MasukAku menggandeng Yoshua, lalu berbalik dan hendak pergi. Namun, James tiba-tiba maju dan meraih pergelangan tanganku. Aku segera melepaskan tangannya sampai membuatnya terhuyung-huyung dan menabrak tiang lampu di pinggir jalan."Lara ...."James berkata dengan suara bergetar dan mata merahnya menakutkan. "Aku salah, benar-benar salah ...."Aku tersenyum sinis. "Pak, sepertinya kamu sudah mengkhianati kekasihmu. Kalau sudah mengkhianati dan menyakiti, itu nggak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Aku nggak tahu siapa itu Lara yang kamu maksud, tapi aku rasa dia pasti nggak mau melihatmu."James tiba-tiba berlutut di tanah, lalu kedua tangannya mencengkeram ujung celanaku dengan erat. "Lara, aku akan melakukan apa pun yang kamu suruh, asalkan kamu nggak meninggalkanku."Yoshua hendak maju, tetapi aku mengangkat tangan dan menghentikan Yoshua.James melanjutkan, "Lara, tolong jangan pura-pura nggak mengenalku, jangan abaikan aku ...."Aku menarik napas dalam-dalam, merasa terus melarikan dir
Sebulan kemudian, aku berdiri di lorong rumah sakit di Califarila dan bau disinfektan tidak membuatku sesak napas lagi. Apa yang dikatakan Jilia benar, langit di sini memang biru dan cahaya matahari yang hangat menyinari jas putihku."Dokter Clara, pasien di ranjang nomor tiga dalam kondisi kritis!"Saat seorang perawat berlari mendekat, buku rekam medis yang aku pegang hampir saja terjatuh. Begitu memasuki ruang bersalin, aku melihat pasien mengalami pendarahan hebat dan seprai sudah menjadi warna merah karena darah. Jemariku secara refleks mulai memeriksa, lalu berkata dengan suara bergetar, "Siapkan transfusi darah, hubungi bank darah, dan beri tahu ruang operasi.""Dokter Clara?" panggil seseorang dengan lembut dari belakang.Saat menoleh, aku melihat ternyata orang itu adalah kakak senior, Yoshua. Dia mengenakan baju operasi hijau gelap dan tatapan di balik kacamata berbingkai emas terlihat fokus serta tenang."Aku yang akan menjadi dokter utama, kamu bantu aku sebagai asisten," k
James mundur dengan terhuyung-huyung sampai punggungnya menghantam dinding yang dingin. Dia langsung tenggelam dalam penyesalan dan jantungnya seolah-olah diremas oleh tangan yang tak kasatmata hingga dia kesulitan bernapas.Seperti orang gila, James berlari kembali ke kantor dan menendang meja kerja sampai terbalik. Berkas-berkas serta komputer berserakan di lantai dan bingkai foto kaca pecah menjadi serpihan, lalu setiap kepingnya memantulkan wajahnya yang berubah."Cari. Tutup seluruh kota. Kerahkan semua kekuatan. Meskipun harus membalikkan tanah, aku juga harus menemukannya," teriak James sampai urat lehernya menonjol.Para anggota mafia belum pernah melihat bos mereka begitu kehilangan kendali, mereka menundukkan kepala dan menjawab secara serentak.James meninju dinding sampai jemarinya langsung berdarah. Selama tiga hari tiga malam itu, bandara, pelabuhan, stasiun, dan semua titik yang mungkin menjadi jalur keluar diperiksa habis-habisan. Namun, bayangan Clara tetap tidak terli
Karena bau disinfektan yang menusuk hidung hingga terasa perih, aku tiba-tiba membuka mata dan wajah sahabatku, Jilia, perlahan-lahan menjadi jelas dalam pandanganku."Kamu sudah sadar?"Jilia segera menahan tubuhku yang hendak bangun. "Jangan sembarangan bergerak, kamu baru saja selesai operasi."Aku menatap retakan di langit-langit, lalu berkata dengan suara serak, "Anakku ...."Jilia menggenggam tanganku dengan erat dan matanya memerah. "Sudah nggak ada, tapi kamu masih hidup."Rasa nyeri menjalar dari perutku, seperti sebuah pisau perlahan-lahan mengiris dagingku. Aku memejamkan mata, lalu air mata mengalir dari pelipis ke bantal.Jilia meletakkan berkas di meja samping ranjang. "Aku sudah bilang ke Kakak Senior soal urusanmu. Dia membantumu menunda tanggal masuk kerja. Tunggu sampai kamu pulih, kamu baru pergi. Dia juga bilang identitasmu sudah dihapus, James nggak akan bisa menemukan Clara Lestari lagi."Aku menatap mata Jilia yang memerah, lalu menggenggam tangan Jilia dengan ku
Seolah-olah hatiku ditusuk banyak pisau, aku duduk kaku di sofa dan menatap foto pernikahan di dinding sampai fajar menyingsing. Air mataku mengalir semalaman dan James juga tidak pulang semalaman. Di ponselku, hanya ada unggahan Instagram terbaru dari Renna yang bertuliskan bayinya bilang rindu Papa dan foto yang menyertainya adalah James mencium perutnya.Satu malam berlalu, aku akhirnya membuat keputusan. Aku akan mempertahankan bayiku dan membawanya ikut menghilang bersamaku. Aku pergi ke rumah sakit untuk mengajukan surat pengunduran diri."Dokter Clara, hari ini langsung pergi ya?"Kepala bagian menyerahkan berkas dengan ragu, lalu menghela napas. "Tinggallah satu hari lagi. Rekan-rekan di bagian ini masih ingin berpamitan denganmu."Aku menggenggam pena dengan erat sampai jemariku memucat. "Baik."Di ruangan VIP yang bau disinfektannya menusuk hidung, Renna sedang mencoba tas kulit buaya edisi terbatas saling bercermin. Begitu melihatku masuk, dia langsung meninggikan suaranya.
Renna bertanya sambil mengusap perutnya, "Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilannya? Perkembangan bayinya baik? Oh ya, pihak rumah sakit bilang akan mengundang seorang dokter kandungan terhebat untuk menangani persalinanku sepenuhnya. Mana orangnya?""Ini dia, namanya Cla ...."Aku segera memotong ucapan perawat itu, "Catatan pemeriksaan kehamilan perlu ditandatangani oleh anggota keluarga."Renna menggoyang ponselnya. "Suamiku sedang rapat, tapi sebentar lagi dia akan menelepon. Kalau ada hal-hal penting yang perlu disampaikan, kalian bisa ...."Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, ponsel Renna berdering. Renna sengaja menyalakan pengeras suara agar semua orang bisa mendengar suara James yang serak."Renna, pemeriksaan kehamilannya lancar?"Kuku jariku menancap ke telapak tangan. Dahulu, suara ini pernah membujukku minum obat dengan lembut saat aku demam tinggi di tengah malam, tetapi kini suara ini berbicara dengan wanita lain di telepon dengan penuh perhatian.Renna menjawab d







