jangan sampai mengotori mata tuan putriku. Sial."

"Ja ... mes ...."

Aku baru saja hendak berseru minta tolong, tetapi pengawal lainnya sudah menutup mulut dan hidungku.

Di sisi lain, James yang sudah menutup telepon entah mengapa tiba-tiba merasa gelisah.

Pada saat itu, dua pengawal itu melemparku ke dalam tong sampah di lorong tangga sesuai dengan perintah James, lalu berbalik dan pergi.

Saat kesadaranku sedang kabur, kata-kata James terngiang di benakku. "Jangan sampai mengotori mata tuan putriku ...."

Benar juga, James ingin melindungi tuan putrinya yang sekarang. Aku ini hanya tuan putri yang pernah dijaga di telapak tangannya, posisiku sudah lama tergantikan. "James ... aku nggak menginginkanmu lagi ...."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 7

    Aku menggandeng Yoshua, lalu berbalik dan hendak pergi. Namun, James tiba-tiba maju dan meraih pergelangan tanganku. Aku segera melepaskan tangannya sampai membuatnya terhuyung-huyung dan menabrak tiang lampu di pinggir jalan."Lara ...."James berkata dengan suara bergetar dan mata merahnya menakutkan. "Aku salah, benar-benar salah ...."Aku tersenyum sinis. "Pak, sepertinya kamu sudah mengkhianati kekasihmu. Kalau sudah mengkhianati dan menyakiti, itu nggak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Aku nggak tahu siapa itu Lara yang kamu maksud, tapi aku rasa dia pasti nggak mau melihatmu."James tiba-tiba berlutut di tanah, lalu kedua tangannya mencengkeram ujung celanaku dengan erat. "Lara, aku akan melakukan apa pun yang kamu suruh, asalkan kamu nggak meninggalkanku."Yoshua hendak maju, tetapi aku mengangkat tangan dan menghentikan Yoshua.James melanjutkan, "Lara, tolong jangan pura-pura nggak mengenalku, jangan abaikan aku ...."Aku menarik napas dalam-dalam, merasa terus melarikan dir

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 6

    Sebulan kemudian, aku berdiri di lorong rumah sakit di Califarila dan bau disinfektan tidak membuatku sesak napas lagi. Apa yang dikatakan Jilia benar, langit di sini memang biru dan cahaya matahari yang hangat menyinari jas putihku."Dokter Clara, pasien di ranjang nomor tiga dalam kondisi kritis!"Saat seorang perawat berlari mendekat, buku rekam medis yang aku pegang hampir saja terjatuh. Begitu memasuki ruang bersalin, aku melihat pasien mengalami pendarahan hebat dan seprai sudah menjadi warna merah karena darah. Jemariku secara refleks mulai memeriksa, lalu berkata dengan suara bergetar, "Siapkan transfusi darah, hubungi bank darah, dan beri tahu ruang operasi.""Dokter Clara?" panggil seseorang dengan lembut dari belakang.Saat menoleh, aku melihat ternyata orang itu adalah kakak senior, Yoshua. Dia mengenakan baju operasi hijau gelap dan tatapan di balik kacamata berbingkai emas terlihat fokus serta tenang."Aku yang akan menjadi dokter utama, kamu bantu aku sebagai asisten," k

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 5

    James mundur dengan terhuyung-huyung sampai punggungnya menghantam dinding yang dingin. Dia langsung tenggelam dalam penyesalan dan jantungnya seolah-olah diremas oleh tangan yang tak kasatmata hingga dia kesulitan bernapas.Seperti orang gila, James berlari kembali ke kantor dan menendang meja kerja sampai terbalik. Berkas-berkas serta komputer berserakan di lantai dan bingkai foto kaca pecah menjadi serpihan, lalu setiap kepingnya memantulkan wajahnya yang berubah."Cari. Tutup seluruh kota. Kerahkan semua kekuatan. Meskipun harus membalikkan tanah, aku juga harus menemukannya," teriak James sampai urat lehernya menonjol.Para anggota mafia belum pernah melihat bos mereka begitu kehilangan kendali, mereka menundukkan kepala dan menjawab secara serentak.James meninju dinding sampai jemarinya langsung berdarah. Selama tiga hari tiga malam itu, bandara, pelabuhan, stasiun, dan semua titik yang mungkin menjadi jalur keluar diperiksa habis-habisan. Namun, bayangan Clara tetap tidak terli

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 4

    Karena bau disinfektan yang menusuk hidung hingga terasa perih, aku tiba-tiba membuka mata dan wajah sahabatku, Jilia, perlahan-lahan menjadi jelas dalam pandanganku."Kamu sudah sadar?"Jilia segera menahan tubuhku yang hendak bangun. "Jangan sembarangan bergerak, kamu baru saja selesai operasi."Aku menatap retakan di langit-langit, lalu berkata dengan suara serak, "Anakku ...."Jilia menggenggam tanganku dengan erat dan matanya memerah. "Sudah nggak ada, tapi kamu masih hidup."Rasa nyeri menjalar dari perutku, seperti sebuah pisau perlahan-lahan mengiris dagingku. Aku memejamkan mata, lalu air mata mengalir dari pelipis ke bantal.Jilia meletakkan berkas di meja samping ranjang. "Aku sudah bilang ke Kakak Senior soal urusanmu. Dia membantumu menunda tanggal masuk kerja. Tunggu sampai kamu pulih, kamu baru pergi. Dia juga bilang identitasmu sudah dihapus, James nggak akan bisa menemukan Clara Lestari lagi."Aku menatap mata Jilia yang memerah, lalu menggenggam tangan Jilia dengan ku

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 3

    Seolah-olah hatiku ditusuk banyak pisau, aku duduk kaku di sofa dan menatap foto pernikahan di dinding sampai fajar menyingsing. Air mataku mengalir semalaman dan James juga tidak pulang semalaman. Di ponselku, hanya ada unggahan Instagram terbaru dari Renna yang bertuliskan bayinya bilang rindu Papa dan foto yang menyertainya adalah James mencium perutnya.Satu malam berlalu, aku akhirnya membuat keputusan. Aku akan mempertahankan bayiku dan membawanya ikut menghilang bersamaku. Aku pergi ke rumah sakit untuk mengajukan surat pengunduran diri."Dokter Clara, hari ini langsung pergi ya?"Kepala bagian menyerahkan berkas dengan ragu, lalu menghela napas. "Tinggallah satu hari lagi. Rekan-rekan di bagian ini masih ingin berpamitan denganmu."Aku menggenggam pena dengan erat sampai jemariku memucat. "Baik."Di ruangan VIP yang bau disinfektannya menusuk hidung, Renna sedang mencoba tas kulit buaya edisi terbatas saling bercermin. Begitu melihatku masuk, dia langsung meninggikan suaranya.

  • Membantu Persalinan Selingkuhan Suamiku   Bab 2

    Renna bertanya sambil mengusap perutnya, "Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilannya? Perkembangan bayinya baik? Oh ya, pihak rumah sakit bilang akan mengundang seorang dokter kandungan terhebat untuk menangani persalinanku sepenuhnya. Mana orangnya?""Ini dia, namanya Cla ...."Aku segera memotong ucapan perawat itu, "Catatan pemeriksaan kehamilan perlu ditandatangani oleh anggota keluarga."Renna menggoyang ponselnya. "Suamiku sedang rapat, tapi sebentar lagi dia akan menelepon. Kalau ada hal-hal penting yang perlu disampaikan, kalian bisa ...."Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, ponsel Renna berdering. Renna sengaja menyalakan pengeras suara agar semua orang bisa mendengar suara James yang serak."Renna, pemeriksaan kehamilannya lancar?"Kuku jariku menancap ke telapak tangan. Dahulu, suara ini pernah membujukku minum obat dengan lembut saat aku demam tinggi di tengah malam, tetapi kini suara ini berbicara dengan wanita lain di telepon dengan penuh perhatian.Renna menjawab d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status